
"Terus Karam sukanya apa?" Tanya Jesi.
"Kamu!" Jawab Rama seraya menatap Jesi yang diam membisu.
Rama tersenyum simpul melihat perubahan ekspresi istrinya, perempuan yang masih terlihat cantik meski belum mandi itu menatapnya dalam diam. Rambut panjangnya di cepol asal, menyisakan sulur-sulur rambut pendek yang baru tumbuh. Dengan rambut seperti itu leher putih mulusnya jadi terlihat menggoda.
"Aku, Karam?" Tanya Jesi setelah cukup lama, dia menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu, Jas Jus. Emang siapa lagi?" Rama mencubit gemas kedua pipi Jesi.
"Ih Karam... Hati aku jadi melehoy nih... Meleleh kayak mentega yang dipanasin." Jesi menunduk malu, tapi sesekali mendongakkan kepala untuk mengintip suaminya. Ia jadi ingat nasihat mba Naura tadi, jika Rama benar-benar mencintainya.
Kata mba Naura, Rama itu tipe-tipe setia dan nggak mudah goyah. Sama calon istri yang dulu belum pernah dia temui aja setia pake banget, apalagi sama istrinya sendiri. Dan yang paling utama jangan kalah sama orang dari masa lalu, dia hanya masa lalu sedang kamu adalah masa depannya. Berhenti buang-buang energi untuk marah-marah tak jelas. Tapi tetap saja dalam prakteknya Jesi masih uring-uringan.
"Hei, Jas Jus! Kenapa kamu jadi cengegesan nggak jelas?" Rama memegang dagu Jesi hingga istrinya menatapnya.
"Aku seneng, ternyata Karam suka sama aku. Aku sempet mikir kalo Karam nikah sama aku cuma balas jasa aja karena ayah udah nolong keluarga Karam di masa lalu."
"Apalagi dulu Karam pernah bilang kalo nggak mungkin jatuh cinta sama bocah kayak aku, otaknya nothing."
"Ya udah sih, yang lalu nggak usah dipikirin. Dulu kan kakak nggak tau kalo kamu yang jadi calon istri kakak."
"Berarti sekarang Karam udah cinta sama aku?" Tanya to the point.
"Menurut kamu?" Rama mulai berjalan dan mengambil kopi kalengan dingin.
"Ih kok malah balik tanya sih, Karam!"
"Harusnya kamu udah tau jawabannya!" Balas Rama irit.
"Kamu mau beli apa lagi? Buruan ambil. Malah cuma muter-muter nggak jelas." Ucapnya pada Jesi yang hanya mengikuti kemana pun dirinya berjalan.
"Mana bisa aku tau, kan Karam nggak pernah bilang." Jesi cemberut, dia bahkan berdiri di depan rak menghalangi Rama yang hendak mengambil beberapa makanan ringan.
"Awas ah!" Rama menggeser Jesi dengan paksa.
"Biar kakak pilihin makanan ringan buat kamu. Sekarang aja disuruh ngambil malah diem, ntar di jalan nagih-nagih minta jajan."
"Karam ih jawab dulu."
"Jawab apaan?" Merasa cukup dengan makanan ringan yang ia ambil, Rama segera menuju kasir dengan Jesi yang mengekor di belakangnya.
"Karam ih jawab..." Rengeknya manja, Jesi memegangi lengan kiri Rama dan menggerakkannya berulang kali.
"Karam ih." Ucapnya lagi, Rama hanya membalasnya dengan elusan lembut di puncak kepala Jesi.
"Ada yang lain mas?" Tanya si kasir setelah selesai menscan semua belanjaan dan memasukannya ke dalam kresek putih.
"Nggak, mba!"
"Mau sama rotinya mas? Beli satu gratis satu." Si kasir menunjuk roti kasur yang sudah di lakban dua-dua dengan tulisan beli satu gratis satu.
"Nggak, makasih."
"Atau mau teh pucuknya mas, beli dua gratis satu?"
"Nggak mba, makasih."
Melihat Rama yang terus menjawab ucapan kasir tapi tak menjawab pertanyaannya membuat Jesi Kesal.
"Sekalian sama pulsanya mas?"
"Elah mba nya nggak selesai-selesai nawarin mulu. Kita udahan segitu doang belanjanya." Sela Jesi sebelum Rama menjawab.
"Jas Jus!"
"Apa apa?" Solot Jesi.
