
Pagi ini Rama sedang berkutat dengan botol susu, cangkir, sendok dan susu bubuk. Di sampingnya berdiri gadis kecil yang selalu mengikutinya kesana kemari. Kara, gadis yang baru bisa berjalan dengan benar itu sebentar lagi akan menjadi kakak karena dua bulan yang lalu tepat setelah pernikahan Om Karak dan ante ale-ale maminya dinyatakan positif hamil.
Di kehamilan kedua Jesi jauh berbeda dengan saat mengandung Kara dulu. Jika saat mengandung Kara dia sering muntah setiap malam dan manja tak tertolong pada Rama, sekarang justru kebalikannya. Bumil satu anak itu justru mengalami morning sick sehingga membuat Rama harus mengurus Kara setiap pagi karena dirinya sibuk muntah-muntah. Beruntung kehamilan anak keduanya Jesi tak lagi menangis setiap kali habis muntah, malah terlihat mandiri. Entah benar-benar mandiri atau memaksakan diri supaya tak merepotkan Rama yang mesti mengurus putri mereka juga.
Rama memasukan tiga sendok susu bubuk ke dalam botol, menambahkan sedikit air panas, mengaduknya hingga rata kemudian menambahkan air dingin hingga susu itu menjadi hangat dan menutupnya. Setelah itu ia beralih menuangkan empat sendok susu hamil ke dalam gelas, menambahkan air panas dan mengaduknya. Setelah selesai ia memberikan botol susunya pada Kara yang sedari tadi mengoceh tiada henti, persis mamanya.
“Ini susu Kara, yang ini punya mami.” Kara menerima botol susunya dengan senang kemudian langsung menyedotnya.
“Pinter anak papi.” Puji Rama.
“Kara mau ikut papi ke kamar nganterin susu buat mami, apa mau disini aja nemenin nenek masak hm?”
“Itut pipi…” jawabnya.
“Papi…” ulang Rama.
“Pipi...” ucap Kara. Rama jadi mengusak gemas rambut putrinya.
“Yuk ke mami dulu.” Rama menuntun putri kecilnya berjalan pelan kembali ke kamar.
Tiba di kamar Rama melihat Jesi yang terkulai lemas duduk di tepi ranjang, tapi istrinya itu tetap tersenyum dan mengulurkan tangan saat Kara menghampirinya dan minta dipangku.
“Kara duduk di samping mami aja yah, pinter? Kan udah mau jadi kakak, kasihan mama lagi lemes tuh.” Bujuk Rama.
Kara mengangguk, ia turun dan duduk di sebelah Jesi.
“Da ede nya?” celotehnya.
“Iya sayang. Ada adiknya Kakak Kara.” Jesi mengelus sayang kepala putrinya yang manggut-manggut sambil menyedot susu dari dot nya.
Rama ikut mengelus sayang rambut Kara, “pinter banget anak papi.” Pujinya.
Kini ia beralih menatap Jesi dan memberikan segelas susu, “minum dulu susunya.”
“Makasih, Karam.”
“Sama-sama sayang. Hari ini kakak temenin kamu di rumah aja yah. Wajah kamu pucat banget.”
“Nggak usah, Karam ke kantor aja. Di rumah kan aku ada Kara, ada mama juga. Lagian nanti jam sembilanan juga aku biasa lagi.” Ujar Jesi.
“Adiknya Kara nih baik kok, nggak rewel.” Imbuhnya.
“Yau dah kalo gitu kakak berangkat yah. Mau dibeliin apa nanti pulangnya?”
“Aku nggak pengen apa-apa, Karam. Cuma pengen ketemu tetangga depan rumah aja. Mau nagih utang.” Ucap Jesi.
“Ardi?” tanya Rama dan Jesi mengangguk. Masih menjadi teka teki kenapa istrinya itu masih saja belum melupakan utang dimasa lalu, pake mau nagih segala padahal mereka tak kekurangan uang sama sekali.
“Jangan-jangan Kak Ardi sama mba Miya sengaja nih ke Yogyakarta nggak balik-balik takut ditagih sama aku?” tebak Jesi, karena setelah kelahiran putranya mereka pindah ke Yogyakarta dan belum kembali sampai saat ini.
Ck!
