Possessive Leader

Possessive Leader
Bonus 11. Tidak menerima titipan!



“Udah woy lama amat!” cibir Jesi hingga Raka berdecak dan melepaskan ciumannya.


“Ya kali aja belum diabadiin gitu makanya gue tahan. Abis kang fotonya nggak bilang tahan... tahan... gitu.” Elaknya.


“Bisa aja modusnya!” ucap Jesi tak mau kalah.


“Modus sama istri sendiri bebas dong, udah halal.” Balas Raka.


“Lo tau nggak kalo makin sering modus makin banyak pahala? Sama istri mah cuma natap gini aja pahala ngalir.” Raka menatap kilas Alya yang malu-malu. Gadis itu makin menunduk menyembunyikan rona merah wajahnya setiap kali kata-kata Raka mendapat sorakan dari para tamu.


“Ya kan my baby?” lanjutnya seraya mencubit gemas dagu Alya.


“Lihat Aa atuh.” Sambungnya.


“Cih... alay.” Cibir Jesi lagi.


“Cih... sirik!” balas Raka.


Melihat istri dan suami sah adiknya yang belum genap satu jam sudah ribut membuat Rama memijit kening.


“Sayang, kita ke sebelah sana dulu yuk. Kayaknya Kara pengen minum susu. Yuk kesana yuk!” Rama merangkul Jesi supaya menjauh dari Raka. Tak terbayangkan apa yang akan terjadi kedepannya jika mereka satu rumah, ramenya pasar pasti lewat batin Rama.


Meski sudah berjalan menjauh tapi Raka masih bisa melihat Jesi yang sesekali melihat ke arahnya sambil mengejek. Raka hanya menghela nafas panjang kemudian menggelengkan kepalanya.


“Kakak ipar kamu, Al.” Ucapnya.


“Kakak ipar Aa juga.” Balas Alya.


“Eh iya yah.” Jawab Raka sembari memperbaiki posisi pecinya yang sama sekali tak miring.


“Jadi gimana nih masih ada sesi foto sun sun nggak Kang?” lanjutnya bertanya pada fotografer mereka yang masih setia dengan kamera.


“Otak lo, Ka! Sun nya dilanjut di kamar aja yah. Sekarang foto pamer buku nikah aja nih!” Naura mengambil dua buku nikah kemudian memberikannya pada Alya dan Raka.


“Ya kali masih ada, Ra.” Balas Raka seraya menerima buku nikahnya.


“Pegang nih, Al. Sun nya ntar lagi yah.” Ledeknya.


“Jangan nunduk terus atuh my baby nya Aa.”


“Malu A.” Jawab Alya.


“Nggak usah malu-malu dong my baby, kayak sama siapa aja.” Raka merangkul Alya, keduanya tersenyum memamerkan buku nikah mereka.


Rangkaian acara demi acara berlalu dengan lancar meski sikap dan ucapan Raka sering kali memancing sorakan dari para tamu. Satu persatu tamu mulai menyalami dan memberikan ucapan selamat pada keduanya. Meski sering tersipu malu tapi hari ini senyum Alya berulang kali mengembang dibibir yang dipoles lipstik berwarna pink itu.


“Capek nggak?” tanya Raka.


“Nggak A.”


“Kali aja kamu cape kita bisa ke kamar duluan.” Ucap Raka.


“Jangan ngada-ngada mau ke kamar jam segini yah. Liat noh tamu masih banyak.” Raka kembali menghela nafas panjang, kenapa sih ucapannya harus terdengar oleh Jesi.


“Al, aku pamit balik ke kamar duluan yah Kara udah ngantuk . Liat tuh malah bobo dipangkuan Karam.” Ucap Jesi seraya menunjuk suaminya yang memangku Kara.


“Selamat yah buat pernikahan kalian, aku ikut seneng pake banget.” Jesi memeluk erat adik iparnya.


“Siap-siap yah, yang pertama suka sakit tapi tenang aja enak kok.” Bisiknya.


“Jesi ih!” Alya mencubit lengan kakak iparnya, bisa-bisanya dia membahas hal vulgar seperti itu. Tiba-tiba bayangan suara-suara meresahkan yang hampir tiap malam mencemari telinganya seolah muncul dan membuatnya membayangkan hal yang seharusnya.


“No...no... Alya kamu mikir apa!” batin Alya, ia langsung menepis jauh-jauh pikirannya dan menggelengkan kepala berulang kali.


Jesi tertawa melihatnya, “jangan dibayangin lah,, praktekin aja langsung.” Selorohnya kemudian melangkah maju dan berhenti di depan Raka.


