
Silaunya cahaya matahari membuat Jesi yang baru membuka mata reflek beralih ke arah yang berlawanan sembari menutup matanya menggunakan telapak tangan. Meraba kasur di sampingnya, sudah tak ada suami yang sedari tadi memeluknya.
"Jam berapa sih? Sinar matahari udah silau aja." Gumamnya.
"Gila jam sembilan." Kagetnya yang kemudian buru-buru bangun.
Jesi bangkit dari tidurnya, duduk bersandar di kepala ranjang sambil merapikan rambutnya asal. Dia kembali menggulung tubuhnya dengan selimut dan berjalan pelan menuju kamar mandi.
"Sumpah gini amat yah. Makin remuk aja badan gue." Gerutunya.
"Enak sih, tapi sakit euy." Ucapnya lirih tapi sedetik kemudian dia tersenyum malu mengingat serangan dadakan subuh tadi. Bagaimana Rama memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Bayangan tatapan lembut dan hangat Rama, belaian penuh damba serta kata-kata manis yang keluar dari bibir suaminya benar-benar meruntuhkan pertahannya. Meski diawal otaknya menolak untuk melakukannya, menolak siapapun menjamahnya namun nyatanya otak dan tubuhnya tak singkron. Otaknya berkata tidak tapi tubuhnya meminta untuk terus, terus dan terus melakukannya.
"Ya salam Jesi lo mikir apaan... Otak gue bener-bener jadi kotor nih sekarang." Jesi menepuk kepalanya sendiri pelan.
Begitu melewati meja rias menengok sekilas pada kaca, "Astaga alergi gue makin parah nih. Tambah banyak gini duh... Harus buru-buru ke dokter spesialis kulit ini mah, masa gue cantik-cantik kulitnya burik." Ucapnya lirih kemudian kembali berjalan.
Selesai mandi Jesi langsung mengeringkan rambutnya buru-buru karena cacing di perutnya sudah demo minta diberi makan.
"Disaat seperti ini gue pengen deh punya rambut pendek aja biar cepet ngeringinnya."
"Seumur-umur dah jam segini udah keramas dua kali. Gila banget, kalo keterusan bisa jadi boros sampo nih." Dia terus menggerutu di depan cermin.
"Eh Jas Jus kesayangan udah bangun ternyata, padahal baru aja kakak mau bangunin kamu." Ucap Rama yang baru masuk ke dalam kamar.
"Eh jas jus kesayangan udah bangun ternyata, baru juga kakak mau bla... Bla.... Bla..." Jesi mencibir kata-kata Rama.
"Sini biar kakak bantu ngeringin." Rama mengambil alih hair dryer dari tangan Jesi.
"Nggak usah ah. Ntar aku di enggak-enggak lagi sama Karam." Tolak Jesi, dia bermaksud mengambil kembali hair dryer dari tangan Rama tapi suaminya itu justru menjauhkannya dan tak memberikannya pada Jesi.
"Di enggak-enggak gimana? Di enak-enak gitu kok." Rama menyisir rambut Jesi dengan jarinya seraya mengarahkan hair dryer mengeringkan rambut Jesi.
"Karam enak, aku mah sakit. Sakit banget. Mana sekarang laper banget lagi." Keluhnya.
"Masa sih sakit? Orang sakit kok men de sah keenakan. Mana minta terus...terus ... Terus, Karam emh.. emhh" ledek Rama, dia menirukan suara Jesi saat pergumulan subuh tadi.
Jesi berbalik dan menendang kaki Rama, "Karam ih... Aku marah nih!" Ucapnya kemudian cemberut.
"Kekerasan dalam rumah tangga nih." Keluh Rama.
"Biarin kalo nggak keras nggak enak!"
"Ya ampun Jas Jus ngomongnya. Sekarang istri kakak udah tau yang keras-keras enak yah?" Ledek Rama.
"Karam yang enak, aku mah sakit."
"Ntar kalo udah terbiasa juga nggak sakit lagi. Ya minimal sehari tiga kali gitu." Ledek Rama dengan senyum penuh maksud.
Jesi melotot ke dalam cermin, "gila... Tiga kali sehari, saingan sama minum obat dong!"
"Udah jangan ngomong mulu! Hadap sana lagi biar kakak keringin rambut kamu. Dikit lagi juga kering nih."
"Kakak suka rambut panjang kamu. Bagus." Pujinya sambil terus membelai rambut Jesi.
"Curiga deh aku kalo Karam udah mulai muji-muji gitu, suka ada udang dibalik gorengan."
"Udang di balik batu maksud kamu? Jangan suka ngasal kalo pake pribahasa, ngaco!"
"Ya pokoknya itu lah." Jawab Jesi.
