
"Kamu nggak apa-apa kan, Jes?" Alya berdiri di belakang Jesi yang sedang merapikan rambutnya di depan wastafel toilet. Raut wajah khawatirnya jelas terlihat dari dalam cermin tempat kakak iparnya berkaca.
"Perut kamu sakit nggak, Jes?" Selain mengkhawatirkan Jesi tentu saja ia memikirkan calon ponakannya. Kalo sampai terjadi hal buruk sudah bisa dipastikan dia akan kena semprotan dari sang kakak.
"Ah gebleg banget dah si Raya. Jadi lecet nih pipi gue." Bukannya menjawab pertanyaan Alya dia justru menggerutu sambil mengelus pipinya yang terkena cakaran Raya saat baku hantam tadi.
"Ck! Perih euy." Gumamnya lirih sesudah membasuh wajah.
"Kita pulang aja yah, Jes. Nanti aku yang ijin ke dosen. Biar aku telpon kakak dulu, pasti kakak juga belum sampe kantor. Biar puter balik jemput kita." Alya membuka tasnya mencari ponselnya.
"Aku takut calon ponakan aku kenapa-napa, Jes." Lanjutnya sambil memanggil Rama melalui ponselnya.
"Ish jangan ngasih tau Karam, Al. Gue nggak apa-apa." Jesi merebut ponsel Alya dan meletakkannya kedalam tas miliknya.
"Ntar Karam khawatir. Dia makin posesif banget semenjak tau gue hamil. Kasihan juga dari semalem Karam kurang tidur, sekarang masih harus kerja. Gue nggak mau bikin dia banyak pikiran. Udah nggak apa-apa kok. Ponakan lo baik-baik aja." Ucap Jesi.
"Hei baby gemoy baik-baik yah di perut mami. Ikut mami belajar yang biar pinter." Lanjutnya seraya mengusap perut.
"Yakin nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, Al. Beneran deh! Pipi gue doang nih kena cakar. Si a lan emang si Raya!"
"Hush bumil ngomongnya jangan kasar gitu dong, Jes."
"Bodo amat ah. Yuk kelas!"
Keduanya buru-buru menuju kelas. Jesi masih memegangi pipinya yang perih. Sesekali ia melirik Raya yang juga sama berantakannya dengan dirinya.
"Ck!" Jesi hanya berdecak saat melewati kursi Raya. Berhenti sebentar melayani tatapan sengit Raya yang seolah belum puas dengan baku hantam tadi.
"Udah udah, Jes! Yuk duduk." Alya mendorong kakak iparnya supaya segera menjauh. Meski sudah duduk di kursi masing-masing pun keduanya masih beradu tatapan.
"Nantangin banget dah si Raya." Jesi menggebrak mejanya dan hampir menghampiri Raya jika saja dosen mata kuliah pertama tak segera masuk.
Selama jam kuliah berlangsung Jesi bisa mengikutinya dengan baik. Sepertinya baby di perutnya calon-calon pinter deh, soalnya sama sekali nggak rewel di ajak belajar. Sebelum hamil saja dia super males soal pelajaran dan lebih memilih minta ajari suami di rumah, sekarang malah jadi rajin mode on. Sudah tak ada lagi Jesi yang menguap berulang kali saat jam kuliah.
"Nih Jes kali aja kamu mau nyontek." Alya menoleh ke belakang dan memberikan catatannya.
"Udah dong gue." Jesi memamerkan soal yang sudah ia jawab.
"Wih tumben." Ucap Alya.
"Iya dong."
Saat jam pergantian mata kuliah tiba Alya segera mengeluarkan beberapa makanan ringan yang sudah disiapkan mamanya sebelum berangkat tadi.
"Pilih mau yang mana?"
Jesi menatap aneka kue di mejanya, "pantes aja lo hari ini pake tas gendong yah. Bawa banyak stok ternyata." Ucapnya seraya mengambil pie buah yang keliatannya menyegarkan.
"Kan aku ante siaga. Kakak juga titip setiap satu jam sekali kamu harus makan kue atau apa gitu, katanya takut anaknya kelaparan di dalem perut kamu." Jelas Alya.
"Nih kakak juga bawain susu hamil kamu." Alya mengeluarkan susu kotak untuk ibu hamil.
Jesi buru-buru mendorong tangan Alya supaya susu kotak itu kembali masuk ke tas.
"Gila lo, Al. Disini kagak ada yang tau gue udah nikah, bisa auto viral gue kalo minum susu hamil di sini."
"Kalo gitu ini aja, jus buah." Alya kembali mengeluarkan jus kemasan dari tas nya.
Jesi sampai geleng kepala tak habis pikir dengan isi tas Alya yang sudah seperti toserba.
"Indoapril pindah ke tas lo yah, Al? Komplit bener. Nggak berat?"
"Nggak, Jes. Demi ponakan aku."
"Besok-besok nggak usah bawa makanan banyak-banyak, Al. Kalo pengen kan kita bisa beli aja."
