
"Jangan menyalahkan apa yang sudah berlalu, Liv. Jangan pernah pula mengungkit masa lalu. Yang lalu hanya perlu di kenang tanpa diulang."
"Jaga sikap kamu kalo masih mau jadi teman ku. Sejak dulu kita hanya teman, Liv."
"Aku permisi, istriku sudah menunggu." Tanpa menunggu jawaban Rama segera pergi.
Olivia tersenyum tertahan mendengar perkataan Rama. Dia masih terpaku di tempatnya, memandang lelaki jangkung yang kian menjauh darinya hingga masuk ke dalam mobil.
"Wan, aku tau kamu belum nikah. Jangan ngehindar lagi, aku tau banget dulu kamu suka sama aku. Perhatian kamu beda, cuma aku satu-satunya anak perempuan yang pernah kamu bawa pulang. Kamu kenalin aku ke mama, papa sama adik kamu." Gumam Olivia.
Meski tak sekalipun Rama melirik pada dirinya, Olivia tetap melambaikan tangan pada Jesi yang hanya membalasnya dengan tatapan bodo amat. Sikap Rama yang dingin dan terkesan ketus sudah tak aneh lagi baginya, sejak dulu lelaki yang berhasil membuatnya jatuh hati memang sudah seperti itu. Jika bukan karena kenal cukup dekat juga dia tak akan tau jika diam, galak, cuek dan dinginnya Rama terdapat perhatian yang amat dalam.
Begitu masuk ke dalam mobil, Rama langsung di sambut dengan pelototan mata Jesi.
"Padahal mah lanjut aja, aku nonton dari sini." Ketusnya.
Rama mengusap puncak kepala Jesi, "jangan marah-marah terus. Dia cuma temen, cemburu boleh tapi otaknya di pake. Jangan asal main emosi aja." Ucap Rama.
"Tau ah sebe!" Cibir Jesi. Ia mengenakan sabuk pengamannya dan melihat Olivia yang berdadah ria padanya.
Jesi malah balas manyun bodo amat, buru-buru ia naikan kaca jendelanya.
"Liatin tuh Karam di dadahin sama si oli!"
"Biarin aja. Nggak usah di urusin!"
"Katanya cuma temen tapi kok carmuk banget. Ganjen!"
"Suka-suka dia mau ngapain juga bukan urusan kita. Biarin aja, ngapain cape-cape kamu pikirin."
"Belain aja terus belain!" Kesal Jesi.
"Siapa juga yang ngebelain dia, Jas Jus. Kakak kan cuma bilang biarin aja nggak usah di urusin. Orang lain mau jungkir balik sampe salto guling-guling juga biarin, itu hak mereka." Tutur Rama pelan-pelan, ia tau mau Jas Jus kesayangannya makin meledak-ledak tak jelas. Resiko punya istri yang baru mulai beranjak dewasa yah harus dibanyakin ngalahnya.
"Jangan-jangan mantan Karam yah?" Tebaknya kemudian.
"Bukan. Cuma teman seangkatan tapi beda kelas." Jawab Rama.
"Kakak nggak pernah pacaran." Lanjutnya kemudian.
"Bohong banget. Nggak mungkin lah cowok kayak Karam nggak pernah pacaran."
"Tampang-tampang kayak Karam tuh pasti banyak fans nya."
"Jadi ceritanya sekarang neng Jas Jus kesayangan kakak ini ngakuin kalo suaminya cakep gitu?" Ledeknya.
"Eh ralat.. dari dulu kan kamu emang udah ngakuin kalo kakak ganteng... Yang mirip siapa itu lah..." Rama mencoba mengingat-ngingat ucapan istrinya di lift kala itu.
"Teh payung yah? Baru inget kakak." Ucapnya kemudian.
"Taehyung, Karam! Enak aja di kata teh payung." Solot Jesi.
"Karam nggak tau apa kalo dia itu dinobatkan jadi pria paling tampan tahun ini. Ngalahin Kim seokjin si word wide handsome."
"Karam jangan coba-coba ngalihin pembicaraan yah, kita kan lagi bahas si oli. Aku nggak percaya deh kalo si oli cuma temen doang. Pasti mantan nih." Jesi tetap tak mau kalah meski bibir mungilnya sudah berulang kali menguap.
"Susah emang ngomong sama kamu tuh. Suka ngambil kesimpulan sendiri. Kalo kamu nggak percaya tanya aja tuh sama Raka dan Naura." Ucap Rama.
"Sejak papa meninggal jangankan pacaran, waktu buat kumpul-kumpul sama temen aja nggak ada. Kamu mana pernah ngerasain umur delapan belas tahun pas yang lain lagi seneng-senengnya main kakak justru sudah harus mulai mengemban tanggung jawab. Mikirin mama dan Alya, mikirin nasib perusahaan yang hampir gulung tikar juga. Nggak mudah Jas Jus, untung ada yang ayah nolongin keluarga kakak dulu. Kalo nggak ada ayah Burhan mungkin sampe sekarang kakak tidak bisa seperti ini." Rama tanpa sadar mulai menceritakan kisah lalunya, kisah yang memaksanya untuk dewasa lebih dahulu dari anak-anak lain yang seusianya.
"Tapi nggak pernah ngeluh, karena semua yang terjadi sama kita itu adalah yang terbaik. Dan kakak yakin itu sampe sekarang. Nggak pernah pacaran bukan berarti tak pernah menyukai siapa pun, jujur saat sekolah dulu ada siswi yang dekat sama kakak dan itu Olivia. Tapi hanya sebatas dekat saja, tak ada status apa pun. Sejak Ayah minta kakak untuk jadi menantunya, kakak nggak pernah lagi merhatiin perempuan mana pun. Semua tentang Olivia juga pudar dengan sendirinya, toh dulu dia juga ngilang entah kemana." Ucap Rama, dia sudah siap-siap kena semprot Jesi karena kejujurannya. Tapi jujur dari awal lebih penting bukan? dari pada disembunyikan dan menjadi petaka di masa yang akan datang.
