Possessive Leader

Possessive Leader
Dibalik semuanya



"Karam ampun aku jangan di hukum. Lagi kedinginan aku nya."


"Justru supaya Jas Jus kesayangan kakak ini nggak kedinginan lagi. Sebagai hukuman kamu di atas!" Ucapnya seraya menarik Jesi naik ke tubuhnya.


"Berarti nanti aku juga harus minta once again baby dong, Karam? Kan biasanya Karam selalu kayak gitu?" Jesi terkekeh malu, ini pertama kali baginya berada di atas Rama. Secara biasanya dia kan di bawah, terima serangan sambil pasrah, tinggal goyang-goyang dikit aja.


"Yupz, udah pinter Jas Jus kesayangan kakak ini." Rama membelai sayang rambut Jesi.


"Once again nya harus dua kali karena kamu ngepost fotonya juga dua." Lanjutnya.


"Atuh lah cape, Karam. Lemes aku kalo sampe nambah dua kali." Keluh Jesi.


"Kalo gitu kakak kasih bonus deh jadi tiga kali!"


"Nggak bisa jalan aku besok pagi, Karam."


"Kamu tuh so banget ngeluh ini itu segala disebut. Sekalinya di gas sekali aja auto terus...terus...terus... Udah kayak Kang Parkir." Ledek Rama.


"Ih tapi kan emhh ah..." Belum selesai berucap bibirnya keburu di bungkam oleh Rama.


"Full service please, Jas Jus!" Ucapnya.


Berbeda dengan Jesi yang sedang menerima hukuman menyenangkan, Raka sedang duduk di hadapan empat orang yang hanya bisa saling diam dan menunduk.


"Jadi siapa diantara kalian yang akan menjelaskan?"


"Lo aja, Na. Lo kan yang nyemplungin kepala tuh bocah ke wastafel." Bisik Vita.


"Lo aja, Vit. Kan lo yang ribut sama dia. Kita-kita mah cuma bantuin nggak tau apa-apa." Tolak Anna.


"Lo pada jangan lempar batu sembunyi tangan deh!" Vita jelas tak mau harus bertanggungjawab seorang diri. Sejak tau Jesi adalah istri Rama saja kakinya sudah berada tal bertulang, lemas seketika.


"Hey!!! Saya tidak menyuruh kalian untuk berdiskusi!" Sentak Raka.


"Ma...maaf pak Raka. Saya yang pertama ribut dengan Jesi, tapi itu juga Jesi nya yang mulai duluan. Dia ngelempar saya pake sepatunya." Jelas Vita.


"Kalo yang bikin Jesi jadi basah kuyup kayak tadi itu Anna sama temen-temennya tuh yang ngelelepin Jesi ke wastafel." Sambungnya.


"Nah itu dia biang yang sebenernya sih pak." Vita menunjuk Dini yang baru saja masuk.


"Maaf saya datangnya lama pak. Barusan dari kamar pak Darmawan dulu, nganterin baju sama minuman hangat buat Jesi." Ucap Dini.


"Tidak apa-apa. Duduk di sana!" Ucap Raka.


"Pak Raka sebenernya dia tuh yang bikin kita-kita jadi nyerang Jesi tadi. Kan dia yang post foto-foto Jesi sama pak Darmawan ke grup." Ucap Vita.


"Grup apa?"


"Ini pak." Dini menyerahkan ponselnya.


Raka membaca deretan chat grup unfaedah itu, "kalian sudah gila? Istri bos kalian jadikan bahan gosip sehari-hari?" Sentak Raka.


"Kita kan nggak tau kalo Jesi istrinya pak Darmawan pak, yang kita tau pak Darmawan belum nikah. Jadi wajar dong kalo kita kesel sama Jesi secara dia nempel terus sama pak Darmawan. Kita kayak gini juga karena kita care sama pak Darmawan." Anna membela diri dengan jawaban yang masuk akal.


"Bukan masalah care atau tidak nya. Tapi ini sudah masalah kehidupan pribadi orang lain. Kalian tidak punya hak untuk mencampuri apalagi malah menyebar gosip seperti ini. Kalian bisa dituntut pencemaran nama baik, ditambah dengan kelakuan kalian di toilet tadi. Saya rasa cukup untuk membuat kalian membusuk di penjara."


"Pak Raka please kita selesaikan secara kekeluargaan saja, jangan ke ranah hukum. Saya masih membiayai adik saya yang masih sekolah." Ucap Anna.


"Lagi pula saya hanya ikut-ikutan saja. Kalo mau di hukum yang harus bertanggungjawab kan adminnya, dia yang bikin grup kok." Lanjutnya.


"Saya juga pak, jangan dihukum. Ibu saya lagi sakit pak di kampung, kalo saya dipenjara siapa yang akan mencari nafkah untuk biaya berobat ibu?" Ucap satu orang lainnya.


"Kami minta maaf sama Jesi saja yah pak, jangan diperpanjang urusannya. Please!" Sambungnya lagi.


