
“Sayang, kamu punya utang apa sama Ardi?” Tanya Rama saat tamu mulai sepi. Keduanya duduk santai di pelaminan, hanya sesekali mengangguk dan tersenyum saat tak sengaja bertemu tatapan dengan tamu.
“Bukan aku yang punya utang Karam, tapi Kak Ardi tuh. Dulu kan dia berantem sama istrinya terus aku yang ngebantu bikin mereka akur lagi. Waktu itu kak Ardi udah setuju mau beliin aku tiket nonton sama jajannya juga, eh taunya pas udah akur malah pada ngamer aku ditinggalin.” Terang Jesi disela-sela meminum susu hamilnya.
“Mana cuma dibayar goceng doang aku sama mamanya si Reret, katanya uang kembalian jajan cilok si Reret. Uangnya masih ada loh aku laminating.” Sambungnya dengan tersenyum cerah.
“Laminating?” heran Rama dengan tingkah absurd istrinya, orang lain mah yang di laminating ijazah, kartu keluarga dan dokumen-dokumen penting lainnya. Lah ini Jas Jus kesayangannya malah ngelaminating duit gocengan.
“Yups, Karam. Aku laminating dan aku simpan di kamar. Aku pajang loh pake figura, emang Karam nggak liat?”
Rama menggeleng, dia sama sekali tak melihat pajangan uang lima ribuan. Yang ia ingat betul dari kamar Jesi adalah banner jumbo yang memenuhi satu bagian dinding kamar bernuasa pink itu.
“Duit goceng itu lah yang jadi saksi aku yang jatuh jadi rakjel, tapi seneng gara-gara jadi rakjel aku tau siapa yang tulus sama aku. Sampe aku bisa ketemu sama Alya, jadi istri Karam juga. Lopelope kim Taehyung KW nya aku.” Jesi memeluk erat Rama, dia seolah lupa dirinya sedang ada di pelaminan dan menjadi tontonan tamu.
“ckck Penganten basi masih aja pamer uwuw-uwuw. Ngamer sana!” cibir Raka yang melempar Jesi dengan tisu yang dibulatkan.
“Ngeselin banget dah!” Jesi memungut tisu itu dan kembali melemparkannya pada Raka tapi naas malah mengenai wanita dengan gaun serba merah yang wajahnya tertutup topi ala ratu inggris itu.
“Eh eh anu, maaf nggak sengaja…” Jesi sampai sedikit terbata-bata, takut tamu yang kena lempar tisu relasi bisnis Rama atau ayahnya.
Wanita itu menaikan topinya hingga wajahnya terlihat, “bisa-bisanya tamu dilempar tisu, dasar bocah!”
“Oli gardaaaan!” teriak Jesi.
“Ini kenapa oli bisa masuk sini sih? Ah waspada licin!” sindir Jesi.
“Karam yang ngundang yah?” lanjutnya sambil cemberut.
“Kakak nggak ngundang dia kok!” balas Rama.
“Udah-udah nggak usah rebut. Gue ini tamu nggak diundang tapi pengen datang aja. Numpang makan lah.” Seperti biasa Olivia selalu berbicara enteng seolah tak terjadi apa-apa diantara mereka.
“Ish, dasar! Pokoknya mba jangan macem-macem deh, aku sama Karam udah mau punya dede bayi gemoy tau.”
“Iya-iya tau. Mba kesini cuma mau ngucapin selamat kok, lagian udah nggak gatel-gatel. Nih salep lapan-lapan yang waktu itu mba balikin.” Olivia mengeluarkan salep dari tasnya ditambah dengan selembar kertas berwarna ungu.
“Bonus undangan nikahan gue. Datang yah!” sambungnya.
“Wah selamat yah, akhirnya mba sold out juga.” Ucap Jesi.
“bakal jadi ibu persit nih.” Lanjutnya begitu melihat nama calon mempelai pria pada undangan.
“Iya dong. Emangnya lo jadi istri kang botol misting.” Ledeknya.
“Biarin aja. Kang botol misting juga nggak sembarangan, botol misting sultan, mahal. Emak-emak aja pada ngebelain arisan biar bisa punya loveware.” Jesi tak mau kalah.
“iya iya dah susah ngomong sama bocah. Gue balik yah, calon laki nunggu di depan. Selamat deh buat lo berdua. Sehat-sehat yah sampe launching dede bayi gemoy nya.”