"Iya. Ini juga cuma bawa yang penting-penting aja. Mama sama kakak kan udah nyiapin jadi aku tinggal bawa. Mama sama kakak tuh sayang banget sama kamu, Jes. Jadi jangan ngerasa nggak enak atau gimana gitu, soalnya aku yang bawa aja seneng kok."
"Makasih, Al."
"Makasih karena selalu ada saat gue jatuh. Lo bener banget, Tuhan udah ngasih gue imbalan buat sakit hati gue dulu. Gue beruntung banget bisa jadi bagian keluar lo, Al. Punya suami yang dulu gue kira nggak bakal bahagia karena yah lo tau sendiri Karam itu galak, eh ternyata baik pake banget banget pokonya. Udah gitu dapat bonus adik ipar sama mertua yang super baik. Ah jadi terharu gue, Al. Tau gini dari dulu pas dijodohin gue nggak kabur yah." Ujarnya panjang lebar diselingi tawa yang bercampur dengan air mata.
"Dasar. Masih inget nggak yang ngajakin barter, Jes?"
"Ah jangan diingetin, Al. Gue malu." Jesi menutup wajahnya sendiri sambil tertawa.
"Gue malah pernah nawarin decoy effect jodoh ke Karam. Ampun dah malunya." Sambungnya.
"So malu-malu. Tapi kalo malem uh ah nggak malu kamu, Jes? Sampe harus tutupan bantal aku biar nggak denger. Besok aku mau pindah kamar lah biar telinga aku nggak tercemar." Ledek Alya.
Obrolan mereka terhenti saat dosen mata kuliah selanjutnya masuk. Kuliah hari ini berjalan lancar hingga akhirnya tiba jam pulang.
"Udah ngasih tau kakak, Jes?" Tanya Alya.
"Udah, Al. Karam nggak bisa jemput, lagi ninjau ke tempat produksi. Tapi udah nyuruh supir perusahaan buat jemput kita. Dua puluh menitan juga nyampe katanya. Kita tunggu di depan indoapril sebrang kampus aja." Jawab Jesi.
"Gue pengen boba teh Ai euy kangen. Tapi yang ada aja dulu, ntar klo pas ke rumah ibu baru beli boba punya teh Ai." Lanjutnya.
"Ya udah yuk. Ini baby nya apa mami nya yang pengen boba?"
"Mami nya, ante." Balas Jesi.
"Kalo dede bayi nya mah pengen nonton konser BTS." Lanjutnya.
"Lah itu mah juga mami nya yang pengen kali." Ledek Alya.
"Tau ah kesel. Gue pengen nonton konser BTS eh Karam nggak konek. Bisa-bisanya dia nyamain BTS sama Baso Tahu Siomay." Jesi jadi ngedumel lagi mengingat hal itu, Alya hanya menahan tawa sambil mengikuti kakak iparnya keluar dari kelas.
"Jus jambu biji kesukaan Jesi."
"Ya salam bikin kaget aja." Ucap Jesi yang terkejut mendapati Zidan yang menyambutnya di depan pintu dengan jus berwarna merah muda di tangan kanannya.
"Buat kamu." Zidan kembali menyodorkan minuman itu.
Jesi tak bergeming dan memilih melewatinya begitu saja.
"Yuk, Al!"
"Permisi, Kak." Ucap Alya yang melewatinya dan mengikuti Jesi.
Zidan membanting jus jambu yang ia bawa dan mengikuti Jesi dari kejauhan. Hingga akhirnya gadis itu berhenti di depan indoapril sebrang kampus. Dia terlihat memesan minuman di stand depan indoapril sementara gadis berhijab yang bersamanya masuk ke dalam indoapril.
Zidan keluar dari mobilnya dan menghampiri Jesi.
"Kak Zidan bisa nggak sih nggak ngikutin gue terus. Ribet tau!" Ketus Jesi.
"Kita perlu bicara, jes. Ikut gue sebentar." Zidan menariknya dengan paksa.
"Lepasin ih. Gue nggak mau!" Berontak Jesi, namun beberapa detik kemudian dia sudah bersandar lemas di pelukan Zidan setelah lelaki itu membungkamnya dengan sapu tangan.
"Lo terlalu ribet, Jes. Cewek lain antri buat jadi pacar gue. Lo, so jual mahal." Ucapnya seraya memasangkan sabuk pengaman.
"Kalo sikap baik gue nggak bisa bikin lo balik, biar gue pake cara lain buat ngemilikin lo lagi, sayang." Tangan kanannya mengelus pelan wajah Jesi yang tak sadarkan diri.
"Gue jamin setelah ini lo bakal mohon-mohon supaya kita bisa balikan, bahkan sampe menikah haha..." Lanjutnya penuh kemenangan dan melajukan mobilnya secepat mungkin.
.
.
.
Fans zidan zidun tunjukan pesonamuh wkwkwkkwk
Jangan lupa tampol jempol, lope sama komentarnya.