Possessive Leader

Possessive Leader
baby?



"Jes udah telpon kakak belum? Tadi kakak bilang mau jemput kita kan?" Alya menengok ke belakang, sahabat merangkap kakak iparnya itu sedang memasukan buku ke dalam tas.


Hari ini mereka pulang lebih awal karena dosen mata kuliah jam terkahir tak bisa masuk, ada kepentingan mendadak katanya. Mereka hanya diberi tugas take home.


"Yuk cabut, Al!" Ajak Jesi yang sudah menggenakan tas.


"Emang kakak udah dikasih tau kita pulang cepet?" Alya mulai memasukan buku dan alat tulisnya ke dalam tas, sementara kakak iparnya sudah terlihat tak sabar berdiri di sampingnya.


"Belum. Karam taunya kita pulang jam setengah empat." Jawab Jesi.


"Buruan ah kita ke depan sekolah dasar yang waktu itu, alhamdulillah banget nih bu Maya nggak masuk jadi pulang cepet. Kalo jam segini pasti kang cilornya masih ada kan yah?" Jesi melirik jam tangannya, benda bulat kecil itu menunjukan pukul sebelas lebih tiga puluh menit.


"Bilang kakak dulu lah, Jes. Nanti kakak nyariin kalo kesini tapi kitanya nggak ada." Alya sudah mengeluarkan ponselnya, buru-buru Jesi merebut benda pipih itu dari tangan adik iparnya.


"Lo mau bilang ke Karam kalo kita pulang cepet terus nyari cilor?" Jesi mencebikkan bibirnya.


"Jangan bilang-bilang ke Karam, pasti nggak boleh!" Sambungnya.


"Ya kan kamu emang nggak boleh jajan yang aneh-aneh dulu kata kakak. Semalem katanya kamu muntah-muntah lagi?" ujar Alya.


"Kakak udah wanti-wanti sebelum berangkat tadi, kamu nggak boleh makan jajanan micin dulu." imbuhnya.


"Kata siapa nggak boleh?" Tanya Jesi.


"Boleh-boleh aja asal Karam nggak tau hahaha" Aneh dirinya mendadak merasa bahagia bisa mencari makanan yang ia inginkan sejak kemarin.


"Buruan ah ayo, Al!" Tak sabar dia menarik tangan Alya.


"Tapi kalo sampe ketauan sama kakak jangan bawa-bawa aku yah, Jes. Ntar aku kena semprot."


"Udah sih tenang aja. Nggak bakal ketauan kalo lo nggak ember." Timpal Jesi.


"Hih siapa juga yang suka ember? Bukannya kamu?" Alya jadi sedikit keki mengingat Jesi yang dulu asal ceplos soal lelaki yang ia sukai pada Rama.


"Gue sih bukannya ember, Al. Cuma suka keceplosan aja." Kilah Jesi.


"Lagian sekali doang gue keceplosan lo masih ngungkit aja. Toh nggak apa-apa kan Karam juga setuju lo sama Karak." Imbuhnya.


"Iya dah Kakak Jas Jus emang maha benar."


"Bukannya netizen yang maha benar yah, Al?"


"Tau ah suka-suka kamu aja, Jes."


"Ish becanda doang, Al. Jangan ngambek." Jesi memegang lengan kiri Alya dan menyandarkan kepalanya di bahu Alya.


"Pengen kayak gini ke Karam. Kangen euy." Ucapnya lirih.


"Euhh mulai deh lebay binti alay kamu, Jes. Baru juga beberapa jam nggak ketemu." Cibir Alya.


"Nggak tau nih, udah beberapa hari pengennya deket Karam mulu. Kalo bisa gue nggak usah kuliah terus Karam nggak usah kerja, kita sayang-sayangan aja terus."


"Heleh ngaco kamu, Jes! Kalo kakak nggak kerja kita mau makan apa?"


"Ya makan makanan lah, Al. Kan gue sultan, biar pengangguran gini juga gue tuh pengangguran high class. Uang ayah tuh nggak bakalan abis sepuluh turunan juga. Lagian juga botol misting punya Karam laris manis. Adem ayem udah lah hidup kita."