"Jangan kayak gitu, nggak sopan. Dia nawarin terus karena prosedur kerjanya emang gitu, bukan karena kemauan dia sendiri." Ujar Rama.
"Maafin istri saya yah, mba. Lagi kumat dia, lagi dalam mode bocah on suka ngambek." Ucapnya pada kasir.
"Ish sembarangan!" Ketus Jesi.
Selesai membayar Jesi masih cemberut, dia mengikuti Rama yang berjalan ke luar dengan malas. Sudah seperti orang yang habis maraton, lemas tak berdaya.
"Kenapa lagi?"
"Ya kesel aku lah..."
"Perasaan Jas Jus kesayangan kakak ini kesel mulu deh. Apa emang bawaan perempuan kalo lagi datang bulan kayak gini?"
"Tau lah kesel aja. Tadi udah melambung tinggi sampe ke awang-awang dan menetap senang disana pas denger Karam suka sama aku. Giliran ditanya udah cinta apa belum nggak jawab." Gerutu Jesi.
"Rasanya tuh kayak dilambungkan tanpa kepastian. Aku jadi mikir jangan-jangan Karam cuma suka karena bisa once again baby mulu yah?"
Lagi-lagi sentilan keras mendarat di kening berponi Jesi.
"Jangan suka mikir kejauhan. Justru kakak ngelakuin itu karena cinta, kalo nggak cinta mah ogah!" Ucap Rama.
"Harusnya kamu tuh udah bisa nyimpulin, nggak semua harus di ungkapkan."
"Ya kan gimana aku bisa tau kalo Karam aja nggak ngomong!"
"Terus jas jus kesayangan kakak ini maunya gimana hm?" Rama menatap Jesi lekat.
"Apa kakak harus bilang i love you gitu? Kayak anak-anak." Sambungnya.
"Ya udah ya udah, nggak usah manyun gitu."
"Kakak perlu sambil berlutut nggak nih? Kalo nggak kakak beli coklat silverking dulu gitu biar makin uwuw kalo kata anak sekarang mah." Ledeknya yang membuat Jesi kian cemberut.
"Ih jadi makin sebel aku nya!" Jesi buru-baru masuk ke dalam mobil, membiarkan Rama yang masih menahan tawa di luar sana.
"Gimana sih katanya tadi pengen dibilang i love you, eh malah di tinggal. Padahal kakak udah siap-siap mau berlutut loh." Tak ada puasnya meledek Jesi, bagi Rama ngambeknya Jesi itu ngegemesin. Kecuali kalo pas ngambek urusan si oli, itu mah bikin pusing.
"Ogah banget dah di depan indoapril, nggak so sweet banget. Mana pake ada tulisan parkir gratis lagi. Tuh liat!" Jesi menunjuk aksara biru yang tertulis di dinding.
"Kan kesannya nggak banget."
"Jas jus... Jas jus... Kamu tuh euhhhh... Gemes deh!" Dijewelnya pipi Jesi.
"Sakit ih! Kayak bayi aja di jewel-jewel mulu."
"Emang kamu kan bayi. Bayi besarnya kakak." Jawab Rama.
"Sekarang mau kemana lagi? Mau langsung pulang apa mau main-main dulu? Waktu itu kan kamu pengen jalan-jalan malem sambil makan di pinggir jalan, ngeliatin cahaya lampu kendaraan yang saling sorot." Rama bahkan masih mengingat jelas keinginan istrinya yang belum terwujud karena malam itu mereka harus buru-buru pulang untuk melangsungkan akad nikah.
"Ih karam masih inget ternyata." Jesi begitu senang.
"Inget lah. Jadi gimana mau jalan?"
"Lain kali aja deh, Karam. Sekarang kita pulang aja, aku pengen liat si oli beneran dateng apa nggak!"
"Awas aja kalo beneran ada di rumah, aku kasih pelajaran dia. Kalo perlu nanti kita mampir ke apotek dulu Karam." Ucap Jesi.
"Mau ngapain?"
"Beli obat gatel!" Jawab Jesi.
"Buat apa? Kamu gatel-gatel? Padahal kulit kamu mulus bersih nggak ada bentol-bentol sedikitpun. Ya, kecuali bercak-bercak karya kakak."
"Ish... Bukan buat aku, Karam. Tapi buat si oli biar nggak kegatelan sama laki orang!"
.
.
.
dear readers jangan pada jadi pembaca ghaib, please! kalo males komen ya tampol aja jempol kan gampang, gretong pula๐๐