
Jesi masih cemberut dan menatap Rama yang mengbaikannya. Pria itu hanya melihat sekilas padanya sambil tersenyum kemudian fokus kembali pada jalan kemudi.
"Jangan metolot kayak gitu. Bukannya serem malah bikin aku pengen ketawa liatnya." ejek Rama.
"Nggak sopan juga melotot gitu sama calon suami." imbuhnya.
Jesi mendengus kesal, dia semakin cemberut.
"Tau lah aku sebel. Karam aja nggak sopan sama aku. Ngapain aku mesti sopan sama Karam coba?"
"Nggak sopan gimana coba?"
"Lah tadi Karam ngapain aku coba? pikir dong!"
"Masa iya mesti aku ingetin. Udah bikin aku jadi nggak perawan lagi. sebel dah!"
"Emang aku ngapain? coba ingetin dong, lupa Kakak. Sekalian praktekin juga boleh." ucap Rama. ia menunjuk pipi kirinya.
"Karam!" Teriak Jesi.
"Apa Jas Jus kesayangan calon istriku yang imut nan cantik tiada tara?" jawab Rama sambil melirik Jesi yang menatapnya tajam. Gadis itu terlihat kian menggemaskan saat pipinya bersemu merah, Rama tak menyangka jika Jesi yang super percaya diri itu bisa tersipu malu saat di puji.
"Apa apa? kamu pengen di sun lagi? ya ampun ketagihan yah." sambungnya yang kemudian diakhiri tawa. semenyenangkan ini ternyata punya calon istri polos seperti Jesi. Perpaduan berisik, menyebalkan sekaligus mengemaskan menjadi satu.
Jesi mencebikan bibirnya, "apa apa? Kamu pengen di sun lagi? Ya ampun ketagihan yah?" Ulangnya menirukan ucapan Rama.
"Bukannya pengen di sun lagi, yang ada lo pengen gue suntrungin deh!" Lanjutnya.
"Eh mulai berani yah kamu pake bahasa gue elo sama orang tua. Nggak sopan!" Bentak Rama.
"Cie yang ngaku udah tua. Tahan-tahan Om jangan emosi." ledek Jesi.
"Tuh Kan... Aku baru pake bahasa gue elo aja Karam udah ngegas aja. Padahal aku tuh udah seneng banget Karam jadi manis sama aku, eh ternyata bentar doang udah kumat lagi galaknya."
"Aku akan bersikap sesuai sama sikap kamu. Kalo kamu baik yah aku baikin. Kalo kamu salah aku ingetin, aku tegur supaya jadi baik. Bukan berarti aku galak."
"Tapi Karam galak lah. Seringnya juga marah-marah. Tuh kan cuma perkara bercanda aja udah marah. Padahal kan aku cuma bercanda pake gue elo nya." Bantah Jesi.
"Harusnya kan aku yang marah. Karam udah bikin aku nggak perawan." Imbuhnya.
Rama memijit pelipisnya pelan. Lama-lama ia jadi pusing sendiri mendengar Jesi yang sejak tadi koar-koar soal keperawanan, padahal dia hanya mengecup singkat kening dan bibir gadis itu. Perlu digaris bawahi hanya mengecup bahkan menempel saja.
"Kata ibu, aku tuh harus bisa jaga diri. Harus jaga nama baik ayah dan ibu, nama baik keluarga besar aku juga. Nggak boleh sembarangan peluk cium seperti yang Karam lakukan tadi. Aku tuh manusia, Karam. Bukan pakaian yang kalo kotor cukup di kasih rinso, di rendam terus dikucek bentar terus jadi bersih lagi. Meskipun kata iklan berani kotor itu baik, tapi kalo kotor dalam hubungan itu nggak baik." Tutur Jesi panjang lebar.
Rama tertegun mendengar ucapan demi ucapan serius yang keluar dari bibir mungil Jesi. Baru kali ucapan beo cantiknya itu terdengar benar meskipun menggunakan analogi iklan yang menurutnya kurang nyambung. Bagaimana bisa ia menyamakan dirinya dengan pakaian. Ah dasar jas jus meskipun kata-katanya serius selalu ada saja bagian menggelitik.
Rama tak habis pikir ternyata di zaman sekarang masih ada gadis polos dan lugu seperti calon istrinya ini. Di usia dua puluh tahun Jesi masih memegang teguh wejangan dari orang tuanya, gadis itu marah hanya karena dicium, bahkan saat dia tau calon suaminya sendiri yang melakukannya. Rama benar-benar merasa beruntung ternyata kesetiaannya pada calon istri yang belum pernah ia temui sebelumnya berbuah manis. Meskipun Jesi cerewet dan sering menyebalkan tapi gadis itu tak seperti gadis lain yang kebanyakan sudah tercemar pergaulan bebas. Peluk cium sangatlah wajar di kalangan remaja saat ini, bahkan tak jarang yang sampai kebablasan hingga hamil. Hal itu lah yang membuat dirinya begitu protektif terhadap Alya, adik semata wayangnya.
"Malah diem, Karam ngerti nggak maksud aku?" Teriak Jesi.
"Iya, ngerti. Maaf untuk yang tadi." Ucap Rama.
"Yang kamu katakan itu benar, tapi perlu kamu tau kalo hanya cium tempel kayak tadi itu nggak bikin keperawanan ilang."
