Possessive Leader

Possessive Leader
Mas Kawin



"Mohon maaf Pak RT, Pak ustad, dan Pak Penghulu juga, anak saya memang seperti ini, kalo udah ngomong suka susah di remnya. Saya permisi masuk ke dalam sebentar yah." Ucap Burhan, jujur saat ini dia benar-benar malu dengan ulah Jesi.


"Ikut ayah!" Imbuhnya kemudian seraya memaksa Jesi untuk masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Sari dan juga Rama.


"Duduk!" Ucap Burhan tegas, membuat Jesi seketika menurut dan duduk di samping Rama.


"Ayah minum dulu supaya tenang." Sari memberikan air putih pada suaminya.


"Udah-udah nggak perlu, bu!" Burhan menepis gelas dari Sari.


"Kamu itu bisa tidak kalo ada orang ngomong tuh di dengerin dulu, Neng? Jangan nyerocos terus itu bibir." Ucapnya pada Jesi.


"Kamu juga, Ramadhan. Apa kamu tidak memberitahu Jesi kalo malam ini kalian akan segera menikah? Sampe calon istri kamu nyerocos terus, bikin malu aja." Alhasil Rama pun jadi kena semprot calon mertua.


Meskipun rasanya begitu geram dengan tingkah Jesi yang menyebabkan dirinya kena semprot Burhan, tapi Rama tetap menjawab ucapan calon mertuanya dengan tenang. Toh baginya dibuat kesal oleh Jesi sudah tak aneh, sudah mulai terbiasa dengan perubahan kehidupannya yang tak lagi tenang setelah kehadiran Jesi.


"Aku sudah memberitahu, ayah. Tapi Jesi nya yang tidak percaya. Aku ajak pergi beli mas kawin saja malah bikin heboh di toko perhiasan. Dan maaf karena sampe detik ini aku belum dapat mas kawin untuk Jesi. Bingung disuruh milih perhiasan nggak mau. Ditanya mau nya apa jawabannya malah nggak tau."


"Bentar-bentar..." Sela Jesi.


"Jadi ini beneran mau nikah sekarang?" Tanyanya. Saat ini kentara sekali ekspresi terkejut bercampur panik di wajah Jesi.


"Iya sayang." Jawab Sari, membuatnya Jesi kian kalut. Ia mulai menghentakkan kedua kakinya, panik. Diliriknya Rama yang terlihat tenang dan justru mengejeknya dengan senyum tertahan yang menyebalkan.


Jujur siang tadi juga Rama merasakan hal sama setelah menerima telpon dari calon mertuanya. Bagaimana ia tak seketika panik saat Burhan memintanya untuk segera menikahi Jesi hari ini juga, sedang keadaan dia dan Jesi sedang tak baik siang itu. Ucapan Jesi yang ingin menukar calon suaminya jadi Raka, perlakuan Raka yang begitu manis pada jesi hingga ucapan Naura tentang tikungan tajam yang mengancamnya karena Jesi terlihat lebih nyaman dengan Raka ketimbang dirinya membuat perasaannya jadi campur aduk tak karuan, sejauh ini ia masih tak tau perasaannya pada Jesi seperti apa. Yang jelas ia tak ingin calon istrinya dekat dengan lelaki lain, sekalipun Raka yang merupakan sahabat baiknya sendiri.


"Kok jadi sekarang sih? Bukannya kemarin malem ayah sama ibu bilang kalo pernikahannya bakal dilakuin minggu depan?" Tanya Jesi.


"Ini darurat Jesi. Kalian harus segera menikah. Yang penting sah aja dulu, urusan resepsi kita adakan menyusul nanti." Ucap Burhan.


"Tapi yah.... Ini terlalu gila." Protes Jesi.


"Belum dua puluh empat jam aku tau kalo Karam itu calon suami aku dan sekarang mau langsung di gas nikah aja?"


"Emangnya ada hal darurat apa sih, yah?"


"Apa Indonesia bakal hancur kalo aku nggak nikah malam ini juga? Atau harga saham ayah bakal meroket tinggi kalo tau putri semata wayangnya nikah sama pengusaha muda yang sukses gitu? Yang kayak di drama-drama gitu?"


"Stop... Stop Jesi! Rem dulu ocehan kamu. Lama-lama ayah jadi pusing dengernya. Abis jadi anak kost kamu jadi makin cerewet." Potong Burhan.


