Possessive Leader

Possessive Leader
My Universe



Halo, Ma. assalamu'alaikum."


"Iya, Ma. Aku sama Karam udah makan kok."


"Emhh... Ahhh... " Jesi menggigit bibirnya sendiri supaya tak mengeluarkan suara-suara aneh yang di luar kontrolnya.


"Emhh... emhh a... a aku nggak apa-apa, Ma. Karam ada kok di bawah." kali ini dia memilih mengambil bantal dan menggigitnya, tubuhnya semakin menggeliat tak terkontrol. Entah apa yang di lakukan Rama di bawah selimut, yang jelas tindakan suaminya itu membuat Jesi kian merasakan gelayar-gelayar yang menggelikan namun enak.


"Mama udah dulu yah, Karam minta bikinin susu. Emhhh.... emh... walaikum ehm.. walikumsalam, Ma."


"Karam ih!" Sekuat tenaga Jesi mencoba mengendalikan kesadarannya lagi.


"Apa jas jus ku sayang? Udah nelponnya hm?"


"Ini tangannya jangan gre pe gre pe terus ih. Nakal." Jesi menjauhkan tangan Rama dari tubuhnya.


"Ini juga ngapain mendadak aku diselimutin? Gerah tau. Panas." Dengan cepat Jesi membuka selimutnya. Kedua tangannya langsung reflek menutup tubuh bagian atasnya yang sudah terbuka.


"Karam, nakal! Bisa-bisanya aku lagi jawab telpon dari mama, Karam malah mretelin kancing piama aku. Gre pe gre pe sana sini bikin aku geli aja. Malu tau sama mama, aku jadi gaje nggak jelas kan tadi gara-gara geli." Protesnya dengan melotot kesal.


"Nanti mama ngira kita lagi ngelakuin hal yang enggak-enggak lagi!" Imbuhnya.


Rama hanya tersenyum kemudian menangkup kedua pipi Jesi. Menjewel pipi yang sedikit cabi itu dengan gemas.


"Ya udah dari pada enggak-enggak mending iya-iya aja yuk!"


"Iya-iya apaan? Jangan aneh-aneh deh!" Jesi menepis tangan Rama dari wajahnya.


"Jangan pasang wajah kayak gitu. Nyebelin. Jadi makin banyak bagian tubuh aku yang perawan lagi." Gerutu Jesi, dia mulai kembali mengancingkan piamanya.


"Nggak usah dikancingin. Kamu kan udah untung banyak liat kakak nggak pake baju, sekarang gantian dong. Harus saling menguntungkan." Rama menahan tangan Jesi yang hendak mengancingkan kembali piamanya.


"Tapi kan aku nggak nyuruh Karam buka baju. Karam yang emhhh..." Lagi Karam langsung membungkam mulut Jesi dengan bibirnya. Cukup lama hingga gadis itu gelagapan karena kesulitan bernafas. Kedua tangannya menjambak rambut Rama.


"Nafas jas jus!" Ucap Rama begitu melepas ciumannya.


"Gimana aku bisa nafas kalo dibungkam mulu." Jawab Jesi cemberut. Dia menyeka sekitar bibirnya yang basah akibat ulah Rama.


"Kar..." Lagi-lagi ucapannya belum selesai sudah di potong oleh ciuman Rama.


"Jangan ngoceh terus." Ucap Rama lirih setelah mengecup pelan bibir Jesi.


"Kalo kamu cemberut gitu bikin kakak makin pengen."


"Emang Karam pengen apa?" Tanya Jesi polos, dia menatap Rama yang tidur miring menghadapnya. Kedua tangannya masih memegangi piama yang belum dikancingkan, memastikan tubuhnya tak terekspos.


"Gemes banget dah." Rama mengecup sekali lagi bibir cemberut Jesi hingga gadis itu terbelalak kaget.


"Peluk sini." Rama menarik Jesi hingga tubuh mereka merapat. Membenamkan kepala Jesi di dada bidang telanjangnya. Dikecupinya pucuk kepala Jesi hingga gadis itu makin merapatkan wajahnya, hembusan nafas hangat yang menerpa dadanya membuat Rama kian ingin segera memiliki Jesi sepenuhnya. Diusapnya berulang kali punggung Jesi, pelan-pelan hingga akhirnya tangannya kembali masuk ke dalam piama Jesi.


"Karam..." Panggil Jesi lirih, sapuan tangan Rama di tubuhnya benar-benar membuatnya meremang, menghadirkan rasa baru yang sulit didefinisikan.


Tangan Rama mulai kembali menyapu setiap lekuk tubuh Jesi. Dari mengusap lembut area punggung, perut hingga kini merambah pada bukit kembar. Dibelainya lembut kedua bukit itu secara bergantian hingga membuat Jesi semakin bergerak tak karuan.


"Karam emhh..." Jesi medongakkan kepalanya menatap Rama yang memandangnya penuh damba.


"Lets do it now, my wife." tanpa menunggu jawaban, Rama langsung mendekatkan wajahnya. Mengecup lembut kedua pipi, kening dan bibir mungil itu sekilas.


"Bolehkan?" Tanyanya yang tak mendapat jawaban apa pun dari Jesi, gadis itu hanya tersenyum.


