Possessive Leader

Possessive Leader
Sianida



Selesai meeting Rama segera menuju parkiran, tujuannya kini hanya satu yakni untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Naura. Sejak mulai meeting tadi saja dia benar-benar tak fokus, pikirannya selalu mentok ke Jesi lagi dan Jesi lagi. Dulu pikirannya tak pernah terganggu oleh hal apa pun saat bekerja, tapi kali ini beda. Jesi, istri cerewetnya benar-benar merubah segalanya, bahkan hanya sedetik jauh dari perempuan itu membuatnya tak tenang.


"Alya?" Rama terheran melihat adiknya sedang berdiri di depan warung tenda pecel lele langganan Jesi. Adik semata wayangnya itu terlihat celingak celinguk seperti mencari seseorang. Rama jadi semakin yakin jika orang yang di sukai adiknya ada di kantornya.


Tin... Tin...


Mendengar bunyi klakson Alya segera menoleh, ternyata Rama menurunkan kaca mobilnya saat melewati Alya, jika tak buru-buru ia ingin ikut nongkrong di warung tenda pecel lele supaya bisa tau siapa lelaki yang membuat adik kalemnya sampe bela-belain ke warung tenda demi bertemu lagi pikir Rama.


"Ngapain kamu di situ? Ayo ikut kakak, kita pulang!" Teriak Rama.


Alya menghampiri Rama dan berdiri di samping mobil kakaknya.


"Masuk!" Ucap Rama sekali lagi, dia bahkan sudah membuka pintu dari dalam untuk Alya.


Bukannya masuk Alya justru menutup pintu itu dari luar, dia diam beberapa detik memikirkan alasan yang tepat untuk menolak ajakan sang kakak.


"Tunggu apa lagi? Ayo naik! Kakak sedang buru-buru mau jemput Jesi."


"Kakak duluan aja, aku masih nunggu pesanan. Baru mau di goreng tuh." Jawabnya dengan menunjuk warung pecel lele.


"Makan di rumah aja! Jangan keganjenan sampe nyamperin laki-laki kesini."


"Beneran aku cuma mau beli pecel ayam aja. Kayaknya buka puasa pake pecel ayam enak, waktu itu aku cuma nyobain dikit soalnya diabisin sama Jesi." Elak Alya.


"Awas kamu kalo diem-diem ketemuan di belakang kakak!"


"Nggak kak. Udah kakak berangkat aja ntar Jesi kelamaan nungguinnya." Balas Alya.


"Iya. Kamu hati-hati, bungkusin juga buat mama dan Jesi. Dia suka banget."


"Siap kak." Ucap Alya, dia akhirnya bernafas lega setelah kakaknya berlalu pergi.


"Mang tambah tiga porsi lagi yah di bungkus." Dia langsung memesan.


Begitu tiba di halaman rumah Naura, Rama langsung keluar dan menghampiri pintu. Belum sempat menekan bel tapi pintu bercat putih itu sudah terbuka.


"Jas Jus?"


"Ayo pulang Karam, cepetan! Aku mau masak spesial." Jesi bahkan menarik lengan Rama supaya segera mengikutinya.


"Eh bentar tapi kakak baru nyampe, pengen liat dede bayi gemoy juga."


"Besok lagi lah, Karam. Sekarang pokoknya pulang!"


"Iya iya, ayo kita pulang sekarang." Rama menurut, yang penting istrinya tak lagi marah-marah. Raut wajahnya pun terlihat kembali ceria tak seperti saat meninggalkan kantor tadi.


"Emangnya Neng Jas Jus mau masak apa sih?"


"Pokoknya masakan spesial buat Si Oli." Saking semangatnya Jesi tak menunggu Rama membukakan pintu, justru dia yang dengan cepat membukakan pintu mobil untuk Rama.


"Cepetan Karam! Nih udah aku pasangin sekalian sabuk pengamannya." Dia kemudian berjalan memutar dan segera duduk di kursi penumpang.


"Buru-buru banget sih. Nggak usah masak juga pasti mama udah masak, tadi juga kakak udah titip ke Alya buat bungkusin kamu pecel ayam yang di depan kantor. Dia lagi antri disana tadi."


"Wah gercep juga si Alya. Beneran deh dia jatuh cinta pada pandangan pertama kayaknya."


"Dia cuma beli pecel ayam aja, jas jus. Bukan yang aneh-aneh."


"Iya yang suka aneh-aneh kan kakaknya, di suruh beli pembalut malah oleng ngobrol sama cewek cakep."


"Ya ampun masih aja itu yang jadi bahasan, kamu nggak cape apa?" Tanya Rama.


Jesi berdecak kesal, "cih!! Justru karena cape aku tuh, cape pake banget Karam."


"Ya udah makanya nggak usah bahas dia lagi. Nggak ada manfaatnya!"


"Segala sesuatu yang bikin kita tidak bahagia itu harus dilupakan, bukan malah dibahas terus-menerus!"


"Gimana mau dilupain kalo dianya aja terus nguber. Itu coba tadi pagi ngirim-ngirim makanan buat apa coba?" Solot Jesi mode galaknya on lagi.