“Aamiin, makasih mba. Mba juga semoga lancar sampe hari H.”
Satu persatu tamu mulai mengurai sepi bertepatan dengan waktu resepsi yang sebentar lagi berakhir. Jesi yang sedang duduk santai mendadak berdiri mendapati Teh Ai penjual boba langganannya datang. Namun sedetik kemudian dia justru bersembunyi di balik tubuh Rama saat melihat orang yang berjalan di belakang Teh Ai.
“Kenapa malah ngumpet sayang? Itu ada teteh yang jualan boba.” Tanya Rama.
“Nggak apa-apa kok, Karam.” Jawab Jesi. Dia makin kalang kabut saat Teh Ai kian dekat dan bahkan kini sudah menaiki pelaminan. Bukan teh Ai yang ia takuti, tapi sosok perempuan di belakangnya yang berjalan sambil membawa kantong kresek putih dengan tulisan warna biru yang sangat ia kenali.
“Neng Jesi cantik banget. Selama yah, Neng. Maaf teteh datengnya sorean soalnya nunggu Fitri ganti shif. Teteh malu kalo datang sendirian, jadi ngajakin Fitri eh kebetulan dia juga ada yang mau disampein ke kamu.” Teh Ai menunjuk mba kasir indoapril di belakangnya.
“Iya, teh. Nggak apa-apa, makasih udah datang.” balas Jesi.
Kini ia beralih pada kasir indoapril, “anu mba, sebenarnya saya waktu itu...”
“Nggak apa-apa, Neng. Lagian ini belanjaannya udah saya tebus pake uang saya sendiri. Besoknya mau saya kasih eh Neng nya malah keburu naik angkot. Terus lama banget saya nggak pernah liat neng Jesi lagi, padahal kan biasanya hampir tiap hari beli boba pasti mampir beli keripik kentang. Jadi sekarang aja deh, ini anggap aja kado dari saya.“ si aksir memberikan kantong kresek putih berisi jajan Jesi lima bulan lalu.
Jesi menerima kantong kresek itu dengan malu-malu, “maaf yah mba..”
“Bentar-bentar ini sebenernya ada apa?” Rama begitu penasaran dengan percakapan keduanya.
“Anu, Karam...”
“Neng Jesi dulu belanja nggak bawa uang terus nggak balik lagi. Jadi belanjaannya saya yang bayar.” Sela si kasir.
“Ya ampun Jas Jus! Kamu ngutang ke indoapril?” tebak Rama dan Jesi hanya tersenyum malu.
“Waktu itu aku mendadak miskin, Karam.” Jesi tak mau sepenuhnya di salahkan.
“Mba, nanti sebelum pulang temui wanita yang lagi gendong anak itu yah. Yang pake baju gold.” Rama menunjuk Naura yang duduk di salah satu meja bersama baby Khayla dan suaminya. Si kasir indoapril mengangguk kemudian berlalu dari pelaminan setelah memberikan ucapan selamat.
Rama mengirim pesan singkat pada Naura untuk memberikan sejumlah uang pada kasir indoapril tersebut.
“Beneran Karam waktu itu aku nggak punya uang. Bukannya nggak mau bayar, orang minta uang ke ayah malah kagak dikasih. Eh besoknya aku jadi rakjel, miskin.” Keluh Jesi.
“Terus kenapa kemaren nggak turun dan bayar hm?” Rama mengelus rambut panjang Jesi yang terurai.
“Malu, Karam.” Jawabnya sambil membuka salah satu snack dari dalam kantong kresek indoapril.
“Heu dasar Jas Jus!” Rama menyubit gemas pipi Jesi.
“Lapar?” lanjutnya melihat Jesi yang mulai memasukan snack ke dalam mulut.
“Ke kamar yuk? Nanti kakak suapin.”
“Emang udah boleh kalo pergi sekarang?” tanya Jesi.
“Boleh lah. Tamunya juga udah mulai sepi. Yuk!!” Ajak Rama.
“Lapar banget yah? Kenapa nggak bilang sama kakak sih? Tadi juga diajak makan susah banget.” Ucap Rama begitu mereka tiba di kamar. Jesi mengunyah makanannya dengan cepat, kentara sekali ibu hamil itu kelaparan.
“Minum dulu.” Rama menyodorkan segelas air putih.
Jesi meminumnya dengan perlahan, “makasih, Karam.” Ucapnya.
