
“Karam!” Teriaknya dengan senyum ceria begitu tiba di meja Rama.
“Akhirnya nih aku bisa lihat calon istri Karam.” Imbuhnya seraya berbalik menatap wanita berhijab yang duduk di depan Rama.
“Alya?” ucapnya terkejut, matanya membulat sempurna mendapati sahabatnya ada di sana.
“Jadi calon istri Karam itu Alya?” Jesi menatap Alya dan Rama bergantian.
“Ya ampun kalo kayak gini mah Karam harus baik-baik sama aku. Secara Alya ini sahabat aku loh.” Jesi dengan berani menepuk pundak Rama berulang. Ia merasa sekarang memiliki kekuatan karena ternyata calon istri bosnya adalah sahabatnya.
“Awas aja kalo Karam galak-galak sama aku lagi di kantor, ntar aku bilangin ke Alya biar balik nyemprot Karam.”
“Btw Al, dia ini bos gue di kantor. Yang suka marah-marah itu loh. Yang sering gue ceritain ke lo.”
Rama hanya menatap Jesi dengan memutar bola matanya jengah. Begitu melihat Jesi dari kejauhan tadi dia benar-benar terpukau dengan penampilan Jesi yang berbeda dari biasanya, lebih cantik dan anggun. Tapi Jesi tetaplah Jesi, hanya penampilan yang berubah, berisiknya tetap sama saja. Apalagi dari cara bicaranya yang nonstop sungguh membuat Rama yang awalnya ingin memuji penampilan calon istrinya itu sirna seketika.
Begitu pun dengan Alya. Gadis berhijab navy itu masih duduk terdiam, menatap Jesi dengan bingung. Ingin rasanya berbicara bahwa dirinya bukan calon suami dari Rama tapi tak ada kesempatan. Jesi terus nyerocos dengan begitu semangat tanpa henti.
“Tante cantik yang disebelah Alya pasti Mamanya Alya yah?” Gadis berisik itu beralih menyapa Yeni, ibu dari Rama dan Alya.
“Aku Jesi, Tan. temennya Alya sekaligus asisten calon menantu tante.” Lanjutnya memperkenalkan diri.
“Aku pernah makan nasi goreng buatan tante loh. Waktu itu Alya bawa ke kosan aku. Enak banget, tan. aku suka banget, rasanya mirip banget sama nasi goreng buatan ibu aku.” Yeni hanya menanggapi ocehan Jesi dengan senyum ramah.
“Karam, udah pernah nyobain belum nasi goreng buatan calon mertua? Enak loh kapan-kapan minta buatin. Aku sih udah pernah.”
Rama menghembuskan nafasnya kasar. Lama-lama telinganya sakit mendengar ocehan Jesi yang tanpa henti. No komentar, dia hanya bisa pasrah mendengarkan jelmaan beo cantik itu mengoceh sepuasnya.
“Karam kenapa diem aja?”
“Cie... takut yah aku aduin ke Alya kalo Karam pernah jelalatan sama aku, pernah nganterin aku pulang ke kosan, Pernah meluk aku juga kemaren di parkiran waktu pulang ninjau penjualan?”
“Tenang aja nggak akan aku aduin.” Ucapnya kemudian.
Rama hanya membalas ucapan Jesi dengan tatapan datar. Berbeda dengan Alya dan mamanya yang terlihat begitu terkejut dengan penuturan Jesi.
“Eh sorry keceplosan barusan.” Ralat Jesi cepat.
“Tapi beneran, Al. Gue sama calon suami lo ini nggak ada hubungan apa-apa. Cuma atasan sama karyawan aja.” Ucapnya menjelaskan, tak ingin terjadi kesalahpahaman antara Alya dan Rama.
Melihat Ayah dan ibu yang menghampirinya, Jesi langsung berdiri diantara Sari dan Burhan.
“Ayah, ini bos aku di tempat magang. Karam. Eh maksud aku pak Darmawan.” Ucap Jesi,
“Ternyata dia calon suaminya Alya loh.” Imbuhnya kemudian.
“Jes, itu kakak aku. Bukan calon suami aku.” Potong Alya segera sebelum Jesi nyerocos terlalu jauh.
“Ohh...” Jesi menganggukkan kepala.
“Jadi kakak yang selalu kamu banggain selama ini itu, Karam? Yang super setia itu? Oh My God... tenyata dunia begitu sempit.”
“Terus calonnya Karam yang mana? Aku juga pengen lihat ini, sekalian aja lah mumpung lagi di sini.” Seketika jiwa kepo Jesi meronta-ronta. Ia benar-benar sudah penasaran setengah mati, ia pastikan kali ini tak akan melewatkan kesempatan untuk bertemu calon istri Rama. Cukup sekali saja ia melewatkan bertemu dengan calon istri Rama gara-gara pergi ke bagian personalia saat itu.
“Ayah sama ibu kok malah duduk di sini sih? Kepo juga sama calon istri bos aku?” tanya Jesi.
“Maaf yah Mba, putri saya memang berisik anaknya.” Ujar Sari pada Yeni, calon besannya.