“Dilarang kepo yah, Karak! Pokoknya selamat buat pernikahan kalian. Aku do’ain kalian bahagia selalu, langsung dikasih keturunan juga biar nggak ngurus anak kaktus mulu. Liat noh anak kaktus kalian udah banyak, masa kalah sih sama kaktus.” Sindir Jesi sambil menunjuk deretan kaktus mini di samping pelaminan.


“Dah lah aku mau ke kamar dulu, Kara udah bobo.” Lanjutnya seraya menepuk pundak Raka meski harus sedikit berjinjit.


“Eh...eh...” Jesi yang sudah hampir turun kembali berjalan kembali ke hadapan Raka.


“Ntar malem supaya kalian nggak cuma berdua aku nitip Kara yah, supaya aku sama Karam bisa bikin adik buat Kara.”


“Aqua gelas!” Raka meninggikan suaranya kesal.


“Yaelah Karak, aku cuma bercanda kali. Udah ah bye-bye.” Dengan cepat Jesi menjauh dan menghampiri suaminya.


“Sabar atuh A... dari tadi Aa ribut mulu sama Jesi.” Alya mengelus sayang tangan suaminya.


“Hadeuhh kalo di elus gini Aa malah makin nggak sabar, Al.” Raka ikut mengusap tangan Alya.


“Nggak sabar pengen buru-buru ke kamar.” Lanjutnya sambil tertawa yang langsung dihadiahi cubitan oleh Alya.


“Aduh sakit sayang. Aa cuma bercanda, tapi kalo kamu mau sekarang yah ayo gass pol.”


“A Raka ih!”


“Maaf... maaf Aa cuma bercanda, beneran deh. Jangan ngambek yah my baby nya Aa.” Bujuk Raka.


Satu persatu tamu pergi dan ballroom akhirnya kembali sepi, hanya menyisakan beberapa kerabat terdekat yang masih asik bercengkrama. Raka menggandeng Alya dan berpamitan untuk beristirahat lebih dulu.


“Iya udah sana gih. Tadi tadi udah nggak sabar kan? Sana selamat sayang-sayangan.” Ledek Naura.


“Iya dong.” Balas Raka dengan senyum jumawanya.


“Awas aja kalo pada ganggu yah! Nggak usah ngetuk-ngetuk kamar gue sampe besok.” Lanjutnya.


“Ntar gue ketuk lah, kalo perlu gue gedor. Yah kan, mas?” ledek Naura seraya mengedipkan mata pada suaminya.


“Ntar kita titipin Khayla ke mereka yah? Biar kita bisa honeymoon lagi.” Lanjutnya.


“Gimana Al nggak keberatan kan kalo malam ini Khayla tidur sama kalian?”


Alya tersenyum ramah, “aku nggak keberatan mba. Nanti sekalian aku ajak Kara juga, pasti rame. Kara juga kadang bobo sama aku.”


“Wah cocok itu.” Balas Naura.


“Nggak! Nggak bisa gitu, sayang. Aa yang keberatan! keberatan banget.” Ucap Raka.


“Pokoknya nggak ada titip menitip anak. Gue sama Alya nggak bisa diganggu. Titik!!” pungkas Raka langsung merangkul Alya posesif dan membawanya ke kamar.


Tiba di depan kamar belum sempat Raka membuka pintu, Jesi keluar dari kamar yang tepat berada di depan kamarnya sambil menatih Kara.


“Gue nggak nerima penitipan anak yah!” ucap Raka.


“Apaan sih gaje? Orang mau jalan-jalan natih Kara doang.” Balas Jesi.


“Karam, ayo...” teriaknya pada Rama yang masih di dalam kamar, tak lama suaminya itu keluar dengan membawa tas berisi perlengkapan Kara.


“Yuk papi yuk kita ke kamar nenek...” ucap Jesi mewakili anaknya yang belum bisa bicara dengan jelas.


“Ya kirain mau nitip gitu, lo sama Naura kan sama-sama ngeselin. Suka nggak bisa liat gue bahagia dikit aja.” Sindir Raka.


“Ya udah kalo gitu aku nitip Kara nih!” ledek Jesi, dia sudah menggendong Kara dan hendak memberikannya pada Alya. Bibi ale-ale itu sudah mengulurkan tangannya membalas uluran tangan Kara yang ingin ikut pada dirinya.


Buru-buru Raka menarik istrinya dan menjauhkannya dari Kara, ia bahkan langsung membawa Alya masuk dengan posesif.


“Mohon maaf tidak menerima penitipan anak!” ucapnya tanpa menunggu jawaban dan langsung menutup pintu rapat-rapat.