Possessive Leader

Possessive Leader
Tersenyumlah, hanya untukku!



Jesi hanya bisa melihat Raka yang tetap tersenyum padanya sambil menanggapi setiap ucapan Rama. Jesi tak tau apa yang dibicarakan kedua pria dewasa itu, yang jelas ekspresi wajah Rama dan Raka berbanding terbalik. Raka yang tetap santai sambil memakan yang ia berikan sementara Rama, wajahnya terlihat begitu kesal. Dari luar Jesi melambaikan tangannya membalas lambaian tangan Raka dari dalam sana.


Begitu melihat Rama yang berbalik melihat ke arahnya Jesi langsung menurunkan lambaian tangannya dan tersenyum manis pada Rama, tapi sialnya Karam yang sedang dalam mode freezer itu hanya menanggapinya dengan decakan menyebalkan.


Tak lama setelah itu Rama keluar dan kembali menarik tangannya, membuat Jesi sedikit berlari mengimbangi langkah panjang Rama.


“Pelan-pelan dong, Karam. Tangan aku lama-lama bisa potong kalo di tarik gini. Sakit.” Keluh Jesi.


“Bisa aku laporin KDRT nih.” Imbuh Jesi karena Rama yang masih terus mengabaikannya.


Rama melepaskan genggaman tangannya, “Ini kantor bukan rumah tangga, nggak ada KDRT!”


“Ya kalo gitu nanti aku laporin penganiayaan karyawan!” balas Jesi tak mau kalah.


“Sebelum lo lapor udah gue balikin lo ke kampus duluan!” Ucap Rama kesal kemudian meninggalkan Jesi begitu saja.


Jesi diam mematung sambil berulang kali membuang nafas ke atas hingga poni di keningnya naik turun karena hembusan udara dari bibirnya.


“Udah gue duga bakal kena semprot Karam. Tapi kenapa sampe sekesel itu sih? Gue kan cuma datang terlambat doang.” Batinnya kemudian berjalan pelan.


Tiba di lantai sepuluh Jesi langsung menghampiri meja Naura dengan lesu. Diletakkannya paper bag berisi makanan itu di samping Naura.


“Buat Mba Naura. Ibu aku yang masak.” Ucapnya kemudian duduk di mejanya dan langsung merebahkan kepala di meja, menggunakan tangan kanannya sebagai bantalan.


Bagi Jesi hari ini begitu nano-nano, bedanya kalo nano-nano tuh rasanya aneh-aneh tapi enak sedang perasaannya kali ini aneh-aneh tapi tak enak sama sekali. Di kepalanya sekarang penuh oleh pikiran-pikiran yang sebelumnya sama sekali tak pernah ia ambil pusing. Terutama ucapan ayahnya soal pernikahan, dia belum siap menikah sekarang.


“Huh kalo tau bakal kayak gini mah tadi nggak usah gue tolongin itu bocah deh. Malah jadi ribet gini hidup gue.” Ucap Jesi lirih.


“Eh tapi kasihan kalo nggak di tolongin.” Imbuhnya kemudian.


“Nolongin siapa?” tanya Naura yang ternyata mendengar ucapan lirihnya.


Jesi mengangkat kepalanya dan berbalik menghadap Naura. Ternyata wanita hamil itu langsung menyantap makanan yang ia bawa.


“Eh nolongin siapa kamu, Jes? Malah bengong.” Ulang Naura dengan mulut yang sedikit penuh.


“Nolong anak SD, Mba. Tadi pas aku nunggu angkot ada kecelakaan. Makanya aku datangnya jadi telat.” Jelas Jesi.


Naura meletakan sendoknya dan mengelap bibirnya dengan tisu kemudian meneguk air mineral di gelasnya.


“Terus kenapa nggak telpon mba atau Karam? Kamu nggak tau dia udah marah-marah terus dari pagi. Kamu yang nggak ada eh mba yang kena semprot terus. Ponsel kamu juga dihubungi susah banget.”


“Nggak kepikiran, Mba. Sampe sekarang aja ku nggak tau ponsel aku dimana. Tadi aku cuma mikirin nasib itu anak aja. Sampe nggak pikir panjang ngambil keputusan, sekarang hidup aku jadi ruwet dah.” Tutur Jesi.