"Mulai kumat deh kakak ipar kesayangan aku ini... Inget Jes semua hanya titipan, kita nggak boleh sombong,"


"Iya iya titisan mamah dedeh, gue cuma becanda juga. Lagian kesel lo nanggepinnya serius banget, gue kan cuma lagi kangen aja." Potong Jesi sebelum ceramah Alya meleber kemana-mana.


"Btw mana ini kang ojeg lama banget dah." Jesi mulai menggerutu karena ojeg online pesanannya belum juga datang.


"Kita naik ojeg, Jes?"


"Nah si babang ijo udah datang. Cus ngeng lah kita Al, sengaja gue pesen dua buat lo satu."


Jesi tersenyum sumringah begitu turun dari ojeg online karena kang cilor masih stay di depan SD, tak peduli keringat membasahi keningnya. Dia langsung menghampiri gerobak jajanan itu.


"Bikinin dua puluh ribu mang."


"Siap teh."


Jesi sudah berulang kali menelan ludah melihat potongan aci yang di siram telur.


"Al, lo mau nggak?" Tawarnya pada Alya.


"Biar sekalian si mang bikinnya." Sambungnya tanpa melihat ke arah Alya. Dia terus fokus melihat cilor yang sedang di masak meski sesekali memijit pelipisnya karena pusing.


"Al, gue...."


"Jes... Jesi kamu kenapa?" Alya langsung panik tak karuan mendapati Jesi ambruk begitu saja.


Seketika beberapa penjual dan orang-orang yang sedang jajan mengerumuni mereka.


"Jes jangan bercanda deh. Nggak lucu. Jesi ih." Alya menggoyangkan bahu Jesi, tak ada respon.


"Jesi... Jes bangun ih. Becanda kayak gini nggak lucu sumpah Jes!"


"Jesiiiii...." melihat Jesi yang tak kunjung sadar membuatnya semakin kelimpungan tak jelas.


Beruntung salah satu guru yang hendak pulang memberhentikan mobilnya dan membantu membawa Jesi ke rumah sakit yang letaknya tak jauh dari sana.


"Makasih bu atas bantuannya." Alya segera mengikuti perawat yang membawa Jesi.


"Jes kamu kenapa sih? Kenapa nggak bangun-bangun." Panik Alya. Dia baru ingat belum menghubungi keluarganya. Buru-buru Alya mengeluarkan ponselnya dan menelpon Rama.


"Kak, Jesi pingsan. Kakak kesini." Saking paniknya dia sampai tak menjawab salam Rama.


"Rumah Sakit Persada." Alya segera mematikan panggilannya dan beralih menatap Jesi yang terbaring lemah dalam pemeriksaan seorang dokter.


"Temen saya kenapa dok?" Tanyanya pada dokter wanita paruh baya yang terlihat begitu tenang.


Belum sempat si dokter menjawab, perhatian Alya teralihkan karena Jesi yang mulai sadar.


"Jes, kamu udah sadar? Ada yang sakit nggak?" Paniknya tetap ada, nggak ilang-ilang.


"Gue dimana?" Ucap Jesi pelan sambil mengamati lingkungan sekitarnya.


"Rumah sakit, Jes. Tadi kamu pingsan." Jawab Alya.


"Dok, ini temen saya nggak apa-apa kan? Tadi dia tuh baik-baik aja, tiba-tiba pingsan." terang Alya.


"Tidak apa-apa, ini hal biasa jangan terlalu khawatir. Kadang memang ada yang seperti itu, banyak malahan. Yang penting minum vitamin, susu sama makan teratur. Tak perlu banyak yang penting ada yang masuk. Kurangi aktivitas juga supaya tidak kecapean." Ujar dokter, Jesi dan Alya hanya diam tak mengerti.


"Trimester pertama memang suka begitu. Ibu tinggal dulu yah, nanti ibu minta dokter kandungan ngasih resep vitamin buat kamu. Sehat-sehat yah sama si baby." Imbuhnya.


Jesi dan Alya saling tatap bingung, "baby?" Ucap keduanya kompak.


.


.


.


up gasik nih...jangan lupa tampol jempol, lope sama komentarnya.