“Tadi nggak kerasa laparnya, seneng liat banyak tamu. Pada do’ain yang baik-baik juga buat kita, buat calon dede bayi gemoy kita juga. Eh pas tamunya udah sepi, mulai deh cacing aku pada demo.” Lanjutnya.
“Dasar... Aaa lagi?” Rama memberikan supan terakhirnya.
Jesi mendorong sendok itu menjauh, “buat Karam aja. Aku udah kenyang.”
Jesi berjalan ke depan meja rias dan mulai membuka tiara hingga pakaiannya satu persatu, melihat Jesi yang kesulitan Rama mendekat dan membantunya. Pantulan tubuh Jesi di dalam cermin benar-benar membuatnya menelan ludah. Istri mungilnya kian terlihat seksi meski perutnya mulai menonjol.
“Sayang boleh yah?” bisik Rama yang ditelinga Jesi, kedua tangannya melingkar seraya mengelus perut Jesi.
“Dede bayi gemoy pengen ditengokin katanya.”
“Dede bayi apa papinya yang pengen?” ledek Jesi.
“Tapi aku mandi dulu yah, Karam?”
“Nggak usah nanti aja mandinya biar nggak bolak-balik mandi, nanti kamu masuk angin. Sini kakak angetin dulu!” tanpa menunggu persetujuan Jesi, Rama langsung mengangkat tubuh mungil yang mulai bertambah berat itu ke ranjang dan menghujaninya dengan ciuman lembut penuh kasih sayang hingga Jesi hanya bisa pasrah dan menikmati permainan panas menjelang petang itu.
Setelah mencapai puncak kenikmatan, Rama sudah memejamkan matanya sementara Jesi masih terjaga dan memandangi wajah lelap suaminya. Jari jemari lentiknya menyusuri wajah Rama dengan lembut hingga akhirnya ia mengaduh karena telunjuknya digigit oleh Rama saat menyentuh bibir sensual itu.
“Sakit ih Karam!”
“Bobo! Jangan mancing-mancing, ntar kalo dia bangun lagi kamu mau tanggung jawab hm?” ucapnya dengan suara berat dan menarik Jesi ke dalam pelukannya.
“Kak Ramadhan…” panggil Jesi lirih. Baru kali ini ia menyebut nama suaminya dengan benar.
“Terima kasih selalu bikin aku bahagia.” Ucapnya sebelum terlelap dalam pelukan penuh cinta.
Tidak pernah terpikir oleh seorang Jesi untuk menikah di usia muda, cita-citanya menjadi wanita karir sukses yang membanggakan kedua orang tua. Namun jungkir balik kehidupannya selama ini membuat cita-citanya seketika berubah. Untuk membahagiakan orang tua tak melulu harus menjadi orang yang membanggakan, cukup menurut pun kadang sudah mampu membuat orang tua bahagia.
Jesi pernah merasa dunianya hancur saat semua menjauh, tapi Tuhan tak membiarkannya sendiri. Ia sempat merasa Tuhan tak adil karena membiarkannya jatuh begitu dalam, dikhianati sahabat sekaligus orang yang paling ia cintai saat itu. Namun kini ia sadar, Tuhan sangat-sangat begitu sayang padanya karena telah menjauhkannya dari orang-orang yang tak tulus dan menggantinya dengan sosok Ramadhan, suami yang sangat mencintainya.
Sering kali kita merasa terpuruk saat apa yang kita inginkan tak tercapai, ataupun apa yang jadi milik kita tiba-tiba menjauh bahkan menghilang. Satu hal yang sering kita lupakan bahkan sang pencipta lah sebaik-baiknya pengatur dan pasti akan mengganti dengan yang lebih baik.
...TAMAT...
Hai terimakasih sudah menemani hari-hari Jas Jus dan Karam.
Terimakasih untuk semua like, komen dan dukungan kalian. Jujur aku seneng banget kisah ini bisa diterima dengan baik. Mohon maaf kalo selama ini aku sering maksa minta like dan komentarnya hehe. Pokoknya lopelope buat kalian semua.
Oke-oke sabar tenang…
Aku tau kalian pasti mau nodong nasib karak sama ale-ale kan?
Sabar yah, aku juga sayang kok sama mereka. Masih ada beberapa ekstra part edisi Arak sama ale-ale plus launchingnya dede bayi gemoy kesayangan kita semua.