Rama bercedak dan menggelengkan kepala, “sebenarnya kamu butuh uang berapa sih sayang? Nggak usah nagih-nagih.”
“Ih bukan uang, Karam!”
“Terus apa? Kamu mau apa hm?” Rama berjongkok di hadapan Jesi sambil mengelus perut istrinya. Kara pun jadi mengikutinya mengelus perut Jesi.
“Bilang mami Jas Jus pengen apa? Pasti kakak turutin.” Lanjutnya.
“Karam nggak mungkin bisa ngasih apa yang aku mau. Cuma Kak Ardi yang bisa, makanya aku mau nagih.”
Rama jadi gemas sendiri merasa tersaingi oleh tetangga depan rumah. Dua tahun lebih ia hidup bersama Jesi dan sekarang istrinya malah mengatakan ia tak bisa memenuhi apa yang diingikannya.
“emangnya kamu mau apa? Jangan sampe anak kita ileran nanti.”
“Apa yang bisa dikasih Ardi tapi kakak nggak bisa hm?”
“Karam jangan ngegas gitu dong. Karam paling terbaik buat aku. Aku beruntung banget punya suami kayak Karam.” jawab Jesi.
“Aku mau anaknya kak Ardi jadi menantu kita.” Lanjutnya dengan senyum merekah.
“Jadi suaminya Kara.”
“Apa?” Rama terkejut bukan main. Dulu ngidam BTS sekarang malah ngidam anak tetangga dijadikan menantu. Sudahlah andai ada kamera ia ingin melambaikan tangan tanda menyerah.
“Kenapa, Karam?” tanya Jesi.
“Karam juga pasti setuju kan kalo Kara dijodohkan dengan anaknya Kak Ardi?” lanjutnya.
Rama beranjak dari jongkoknya dan berdiri sambil memijit kening, pagi-pagi ia sudah dibuat pusing oleh keinginan Jesi. Dia mengambil jas yang sudah disiapkan oleh Jesi dan mengenakannya.
“Kakak ke kantor dulu yah.” Pamitnya seraya mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Jesi. Seperti biasa Rama mengecup kening istri dan putrinya bergantian.
“Papi kerja dulu yah, baik-baik di rumah sama mami.” Pamitnya pada Kara.
Rama kira di kantor ia bisa melakukan pekerjaannya dengan tenang tapi nyatanya tidak, baru setengah hari bekerja adik iparnya sudah masuk dengan tampang kusut.
“Kenapa? Abis muntah lagi lo?” tanyanya pada Raka yang baru saja masuk dan duduk lemas di sofa tamu.
“Minum dulu gih.” Rama menyodorkan gelas berisi air hangat namun langsung ditepis oleh Raka.
“Gue nggak mau minum. Ampun dah gue, Wan. Lemes gila muntah mulu. Kok lo nggak muntah-muntah sih Wan padahal aqua gelas juga kan hamil lagi?” tanyanya yang merasa dirinya apes, jauh-jauh hari sebelum menikah sudah merencakan supaya Alya ngidam aneh-aneh dan merepotkan Jesi serta Naura untuk balas dendam malah justru dirinya yang ngidam bahkan muntah-muntah sementara Alya tenang-tenang saja seperti biasa.
“Sabar… sabar… tapi gue kesiksa, Wan.” Keluh Raka.
“Yang yang sabar aja, lagian itu kan hasil kalian berdua. Jangan pada mau enaknya doang.” Ledek Rama.
“Huh tau lah. Gue mau nyari rujak dulu. Lo mau nggak?” tawar Raka yang sudah bangkit dari duduknya.
“Kalo mau kita cari bareng biar anak lo nggak ileran.” Lanjutnya.
Rama mengibaskan tangannya mengusir Raka, “dah sana lo cari rujak sendiri aja. Jas Jus nggak pengen rujak, dia ngidamnya makin gila sekarang.”
“Emang dia minta apa? BTS lagi?” tebak Raka.
“Bukan. Dia minta menantu buat Kara.” Jawab Rama frustasi.
“What? Emang amazing si aqua gelas.” Raka jadi menggelengkan kepala.
Sore harinya Rama pulang lebih awal, Raka jug aikut serta pulang ke rumahnya untuk menjemput Alya yang sedang mengunjungi mamanya. Setelah menikah Raka memang membawa Alya tinggal di rumahnya.