"Bukan saya yang akan menentukan hukuman untuk kalian. Senin besok saat masuk kerja, temui pak Darmawan di ruangannya!" Pungkas Raka kemudian berlalu pergi.


Malam itu mereka benar-benar tak bisa tidur. Tak hanya mereka berempat yang sama sekali tak memejamkan mata, Dina di kamarnya pun hanya bisa menatap laut lepas di tengah pekatnya malam. Dia tak menyangka jika Jesi, gadis menyebalkan itu sudah menjadi istri Rama.


Esok harinya, Jesi menghabiskan waktu bersama Rama. Dari mulai sarapan pagi hingga jalan-jalan keliling obyek wisata, kali ini Rama tak membiarkan sedetik pun istrinya hilang dari pandangan.


"Nanti pulangnya nggak usah naik bus, bareng kakak aja."


"Mending naik bus aja, Karam. Biar aku bisa bobo nyender ke Karam gitu. So sweet." Balas Jesi.


"Kalo pulang naik mobil Karam mah aku paling nyender di kursi doang. Karam kan nyetir, nggak bisa sayang-sayangan." Sambungnya.


"Tenang aja, ada Raka. Biar dia yang bawa mobilnya, kamu sama kakak duduk di belakang."


Walaupun awalnya enggan menjadi supir dadakan tapi akhirnya Raka setuju juga, demi apa lagi jika bukan supaya pulang gathering bisa langsung bertemu Alya.


Tak terasa waktu cepat berlalu padahal rasanya baru tadi malam mereka kembali dari acara gathering tapi pagi ini hari senin sudah kembali menyapa, memaksa mereka mau tak mau untuk kembali pada rutinitas biasanya.


Ada yang berbeda pagi ini, saat Rama dan Jesi memasuki kantor. Biasanya para karyawan hanya menyapa Rama dengan ramah dan mengabaikan Jesi, kali ini mereka benar-benar membungkuk dengan sopan pada Jesi. Sedasyat itu memang efeknya setelah statusnya sebagai istri Rama terkuat meski belum semua orang tau.


"Selamat pagi bu Jesi..." sapa jajaran front office begitu mereka masuk.


"Ba bi bu!!! gue bukan ibu-ibu nggak usah so akrab! kemaren juga lo pada nyelupin gue ke wastafel!" balas Jesi.


"Sudah-sudah jangan ditanggapi sayang." sela Rama.


"Kalian berempat saya tunggu di ruangan!" lanjutnya.


Setelah jam kerja di mulai, Vita dan teman-temannya mengunjungi ruangan Rama. Gemetar-gemetar takut mereka menghampiri meja Jesi.


"Pak Darmawan nya ada?"


"Ada, masuk aja. Kalian udah ditunggu!" jawab Jesi.


"Jes, please bantu kami bujuk Pak Darmawan supaya jangan ngasih hukuman yang berat."


"Ngomong aja sendiri. Sekarang saatnya pake tuh mulut buat hal yang positif bukan buat ngegosipin gue!" Jesi beranjak dari kursinya menuju ruangan Rama, diikuti oleh empat orang kemarin sukses membuatnya basah kuyup.


"Karam, nih para tersangka datang!" ucap Jesi begitu masuk.


Cukup lama mereka berada di dalam ruangan Rama hingga akhirnya mereka keluar dengan wajah pucat pasi ditambah membawa amplop coklat di tangan masing-masing.


"Bu Jesi kami permisi." pamit Anna dan kedua temannya.


"Maafkan semua sikap kami yang tidak baik pada bu Jesi selama ini." mereka membungkuk penuh hormat pada Jesi.


"Kalo ibu mau kami nyeburin kepala ke wastafel juga akan kami lakukan, asal di maafkan. Kami benar-benar menyesal. Atau kami sujud di kaki bu Jesi juga tidak apa-apa."


"Segini kami masih bersyukurlah dapat surat peringatan doang, nggak kayak Vita tuh udah end dia." buru-buru ketiganya bersimpuh di hadapan Jesi namun Jesi dengan cepat menghentikannya.


"Nggak usah kayak gini, aku udah maafin kalian. Jangan diulangi pada siapa pun." ucap Jesi.


"Terima kasih, bu." ucap ketiganya kompak.


"Jangan panggil ibu. Panggil Jesi aja seperti biasa."


"Oke, Jes. Sekali lagi makasih yah sudah memaafkan kami." ucap mereka sebelum pergi.


Vita melemparkan amplop berwarna coklat tua yang ia bawa ke meja. Perempuan di hadapannya mengambil dan membukanya.


"Dina, aku dipecat!" ucap Vita.


"Sekarang siapa yang bakal nyari uang buat biaya ibu aku di kampung?"


"Nanti aku transfer sampai kamu dapat kerjaan baru. Sementara sampai aku kembali ke Cat Star kamu sembunyi dulu." ucap Dina.


"Aku udah nggak ada alasan buat bertahan disini, seharusnya dari awal aku ngikutin instruksi Om aku aja, bukan malah menyukai orang yang tak pernah menganggap keberadaan diriku." Dina tersenyum kecut sebelum akhirnya pergi lebih dulu.