"Ya ampun neng Jas Jus, masih aja sewot. Pasti cinta kamu buat kakak udah luber-luber nggak ketampung yah? Cemburunya nggak selesai-selesai! Kakak sampe bosen denger kamu ngambek-ngambek gara-gara Olivia. Coba kalo kamu lagi nggak palang merah, udah kakak kasih penawar biar ngambeknya udahan."


"Siapa juga yang cemburu! Aku? Nggak yah. Sorry aja!" Jesi masih saja tak mau mengakui jika dirinya benar-benar cemburu, yang ada diotaknya saat ini hanya tak ingin siapa pun mendekati miliknya.


"Masih aja nggak mau ngaku. Dasar!" Rama mencubit gemas pipi Jesi.


"Tapi dia kan mau ke rumah. Nekad banget dah jadi cewek, niat banget gangguin laki orang. Ini tuh gara-gara Karam nggak ngaku kalo udah nikah!" Kesalnya lagi.


"Kata siapa? Kakak udah bilang kok kalo kita udah nikah."


"Alah bohong! Buktinya dia manggil aku Alya." Ucap Jesi.


"Berhenti dulu di indoapril sana." Jesi menunjuk toko serba ada yang buka dua puluh empat jam di belokan depan.


"Karam tunggu di sini aja. Aku cuma mau beli roti, susu sama sianida. Ada nggak yah sianida di indoapril?" Ucapnya begitu sampai.


"Buat apa beli sianida? Di rumah kita aman, nggak ada tikus. Nggak usah pake beli racun segala." Rama yang di suruh nunggu di mobil malah turun dan membuntutinya.


"Ya kali rumah mewah ada tikusnya, nggak banget." Balas Jesi enteng.


"Ini tuh bukan buat tikus sembarangan, tikus spesial yang sukanya menggerogoti rumah tangga harus segera di basmi sebelum beraksi."


"Maksud kamu tikusnya Oliv?"


"Yup betul, Karam."


"Karam tau nggak dulu ada orang yang ngebunuh temennya pake sianida di campur kopi?"


Rama mendadak jadi ingat pesan Raka tadi.


...Malam ini selapar apa pun lo jangan sampe makan di rumah, kecuali kalo lo udah siap mati!...


Rama menggelengkan kepala tak menyangka jika istrinya bisa sampai berpikir sejauh itu, sampai berencana membunuh pake sianida segala. Dia menghela nafas panjang sebelum akhirnya menepuk bahu Jesi. Perempuan yang sedang memilah roti itu jadi berbalik menatapnya. Kedua tangannya masih memegang dua bungkus roti.


"Terus sianida nya mau kamu taruh mana?"


"Mau aku taburin di tengah lah. Roti, selada, keju , ham, terus ditaburin sianida secukupnya, terus tambahin mayonais sama saus tomat, tutup pake roti lagi, beres dah."


"Oh jadi sekarang kamu mau jadi kayak Jesica si kopi sianida yang itu? Cuma bedanya kamu mau pake sandwich gitu?"


"Yupz seratus buat Karam! Tahun dua ribu dua puluh satu perlu sedikit modifikasi, kalo pake kopi lagi ntar aku disamain sama Jesica yang itu. Sorry aja, ntar aku dikatain nggak kreatif!" Jawabnya enteng dan kembali memilih roti.


"Karena Karam udah tau jangan bilang-bilang yah! Kita kerjasama aja, oke?" sambungnya.


"Aduh sakit, Karam." Keluh Jesi karena Rama menyentil keningnya dengan keras dan mengambil alih keranjang belanjaan yang ia bawa.


"Balikin roti aku ih!" Ucapnya kemudian.


"Nggak! Kamu itu kalo cemburu jangan sampe buta. Mau jadi pembunuh kamu? Gila!" sentak Rama.


"Kita pulang sekarang!" Rama menyeret paksa Jesi, tapi dia malah diam di tempat seperti anak kecil yang ngadat gara-gara minta jajan tapi tak di turuti.


"Mau kakak gendong?"


"Siapa juga yang mau jadi pembunuh, Karam?" Ucapnya lirih.


"Ntar kalo aku jadi pembunuh, di penjara dong? Menang banyak si oli, iya kalo dia mati. Kalo nggak? Aku dipenjara, Karam kawin lagi sama dia."


"Aku cuma mau bikinin Karam sarapan besok. Aku juga bisa kok buat sandwich sama kopi mah. Malahan plus pake susu, mana susunya Karam suka dapat langsung dari sumbernya tiap malem."


"Terus tadi ngapain pake bahas sianida segala?"


"Cuma becanda." Balas Jesi tanpa dosa.


"Becandanya nggak lucu. Udah nggak usah bikin sandwich, kakak nggak suka." Ucap Rama.


"Terus Karam sukanya apa?" Tanya Jesi.


"Kamu!" Jawab Rama seraya menatap Jesi yang diam membisu.


.


.


.


Iya kamu yang lagi baca cerita ini.


Jangan lupa tekan jempol, lope, sama komentarnya!!!