"Sekarang cuma ada kamu, Neng Jas Jus kesayangan kakak. Jadi jangan suka marah-marah nggak jelas lagi, cuma gara-gara kakak ngobrol sama Olivia."
"Jas Jus..." Panggil Rama lirih.
"Hei.. Neng Jas Jus!" Ulangnya lagi. Karena sedari tadi tak ada tanggapan dari istrinya membuatnya segera menengok ke samping.
"Heuh... Kebiasaan banget dah diajak ngomong serius malah tidur. Pantes aja dari tadi diem-diem terus nggak ada jawaban." Gerutu Rama, susah payah dia merangkai kata supaya Jesi bisa menerima tanpa emosi eh yang diajak ngomong malah sudah otw alam mimpi.
"Cape yah marah-marah mulu?" Rama mengelus sayang puncak kepala istrinya.
"Jesi mana kak? Kok kakak sendirian?" Tanya Alya yang ternyata sudah lebih dulu tiba di rumah.
"Temen kamu tidur. Kakak minta tolong, bawain tas ke kamar kakak. Nanti pintunya jangan di tutup biarin kebuka aja."
"Si jas jus harus di gendong nih kalo nggak dia bisa merem sampe pagi di mobil."
"Eh jangan masuk dulu, Al. Sekalian bawain itu oleh-oleh sama jajanan kakak ipar kamu tuh." Akhirnya Alya ikut keluar dan mengambil beberapa paper bag beserta tas Jesi.
Alya berjalan lebih dulu sementara Rama mengikutinya di belakang sambil menggendong jelmaan bayi besarnya.
"Kakak beli makanan banyak banget sih ini?"
"Jesi yang minta tadi, buat dibagiin ke temen-temen magang katanya."
"Oh... " Jawab Alya kemudian meletakan barang bawaannya di dekat lemari.
"Jesi emang baik banget, cocok lah sama kakak. Dia selalu inget sama orang lain."
"Satu lagi, Al. Temen kamu ini juga ngeselin, cemburuan tapi nggak mau ngaku." Ucap Rama yang baru selesai merebahkan Jesi di ranjang dan menyelimutinya.
"Seharian ini dia marah-marah terus, kakak sampe pusing ngadepin dia."
"Udah biasa kan kak? Jesi kan emang sering ngambek, tapi bentar doang juga udahan ngambeknya."
"Lucu lagi Jesi kalo ngambek, dia pasti bilang 'tau ah pokoknya aku ngambek, kalo nggak tau ah pokoknya aku kesel' Ngegemesin kayak anak kecil." Alya menirukan gaya bicara Jesi ketika merajuk.
"Tapi hari ini ngambeknya beda. Semua gara-gara Olivia, Jas Jus kesayangan kakak jadi asem, udah mah lagi PMS marah-marah nggak jelas mulu ditambah ketemu Olivia tadi, makin meledak dia."
"Olivia?"
"Iya, Olivia. Kamu masih ingat? Tadi dia ngira Jesi itu kamu." Ucap Rama.
"Iya, aku inget. Kak Oliv yang pernah kakak ajak ke rumah dulu kan? Tapi udah lama banget yah." Tebak Alya.
"Iya yang itu." ucap Rama.
"Awas aja yah kak kalo kakak sampe nyakitin Jesi, aku nggak terima." Ancam Alya.
"Hish..." Rama berdecak kesal,
"Kamu kira kakak kamu ini lelaki macam apa hah? Sepuluh tahun aja kakak setia sama calon istri yang nggak tau kayak gimana orangnya. Mana mungkin kakak tiba-tiba oleng cuma gara-gara temen SMA. Yang bener aja!"
"Kamu dan Jesi tuh sama aja, mikirnya pendek."
"Ya kan aku cuma takut aja. Jesi itu udah pernah di khianati, sama sahabat sendiri pula. Aku sebagai teman cuma ingin dia bahagia."
"Adik yang baik... Pro banget yah sama si jas jus."
"Sekarang mumpung Jas Jus lagi tidur, kasih tau kakak siapa karyawan kantor kakak yang kamu taksir?" Tanya Rama dengan wajah seriusnya.
Alya jadi mendadak gugup kalo ditanya soal orang yang ia suka, bukannya tak mau jujur pada sang kakak tapi nama dari lelaki itu saja ia belum tau.
"Aku ngantuk kak, mau tidur." Jawaban paling ampuh untuk menghindari audit dadakan dari kakaknya saat ini.
"Alya, sampe kapan kamu mau ngehindar tiap kakak tanya?"
"Kakak nggak pernah ngelarang kamu dekat dengan siapa pun, Al. Asal dia lelaki yang baik."
"Kakak nggak usah khawatir, aku udah dewasa. Sudah cukup kakak jagain aku selama ini, sekarang saatnya kakak fokus ke Jesi. Kasih aku ponakan yang lucu-lucu." Ucapnya lalu kabur dari kamar Rama.
"Kalo bisa yang cerewet kayak Jesi, rame. aku suka!" ucapnya saat kembali menyembulkan kepala di pintu kemudian kembali kabur.
Rama menggelengkan kepala mendengar permintaan adiknya. Soal anak ia sama sekali belum berfikir jauh kesana. Diliriknya Jesi yang masih terlelap kemudian tersenyum simpul.
"Kalo kita punya anak bakal mirip siapa yah? aku atau kamu?"
"Nggak kebayang kalo mirip kamu, Jas Jus. Rumah pasti jadi rame banget."