Possessive Leader

Possessive Leader
Cilor



"Siapa juga yang ngeladenin, Al. Noh lo liat si Raya udah melototin gue aja, padahal cowoknya tuh yang ganjen." Balas Jesi. Sudah beberapa kali mantannya itu secara diam-diam mengajaknya jalan tapi Jesi tak pernah menggubrisnya.


Jesi sampai merasa risih karena Zidan yang berulang kali mengirim pesan padanya, sudah di blokir tapi selalu ada nomor baru yang masuk. Andai enin tak memundurkan tanggal resepsi pernikahan mereka pasti Jesi sudah bernafas lega sekarang, meskipun sebagian orang kantor sudah tau statusnya tapi teman-teman kuliahnya sama sekali tak tau. Sayangnya enin masih memegang teguh soal primbon dan perhitungan weton sehingga acara resepsi yang tadinya mau dipercepat malah jadi molor sekitar tiga minggu lagi. Padahal Jesi sudah ingin cepat-cepat hubungan mereka itu go public, meskipun masa bodoh dengan lingkungan sekitar tapi cap ayam kampus yang melekat pada dirinya cukup menyebalkan. Ditambah lagi Alya juga jadi ikut terseret ke dalamnya sampe dikatain baju sama kerudung aja lebar-lebar kayak hordeng tapi kelakuan siapa yang tau, gaulnya aja sama ayam kampus.


"Tapi kamu bilang kan ke kakak, Jes?"


"Soal?"


"Ya soal kak Zidan yang masih larak lirik sama kamu lah."


"Nggak. Lagian kan gue nggak ngapa-ngapain sama kak Zidan. Tiap hari juga gue bareng lo, Al. Gue nggak mau nambah beban pikiran Karam, kerjaan dia udah banyak banget. Masa soal ginian aja gue harus ngadu." Jawab Jesi.


"Iya juga sih. Ya udah yuk jalan lagi." Kedua kembali berjalan ke luar kampus dan menaiki salah satu angkot.


Sesuai ucapannya tadi, mereka turun di depan salah satu sekolah dasar tapi sayang keadaan sudah sepi. Tak ada satu pun gerobak jajanan yang kemaren berjajar di depan sana.


"Ih udah pada bubar. Ah ngeselin!!! Kemaren kena srobot bocil, sekarang malah kesorean." Gerutu Jesi.


"Ya udah besok lagi aja, Jes. Besok kan kita kuliah satu doang. Pulang cepet bisa kesini." Ucap Alya.


"Ih tapi gue maunya sekarang, Al. Dari kemaren udah pingin juga."


"Jajan yang lain aja, Jes." Usul Alya.


"Gimana kalo pecel ayam depan kantor kakak? Biasanya kamu suka banget. Kita sampe sana pasti udah buka nih pas banget." Sambungnya seraya melirik jam yang melingkar di tangannya.


"Nggak mau ah, Al. Gue lagi nggak pengen makan nasi. Cari kang cilor yang lain aja deh yuk!"


"Mau nyari dimana coba, Jes? Aku jarang jajan yang kayak gitu. Biasa juga kita jajan di kopma."


"Nggak tau gue juga. Udah lah kita naik angkot lagi, kali aja ntar nemu di jalan."


"Ya udah deh terserah kamu aja, Jes." Alya sudah pasrah, kakak ipar nya itu memang selalu seperti itu. Apa pun yang diinginkan kalo belum kesampaian akan terus ngomel.


Berdasarkan saran dari ibu-ibu yang duduk di samping mereka, akhirnya Jesi dan Alya turun di area taman. Mata Jesi langsung berbinar cerah mendapati jajaran aneka makanan di depan sana. Buru-buru ia menarik Alya dan membeli setiap jajanan itu.


"Udah dibeli semua kan, Jes? Sekarang kita ke kantor kakak yah."


"Ya udah ayo." Jawab Jesi dengan lesu. Padahal tangannya sudah menenteng dua kresek ukuran sedang berisi jajanan tapi wajahnya masih saja tak bersemangat.


"Selamat sore bu... eh Neng Jesi." Tiba di kantor beberapa karyawan yang masih berlalu lalang di sore itu menyapa Jesi dengan ramah.


"Hm sore juga." Balas Jesi lirih.