"Nenek di kampung lagi sakit, Jes." Sambungnya.


"Enin sakit? Sakit apa? Kenapa aku nggak tau?" Sela Jesi.


"Dengerin dulu! Ayah belum selesai bicara."


"Enin jatuh, kepalanya kebentur dan sampe sekarang belum sadar. Di rawat di ICU udah tiga hari dan belum ada perubahan. Malam ini setelah kalian menikah ayah sama ibu mau langsung pulang kampung dulu, mau ngerawat enin kamu."


"Makanya ayah nikahin Jesi malam ini juga, supaya selama ayah sama ibu di kampung ada yang jagain Jesi di sini."


"Jesi mau ikut. Nikahnya nanti aja kalo enin udah sembuh, yah." Rengek Jesi.


"Jesi bisa menyusul kalo libur kerja akhir pekan nanti, sama Ramadhan juga. Akan lebih baik jika kalian segera menikah, niat baik tak perlu ditunda-tunda. Toh nikah sekarang maupun nanti tak ada bedanya, justru enak nanti kalo kalian pergi bersama-sama sudah sah dan tidak menimbulkan fitnah."


"Tapi yah. Jesi udah gede, bisa jaga diri meskipun di rumah cuma sendirian juga. Nanti kan bisa sekali-kali aku nginep di rumah Karam, kan ada Alya. Atau kalo nggak gantian Alya sama Karam yang nginep di sini biar aku nggak sendirian." Ucap Jesi.


Burhan berdecak pelan mendengar jawaban putrinya, "iya Jesi udah gede tapi pikirannya masih aja kayak bocah. Kalo Ramadhan nginep di sini sebelum kalian menikah, mau digrebeg kamu? Terus di arak keliling komplek, mau? Begitu pun sebaliknya kalo kamu yang nginep di rumah Alya."


"Lah kenapa mesti digrebeg? Kan cuma nginep doang nggak ngapa-ngapain." Bantah Jesi.


"Orang lain mana tau kalian nggak ngapa-ngapain. Coba aja kamu pikir nih kalo misal tetangga kost kamu masukin laki-laki ke kamarnya. Kira-kira menurut kamu mereka ngapain?"


"Itu nganu kali yah." Jawab Jesi ambigu.


"Kemaren waktu aku masih kost ada loh anak kosan sebelahnya bukan kosan aku. Itu ketahuan udah lewat jam sepuluh malem ada masukin cowok di kamarnya, langsung di arak keliling loh. Mana nggak pake baju lagi."


"Nah itu... Kamu mau kayak gitu juga? Makanya nikah!"


"Nggak mau lah, yah. Ya udah sih aku nggak usah nginep di rumah Alya, terus Karam juga nggak usah nginep di sini. Aku balik ke kosan aja selama ayah dan ibu pulang kampung." Jesi memberi solusinya yang menurutnya sangat-sangat cerdas, signifikan tiada tara.


"Kamu berani keluar dari rumah ini dan kost lagi, ayah pastikan nggak ada lagi nama Jesika Mulia Rahayu di kartu keluarga kita!"


Yeni merangkul bahu Jesi, diusapnya pelan bahu gadis yang akan segera menjadi menantunya.


"Mama tau jas jus pasti terkejut banget kan?" Tanyanya lembut membuat Jesi mengangguk mengiyakan.


"Sama. Mama, Alya, Kak Ramadhan juga. Kita semua kaget, tapi ini keputusan terbaik. Jadi Jas jus bisa tinggal sama mama, Alya dan Kak Ramadhan selama ayah dan ibu jagain enin di kampung. Nanti sesekali kita bisa kesana, gantian jagain enin juga."


"Iya bener, Jes. Nanti kita jadi bisa tinggal serumah pasti seru deh." Timpal Alya.


"Kamu jadi kakak ipar aku. Sesuai keinginan kamu dulu, masih inget kan?"


"Inget, Al. Nanti kita bisa cerita-cerita sepuasnya yah, Al?"


"Iya, Jes." Jawab Alya.


"Jadi gimana? Tidak masalah kan kamu nikah malam ini?" Tanya Burhan.


"Ya mau gimana lagi, nolak juga nggak bisa kan? Dari pada nama aku dihapus dari kartu keluarga, ntar jadi remahan kerupuk lagi akunya. Nggak lucu kan baru juga dua hari ngerasain jadi sultan eh masa harus jadi rakjel lagi." Jawab Jesi.


