Possessive Leader

Possessive Leader
Kepo



“Hadeuh beneran nggak bisa tidur nih.” Jesi berulang kali merubah posisi tidurnya. Udah miring kanan, miring kiri, meluk Karam,ngusek-ngusek sana sini tapi tetep aja semakin dipaksa merem matanya malah kian terbuka lebar.


Jam dinding di kamarnya sudah menunjuk angka sebelas lebih lima belas menit tapi mata Jesi masih seterang lampu seratus watt.


“Si Alya pake rahasia-rahasiaan segala sih, kan makin kepo nih. Berasa lagi main tebak-tebakan.” Jesi makin gemas karena tadi dia sudah berhasil mendesak Alya supaya cerita tapi sayang adik iparnya itu tak menyebutkan nama lelaki yang disukainya.


“Hih... padahal kalo tau namanya kan bisa gue ospek itu orang di kantor. Takutnya cowok yang deketin Alya tuh kayak Zidan Zidun kang selingkuh! Gue nggak rela banget dah adik ipar merangkap sahabat gue kalo sampe dapet cowok yang kaleng-kaleng.” Ucapnya lirih.


“Apa gue balik ke kamar Alya aja yah? Karam udah tidur ini.” Jesi sedikit melirik suaminya yang nampak sudah terlelap.


Baru saja kaki kananya menjuntai ke lantai Rama sudah menarik dan memeluknya erat.


“Mau kemana hm?” ucapnya tanpa membuka mata.


“Karam kok belum tidur sih?” Jesi malah balik tanya.


“Gimana kakak bisa tidur kalo kamu bentar-bentar usik. Gerak sana-sini nggak bisa diem.” Balas Rama.


“Bobo udah malem. Besok kesiangan!” lanjutnya seraya menepuk-nepuk punggung Jesi layaknya ibu yang menidurkan bayinya.


“Nggak bisa bobo aku tuh, Karam. Penasaran ini... aku kalo penasaran nggak bisa tidur.” keluh Jesi.


“Ya makanya merem. Tidur kan gampang, tinggal diem bibirnya terus merem matanya!” Rama mengecup singkat bibir Jesi yang kian malam malah makin nyerocos.


“Mana bisa aku tidur kalo otak aku masih kerja, Karam. Emang Karam nggak pernah denger apa kalo kadang ada tidur tapi yang berasa nggak tidur.” Ucap Jesi.


“Mana ada tidur tapi nggak tidur. Ngaco kamu tuh. Udah bobo... bobo yah jas jus!” Rama kembali menepuk-nepuk bayi besarnya yang sedang rewel.


“Ih ada lah tidur yang nggak berkualitas. Mata merem tapi otak kerja loh.” Timpal Jesi.


“Ya udah makanya merem, otaknya nggak usah kerja. Kerjanya besok sekarang istirahat.” ucap Rama.


"Ih mana bisa kayak gitu lah. Bantuin aku kek Karam... kira-kira siapa pacarnya Alya? Tadi kan Karam udah manggil Alya. Kasih tau aku dong!” rengek Jesi.


“Alya nggak punya pacar. Cuma temenan aja sayang. Lagian orangnya juga kerja di lovewear. Ntar juga kita tau, sabar aja. Alya mau ngenalin kok.” Jawab Rama, tadi dia memang sempat menyidang dadakan Alya meskipun tak melarang adiknya berhubungan tapi ia berpesan untuk menjaga diri dan mengenalkan lelaki yang ia suka padanya.


“Tetep aja aku mesti tau lah, Karam. Kan aku kakaknya, aku nggak mau kalo Alya dapat cowok kaleng-kaleng.” ucap Jesi.


"Iya sabar aja sayang. Ntar juga dikasih tau!"


“Justru makin kepo nih akunya!"


"Karam ih...” panggilnya lirih.


Rama memilih pura-pura tidur dari pada terus melayani istri cerewetnya, karena kalo terus ditanggapi nggak ada abisnya. Toh Alya sudah berjanji akan mengenalkannya jadi dia tak perlu buang-buang tenaga.


“Ih malah tidur!” kesal Jesi. Semalaman itu dia benar-benar tak memejamkan mata, sibuk menerka-nerka lelaki yang disukai Alya. Sebenarnya Jesi tipe yang masa bodo dengan urusan orang lain, tapi beda hal nya jika orang lain itu adalah Alya, sahabat sekaligus adik iparnya. Ia merasa perlu menjamin kebahagiaan Alya, seperti Alya yang ada untuknya dikala masa-masa sulitnya saat orang lain berlomba-lomba menjauh darinya.


“Besok pasti gue temuin tuh cowok. Gue ospek dulu kalo perlu.” Gumam Jesi.


Pagi harinya Jesi berulang kali menguap, dia benar-benar kurang tidur. Selama perjalanan ke kantor saja ia habiskan untuk memejamkan mata.


"Asisten sekretarisku tersayang, bangun! Kita udah sampe."


"Masih ngantuk ih, Karam."


"Makanya kalo di suruh tidur tuh bukan malah gadang nggak jelas. Unfaedah!" Ucap Rama.


