
“Kenapa teriak-teriak, Al?”
“Itu Jesi, Ma… Jesi…” Alya malah jadi gugup nggak jelas.
“Jesi kenapa?”
“Itu Jesi, Ma… kayaknya ponakan aku mau lahir.”
“Apa?” Mama Yeni langsung beranjak dari duduknya.
“Neng Jesi nya dimana?” lanjutnya.
“Dapur, Ma.”
Mama Yeni buru-buru beranjak ke dapur, tak peduli sinetron yang ia tonton sedang rame-ramenya bahkan lagu ku menangis membayangkan berulang kali terdengar.
“Bukannya perkiraan dokter harusnya seminggu lagi.” Gumamnya.
Mama Yeni menghampiri Jesi yang meringis sambil memegangi perutnya. Menantunya itu menggigit bibir bawahnya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya yang cabi.
“Ma… perut Jesi sakit.” Ucapnya saat Yeni ikut memegang perutnya.
“Kenapa nggak bilang sama mama sayang? Kita ke rumah sakit sekarang yah.”
“Sakitnya PHP banget, Ma. Bentar sakit bentar ilang terus sakit lagi. Dari tadi pagi kayak gitu terus.” Adunya dengan menahan sakit.
“Kita ke rumah sakit sekarang, sepertinya cucu mama udah pengen keluar.” Ucap Mama Yeni.
“Nggak mau, Ma. Aku maunya sama Karam.” tolak Jesi.
“Ma, sakit banget…” rengeknya lagi.
“Mama… ibu….” Tangisnya pecah lagi tak tertahankan.
“Sabar yah sayang… kita ke rumah sakit sekarang. Nanti kakak nyusul.” Mama Yeni mengelus punggung menantunya berulang kali.
Alya mematung tak jauh dari sana sambil menggigit ujung kukunya, bingung harus melakukan apa. Disisi lain ia tak tega melihat Jesi kesakitan seperti itu.
“Alya, kenapa kamu malah bengong! Cepet suruh supir siapin mobil. Kita ke rumah sakit sekarang.” Setelah mendapat intruksi Alya langsung berlalu ke depan dan meminta supir mamanya untuk segera menyiapkan mobil. Tak lupa ia pun bergegas ke kamar kakaknya mengambil tas perlengkapan bayi.
“Aku bawa yang mana nih? Kenapa jadi ada dua?” Alya jadi bingung memilih antara tas pink dan biru. Padahal ia ingat betul sebelumnya hanya ada tas warna hitam yang sudah di siapkan oleh mamanya.
“aku bawa dua-duanya aja lah.” Keputusan singkat yang terbaik menurutnya.
Sepanjang perjalanan Jesi terus menangis, mama Yeni yang sudah pengalaman melahirkan saja sampai kalang kabut menghadapi Jesi.
“Sabar yah sayang, sebentar lagi sampe rumah sakit.”
“Mama, ini sakit banget. Perut aku sakit, Ma.” Keluh Jesi.
“Sabar yah, Jes…” ucap Alya yang menengok ke belakang.
“Sabar… sabar… sabar gimana? Ini sakit banget sumpah, Al.” ucap Jesi.
“Karam… Karam udah di telpon belum, Al? aku mau sama Karam. Kalo sama Karam nggak sakit, tadi juga cuma di elus-elus Karam sakitnya ilang.” Lanjutnya.
“Aku udah telpon kakak, Jes. Tapi nggak diangkat. Aku udah ngasih tau mba Naura kok, nanti kakak pasti langsung nyusul ke rumah sakit.”
Jesi hanya menggelengkan kepala, perasaannya saat ini sungguh campur aduk tak menentu.
“Ma, elus-elus terus dong jangan berhenti.”
“Iya sayang ini juga mama elus-elus.” Mama Yeni terus mengusap perut menantunya.
Tiba di rumah sakit ayah Burhan dan Ibu Sari sudah sampai lebih dulu. Melihat mobil besannya berhenti keduanya langsung menghampiri bersama dengan dua orang perawat yang membawa blangkar.
“Ibu… dede bayinya nakal, perut Jesi sakit.” Ucapnya begitu pintu mobil terbuka.
“Sabar yah sayang. Jangan nangis terus, nanti kamu malah kehabisan tenaga.” Sari mengelus kepala Jesi dan menyeka keningnya yang basah karena keringat.
“Ibu disini nemenin Neng Jesi. Putri ibu nggak boleh cengeng yah, sekarang udah mau jadi mami masa nangis terus.” Lanjutnya.
Jesi sedikit lebih tenang berada di pelukan ibunya, meskipun wajah meringis menahan sakit tak juga hilang. Sudah empat puluh lima menit Jesi terkulai di atas ranjang sambil memegangi perutnya. Sedari tadi dia miring kanan kiri mencari posisi ternyaman. Sesekali ia berjalan dengan dipapah oleh Alya, mama atau pun ibunya secara bergantian.
“Ma, Karam mana? Kenapa nggak datang-datang?” tangis yang ia tahan-tahan sedari tadi akhirnya pecah lagi karena merasa berjuang sendiri.
“Kakak lagi di jalan, Jes. Sabar yah.” Ucap Alya.
“Ponakan ante jalan nakal yah, kalo mau keluar yah keluar aja jangan bikin mami sakit.” Lanjutnya seraya mengelus perut Jesi.
“Jangan ngatain anak gue nakal, Al. Yang nakal tuh kakak lo, enaknya doang bikin giliran kayak gini nggak ada!” sedari tadi menangis lama-lama Jesi jadi kesal sendiri.
