Possessive Leader

Possessive Leader
Hati-hati jatuh hati!



Rama masih berdiri di depan meja kerja Naura melihat asisten gadungan yang masih asik dengan ponselnya. Ralat maksudnya calon istri. Rama menghampiri Jesi yang tetap cuek seolah menganggap dirinya tidak ada. Penasaran dengan apa yang sedang diliat si Jas jus, Rama melirik sekilas layar ponsel gadis itu. Terpampang banyak cacing warna warni yang saling menabrak dan memakan apa pun yang ada di depannya.


"Permainan anak TK." Cibir Rama pelan tapi masih tetap memantau permainan Jesi.


"Hih!" menyadari Rama ikut melihat permainannya Jesi segera bergeser dan menjauh.


"Hih ngeselin banget dah. Jadi mati kan!" Gerutu Jesi. Rama hanya menahan tawa melihat tingkah Jesi.


"Jangan ketawa!"


"Siapa yang ketawa? Nggak kok." Elak Rama.


"Ini jadi nggak kerjanya? Katanya tadi aku masih ada kerjaan. Mana biar aku kerjain."


"Udah nggak ada kerjaan!"


"Ya udah kalo gitu aku mau pulang. Bye!" Pamit Jesi ketus. Dia mengambil tasnya dan hendak pergi.


"Eh tunggu dulu. Katanya tadi pengen pecel lele yang depan kantor. Ayo kita beli, sekarang pasti udah buka."


"Tapi aku maunya pake ayam!" Jawab Jesi.


"Huh dasar bocah giliran di sogok pake makanan aja langsung ngejawab." Batin Rama.


"Iya. Kamu mau apa aja boleh. Tapi jangan ngambek lagi, nggak enak di liatnya. Sepi juga kalo nggak denger kamu ngoceh." Ucap Rama.


"Ngoceh... ngoceh... Emangnya aku beo apa!" Jesi mendengus kesal dan berjalan mendahului Rama.


Dari lantai sepuluh hanya mereka berdua yang masuk ke dalam lift yang masih kosong. Jesi berdiri di belakang Rama, begitu lift turun mulai banyak karyawan yang masuk. Menyapa dan tersenyum penuh hormat pada Rama. Makin ke bawah lift semakin penuh membuat Jesi hampir terjatuh karena karyawan lain yang mendesaknya.


"Hati-hati!" Rama merangkul bahu Jesi menahannya supaya tak jatuh.


Melihat tangan kanan Rama yang merangkulnya membuat Jesi seketika mendongak. Jika biasanya ia langsung menepis kasar siapa pun yang menyentuhkan, kali ini tidak. Jesi hanya diam, melihat wajah Rama sekilas kemudian kembali menunduk. Sorot mata itu, baru kali ini Jesi melihatnya.


"Oh my god... Berasa di peluk sama Kim Taehyung gue." Batin Jesi.


"Oh jantung tolong kondisikan. Kenapa jantung gue jadi jedag jedug gini? Please dia Karam, bukan Kim Taehyung. Cuma mirip doang." Batin Jesi lagi.


Satu persatu karyawan keluar begitu lift terbuka di lobi, "ayo keluar!" Suara Rama menyadarkan Jesi dari lamunannya.


"Eh iya." Jesi mengikuti Rama dari belakang.


"Lama banget dah jalannya." Ucap Rama kemudian menarik tangan Jesi.


"Ih jangan kayak gini Karam. Malu diliatin sama yang lain." Jesi berusaha melepaskan tangan Rama. Dia bukan anak kecil yang jalan aja mesti di tuntun.


"Tumben punya malu? Biasanya juga malu-maluin." Timpal Rama.


"Tau ah. Aku ngambek lagi nih!" Jesi mendadak berhenti dan menatap Rama dengan kesal.


"Nggak ada orang ngambek pake bilang dulu jas jus. Kalo ngambekan nanti aku pulangin kamu ke kampus. Mau?" Ancam Rama.


"Jangan atuh, Karam. Aku nggak ngambek lagi deh beneran." Jawabnya dengan senyum semanis mungkin.


"Nah kayak gitu kan enak di lihat. Manis."


"Karam baru nyadar yah kalo aku tuh manis." Jiwa geer tingkat dewa Jesi langsung muncul.


"Selain manis, aku juga imut loh Karam." Imbuhnya.


Rama hanya menggelengkan kepalanya pelan, calon istrinya ini tak bisa di puji sedikit saja langsung melambung tinggi.