"Tadi kan tetep aja Karam, aku jadinya udah nggak steril lagi. Udah ternoda sama bibir nakal Karam." Bantah Jesi. Dia melirik bibir Rama, tiba-tiba bayangan rasa di cium untuk pertama kalinya kembali muncul.
"Astaga Jesi... Sadar... Sadar... Mikir apaan otak gue." Batinnya yang kemudian buru-buru melihat ke arah lain.
"Steril segala disebut. Kamu pikir aku bakteri bikin kamu jadi nggak steril?" Ucap Rama.
"Kalo gitu sini deh sun sekali lagi di bekas yang tadi, biar aku ambil ulang bakterinya supaya kesegaran jas jus jadi steril lagi. Gimana?"
"Cih modus. Ogah! Sebel ih Karam kok jadi mesum gini." Protes Jesi.
"Ya ampun aku nggak ngelakuin apa-apa udah dibilang mesum." Bantah Rama.
"Ya, boleh. Meskipun aku nggak terlalu suka sih." Jawab Jesi.
"Kenapa? Pasti lebih suka di sun kan?" Ledek Rama.
"Mesum aja otak Karam ih. Aku kira karena nama Karam itu Ramadhan orangnya bakal alim, eh nggak taunya sama aja. Mesum!" Jawab Jesi.
"Aku nggak suka karena di elus kayak gini bikin aku inget sama Kak Zidan. Dia seneng banget ngelus rambut panjang aku tapi pada akhirnya malah ninggalin aku, selingkuhnya sama sahabat sendiri pula." Batin Jesi.
"Sama kayak siapa?"
"Sama kayak Zidan Zidun maunya nyosor mulu!"
"Huh untung nggak pernah aku izinin dia cium-cium, ujung-ujungnya aku di selingkuhin doang. Sama sahabat sendiri pula selingkuhnya."
"Eh sekarang malah aku udah dinodain sama Karam. Main sosor nggak pake ijin, lebih parah dari Zidan Zidun!" Ucapnya lagi.
"Bararti kakak yang pertama dong?" Tanya Rama, Jesi hanya diam.
"Jangan cemberut gitu. Maaf yah?" Lagi Rama mengelus lembut kepala calon istrinya dan Jesi mengangguk pelan.
Mobil yang dikendarai Rama sudah berhenti dan terparkir dengan baik di depan mall yang sebelumnya pernah mereka kunjungi saat meninjau penjualan produk. Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam sebuah toko perhiasan. Aneka perhiasan terpanjang dengan rapi dan cantik di etalase kaca. Seorang pelayan menyambut mereka dengan ramah.
"Silahkan mas mba."
Jesi masih termenung melihat aneka perhiasan di dalam lemari pajangan dengan model yang unik dari mulai yang lucu, cantik, elegan hingga mewah.
"Pilih apa pun yang kamu suka." Ucap Rama.
"Aku?" Jesi menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu. Kan calon istri kakak cuma kamu." Balas Rama.
"Buat apa? Aku nggak suka perhiasan, Karam. Kayak emak-emak." tolak Jesi.
"Mba nya bisa pilih model ini atau ini." Pelayan menunjukan beberapa model perhiasan yang simple namun elegan.
"Nggak akan kelihatan seperti emak-emak. Dijamin." Sambungnya.
"Mba... Mba... aku belum mba-mba yah. jangan panggil mba. Panggil Neng Jesi." ucap Jesi tak terima.
"Maaf yah, mba. Calon istri saya ini kalo ngomong suka ceplas ceplos." Ucap Rama yang jadi merasa tak enak pada pelayan yang berdiri di hadapan mereka.
"Kamu ini kalo ngomong jangan suka asal. Disaring dulu!" Lanjutnya pada Jesi.
"Ya kali kopi tubruk pake disaring segala, Karam." Bantah Jesi.
"Seriusan aku nggak suka pake perhiasan. Emang buat apa sih? Mama Karam mau ulang tahun yah? Buat kado gitu?" Tebak Jesi.
"Kalo gitu modelnya jangan yang kayak gini. Kayaknya yang di sebelah sana deh lebih cocok buat ibu-ibu." Lanjutnya.
"Buat kamu, Jesi. Untuk mas kawin pernikahan kita. Jangan bilang kamu nggak tau kalo nikah mesti pake mas kawin. Udah sekarang buruan pilih, keburu sore. Kita harus pulang lebih cepat hari ini."
"Ngapain pulang cepet, Karam? Katanya tadi mau jalan-jalan? Aku kan pengen jalan-jalan sampe malem mumpung sama Karam jadi nggak bakal dimarahin ayah. Udah lama aku nggak jalan-jalan sampe malem, liat lampu kendaraan yang cahayanya saling beradu di jalanan sambil makan di warung tenda sisi jalan. Oh kayaknya enak, aku jadi laper lagi."
"Justru kalo hari ini kamu pulang kemaleman bukan cuma kamu yang dimarahin, tapi kakak juga." Ucap Rama sambil mengguncang bahu Jesi yang sepertinya sedang membayangkan enaknya makan pecel ayam warung tenda di depan kantor.
"Cepet pilih perhiasan yang kamu suka lalu pulang!" Sambungnya.
"Tapi aku masih pengen main, Karam. Lagian buru-buru banget mau ngapain sih?" tanya Jesi.
"Nikah!"