“Ya ampun salah lagi aku nya. Maaf maaf Jes…”
“Ibu… ini sakit banget.” Teriak Jesi.
Karena Jesi yang tak bisa tenang akhirnya Mama Yeni kembali memanggil dokter.
“Aku udah bosen dari tadi di colok-colok terus ih.” Protesnya saat dokter kembali memeriksa organ intimnya.
“Baru pembukaan empat. Sabar yah Bun…” dokter Wanita langganannya itu tersenyum ramah pada Jesi.
“Tadi tiga sekarang empat, emang sampe berapa sih bu?” tanya Jesi dengan nafas pendeknya menahan sakit.
“Sampai sepuluh sayang.”
“Berapa lama?” tanyanya lagi.
“Aku nggak kuat, ini sakit banget. Ada penahan sakitnya nggak sih bu?” lanjutnya mulai ngaco.
“Kenapa enak pas bikinnya doang sih. Sumpah ini sakit banget.” Keluhnya lagi sambil memegangi perut.
“Yang sabar yah calon mami. Ibu tinggal dulu yah.” Dokter mengelus perut Jesi kemudian berlalu pergi.
Rama hampir menabrak dokter yang hendak keluar saat ia membuka pintu. Saking paniknya Rama tak meminta maaf dan langsung masuk mencari Jesi. Sejak mendapat kabar istrinya dibawa ke rumah sakit, Rama segera bergegas meninggalkan rapatnya yang belum selesai dan meminta Raka menghandle semuanya.
Rama menghampiri Jesi yang menatapnya dengan cemberut namun sekian detik kemudian dia menangis dan menghambur dipelukan Rama.
“Maaf yah kakak lama. Harusnya kakak tadi nggak ke kantor.” Diciuminya seluruh wajah Jesi, tak lupa mengusap penuh sayang perut besarnya.
“Sakit, Karam.”
Melihat putranya sudah datang, mama Yeni, Alya dan kedua orang tua Jesi memilih menunggu di luar.
“Kita tunggu di luar yah.” Burhan menepuk bahu menantunya sebelum keluar. Rama balas mengangguk sambil terus mengusap sayang perut Jesi.
“Elus-elus terus…” ucap Jesi.
“Iya sayang…. Ini juga kakak elus.” Sedari tadi tangan Rama tak sedikit pun menjauh dari perut Jesi tapi ia semakin bingung karena melihat istrinya yang kian kesakitan.
“Kakak panggil dokter dulu yah.” Ucap Rama. Jesi bahkan sudah tak bisa berbicara, ia hanya menggeleng dan tak membiarkan suaminya pergi satu langkah pun.
“Iya-iya kakak nggak kemana-mana sayang.” Dikecupnya bibir Jesi kilas kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelpon Alya untuk memanggilkan dokter.
Tak lama dokter datang dan kembali memeriksa Jesi.
“Sepertinya dede bayi nungguin papi nya yah?” Bu dokter tersenyum ke arah Rama setelah melakukan pemeriksaan.
“Tadi dari pembukaan tiga ke empat lama banget, eh pas papi nya datang jadi cepet ke pembukaan sepuluh.” Lanjutnya.
“Kita berjuang sekarang yah, bun.” Ucap bu dokter.
“Kakak disini sayang. Kamu nggak sendirian hm.” Rama mengecup kening Jesi.
Jesi berulang kali meneteskan air matanya tanpa suara, sesakit apa pun ia menahannya. Tangannya memegang erat tangan Rama yang berdiri di sampingnya. Berulang kali suaminya itu menyeka keringat yang membasahi kening Jesi.
“Tarik nafas yah. Mulai mengejan saat hitungan ketiga.” Ucap bu dokter.
Berulang kali dokter memberikan instruksi, melakukan yang terbaik untuk membantu Jesi melahirkan. Rama, dia bahkan ikut menangis melihat perjuangan Jesi melahirkan anaknya. Gadis manja, tak mau kalah dan sering berbicara tanpa rem itu wajahnya bercucuran keringat. Berulang kali Rama menyeka wajah basah Jesi dan mencium keningnya, memberikan semangat untuknya, hingga akhirnya setelah dua puluh menit berlalu tangis bayi menggema di ruangan bernuansa putih itu.
Rama langsung memeluk erat Jesi dan menghujaninya dengan ciuman sayang.
“Alhamdulillah, anak kita udah lahir sayang.”
Jesi masih tertegun dan menghembuskan nafasnya pelan. Rasa sakit yang sedari tadi ia rasakan menguap begitu saja begitu mendengar tangis pertama anaknya.
“Karam…” panggilnya pada Rama yang masih memeluk erat.
“Makasih sayang… “ Rama bahkan sampai menangis lagi karena Bahagia.
Dokter berjalan ke samping Jesi dan Rama sambil menggendong anak pertama mereka. Mendekatkannya pada kedua orang tua baru itu supaya melihat anak mereka.
“Selamat yah, anak pertama kalian perempuan. Cantik seperti ibunya.”
Jesi dan Rama kompak melihat ke arah dokter yang menggendong anak mereka. Tangan lemah Jesi terulur menyentuh pipi bulat putrinya yang masih merah.
“Anak mami…” ucapnya lirih.
“Anak kita sayang.” Sambung Rama.
“Makasih… makasih sayang. Makasih sudah melahirkan anak kakak. Kamu Jas Jus kesayangan kakak. Wanita paling sempurna di hidup kakak. Love you…”
.
.
.
Ya ampun nulis beginian aku jadi pengen cepet-cepet punya dede bayi gemoy juga kayak Jas Jus. Do'ain yah men temen biar aku cepet dikasih baby. Aamiin.
Like dan komen hukumnya wajib😛😛