Possessive Leader

Possessive Leader
Mantan Jelalatan



Jesi buru-buru mengenakan bajunya dengan asal, dia segera masuk ke dalam kamar mandi.


Mendengar suara muntah-muntah dari kamar mandi, Rama yang hampir terlelap setelah olahraga ranjang pun Segera menyambar celana dan bajunya kemudian menyusul Jesi ke kamar mandi. Saking terburu-burunya kaos yang ia kenakan bahkan terbalik.


"Jas Jus sayang kamu kenapa?" Rama menerobos pintu kamar mandi yang tak di tutup. Istrinya terlihat muntah-muntah di wastafel.


"Enek, Karam. Perut aku rasanya kayak diaduk-aduk nggak enak banget." Keluh Jesi dengan wajah basahnya.


"Kakak ambilin air hangat yah buat kamu minum." Rama mengelus-ngelus punggung Jesi. Istrinya itu benar-benar seperti anak kecil, cuma muntah tapi nangis-nangis.


"Nggak mau. Jangan di tinggalin!" Ucapnya sebelum akhirnya kembali muntah-muntah.


"Ya... Iya kakak di sini." Jawab Rama sambil terus mengelus punggung Jesi.


"Udah enakan?" Tanyanya setelah Jesi berbalik menghadapnya.


"Peluk!" Istri mungilnya itu langsung menghambur memeluknya.


"Baju Karam kebalik?"


"Biarin aja, buru-buru tadi. Kakak takut kamu kenapa-napa, biasanya abis main langsung bobo. Ini malah muntah-muntah." Dipapahnya Jesi dengan pelan untuk kembali ke ranjang.


"Bentar kakak ke mama dulu yah, nanyain obat buat kamu. Kayaknya kamu masuk angin." Tebak Rama.


"Jangan, Karam. Jam segini mama pasti udah tidur." Larang Jesi.


"Aku nggak masuk angin kok." Jesi menepuk-nepuk perutnya.


"Tuh kan nggak kembung. Kata enin kalo masuk angin tuh perutnya suka dung... Dung... Dung... Kalo di tepuk kayak gini." Dia kembali mengulang menepuk perutnya.


"Cuma enek aja." Sambungnya kemudian.


Rama menyelimuti Jesi kemudian ikut berbaring di sampingnya.


"Ini tuh kayaknya efek kebanyakan jajanan micin nih." Tebak Rama.


"Besok-besok jangan jajan yang aneh-aneh lagi!" Tegasnya. Sudah dua hari ini istrinya itu memang senang sekali membeli makanan-makanan aneh dari pinggir jalan. Katanya sih hasil berburu kuliner di depan sekolah dasar yang mereka lewati saat pulang kuliah bersama Alya.


"Iya, Karam." Balas Jesi menurut.


"Bobonya sambil peluk." Rengeknya kemudian dengan manja.


Rama dengan senang hati memeluk erat Jesi, "tumben minta peluk? Biasanya suka rewel kalo dipeluk kayak gini katanya susah nafas." Ledeknya.


"Ya udah kalo Karam nggak mau meluk." Jesi beringsut ingin menjauh yang tentunya tak berhasil karena Rama justru kian mengeratkan pelukannya.


"Gitu aja ngambek. Kakak cuma bercanda."


"Elus-elus!" Rengeknya lagi.


Rama hanya tersenyum dan menuruti permintaan Jesi. Malam ini istrinya itu sedikit rewel seperti bocah, efek abis muntah-muntah kali yah? Batin Rama.


Pagi harinya Rama merasa lega karena Jesi terlihat baik-baik saja bahkan membantu mamanya menyiapkan sarapan, semalam dia benar-benar khawatir melihat Jesi muntah-muntah.


"Mau berangkat bareng kakak?" Tanya Rama begitu duduk di meja makan. Sudah tiga minggu ini Jesi kembali ke kampus. Sesuai ucapannya hampir setiap hari ia mengantar Jesi ke kampus, meskipun untuk pulangnya dia tak bisa setiap hari menjemput. Seringnya Jesi naik angkot bersama Alya, kadang dijemput Raka jika calon adik iparnya itu sedang tidak terlalu sibuk.


"Nggak ah Karam." Tolak Jesi, dia dengan cekatan mengambilkan makanan untuk Rama.


"Segini cukup?" Tanyanya seraya menyimpan piring berisi nasi goreng di depan Rama.


"Iya bener, Jes. Kita naik angkot aja lah kayak kemaren." Jawab Alya.


"Nanti kalo nggak sibuk kakak jemput. Maaf yah karena kakak belum bisa nepatin janji buat antar jemput kamu." Rama mengelus sayang kepala Jesi.


"Nggak apa-apa, Karam. Lagian aku tau kok Karam sibuk. Nanti pulang dari kampus kalo nggak kesorean aku main ke kantor deh. Udah lama nggak kesana, kangen. Mba Naura juga udah mulai masuk lagi kan?"