"Pokoknya Karam kalo deket sama aku tuh harus hati-hati, jangan sampe jatuh hati. Inget udah punya calon istri." Ucap Jesi dengan polosnya kemudian berlari lebih dulu ke warung tenda depan kantor takut dimarahi karena sudah berani meledeknya.


"Punya calon istri modelnya kayak bocah duh." Ucap Rama lirih.


Tiba di warung tenda, dilihatnya Jesi yang sedang ngoceh dengan penjual. Kadang Rama tak habis pikir, apa bibir mungil itu tak cape terus-terusan ngoceh.


"Karam sini. Udah aku pesenin." Panggilnya.


Acara makan sore itu mendadak berubah menyebalkan untuk Jesi saat melihat mba Dina yang sok elegan itu masuk ke dalam warung tenda dan duduk di samping Rama.


"Eh ada pak Darmawan." Sapanya dengan senyum yang dibuat so manis.


Rama hanya menoleh sekilas dan balas tersenyum datar kemudian kembali menikmati makanannya.


"Aku juga ada di sini loh, mba Dina." Timpal Jesi.


Dina melihat Jesi dengan kesal, "oh hai biang masalah."


Sebenarnya Dina merasa tak level harus makan di warung tenda seperti ini, tapi begitu melihat Rama masuk membuatnya membuang rasa jijiknya untuk makan di tempat yang menurutnya tak berkelas dan ikut masuk kesana demi bisa bertemu Rama. Karena untuk bersama pria itu di luar jam kerja sangat sulit, bahkan saat kerja pun hanya menanggapi seperlunya saja. Membuat ketertarikannya pada Rama semakin meningkat, dirinya benar-benar merasa tertantang untuk memiliki Rama. Meski banyak orang karyawan bilang jika Rama sudah memilik calon istri tapi Dina tak peduli, toh selama ini ia belum pernah melihat calon istrinya sekalipun.


"Hai juga pencipta masalah." Balas Jesi tak mau kalah.


"Abisin makanan kamu. Jangan banyak ngomong. Nih aku tambahin ayamnya." Rama memindahkan potongan ayamnya ke piring Jesi.


"Makasih, Karam." Balas Jesi.


Dina semakin kesal mendengar Jesi yang berbicara non formal dengan Rama.


"Ya. Makan yang banyak biar pinter." Jawab Rama.


"Sama senior harus sopan yah. Nggak boleh kayak gitu sama Mba Dina." Imbuh Rama yang membuat Jesi langsung mengembalikan ayam tadi ke piring Rama.


Seperti mendapat angin segar, Dina langsung ikut nimbrung.


"Tidak apa-apa kok Pak. Saya bisa maklum, Jesi memang masih kenakan-kanakan."


"Siapa yang kekanak-kanakan? Mba Dina tuh yang kekanakan, main sabotase sama anak magang." Kesal Jesi.


"Satu lagi... Mba tuh nggak usah so senyum di buat-buat gitu. Kentara banget tau. Lagian Karam udah punya calon istri. Jangan kegatelan gitu, nggak tau malu banget. Aku aja yang perempuan malu liatnya." Imbuh Jesi kemudian pergi tanpa menghabiskan makanannya.


"Saya duluan." Pamit Rama setelah membayar.


Jesi berjalan seorang diri di pinggir jalan. Melihat Dina dengan wajah tanpa dosa itu selalu membuat emosinya naik. Ditambah dengan Karam yang seolah selalu membela Dina membuatnya makin kesal.


Jesi terlonjak kaget karena bunyi klakson mobil yang baru saja berhenti di sampingnya.


"Masuk!" Dari jendela yang terbuka Jesi bisa melihat Karam yang menatapnya tajam.


Kalo sudah di tatap seperti ini Jesi tak bisa menolak, dengan wajah yang masih cemberut dia masuk dan duduk di samping Rama.


"Ngambek lagi?"


"Tau ah!" balas Jesi.


"Jangan ngambekan ntar manis sama imutnya ilang." Ledek Rama.


"Nggak bakal. Manis sama imutnya aku tuh permanen."


"Nggak usah ketawa kayak gitu. Ngeselin!"


Rama kian terkekeh melihat Jesi yang ngambek. Dia baru sadar jika calon istrinya ini begitu menggemaskan, bahkan di saat cemberut sekalipun.


"Jangan ngeliatin aku kayak gitu! Ntar aku aduin ke calon istri Karam loh. Kalo calon suaminya suka jelalatan!"