Belum sampai ke rumah dari kejauhan Rama bisa melihat Jesi yang berjalan menuju rumah Ardi. Jesi dan adiknya kompak menggandeng Kara di tengah-tengah mereka. Setelah memarkirkan mobilnya, Rama segera menyusul istri dan anaknya begitu pun dengan Raka yang ikut serta.
“Sayang tunggu! Kamu mau ngapain ke rumah Ardi?” Rama menahan Jesi yang hampir memasuki halaman tetangga mereka.
“Nagih utang lah. Kak Ardi sama mba Miya udah pulang tadi siang.” Jawab Jesi.
“Yuk Karam ikut sekalian. Sama Karak dan Alya juga buat saksi.” Lanjutnya.
Belum sempat Rama menjawab, Ardi dan Miya beserta putra mereka sudah lebih dulu menghampiri.
“Kita baru aja mau ke rumah bang Rama. Ada sedikit oleh-oleh nih.” Ucap Ardi seraya memberikan paper bag berwarna cokelat.
“Hey ini anak abang? Cantik banget.” Pujinya seraya mencubit pipi Kara.
“Kayak aku yah, Kak?” sambung Jesi.
“Anak cantik siapa namanya.” Miya sudah berjongkok menyamakan tingginya dengan Kara.
“Ala te..” jawab Kara.
“Namanya Kara, kak.” Jesi menimpali.
“Aku kira kak Ardi nggak bakal pulang karena takut ditagih sama aku.” Lanjutnya.
“Aku pulang lah. Kemaren setahun lebih di Yogya ngurus-ngurus cabang restoran Miya yang baru sama bangun start up game juga di sana. Emang mau minta berapa sih? Tenang sekarang kakak udah nggak kere.” Jawab Ardi.
“Aku nggak minta uang yah, Kak. Uang aku sama Karam banyak takut basi nggak kepake.” jawab Jesi dengan tertawa renyah.
“Kak Ardi sama Kak Miya masih inget kan dulu katanya aku boleh minta apa aja?”
Ardi dan Miya mengangguk, “iya. Emang kamu mau minta apa? Pasti kita turutin, kalo bukan karena kamu mungkin aku sama Miya nggak akan bisa seperti sekarang.”
Jesi tersenyum senang, ia melirik suaminya.
“Tuh kan Kak Ardi aja nggak keberatan.” Ucap Jesi sementara Rama hanya menghela nafas Panjang.
Melihat ekspresi Rama, Ardi mulai merasakan firasat yang tak enak.
“Buruan deh minta apa kamu? Keburu magrib nih. Dirga belum mandi.” Ucap Ardi.
“Oh jadi si ganteng Namanya Dirga?” tanya Jesi.
“Iya, Dirgantara Rahardian.” Jawab Miya.
“Kalo gitu aku mau Dirga jadi future husband nya Kara!”
“Apa?” teriak Ardi dan Miya kompak.
“Inget kak, tadi katanya apa pun!” Jesi tersenyum penuh kemenangan.
Jesi menuntun Kara menghampiri Dirga.
“Hay Dirgantara, kenalin ini Lengkara. Kara, your future wife.” Dia mengulurkan tangan Kara.
Ardi berjalan menghampiri Rama, “gimana ini bang masa bocah masih kecil udah dijodohin? Ntar kalo nggak cocok gimana?”
“Tau lah, Di. Gue aja pusing, iyaian aja dulu lah lagian kalian pake bilang apa pun segala. Jesi lagi hamil, gue takut adiknya Kara ileran kalo nggak diturutin.” Jawab Rama.
Ardi balik menatap Miya, “kamu keberatan nggak, Mi?”
“Aku nggak masalah. Kara cantik, sepertinya mereka bakalan cocok.” Balas Miya. Dia ikut berjongkok di samping putranya.
“Hay Lengkara, kenalin ini Dirgantara. Dirga, your future husband.”
Dua bocah yang belum paham itu hanya saling bersalaman dan tersenyum senang karena mendapat teman baru yang sebaya.
...💜💜...
...Finaly kita berakhir sampai disini....
...Terimakasih atas dukungan kalian semua....
...Lopelope semuanya 😘😘😘😘...