
Gila banget itu bocah sampe berani nyamperin pak Darmawan.
Udah nggak punya urat malu. Main peluk-peluk gitu.
Kita harus kasih pelajaran itu bocah. Anak magang aja belagu. Padahal jadi asisten aja modal jual body.
Aneh yah padahal itu bocah nggak seksi-seksi amat tapi kok pak Darmawan mau yah?
Berarti pak Darmawan tipe cowok yang suka cewek imut-imut. Buktinya nyantol tuh sama bocah. Kita-kita yang udah seksi kece badai mah nggak dilirik sama sekali.
Pengen gue hajar itu wajah so polos nya deh. Palsu banget!
Jesi masih asik memainkan ponselnya saat Rama sudah selesai menunaikan shalat ashar. Bukannya kesal ia justru tertawa dan ikut menanggapi setiap pesan yang masuk di grup chat itu, berperan tak kelah heboh dengan anggota ghibah mania senior.
“Hm gue balas apa yah biar keliatan kayak haters sejati.” Batin Jesi.
Kini jari jempolnya mulai mengetikan balasan,
Biasa lah mba yang Namanya juga ayam kampus, pasti jam terbangnya udah banyak tuh. Makanya pak Darmawan bisa sampe nempel sama dia.
Disaat seperti ini dia harus menjelekan dirinya sendiri sejelek mungkin.
Tak butuh waktu lama deretan balasan atas chatnya mulai muncul, Jesi sampai geleng-geleng kepala. Katanya gathering tapi kok grup chat ini tetap on non stop.
“Gue curiga nih yang pada jalan-jalan di pinggir pantai bukannya focus menikmati pemandangan malah fokus ke HP masing-masing nih.” Gumam Jesi.
Sekarang ini hal seperti itu memang lumrah terjadi, acara kumpul-kumpul malah hanya jadi ajang cekrek-cekrek foto kemudian diunggah ke media sosial masing-masing. Sisanya ya tinggal diam-diam aja dan sibuk dengan HP masing-masing.
“nah loh nah loh… murudul terus ini pesan. Emang bener-bener dah kalo soal gossip pada gercep banget. Makin di gosok makin sip.” Ucap Jesi lirih.
“Gue gosok lagi ah biar makin sip double-double.” Lanjutnya.
“Tapi gimana caranya yah? Hm…”
“HP terus kamu tuh!” Rama menarik Jesi yang sedang duduk di tepi ranjang hingga terbaring di sampingnya.
“Ih HP aku jadi jatuh, Karam.” Jesi mencebikan bibirnya kemudian beranjak untuk mengambil HP nya. Dia kembali berbaring di samping Rama.
“Jangan HP terus, kakak kangen.” Dipeluknya erat Jesi.
“Katanya tadi mau jalan-jalan? Jadi nggak?” lanjutnya.
“Ih bentar-bentar, Karam. lagi seru nih.” Jesi memindahkan lengan Rama supaya ia tetap bisa membaca chat unfaedah di HP nya.
“Sebenernya kamu lagi mainan apa sih? Sini kakak lihat!” Rama langsung merebut paksa HP Jesi.
Buru-buru Jesi mengambil HP nya kembali, “bukan apa-apa kok, Karam.”
“Yau dah kalo gitu simpen HP nya. Peluk sini!”
“Iya nanti aku simpen. Tapi sekarang foto dulu satu kali yah.” Jesi mencium pipi suaminya kemudian beranjak turun dari ranjang. Meletakan HP dengan tampilan kamera depan di meja rias yang tepat berada di depan ranjang mereka. Sebelum kembali ke ranjang Jesi mencoba menggerakan telapak tangannya di depan kamera memastikan sensor penerima gerak untuk memfoto secara otomatis dapat bekerja dengan baik.
“Oke udah sip.” Jesi kembali ke ranjang tapi kali ini ia tak berbarin di samping Rama, melainkan duduk di tepi ranjang.
“Karam disini duduknya!” Jesi menepuk Kasur di sebelahnya.
Rama hanya menghela nafas Panjang, saat ini dia hanya ingin sayang-sayangan dengan istri mungil kesayangannya tapi malah ribet harus ini itu segala. Dari pada urusan bertambah Panjang Rama memilih menuruti permintaan istrinya.
“Buat apa sih sayang? Kalo mau foto-foto kita kan bisa ke studio foto biar bagus hasilnya. Bisa sekalian buat dipasang di undangan.”
“Eh… eh… “ Rama begitu kaget, baru kali ini istrinya berinisiatif duduk di pangkuannya.
“Peluk!” pinta Jesi. Bukan hanya pelukan bahkan Rama mengecup puncak kepalanya berulang kali.
“Bentar-bentar aku lihat hasilnya dulu, Karam.” tanpa permisi Jesi melengos menuju meja rias, memeriksa hasil jepretan kamera ponselnya.