"Utang sama Alya yang lima juta juga belum dibayar. Ntar nagihnya ke Karam aja yah, Al."


"Kamu jadi kakak ipar aku, utang kamu aku anggap lunas, Jes." Balas Alya.


"Kalo begitu ayo sekarang jas jus nya mandi dulu biar seger. Abis gitu langsung dandan, tukang riasnya udah nunggu di atas." Ucap Yeni.


"Sebentar, Ma. Mas kawin untuk Jesi belum ada." Rama menahan mama adiknya yang sudah hampir berdiri meninggalkan ruang tamu bersama Jesi.


"Kok bisa? Bukannya kakak nyari dulu tadi sama jas jus?" Yeni jadi ikut-ikutan memanggil Jesi dengan sebutan itu.


"Tuh tanya aja calon mantu mama lah. Aku udah pusing setengah mati hari ini." Akhirnya keluhan yang ditahan-tahan jebol juga.


"Kamu harus stok sabar yang banyak Ramadhan, punya calon istri putri saya." Ucap Burhan yang baru saja berpindah duduk di samping Rama.


"Ayah kok malah belain Karam sih!" Teriak Jesi.


"Udah kamu pikirin aja mau mas kawin apa cepetan. Ayah mau bicara dulu sama Ramadhan." Jawab Burhan yang kemudian mengajak Rama berpindah ke ruangan lain.


"Sejak awal ayah sudah bilang kalo Jesi itu manja, cerewet dan menyebalkan. Karena ayah dan ibu memang terlalu memanjakan dia selama ini, maklumlah dia putri semata wayang kami. Tapi ayah yakin kamu sudah tau sendiri dibalik semua sifat dan sikap menyebalkannya dia adalah anak yang baik. Ayah titip Jesi, didik dia menjadi istri yang baik dengan sabar. Bahagiakan dia, jaga dia seperti bagaimana ayah dan ibu menjaganya selama ini."


Cukup lama mereka berdua berbincang hingga akhirnya kembali menemui Jesi yang masih berada di ruang tamu bersama ibu, mama dan adiknya.


"Sekarang udah tau belum mau mas kawin apa?" Tanya Rama langsung pada intinya tapi Jesi masih terlihat ragu untuk berbicara.


"Kalo kamu tidak keberatan, bagaimana kalo mas kawinnya uang saja. Mau berapa?" Tanya Rama.


"Aku nggak mau uang." Tolak Jesi.


"Terus menantu mama ini maunya apa? Bilang sama kak Ramadhan pasti diturutin kalo mampu." Ucap Yeni.


"Beneran apa pun yang aku mau boleh, Ma?" Yeni mengangguk.


"Beneran, Karam?" Tanyanya pada Rama.


"Iya apa pun yang kamu mau boleh." Jawab Rama singkat.


"Tapi aku belum pernah liat orang nikah pake mas kawin itu, Ma. Nggak apa-apa?" Diliriknya calon mertua, kemudian beralih pada ibunya.


"Boleh nggak sih, bu?"


"Emangnya Neng Jesi mah minta mas kawin apa? Selama mas kawin tak memberatkan calon suamimu tak apa-apa. Katakan saja! Ini udah mau magrib nih, kamu belum dirias ntar kemaleman. Kasihan juga pak penghulu sama yang lainnya nunggu lama." Tutur Sari.


"Aku mau mas kawinnya lightstick BTS Army Bomb spesial edition!" Ucap Jesi seketika membuat orang-orang di sekitarnya terdiam dan hanya saling tatap karena tak tau mas kawin yang baru saja di ucapkan Jesi.


"Apa? Kamu minta mas kawin bom? Jangan aneh-aneh kamu, Jes." Sergah Burhan.


"Bukan bom, ayah. Lightstick, itu benda yang kayak senter bisa nyala warna warni. Merchandise nya BTS. Pokoknya aku mau itu."


Rama menghela nafas panjang, berada di dekat Jesi benar-benar membuatnya jadi sering menghela nafas panjang guna menahan emosi. Punya calon istri yang maunya aneh-aneh memang luar biasa. Luar biasa menguji kesabaran. Bagaimana bisa saat orang lain menjadikan perhiasan, uang atau seperangkat alat shalat sebagai mas kawin, Jesi justru meminta merchandise salah satu idol.


"Astaga Jas jus. Kita mau nikah bukan mau nonton konser." Batin Rama.