Sentuhan demi sentuhan yang diberikan Rama benar-benar membuat Jesi melayang. Rasa malu, risih dan penolakan yang ia lakukan di awal nyatanya tak berlaku saat ini. Tubuhnya seolah meminta Rama untuk tak berhenti menjamahnya, sentuhan yang begitu lembut dan melenakan. Hingga tatapan penuh damba nan hangat membuatnya kehilangan kemampuan untuk berkata-kata, pada akhirnya Jesi hanya bisa menjawab dengan senyuman saat Rama meminta ijin untuk melakukannya.


Rama membalas senyuman Jesi dengan kecupan singkat. Kedua tangannya beralih menangkup kedua pipi istrinya, membelainya lembut kemudian kembali meraup manisnya bibir mungil yang biasanya selalu membuatnya kesal dengan ocehan-ocehan nonstop mengalahkan burung beo. Kini Rama tau jika bibir beo cantiknya itu teramat manis. Membuatnya ingin dan ingin terus mengecap, menyecap dan menikmatinya tanpa henti.


"Karam emh..." Tubuh Jesi kian menggeliat menahan sensasi baru yang diberikan suaminya.


Suara parau Jesi terdengar begitu merdu di telinga Rama, membuatnya makin bergairah.


"Karam emh.. sshh ahhh..." Alunan merdu itu kembali terdengar saat Rama mulai menikmati susu cap nona langsung dari sumbernya. Disesapnya lembut puncak bukit kembar Jesi hingga pemiliknya semakin mende sah dan menggeliat.


"Emh... Emhh Karam..."


Semakin sering Jesi men de sah semakin semangat pula Rama menghisap kenikmatan bukit kembar itu. Disesapnya secara bergantian dengan tangan yang terus menggerilnya tanpa henti hingga tiba di lembah yang ternyata sudah basah.


Rama melepaskan pagutan di bukit kembar Jesi, lembah basah yang yang ia temui lebih menarik untuk di eksplor lebih dalam. Dibukanya celana tidur Jesi dan membuangnya asal, hingga lembah baru itu terpampang di hadapannya. Melambai-lambai seolah memintanya untuk segera bertamasya ke sana. Tanpa menuggu lama, dibelainya lembah itu dengan lembut.


"Karam emh ah..ah.. aku.."


Rama kembali meraup bibir yang terus men desah sejak tadi, me ngu lumnya dalam-dalam.


"Sekarang yah?" Ucap Rama begitu melepas ciumannya. Dibukanya celana yang ia kenakan hingga si adik yang sudah bangun sejak tadi terpampang nyata.


Jesi menutup reflek menutup matanya, baginya terlalu memalukan. Rama mengecup kedua kelopak mata Jesi yang terpejam secara bergantian.


"Buka mata kamu sayang, lihat kakak." Ucap Rama lembut.


Jesi membuka matanya balas menatap lembut suami yang berada di atasnya. Tatapan hangat penuh damba yang membuatnya merasa begitu disayang.


Dengan perlahan Rama mengarah adik juniornya untuk segera memasuki lembah


"Karam... Aarghh" teriak Jesi saat merasakan benda tumpul yang memaksa masuk ke dalam tubuhnya.


"Sakit..." tangannya me re mas sprei abu-abu.


Rama segera membungkam mulut Jesi, menciumnya dengan lembut. Mengambil kedua tangan Jesi yang me re mas sprei dan mengalungkannya pada lehernya.


"Rileks sayang." Ucapnya pelan setelah melepas ciuman.


"Auchhhh..." teriak Jesi karen dalam sekali hentakan Rama mendorong si adik junior hingga benar-benar tenggelam dalam lembah bergoa milik Jesi.


"Sakit Karam." Ucap Jesi. Butiran-butiran air mulai membasahi pipinya.


"Maaf sayang. Sakit cuma bentar kok." Rama menyeka air mata di pipi Jesi. Diciuminya seluruh wajah Jesi dengan penuh kasih sayang kemudian mulai memberikan hujaman-hujaman pelan di bawah sana.


"Emh.. emh... Ah .. Karam..."


"Panggil kakak sayang... Sayang..." Rama makin mempercepat hujamannya membuat Jesi semakin memggelinjang tak karuan.


"Karam emh... Ah... Ah..."


"Karam aku..."


"Kenapa sayang?" Rama semakin bergairah dan mencium wajah Jesi yang mulai basah oleh keringat.


"Karam aku.. uhhh aahh emhhh..." tubuh Jesi menengang mencapai klimaksnya. Rama menjeda hujamannya, membelai sayang wajah Jesi yang terengah. menyibak poni yang sudah basah karena keringat. Diciumnya kembali kening basah itu berulang kali.


"Sebentar lagi yah sayang." Ucapnya kemudian kembali memberikan hujaman-hujaman yang membuat Jesi kembali mendesah.


"Emh ah ahh... Karam..."


Rama kian mempercepat tempo hujamannya. De sa han dan era ngan keduanya memenuhi ruangan bernuansa navy itu.


"Ahhh..." Rama mencapai klimaknya, ia mengecupi seluruh wajah Jesi.


"Terimakasih, istriku. You are my universe." Ucapnya kemudian menarik Jesi kedalam pelukan.