Jesi tersenyum puas mendapati hasil yang sangat bangus, fotonya itu terlihat begitu mesra. Berada dipangkuan Rama dengan dekapan erat serta ciuman dipuncak kepala. Setelah memilih gambar termesra Jesi langsung berjalan dan membuka pintu balkon.
Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat rombongan gathering yang sedang bermain di sisi pantai. Kebanyakan karyawan lelaki bermain bola di tepi pantai sedang para perempuan sibuk dengan ponselnya. Saling foto untuk mengabadikan momen holiday mereka.
“Gue jamin abis ini pasti mereka langsung pada heboh ke grup chat deh, bukan ke foto-foto di tepi pantai lagi.” Gumam Jesi sambil membuka grup chat ghibah mania.
Dibukanya grup chat ghibah mania dan langsung mengirim gambar.
Hot news terupdate terbaru terhangat masih panas pake banget. Gila parah sih ini, gue dapet foto si ayam kampus di kamar Pak Darmawan.
“satu… dua… ti…” belum selesai sampai hitungan ketiga grup chat sudah kembali di banjiri hujatan-hujatan pada untuk dirinya.
“Tuh kan bener dugaan gue.” Jesi tertawa sambil memandang kumpulan staf perempuan yang tadi sibuk foto-foto beralih jadi sibuk memandangi ponsel masing-masing.
Gila keren banget lo, kok bisa lo dapat foto begituan? Ngalahin Anna front office lo. Bener-bener haters sejati dah. Empat jempol buat lo, sayang banget lo baru gabung sekarang.
dari banyaknya balasan, chat itu yang ia garis bawahi. Masa bodoh akan hujatan-hujatan unfaedah, bagi Jesi saat ini ia hanya ingin mengetahui dalang pembentukan grup chat yang menghancurkan nama baiknya.
“Oh jadi Anna dari front office yang ngambil foto gue di depan kamar Karam tadi. Oke gue catat!” gumam Jesi.
Dua lengan kekar yang melingkar di perutnya di tambah dengan hembusan nafas yang menerpa lehernya menghadirkan gelenyar-ngelenyar yang sulit diungkapkan. Sapuan basah bibir Rama di sekitar lehernya membuat Jesi menggeliat geli.
“Udahan yah main HP nya. Sekarang giliran main sama kakak!” Rama mengambil paksa ponsel Jesi dan melemparkannya ke ranjang. Benda pipih berwarna pink dengan foto tujuh member BTS di belakang ponsel jatuh tanpa perlawanan diantara bantal.
“Karam ntar HP aku rusak ih main banting hm..” belum selesai protes bibir beonya sudah dibungkam oleh Rama.
“Manis!” ucapnya yang kian merengkuh Jesi dan makin memperdalam ciuman mereka, tangannya kian aktif menyentuh setiap lekuk tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang kemudian menggendongnya ke dalam kamar.
Direbahkannya tubuh Jesi dengan pelan. Dipandanginya penuh damba wajah imut yang selalu membuat hari-harinya berwarna kemudian mengecupi seluruh wajah Jesi dengan lembut. Tangan lihai Rama mulai membuka pakaian yang dikenakan Jesi diikuti dengan jejak ciuman setiap kali pakaian itu turun beberapa centi saja membuat pemiliknya kian me le guh dan men de sah berulang kali.
“Lets make dede bayi gemoy, honey!” Jesi mengangguk pasrah dibawah kungkungan suaminya, setelah itu tak ada lagi percakapan yang terdengar di kamar mewah itu. Hanya ada tatapan penuh damba dan saling memuji ditambah dengan de sa han yang saling bersahutan.
Once agaian baby nampaknya benar-benar sudah menjadi kalimat wajib disetiap kegiatan ranjang mereka. Meskipun dalam prakteknya tidak hanya satu kali lagi tapi, berkali-kali hingga akhirya mereka terlelap.
Saat Jesi terbangun, langit sudah tak lagi biru. Jingganya langit petang itu kian membuat Jesi betah berlama-lama di pelukan suaminya. Tak ada jam dinding di kamar mereka membuat Jesi meraba mencari ponselnya. Niat hati melihat jam tapi ia justru gagal focus pada deretan notifikasi chat masuk ghibah mania.
“Gila dua ratus pesan. Gue gosok lagi ah biar makin sip.”
Jesi mengambil foto dirinya dengan Rama. Hanya foto dirinya yang sedang memejamkan mata dengan selimut naik hingga ke dada, membiarkan punggung telanjangnya sedikit terekspos dimana ada Rama mendekapnya dari belakang. Dikirimnya foto itu ke grup, dengan keterangan yang super membagongkan tentunya.
Pantesan yah selama jalan-jalan si ayam kampus nggak keliatan, rupanya dia ngandang sama Pak Darmawan!!
“Habis ini pasti makin heboh ini grup. Panas-panas lo pada!” batin Jesi. Kali ini ia tak lagi menghitung sampai tiga demi menunggu balasan. Dia memilih kembali mendekap suaminya dengan erat.
.
.
.
udah sip belum? jangan lupa tampol jempol, lope sama komentarnya biar makin siiip😛😛