
Rama langsung mencuci tangan dengan asal dan menyusul Jesi. Sementara Raka dan Alya yang sedang asik ngobrol tak menyadari kepergiannya.
"Jas Jus sayang kamu kenapa?" Rama langsung memijit bagian belakang leher istrinya. Sama seperti tadi malam, Jesi menangis setiap kali muntah.
"Kan kakak udah bilang kamu tuh jangan kebanyakan makan jajanan micin. Jadi kayak gini kan? Muntah-muntah terus. Kamu udah dua hari nih kayak gini, kakak perhatiin kamu mulai muntah-muntah sejak mulai jajan yang aneh-aneh itu. Besok-besok nggak usah jajan yang aneh-aneh! Di suruh makan juga susah." Rama jadi ceramah panjang lebar, Jesi hanya menangis tersedu di pelukannya.
"Makan yah... tadi kakak lihat makanan kamu masih utuh." Bujuk Rama seraya memapah Jesi kembali ke warung tenda.
"Pada dari mana sih?" Tanya Raka yang menyadari mereka baru saja kembali.
"Masuk angin kayaknya si Jas Jus. Muntah-muntah mulu." Jawab Rama sekenanya, dia sibuk menggeser kursi untuk duduk Jesi.
"Minum dulu biar enakan." Rama menyodorkan gelas berisi teh tawar hangat.
Jesi menurut, dia menyeruput sedikit teh yang diberikan suaminya.
"Udah, Karam."
"Makan yah?" Rama mulai mengambil makanan dan menyuapkannya pada Jesi.
Jesi reflek menutup mulut saat makanan itu sudah berada di depannya.
"Nggak mau, Karam. Bau nya nggak enak banget. Bikin aku jadi enek." Tangan satunya menjauhkan suapan Rama.
Rama sampai menghela nafas panjang, baru kali ini Jas Jus kesayangannya itu jadi susah makan padahal biasanya dia suka sekali dengan nasi dan pecel ayam ini.
"Tadi di kampus juga Jesi nggak makan kak. Cuma nyemilin makanan ringan aja." Ucapan Alya makin membuat Rama khawatir. Wajah istrinya terlihat pucat, sama seperti tadi malam.
"Kita ke dokter yah?" Rama menyentuh kening Jesi. Tak panas, normal seperti biasanya.
"Takutnya kamu kenapa-kenapa. Udah dua hari kayak gini terus."
Jesi menggelengkan kepala, "nggak mau, Karam. Aku nggak apa-apa kok."
"Ya udah kalo gitu makan yah?" Bujuknya lagi.
"Nggak mau. Pulang aja yuk, pengen rebahan disayang-sayang... Rasanya hari ini cape banget."
Rama, Alya dan Raka sampai cengo mendengar ucapan Jesi.
"Gila kakak ipar lo, Al. Jam segini udah ngajak kelon aja." Cibir Raka.
"Apaan sih orang cuma pengen pulang terus tiduran. Gue tuh cape banget tau. Lemes nih badan." Balas Jesi.
"Emang di kampus kalian ngapain? Nyabutin rumput apa lari keliling lapangan sampe cape lemes segala?" Raka masih tak mau kalah.
"Hari ini nggak ngapa-ngapain loh. Malah hari paling santai soalnya cuma dua mata kuliah. Itu juga Jesi nguap-nguap terus tadi di kelas." Sambung Alya.
Rama tak menggubris obrolan adik dan sahabatnya, dia tak mau ambil pusing. Apalagi melihat Jesi yang begitu pucat.
"Ya udah yuk kita pulang." Rama membantu Jesi berdiri, gadis itu langsung memegang lengan kirinya dengan manja.
"Gue duluan, Ka. Titip Alya, pulangnya jangan kemaleman!" Pesannya sebelum berlalu pergi.
Sepanjang jalan Jesi yang biasanya berisik hanya diam sambil menatap kosong ke luar. Dia tak lagi bicara setelah Rama menolak mentah-mentah keinginannya untuk membeli cilor yang sempat mereka lewati.
