Possessive Leader

Possessive Leader
Bincang tengah malam



"Dasar kegatelan!" Jesi masih menatap kesal hingga taksi yang ditumpangi Oliv menghilang dari pandangannya. Dia terus meniup-niup poninya sambil misuh-misuh, kaki kanannya berjinjit karena tak memakai sendal. Saat ia hendak kembali masuk, Rama menghampirinya dengan membawa sebelah sendal yang ia lemparkan tadi.


"Kamu tuh kebiasaan kalo marah suka lempar-lempar sendal. Belum sampe dua jam kakak udah dua kali makein kamu sendal." Gerutu Rama yang sudah berjongkok di depan Jesi dan memakaikan sendal jepit swallow warna hitam dengan motif bunga-bunga putih.


"Ck!" Jesi hanya mendengus kesal kemudian melepas kedua sendalnya.


"Kalo nggak ikhlas bilang aja. Lagian aku nggak pernah nyuruh!"


"Kejar aja tuh si Oli, kali aja mau peluk-peluk lagi. Sana!" Tanpa menunggu jawaban Jesi berlalu meninggalkan Rama dengan kaki nyeker menuju kamar.


Rama yang baru berdiri menghembuskan nafas panjangnya.


"Hadeuhhh.... Bakal lama ini mah ngambeknya."


"Yang sabar yah kak." Ucap Alya.


"Kakak ipar tersayang tungguin aku... " Alya buru-buru menyusul Jesi ke dalam.


Alya berulang kali mengetuk pintu kamar Rama, tapi tak ada jawaban dari dalam sana.


"Jes, aku masuk yah." Ucapnya sebelum membuka pintu.


"Loh kok nggak ada sih?" Alya kembali menutup pintu dan memilih masuk ke kamarnya.


"Kok malah di kamar aku sih. Ntar kakak nyariin." Alya menyingkap selimut yang di kenakan Jesi supaya bangun.


"Bodo amat!" Jesi menarik kembali selimutnya hingga menutup kepala.


"Aduduh kakak ipar aku yang paling imut ini lagi ngambek nih ceritanya?" Ledek Alya.


"Bangun lah, Jes. Pindah sana ke kamar kakak. Jangan kayak anak kecil, Jes. Nggak baik ngambek-ngambek mulu. Kasihan kakak ih..." Alya kembali menarik selimut yang di kenakan Jesi hingga kakak iparnya itu terpaksa duduk dengan malas.


"Kamu tuh adik ipar durjana, dasar!"


"Loh kok aku jadi kena semprot juga, Jes? Aku salah apa coba?" heran Alya.


"Ya kan lo lebih belain, Karam. Harusnya lo tuh kasihan sama gue, Al. Bisa-bisanya lo belain Karam yang jelas-jelas salah. Berani dia main peluk-peluk di depan gue!" Sungut Jesi.


"Ya ampun, Jes. Aku tuh bukan ngebela kakak. Lagian kakak nggak salah. Yang meluk kan Mba Oliv bukan kakak." Jelas Alya.


"Sama aja lah. Kakak lo aja malah diem-diem bae. Menikmati dia tuh pasti."


"Susah dah kalo ngomong sama orang yang lagi emosi. Percuma, masuk telinga kanan langsung keluar dari telinga kiri. Mentah doang hasilnya." Akhirnya Alya memilih menyerah, berbicara dengan orang yang sedang emosi memang sulit, kadang kebenaran akan selalu salah. Karena orang yang sedang emosi cenderung menolak saran orang lain.


Alya naik ke ranjang dan duduk bersandar di kepala ranjang, tepat di samping Jesi.


"Jangan marah-marah terus, Jes. Tadi tuh mba Oliv cuma pamitan doang. Sengaja dia tuh peluk-peluk kakak biar kamu marah, orang aku denger kok pas mba Oliv ngomong. Lagian kakak juga nggak balas meluk mba Oliv kok." tutur Alya pelan-pelan.


"Jes... Kok diem aja sih?"


"Kakak Jesi?"


"Heleuhhh malah merem."


Baru saja Alya selesai membenarkan selimut Jesi, pintu kamarnya sudah diketuk berulang kali. Alya beranjak dari ranjang, berjalan pelan untuk membuka pintu.


"Jesi di sini?" Belum di jawab, Rama sudah menerobos masuk dan menghampiri istrinya yang sudah terlelap.


"Kebiasaan kamu tuh sayang." Rama mengusap sayang pipi Jesi.


" Abis marah-marah langsung tidur." Dikecupnya kening Jesi.