"Iya, dia udah mulai masuk dari kemarin." Balas Rama.


"Dede Mikay di ajak nggak?" Tanyanya dengan mata berbinar. Mikhayla, nama putri Naura. Sudah berulang kali diberitahu jika panggilannya Khayla tapi Jesi malah memanggilnya Mikay, katanya lebih gemoy.


"Ya nggak diajak lah, sayang. Dede Khayla yah di rumah sama baby sitter."


"Yah... Padahal aku kangen dede Mikay." Bibir mungil Jesi mulai mengerucut gemas saat keinginannya tak terpenuhi.


"Waktu dede Mikay akikah kan kita nggak kesana gara-gara pergi gathering, abis itu aku malah sibuk bikin laporan magang. Sekalinya sekarang udah lumayan senggang dede Mikay nya nggak dibawa ke kantor."


"Nanti pulang ngantor kita ke rumah Naura biar kamu bisa main sama Mikay."


"Beneran yah, Karam?"


"Iya, sayang." Balas Rama.


"Makanya kalian bikin dede bayi sendiri dong biar nggak bolak balik ke rumah mba Naura. Ntar aku bantu ngasuh deh." Timpal Alya.


"Hish... Masalah bikin mah jangan ditanya lagi, Al. Rajin banget kakak lo. Tadi aja--"


"Kakak mau berangkat sekarang, anterin ke depan!" Sela Rama segera sebelum mulut tanpa saringan istrinya nyerocos terlalu jauh. Kalo tidak dialihkan ke yang lain bisa-bisa soal gaya membuat dede bayi gemoy yang mereka praktekan bisa diceritakan secara detail pada adiknya. Hampir dua bulan menjadi suami Jesi, kini Rama paham betul jika istrinya itu sebenarnya bukan tipikal orang yang suka membicarakan urusan pribadi dengan orang lain begitu mudah, dia hanya losdol tanpa saringan dengan orang-orang terdekatnya. Orang yang sudah dia anggap seperti keluarga sendiri.


"Asiap, Karam." Balas Jesi, dia segera beranjak dan mengikuti suaminya ke depan. Sampai di halaman seperti biasa sebelum Rama berangkat Jesi selalu menyelaminya dengan Takzim yang dibalas pelukan dan kecupan di kening.


"Kakak berangkat. Nanti di kampus jangan jajan sembarangan, kakak nggak mau kamu sampe muntah-muntah lagi seperti tadi malam." Ujar Rama.


"Asiap, Karam."


Jesi berlalu ke dalam rumah setelah mobil suaminya tak terlihat lagi. Sekitar pukul sepuluh dia dan Alya bergegas berangkat ke kampus.


Tak ada yang spesial selama kuliah berlangsung, sama seperti biasanya. Tak ada yang berubah di kelasnya, kecuali posisi duduknya yang kini tak lagi berdekatan dengan Raya. Mantan sahabatnya itu selalu menatap sinis padanya, Tapi Jesi tak peduli. Sama seperti halnya Jesi tak mempedulikan pak Sadili, dosen mata kuliah anggaran belanja perusahaan yang membuatnya menguap berulang kali.


"Minum dulu nih!" Alya menyodorkan botol air mineral keluaran loveware.


"Kamu tuh aku perhatiin dari tadi nguap mulu. Kurang tidur?"


"Emang dosennya bikin ngantuk. Ngejelasinnya muter-muter, enakan belajar sama Karam. Langsung ke intinya. Nanti tugasnya gue mau minta ajarin Karam aja."


"Terserah kamu deh. Pulang yuk, Jes! Kita naik angkot aja kayak kemaren. Aa Raka nggak bisa jemput, katanya lagi sibuk."


"Yuk!" Keduanya keluar kelas bersama.


"Nanti kita mampir ke SD yang kemaren yah, Al. Gue pengen cimol telor. Kamaren kagak kebagian njir rebutan sama bocah. Gue udah pesen duluan eh sama si emangnya malah dikasihin ke bocil." Ucap Jesi.


Sepanjang jalan dari kelas sampe sampai keluar fakultas Jesi menumpahkan unek-uneknya yang merasa disrobot oleh anak SD, padahal dia sudah membayangkan cimol telor dengan bubuk cabe plus bumbu tabur gurih meleleh di mulutnya.


"Ish ngapain tuh Kak Zidan kedip-kedip ke gue? Sawan yah tuh orang!" Cibir Jesi ketika mendapati Zidan mengedipkan mata padanya, padahal baru saja menutup pintu mobil untuk Raya.


"Biarin aja jangan diladenin, Jes."


"Siapa juga yang ngeladenin, Al. Noh lo liat si Raya udah melototin gue aja, padahal cowoknya tuh yang ganjen." Balas Jesi. Sudah beberapa kali mantannya itu secara diam-diam mengajaknya jalan tapi Jesi tak pernah menggubrisnya.