Possessive Leader

Possessive Leader
Karena kamu calon istriku!



Jesi masih berdiri di depan pintu, gadis itu malah menghitung kancing kemeja layaknya siswa yang sedang mengikuti ulangan.


“Masuk, nggak, masuk, nggak...” hingga pada akhirnya pintu sudah terbuka sebelum ia mengambil keputusan.


Dengan perlahan Jesi mengangkat kepalanya dan menatap Rama datar, “saya hanya mengantar makan siang Pak Darmawan.” Ucapnya mendadak formal.


“Masuk!”


Jesi menurut dan masuk ke dalam ruangan Rama. Dia langsung menuju sofa tamu dan meletakan makanan yang ia bawa.


“Mau kemana? Duduk sini!” Rama menepuk sofa di sebelahnya.


“Tugas saya sudah selesai, pak. Sekarang sedang jam istirahat. Saya permisi.” Pamit Jesi dengan sopan.


Rama menghela nafas panjang, dia menjambak rambutnya sendiri sebelum akhirnya beranjak dan menyusul Jesi yang hampir keluar. Ia sadar jika Jesi yang pendiam menjadi jauh lebih menyebalkan dibandingkan dengan Jesi yang biasanya berisik dengan segala sikap kekanakan yang menguji kesabarannya.


“Jangan pergi!” dipeluknya tubuh mungil itu dari belakang.


Dipeluk dari belakang membuat Jesi seketika berhenti, dilihatnya lengan Rama yang melingkar di tubuhnya. Jesi bisa merasakan hembusan nafas Rama menerpa lehernya, calon suaminya itu menyadarkan kepala di bahunya. Satu kata yang menggambarkan perasaannya saat ini, nyaman. Sebelum akhirnya ia sadar dan memilih untuk melepaskan diri dari kenyamanan itu.


“Lepasin!” Jesi mencoba melepaskan diri dari pria yang justru makin mengeratkan pelukannya.


“Biarin kayak gini. Sebentar aja!” Rama beralih mengecup puncak kepala calon istrinya.


Setelah cukup lama akhirnya Rama melepas pelukannya kemudian beralih berdiri di hadapan Jesi, gadis lugu itu menatapnya dengan bingung tanpa satu kata pun keluar dari bibir mungil yang biasanya selalu ngoceh nonstop layaknya jelmaan burung beo.


“Cerita sama kakak kenapa hari ini jas jus kesayangan kakak ini tidak menyegarkan seperti biasanya?” tanya Rama.


“Kakak?” Jesi masih bingung dengan cara Rama menyebut dirinya sendiri, biasanya pria itu selalu berbicara formal dengannya.


“Jas jus kesayangan?”


“Menyegarkan?”


Rama menangkup kedua pipi Jesi dengan tangannya, gadis itu masih terlihat bingung.


“Ya, kakak. Kamu pernah bilang Karam itu singkatan dari Kak Rama bukan?”


“Kamu selalu jadi jas jus kesayangan kakak. Jadi mulai sekarang berhenti ngambek oke? Dan satu lagi, jangan deket-deket sama Raka. Kakak nggak suka!”


“Sejak kapan aku jadi jas jus kesayangan Karam? Pasti bohong nih, cuma akal-akalan Karam aja biar aku udahan ngambeknya. Pasti Karam takut kan kalo sampe aku ngadu ke ayah. Iya kan?” tanya Jesi.


“Marahin aja lagi akunya. Nggak apa-apa kok, aku udah biasa!” lanjutnya. Pada akhirnya Jesi jadi mengeluarkan unek-uneknya. Selama ia tak tau jika Rama adalah calon suaminya, dia tak masalah berulang kali kena semprot Rama. Tapi setelah tau semuanya rasanya jadi begitu menyesakkan saat pria yang menjadi calon suaminya itu membela orang lain di depan umum.


Rama menarik tangan Jesi supaya mengikutinya, kini Jesi duduk di sofa dengan Rama yang berlutut di depannya. Jesi masih menunduk, matanya menatap lekat tangannya yang di genggam Rama sejak tadi.


“Lihat Kakak, jas jus!”