"Kakak kalo mau kecup-kecup jangan di sini lah. Bikin mata aku tercemar. Udah mah tiap malem telinga tercemar sekarang ketambahan mata tercemar juga." Protes Alya.


"Iya-iya maaf, lupa kakak kalo lagi di kamar kamu." Rama sudah membopong Jesi.


"Itung-itung kamu belajar aja. Biar kalo punya suami nggak polos-polos amat kayak jas jus, repot!" Sambungnya sambil membawa Jesi keluar.


"Berati boleh dong aku pacaran, kak? Biar nggak polos-polos amat." Timpal Alya.


"Nggak boleh!"


"Hih dasar kakak mah!"


"Kalo udah punya orang yang kamu suka, kenalin ke kakak. Nggak usah pacaran, dosa. Langsung nikah aja!" Pungkas Rama.


"Selamat bobo Jas Jus kesayangan kakak." ucapnya kemudian melangkah ke meja kerja untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum rampung sore tadi.


Hingga tengah malam Rama masih memeriksa file di laptopnya. Sesekali ia menengok melihat Jesi yang masih terlelap. Pukul satu lebih dua puluh menit dia baru bisa merebahkan diri di samping Jesi. Baru saja mau meluk eh Jesi terbangun dan menepis tangannya.


"Jangan deket-deket. Aku sebel sama Karam!"


"Jangan ngambek lagi. Kakak minta maaf kalo kakak punya salah." ditariknya Jesi kemudian dipeluknya dengan erat, tak membiarkan istrinya lepas meskipun berulang kali meronta dan memukul-mukul dadanya.


"Karam jahat!" tangisnya pecah mengisi keheningan tengah malam.


"Main peluk-peluk di depan aku!" protesnya sambil terisak.


"Besok aku balas. Tapi aku meluk siapa yah? masa kak Zidan? nggak mungkin." lanjutnya.


"Jangan aneh-aneh. Kamu cuma boleh meluk kakak aja!"


"Halah Karam aja pelukan sama Oli Gardan!" Jesi tak mau kalah.


"Kalo gitu besok aku mau meluk Karak aja lah."


"Nggak boleh!"


"Sendirinya boleh peluk-peluk perempuan lain, aku nggak boleh. Nggak adil, dasar!"


"Jauh-jauh dari aku. Peluk si Oli aja sana!" lagi-lagi Jesi meronta ingin lepas tapi Rama justru memeluknya lebih erat. mengecupi puncak kepala Jesi berulang kali.


"Jangan marah-marah lagi, sayang. Kakak minta maaf kalo kakak punya salah." ucap Rama pelan.


"Maaf karena udah bikin kamu nangis, maaf karena belum bisa jadi suami yang baik. Maaf yah?" tak mendengar jawaban dari istrinya membuat Rama merenggangkan pelukannya.


"Kakak kira kamu tidur, diem aja. Kakak dimaafin nggak nih?" tanya Rama.


"Kak Ramadhan jangan deket-deket sama perempuan lain. Aku nggak suka!" ucap Jesi kemudian menyerukan kepalanya di dada Rama, memeluknya erat-erat.


"Eh ngomong apa barusan? Once again dong."


"Apaan sih, Karam! nggak ada once again, aku lagi banjir." jawab Jesi.


"Siapa juga yang minta once again itu." Rama menyentil kening Jesi.


"Udah nakal sekarang yang otak Jas Jus, kotor. Perlu di sapuin."


"Maksud kakak tuh once again kata-kata yang tadi."


"Kak Ramadhan jangan deket-deket sama perempuan lain, aku nggak suka!" Rama mengulangi kalimat Jesi tadi.


"Coba bilang sekali lagi!"


"Nggak mau!!"


"Ya udah bobo!"


"Nggak mau, Karam. Aku udah nggak ngantuk jadinya."


"Besok sebelum berangkat kerja kita liat dede bayi mba Naura dulu yuk, Karam." ucap Jesi, disuruh tidur malah ngajak ngobrol.


"Sore aja yah pulang kerja, ntar langsung jalan-jalan malem."


"Pagi aja lah, aku udah kangen ih... dede bayi nya gemoy banget Karam. Kalo kita pinjem terus di bawa pulang boleh nggak yah sama mba Naura?"


"Jangan lama-lama lah dua harian aja." sambungnya.


"Nggak usah pinjem-pinjem, besok kita bikin sendiri!"


.


.


.


Ya kali pulpen Jes main pinjem-pinjem aja๐Ÿ˜›๐Ÿ˜›


seperti biasa tekan jempol, lope sama komennya yang banyak!!!