Sampai rumah pun Jesi masih diam sebagai bentuk protes akan penolakan yang ia terima.
"Sayang makan malam dulu sini." Panggil mama Yeni saat mereka melewati ruang makan.
"Jesi mau bobo aja, Ma. Nggak enak badan." Dia hanya berbelok ke ruang makan untuk menyalami mama Yeni dan berlalu ke kamar.
"Kenapa istri kamu? Lesu kayak gitu." Tanyanya pada Rama yang sedang mengambil nasi dan beberapa lauk ke dalam piring.
"Ngambek dia, Ma. Aku susulin dulu, Jesi belum makan." Jawabnya seraya membawa piring yang sudah berisi makanan, tak lupa susu vanila hangat kesukaan Jesi pun ia bawakan.
"Tunggu, kak!" Mama Yeni berjalan menyusul Rama yang sudah hampir menaiki tangga.
"Jesi ngambek kenapa? Kalian ribut?" Tebaknya.
"Nggak apa-apa, Ma. Cuma masalah kecil, mama kayak nggak tau Jesi aja. Dia kan emang sering ngambek, ntar juga baik lagi." Jawab Rama. Dia memilih tak jujur, bisa gawat kalo mamanya tau Jesi dari kemarin muntah-muntah. Bisa heboh nggak ketulungan secara mamanya itu sayang banget sama Jesi.
"Aku ke atas dulu, Ma." Pamitnya.
"Iya. Kakak jangan galak-galak sama mantu mama."
"Iya, Ma."
Tiba di kamar dilihatnya Jesi baru saja keluar dari kamar mandi. Ada lelehan air mata di pipinya, bisa Rama tebak istrinya itu pasti habis muntah-muntah lagi.
"Muntah lagi?" Rama segera meletakan piring dan gelas yang ia bawa ke meja dan menghampiri Jesi yang sudah duduk di ujung ranjang.
Dipeluk dan di elusnya berulang kali punggung Jesi, "ke dokter aja yah. Jangan rewel! Kamu bikin kakak khawatir."
"Nggak mau, Karam. Aku nggak apa-apa, kemaren juga kan kayak gini tapi paginya nggak apa-apa." Jesi makin mengeratkan pelukannya.
"Tapi lebih baik diperiksa sayang. Yah ke dokter yuk? Atau dokternya kakak suruh ke sini aja yah?" Bujuk Rama.
"Nggak, mau. Aku maunya kayak gini aja." Jesi makin ndusel-ndusel manja di pelukan Rama.
"Nyaman banget." Ucapnya lirih.
Rama mencium puncak kepala Jesi kemudian melepas pelukannya dengan paksa, sontak istrinya itu langsung cemberut dan menatapnya dengan kesal.
"Aaa..." belum apa-apa Jesi sudah kembali menepis dan menjauhkan tangannya. Lagi-lagi dia berlari ke kamar mandi.
Rama jadi geleng-geleng kepala begitu mendengar suara muntah-muntah lagi.
"Disuruh makan aja susah banget, malah ongkek. Ck!" Sambil berdecak dia menyusul Jesi ke kamar mandi.
"Makanya makan, maag pasti nih kamu sampe sama sekali nggak bisa masuk makanan." Ucap Rama yang setia memijit tekuk leher Jesi.
"Udah-udah nggak usah nangis sayang." Rama jadi merasa bersalah karena dari tadi sedikit meninggikan suara.
"Sini kakak peluk." Kembali direngkuhnya gadis yang selalu menangis sehabis muntah itu.
"Minum susu yah? Dari pada nggak ada yang masuk sama sekali." Tawar Rama begitu mereka kembali duduk di ranjang.
"Nggak mau, Karam. Ntar aku malah muntah lagi." Tolak Jesi, dia malah merebahkan badan.
"Peluk....pengen disayang-sayang." Lanjutnya dengan wajah melas.