“Sebenarnya saya...Eh kakak.” Ralat Rama dengan cepat, jujur harus menyebut dirinya dengan ‘kakak’ sedikit sulit. Tapi demi membuat Jesi nyaman apa pun harus ia lakukan. Sedari tadi kata-kata Naura selalu menghantuinya, dia harus membuat Jesi nyaman berada di sisinya jika tak ingin gadis yang sudah menjadi calon istrinya itu berpindah haluan pada Raka.


“Sakit ih, Karam.” Jesi masih cemberut sambil mengusap bekas cubitan Rama.


“Sini-sini biar kakak aja.” Rama mengusap lembut kedua pipi Jesi.


“Udahan yah ngambeknya.” Ucapnya kemudian.


“Tau ah, sebel aku sama Karam. Galak.” Ketus Jesi.


“Udah jangan manyun kayak gitu. Dengerin kakak baik-baik!” Ucap Rama.


“Dalam bekerja kakak tak pernah membeda-bedakan siapa pun, Jes. Terlepas kakak tau kalo kamu calon istri kakak, saat bekerja tetap harus profesional. Dan yang paling penting adalah saling menghargai antar karyawan. Bukan hanya kamu tapi karyawan lain yang tak sopan dan saling menghargai pun akan selalu kakak tegur. Ingat jes hanya di tegur, bukan memarahi. Kenapa kamu selalu menganggap kakak memarahi mu?”


“Tadi pagi Karam ngebentak aku di depan karyawan sama malah ngebelain si Dinosarus!”


“Jadi ceritanya cemburu nih?” ledek Rama.


“Nggak. Buat apa aku cemburu, nggak penting. Dianggap juga nggak.”


“Kata siapa nggak dianggap?”


“Lah buktinya tadi pagi Karam diem aja pas aku pamer jadi calon istri Karam? Malah ngebelain Dinosaurus yang ngejek aku sakit jiwa pula. Sebel!”


“Jadi sekarang kamu maunya apa? Apa perlu kening kakak di kasih tulisan ‘milik jas jus” gitu? Supaya semua orang tau begitu?”


Rama menyibak poni Jesi ke belakang hingga kening lebar gadis itu terlihat jelas, “Terus poni rata kamu ini di jepit ke belakang kayak gini, kasih tulisan juga di kening lebar kamu ‘milik Karam’ gitu?” ledek Rama sambil tersenyum, ternyata tak sulit membuat jelmaan beo itu kembali ceria. Cukup di pancing-pancing dikit juga langsung nyerocos.


Jesi segera menjauhkan tangan Rama dan merapikan kembali poninya, “jangan kayak gitu. Lebay!”


“Dengerin, kakak bukan tak mau mengakui kamu sebagai calon istri. Bahkan sebelum tau kamu calon istri kakak pun tak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun. Gimana mungkin pas udah tau orangnya malah nggak dianggap? Kamu itu aneh.”


“Kata Alya, kamu pernah ngajakin barter. Gimana perasaannya pas tau kalo kakaknya Alya yang super setia adalah calon suami kamu sendiri? Pasti seneng banget yah, nggak usah barter udah fix buat kamu.” Mata Jesi membulat sempurna mendengar penuturan Rama.


“Dulu juga pernah ngajuin decoy effect jodoh kan? Nggak perlu pake decoy effect jodoh, jas jus. Kita memang sudah berjodoh. Inget nggak?”ucapnya kemudian.


“Tau ah! pokoknya aku nggak suka kalo Karam ngebelain Dinosaurus terus!”


“Si alan Alya, ternyata ngadu ke Karam. Awas ntar kalo ketemu gue jewer deh.” Batin Jesi.


“Sama. Kakak juga nggak suka kamu deket-deket sama Raka terus!”


“Kok jadi ngelarang aku deket sama Karak sih? Nggak boleh gitu dong Karam, Karak kan baik. Lagi pula Karak kan juga temen Karam. Aneh banget sih? Mba Naura aja deket sama Karak nggak apa-apa. Kenapa aku nggak boleh?” protes Jesi.


“Karena kamu calon istriku!” ucap Rama.


"Jas jus kesayanganku, dilarang memberikan kesegaran pada orang lain!" imbuhnya.