"Kok unfaedah sih? Kan aku lagi nyari cowoknya Alya. Karam tuh kurang peduli ih sama Alya."


"Ck! Bukannya kakak yang kurang peduli, kamunya aja yang nggak sabaran. Nanti juga dikenalin sama Alya."


"Pokoknya hari ini aku mau nyari tau cowoknya Alya. Jangan diganggu yah Karam. Kalo bisa hari ini aku nggak usah dikasih kerjaan oke?"


"Mana bisa begitu! Kerja dulu, kalo senggang baru terserah kamu mau ngapain juga."


"Iya iya deh my possessive leader." Balas Jesi lesu, padahal dia udah ngarep banget kalo pekerjaannya akan ringan setelah jadi istri Rama. Nyatanya sama aja, nothing spesial. Kerja ya kerja, waktunya manja-manja beda lagi.


Baru sekitar jam dua siang Jesi bisa sedikit bersantai, ingin mulai pencarian tapi matanya sudah mulai merasakan kantuk. Dia sudah menyandarkan kepala di meja kerja berbantalkan lengannya sendiri yang ditekuk.


Tok...tok...tok...


Ketukan berulang di mejanya membuat Jesi seketika bangun, padahal dia baru mulai otw alam mimpi.


"Enak bener dah aqua gelas jam segini mau bobo siang yah?" Sindir Raka.


"Aku baru mau istirahat ih. Cape banget hari ini, berasa dikejar-kejar anjing galak. Gara-gara rapat dimajuin nih, pusing juga ini kepala kurang tidur!"


"Ngapa lo kurang tidur? Digarap semaleman?" Tanyanya vulgar.


"Digarap apaan? Aku tuh semaleman nggak bisa tidur gara-gara penasaran, Karak."


"Penasaran kenapa?" Tanya Raka.


"Darmawan lagi ada tamu yah?" Lanjutnya seraya menatap pintu ruangan Rama yang tertutup.


"Iya, klien yang mau buka outlet baru." Jawab Jesi.


"Karak, kira-kira di sini karyawan cowok yang usianya seumuran sama Karam dan belum nikah ada nggak?" Lanjutnya.


"Banyak, kenapa emang?"


"Temen aku, cowoknya karyawan kantor ini. Tapi aku nggak tau yang mana euy."


"Terus kenapa?"


"Ya aku penasaran aja, kira-kira yang mana orangnya. Mau aku ospek dulu kalo perlu. Takutnya bukan cowok baik-baik." Ujar Jesi.


"Kurang kerjaan banget lo ngurusin orang lain, biarin aja kek udah gede ini." Jawab Raka sedikit masa bodo. Boro-boro mikirin ucapan Jesi, dirinya saja saat ini sedang kalang kabut memikirkan bagaimana cara meluluhkan calon kakak ipar yang galak.


"Darmawan masih lama nggak sih? Gue ada perlu penting nih." Lanjutnya.


"Masih lama kayaknya Karak. Mending Karak bantuin aku aja deh." Pinta Jesi.


"Bantu apaan? Gue aja lagi ada urusan nih sama laki lo."


"Bantuin nyari cowok temen aku lah."


"Ribet amat, tinggal ke bagian personalia aja. Sebutin namanya terus tanya di divisi mana? Terus lo susulin deh!" Terang Raka.


"Lagian kepo banget sih sama hubungan orang." lanjutnya.


"Masalahnya aku nggak tau namanya Karak." Jawab Jesi lesu.


"Terus juga temen aku kan nggak sembarangan, dia tuh adiknya Karam. Adik ipar aku, wajarlah kalo aku pengen yang terbaik buat Alya."


Deg!!


Raka sedikit terkejut mendengar nama yang disebutkan Jesi. Ia jadi ingat adik kecil Darmawan yang sering nangis setiap pulang sekolah. Namanya Alya, sama seperti perempuan yang ia sukai.


"Emang lo tinggal bareng adiknya Darmawan? Bukannya dia di pesantren yah?"


"Ada ih di rumah, emang Karak belum pernah ketemu?"


"Belum, udah lama banget. Gue kira masih di pesantren, terakhir ketemu yah pas dia masih SD. Kasihan itu bocah tiap pulang sekolah mewek. Lagian gue juga jarang banget ke rumah Darmawan, seringnya main di rumah Naura." Terang Raka.


"Heu... Pantesan aja. Karak kan jomblo nih yah? Mending sama adik ipar aku aja gimana? Cantik, baik, soleha. Karak pasti suka deh." Usulnya, dari pada Alya jatuh ke laki-laki lain lebih baik dengan Raka yang sudah jelas lelaki baik-baik pikir Jesi.


"Ogah gue. Adiknya Darmawan cengeng banget, tukang nangis. Sifatnya kebalikannya banget sama laki lo. Lagian gue nih udah nggak jomblo yah aqua gelas. Asal lo tau aja, gue udah punya calon istri. The real calon istri soleha." Ucap Raka.


"Gue juga nggak mau punya kakak ipar kayak lo, nyebelin." Ejek Raka.