“Tidak apa-apa, Ri. Justru saya suka, dia tidak berubah yah. Dari waktu sekolah dasar sampai sekarang tetap ceria dan berisik.” Jawab Yeni.
“Jadi rame.” Imbuhnya.
Jesi yang masih berdiri di samping Rama seketika melongo melihat ibunya yang terlihat akrab dengan ibu Alya.
“Ibu kenal sama mamanya Alya?” tanyanya.
“Mau sampai kapan kamu berdiri di situ? Duduk!” Lanjutnya.
Sebenarnya Jesi malas harus mengingatkan tujuan utama mereka datang restoran malam ini, tapi dia tak enak juga jika harus menganggu waktu Alya dan keluarganya. Meskipun ibunya akrab dengan mama Alya, menurut Jesi ini bukan waktu yang tepat.
“Ibu tuh suka lupa deh kao udah ketemu temen akrab. Katanya mau ngenalin aku sama calon suamiku? Apa nggak jadi nih?” ucap Jesi dengan wajah yang kembali murung.
“Jadi dong, Neng. Itu calon suami udah di samping kamu.” Jawab Sari enteng.
Jesi menengok ke sampingnya tak ada siapa pun, “Yang mana?”
Alya pun melakukan hal yang sama, dia juga penasaran dengan calon suami Jesi yang sempat ditawarkan untuk barter pagi tadi.
“Mana, bu? Nggak ada siapa-siapa.” Ucap Jesi.
“Orang yang sejak tadi kamu panggil Karam, itu calon suami kamu.” Ucap Burhan sambil menunjuk Rama.
Reflek Jesi menatap Rama, pria itu membalasnya dengan senyuman kilas. Seketika Jesi merasa kakinya lemas, dia langsung ambruk dan terduduk di lantai. Cukup lama Jesi duduk terdiam di lantai, dia masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Sekali lagi dia melihat ke tempat Rama duduk tapi pria yang baru saja di daulat jadi calon suaminya itu tak ada.
“Nggak apa-apa kan?” ternyata Rama sudah berada di sampingnya dan membantu dirinya berdiri. Masih dalam keadaan setengah percaya dan tidak, Jesi pasrah dan menurut untuk duduk di kursi yang sebelumnya di duduki Rama. Sementara Rama duduk di sebelahnya. Kini Jesi dan Alya saling berhadapan. Keduanya saling bertatapan dalam diam.
“Minum dulu.” Rama menyodorkan segelas air putih pada Jesi.
“Makanya kalo ngomong tuh jangan nyerocos mulu, tungguin dijawab baru lanjut bicara. Jadi panik sendiri kan.” Lanjutnya.
Jesi mengambil gelas itu dan meminumnya perlahan, kali ini ia merasa seolah mendapat serangan jantung dadakan.
“Kakak nggak boleh kayak gitu ngomongnya sama calon istri.” Tegur Yeni.
Uhuk.. uhuk.. Jesi yang sedang minum mendadak tersedak mendengar sebutan calon istri.
“Hati-hati minumnya.” Rama menepuk pelan leher belakang Jesi.
“I am fine, Karam.” Jawabnya so inggris setelah merasa selesai menenangkan diri.
Jesi menatap satu persatu orang di meja itu. Alya yang duduk di hadapannya masih terlihat terkejut. Sama halnya dengan dirinya.
"Al..."
"Jes..." ucap dua sahabat itu bersamaan.
"Gue beneran jadi kakak ipar lo nih. nggak usah barter. gue seneng banget."
"Sama, Jes. Aku juga seneng banget." saut Alya tak kalah senang. Meskipun kakak iparnya tak sesuai dengan impiannya yang anggun dan dewasa, tapi memiliki kakak ipar seperti Jesi tak buruk, meskipun kadang kekanakan tapi Jesi perempuan yang baik.
Jesi beranjak dari duduknya dan menghampiri Alya, "oh adik iparku tersayang..."
"Kakak..." balas Alya yang ikut berdiri dan menyambut pelukan Jesi.
"Ih panggilnya Jesi aja, Al." ucapnya seraya melepas pelukan.
"Kalo tau dari dulu calon suami gue kakak lo mah, nggak perlu gue main minggat-minggat segala, Al." imbuhnya.
"Meskipun tau kalo kakak aku tuh ternyata bos kamu yang galak?" tanya Alya.
Jesi tampak diam sebentar sebelum menjawab, dilihatnya Rama yang ternyata juga sedang menatapnya. Tapi calon suaminya itu langsung membuang tatapan ke arah lain begitu tatapan keduanya tak sengaja bertemu.
"Nggak apa-apa deh. Karam walaupun galak, yang penting mirip Taehyung." ucap Jesi.
"nggak dapat Taehyung BTS, dapat yang versi lokal nggak apa-apalah." batin Jesi.
Kini ia kembali duduk di samping Rama, "Taehyung oppa saranghae" ledeknya dengan tersenyum seraya menyilangkan ibu jari dan telunjuknya membentuk love.