"Besok kalo masih nggak enak badan ke dokter yah. Kakak tidak menerima penolakan!" Tegas Rama seraya mengelus punggung gadis yang memeluknya erat.
"Hm..." Jesi hanya berdehem tak jelas sampai akhirnya ia tertidur malam itu.
Pagi harinya Rama bernafas lega karena istrinya baik-baik saja. Tak ada lagi drama muntah-muntah, hanya saja penyuka susu vanila itu malah menyeruput kopi hitam miliknya yang tinggal setengah.
"Sedikit pait tapi enak." Ucapnya.
"Minum susu aja, nih punya kamu." Rama mendekatkan gelas susu milik Jesi.
"Nggak mau, kopi sisa Karam rasanya lebih enak." Jawabnya sedikit tak masuk akal.
"Aku mau nasi goreng yang di piring Karam juga." Lanjutnya sambil menunjuk nasi goreng di piring Rama yang tinggal setengah.
"Kan punya kamu ada sayang."
"Nggak mau. Mau yang sisa Karam. Suapin!" Masa bodoh dengan adik ipar dan mama mertua yang menatapnya heran, Jesi sudah berpindah posisi duduk menghadap Rama dan membuka mulutnya.
"Aaa ... Karam.."
Meskipun merasa aneh tapi dari pada istrinya tak sarapan ya sudahlah Rama memilih menuruti keinginan beo cantik yang akhir-akhir ini menjadi aneh. Manjanya nggak ketulungan.
"Enak... " Ucapnya disela-sela mengunyah makanan.
Selesai sarapan Jesi berangkat ke kampus, kali ini karena jadwal kelasnya pagi maka ia bisa berangkat bersama Rama, begitu pun dengan Alya.
"Udah enakan perutnya?" Tanya Rama sebelum Jesi turun.
"Iya, Karam. Aku udah nggak apa-apa kok. Aku masuk dulu yah."
"Iya sana. Nanti pulangnya kakak jemput." Ucap Rama.
"Kalo jemput nanti bawa cilor yah. yah yah... boleh lah Karam sekali aja. pengen banget dari kamaren juga." rengek Jesi.
"Nggak boleh. Ntar kamu muntah-muntah lagi."
"Tapi kan enak... pengen banget ih!"
"Nggak boleh. Besok-besok aja kalo kamu udah nggak muntah-muntah. Makanan kayak gitu banyak micinnya, nggak bagus buat kesehatan kalo tiap hari." terang Rama.
"Tiap hari gimana sih? orang dari kemaren nggak dapat juga. Baru juga makan sekali doang." protes Jesi.
"Pokoknya nggak boleh!"
"Ish nyebelin!" Jesi mencebikan bibirnya.
"Kalo gitu ntar bawa bunga. Aku pengen di bawain bunga kayak di drama-drama yang uwuw itu." lanjutnya.
"Aneh-aneh aja kamu itu. Udah sana masuk, belajar yang bener!"
"Peluk dulu." pintanya manja.
"Aku tunggu diluar deh." Alya yang mulai malu sendiri melihat kakak iparnya begitu lengket dengan Rama memilih kabur lebih dulu dari pada matanya makin tercemar.
"Udah nanti lagi yah. Kasihan Alya nungguin tuh, Kakak juga bisa telat sampe ke kantor kalo kamu nemplok terus kayak gini." ucap Rama.
"Nanti beneran di jemput yah." meski enggan Jesi melepas pelukannya.
"Iya, kesayangannya kakak. Nanti kakak jemput." Rama mengecup kening Jesi sebelum gadis itu keluar.
Rama memperhatikan istri dan adiknya yang berjalan beriringan masuk ke dalam kampus.
"Manja banget itu bocah, jadi makin sayang." gumamnya.
.
.
kencengin like sama komennya. aku tuh udah ngetik banyak nih tapi berhubung kalian nakal-nakal jadi aku up satu aja. abis kalo up double kalian cuma pada like sama komen di part terakhir doang๐๐
Udah gitu aja dulu, aku mau nonton mas park hyung sik๐๐