"Karam, HP aku bunyi." Jesi hendak beranjak namun bahunya ditahan Rama supaya tetap duduk.
"Biar kakak ambilin." Rama berjalan ke arah ranjang dan mengambil HP Jesi yang terletak di nakas samping ranjang.
"Vidio call, Alya." Ucapnya seraya menyerahkan HP dan kembali membelai rambut Jesi.
Begitu tombol hijau di geser, wajah gadis berhijab beserta beberapa orang memenuhi layar. Rupanya Alya melakukan panggilan vidio call bersama mama dan kedua orang tua Jesi dari rumah sakit.
"Walaikumsalam, Al. Belum nyampe mana-mana, masih di rumah."
"Kirain udah berangkat. Udah siang juga kok masih di rumah?"
"Gara-gara kakak kamu ini tuh." Balas Jesi sambil cemberut.
"Jas jus menantu kesayangan mama udah makan belum?" Kali ini HP Alya sudah beralih ke tangan mama Yeni.
"Belum, Ma. Baru bangun aku tuh, tadi abis subuh tidur lagi. Cape." Ucapnya jujur.
"Iya, Ma. Nanti Jesi langsung ke sana sama Karam."
"Ibu... Jesi kangen..." Rengeknya kemudian saat Sari mulai berbicara padanya.
"Ibu liat nih. Jesi sakit, alergi banyak banget." Jesi menunjuk bercak-bercak percintaan karya Rama di lehernya yang tak tertutup baju.
"Masih banyak lagi, Bu. Nggak cuma di situ... Di.." belum sempat Jesi berbicara Rama langsung mengambil alih HP dari tangan Jesi.
"Bu, bagaimana keadaan enin? Nanti aku dan Jesi segera menyusul ke sana." Ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Enin sudah sadar, sudah dipindahkan ke ruang perawatan juga. Sepertinya memang pengen dijenguk sama ibu dan ayah, nyatanya pas kami sampai sini kesehatannya membaik."
"Tadi juga enin nanyain Neng Jesi. Enin juga pengen ketemu sama suami cucunya. Tuh liat enin lagi di suapin sama Alya." Sari mengarahkan kamera ke Alya dan ibunya.
"Ibu titip neng Jesi yah. Maaf kalo bikin nak Ramadhan kerepotan." Ucap Sari yang masih canggung dengan menantunya, mengingat putrinya yang begitu manja dan merepotkan.
"Ih ibu mah... Siapa juga yang manja dan merepotkan." Protes Jesi yang sejak tadi duduk di samping Rama.
"Karam tuh yang ngerepotin aku, Bu." Sambungnya.
"Bukan cuma ngerepotin tapi juga bikin aku jadi sakit. Badan aku sakit semua, bu." Adunya.
"Jam segini aku udah keramas dua kali, bu. Karam tuh..."
"Biar kakak yang bicara sama ibu." Rama kembali merebut HP Jesi. Dia tau jika dibiarkan istri lugunya itu pasti tak segan-segan membicarakan urusan ranjang mereka.
"Aku diperkosa mulu sama Karam, bu!"
Glek!!
Rama langsung menelan ludah mendengar ucapan vulgar Jesi, padahal sudah niat jaga-jaga nyatanya beonya keburu nyerocos sesuka hati.
Rama jadi mendadak blank harus bicara apa pada mertuanya.
"Bu, aku tutup dulu teleponnya yah. Setelah sarapan kami segera kesana."
Setelah menyimpan HP Jesi asal, kini Rama beralih menatap Jesi yang juga menatapnya tanpa dosa.
"Jas jus kamu itu kalo ngomong!"
"Apa?"
Rama menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Ingin rasanya menasehati Jesi supaya tak ceplas ceplos lagi, jujur memang penting tapi tak semua harus dibicarakan pada orang tuanya.
"Huh kalo aja lo bukan istri gue.. udah gue karungin, gue buang ke tempat sampah deh. Bener-bener nguji kesabaran banget. Udah dibikin enak juga polosnya masih kebangetan." Batinnya.
"Katanya tadi lapar? Kita sarapan yuk. Kakak udah buatin nasi goreng." Pada akhirnya hanya ajakan makan yang keluar dari bibir Rama. Dari pada dikasih ceramah ntar malah ribut dan berakhir dia tak bisa mendaki gunung, menyusuri lembah hingga masuk goa lagi malah bahaya pikirnya. Maklum karena umur mereka yang terpaut cukup jauh dan usia tak menjamin kedewasaan maka dia harus banyak mengalah dan mendidik istrinya dengan sabar.
.
.
.
Sabar Karam... yang penting bisa enak-enak aja dulu. ntar si jas jus dididiknya sembari enak-enak biar nggak protes๐๐