Dering telpon di sudut mejanya membuat Naura tak jadi berucap menanggapi Jesi. Dia mengambil gagang telpon yang langsung membuat telinganya berdenging.


“Iya iya...”


“Masuk gih. Si Karam udah ngamuk-ngamuk dari tadi. Aneh gue itu orang sarapan apa pagi ini, bawaannya marah-marah mulu.” Ucap Naura.


“Aku, mba?”


“Iya kamu, jas jus. Buruan masuk!” lama-lama Naura jadi geram sendiri, mengimbangi Jesi dan Rama. Tak mengerti juga dengan sahabatnya yang akhir-akhir ini menjadi sangat sensitif dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan anak magang yang jadi asistennya. Kalo ada selalu dimarahi habis-habisan tapi kalo tidak ada dicari sampe setengah mati.


“Ya udah aku masuk dulu, Mba.” Pamit Jesi.


“Ya sana. mba mau lanjut makan. Masakan ibu kamu enak banget.” Balas Naura.


“Jes...” panggilnya kemudian membuat Jesi berhenti dan menengok padanya.


“Kalo bisa jangan bikin Darmawan marah yah. Mba nggak tau dia itu kenapa, tapi jujur ini pertama kalinya mba lihat dia khawatir banget.”


Jesi mengembuskan nafasnya pelan, “huh... aku nggak janji mba, soalnya Karam selalu ngeselin.” Jawabnya kemudian masuk ke dalam ruangan Rama tanpa mengetuk pintu. Sudah malas toh mau ketuk pintu maupun tidak nggak ada bedanya, dia akan tetap kena marah.


“Lain kali kalo masuk ketuk pintu dulu!”


Jesi tak menjawab, dia yang sudah berdiri di depan meja Rama justru berjalan keluar dan menutup pintu. Kemudian kembali masuk setelah mengetuk pintu.


“Saya bilang lain kali, Jas jus! Nggak perlu kamu ulangi sekarang karena sudah terlanjur.” Rama mendengus kesal. Padahal Jesi belum berucap apa pun tapi sudah berhasil membuat emosinya kembali naik.


“Maaf.” Ucap Jesi lirih.


“Hanya maaf? Kamu tidak mau menjelaskan alasan kamu datang terlambat? Tidak bukan hanya terlambat, kamu sudah nyaris bolos kerja!”


“Nggak lah. Percuma juga aku jelasin, pasti tetap kena marah kan?”


“Saya nggak akan marah kalo kamu datang terlambat dengan alasan yang masuk akal. Atau setidaknya menghubungi kantor. Bukan malah ngilang nggak jelas dan nggak bisa dihubungi!” sentak Rama.


“Apa kamu nggak pernah mikir gimana khawatirnya saya?” lanjutnya.


Jujur pagi tadi awalnya ia hanya kesal biasa saja karena tak mendapati Jesi hadir. Tapi setelah berulang kali menghubungi dan yang menjawab panggilannya di ponsel Jesi adalah orang lain membuatnya semakin khawatir. Apalagi orang itu bilang jika Jesi terlibat kecelakaan.


“Bukannya Karam malah seneng yah kalo aku nggak masuk? Biar nggak usah marah-marah ke aku gitu. Hemat energi.” Balas Jesi.


“Atau jangan-jangan Karam udah mulai cinta yah sama aku? Cie.. cie...” ledeknya kemudian. Melihat tatapan mata Rama yang berubah hangat ketika berucap ‘apa kamu nggak pernah mikir gimana khawatirnya saya?’ membuat mood Jesi yang tadinya sudah anjlog hingga ke dasar kembali naik. Tatapan hangat yang sudah beberapa kali ia dapatkan dan Jesi menyukai itu.


“Kamu...” Geram Rama, ingin sekali ia memarahi Jesi hingga puas. Kalo perlu hingga gadis itu menangis, tapi setalah melihat Jesi tertawa di hadapannya membuat semua rasa kesalnya hilang.


Tanpa sadar ia justru ikut tersenyum dan mengelus pelan pucuk kepala Jesi hingga gadis itu menatapnya penuh tanya.


“Tertawa dan tersenyumlah sepuasmu di depanku. Hanya di depanku, Jas Jus. Bukan di depan orang lain!” batin Rama.