"Lantai sepuluh aja, Al. Karak juga pasti ada di sana." Ucap Jesi saat adik iparnya hendak menekan angka lima.


Tiba di lantai sepuluh Jesi langsung di sambut Naura dengan heboh.


"Wih neng Jas Jus, tumben kesini. Lama nggak ketemu mba kangen." Dia langsung cipika cipiki.


" Eh ada calon adik ipar juga." Sambungnya pada Alya yang tersenyum ramah.


"Kalian tunggu di sini dulu, mereka lagi ada tamu penting." Cegah Naura saat Jesi hampir menerobos masuk seperti biasa. Dia langsung menarik Jesi dengan pelan dan memintanya duduk di sofa tunggu.


"Tamu penting siapa sih mba?" Jesi yang sedang bete karena gagal dapat cilor jadi makin bete. Dia benar-benar kesal karena dari sekian banyak tukang jajan tak ada yang menjual alias cimol telor seperti di depan SD tadi.


"Pengacara kantor, kita lagi usut soal plagiat produk. Ternyata ada musuh di dalam selimut." Jawab Naura.


Belum sempat Naura menjawab Rama dan Raka sudah keluar bersama seorang pengacara.


"Saya akan segera persiapkan dokumen gugatan secepatnya pak." Kata orang itu sebelum pergi.


"Gimana beneran dia?" Naura segera menghampiri keduanya.


Rama menghela napas panjang sebelum menjawab, "Iya, selain dalang dari grup gosip ternyata Dina juga yang udah ngebocorin desain produk kita."


"Tuh kan sejak awal juga apa? Gue udah bilang kalo mereka yang plagiat." Ucap Raka.


"Plagiat apa A Raka?" Suara itu membuat Raka menoleh ke samping.


"Kamu di sini?" Tanyanya seraya menghampiri Jesi dan Alya.


"Iya, A. Nganterin Jesi pengen ketemu kakak." Kilahnya.


"Alesan nganterin Jesi, paling kamu yang pengen ketemu Raka. Iya kan?" Ledek Rama.


"Ini Jas Jus kesayangan kakak kenapa cemberut kayak gini hm?" Ucapnya setelah duduk di samping Jesi.


"Kesel." Jawab Jesi irit.


"Itu tadi pengen cimol telor yang di depan SD tapi kita pulangnya kesorean jadi udah pada bubar yang jualan. Udah mampir juga ke taman, tuh Jesi dapat sekresek. Tapi nggak ada cilor nya." Terang Alya.


"Alhamdulillah deh nggak ada." Ucap Rama.


"Kok malah alhamdulillah sih, Karam!" Kesal Jesi.


"Hei nakal yah berani ngomong keras ke kakak! Kamu nggak inget apa semalem sampe muntah-muntah kebanyakan makan jajanan micin?" Jesi malah mencebikan bibirnya, mengulang kata-kata Rama tanpa bersuara.


"Liat tuh kakak ipar kamu Al, kayak bocah di omongin malah kayak gitu." Cibir Raka.


"Mending kita makan pecel ayam di depan aja yuk? Rame-rame nih mumpung formasi lengkap." Usul Raka.


"Alya sih mau-mau aja sama Aa."


"Gue setuju." Timpal Rama.


"Ayo makan pecel ayam kesukaan kamu aja sayang. Jangan makan jajanan micin terus kamu." Lanjutnya pada Jesi yang masih cemberut tapi bergelayut manja di tangan kanannya.


"Kalian berempat aja. Gue mau pulang, pengen buru-buru ketemu Khayla. Bungkusin buat gue ya, Ka!" Pesan Naura sebelum akhirnya benar-benar pulang duluan.


Mereka berempat sudah duduk di kursi plastik di depan gerobak warung tenda. Saat pesanan mereka tiba, semua langsung melahap makanan mereka masing-masing kecuali Jesi yang sama sekali tak menyentuh makanannya.


"Kol goreng kakak buat kamu aja nih." Rama terkejut saat memindahkan lalapannya ke piring Jesi mendapati makanan istrinya masih utuh.


"Kenapa nggak dimakan?"


"Nggak pengen." Jawab Jesi yang sudah menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Kakak suapin yah?" Rama mulai mengambil nasi dan menyuapkannya pada Jesi.


"Aaa..." Bukannya membuka mulut Jesi justru beranjak menjauh dan muntah-muntah di bawah pohon.