
Setelah Rama dan Jesi pergi dari ruangannya, Raka hanya tertawa puas sambil menghabiskan makanannya.
“Dia calon istri gue, Ka!”
“Gue nggak mau sejarah sampe terulang kembali, cukup Naura yang dulu jadi ujian persahabatan kita.” Ucap Raka menirukan kata-kata Rama tadi di sela-sela makannya.
“Dasar calon bucin!”
“Katanya dulu suka sama si aqua gelas yang kayak bocah itu impossible, nyatanya sekarang belum jadi istrinya aja udah posesif setengah mampus. Ribet bener dah punya temen satu modelan Darmawan, padahal suka tinggal bilang aja so jaga image.”
“Lama-lama gue kerjain juga dah, biar makin uring-uringan tiap hari.” Lama Raka bermonolog sendiri hingga makanannya habis.
Raka kembali pada pekerjaannya menyelesaikan desain baru untuk menambahkan variasi pada tutup botol yang beberapa waktu lalu di komplen Rama, tapi pria itu berulang kali terlihat tergelak dan pada akhirnya meninggalkan kursinya sebelum pekerjaan selesai.
“Hadeuhhh... Kagak fokus euy. Gue malah inget si Karam yang marah-marah mulu. Gue kerjain sekali lagi aja lah. sekalian nengokin si aqua gelas, takut dia masih di semprot Karam. Kasihan euy.” Ucapnya sambil keluar dari ruangan.
Raka menyempatkan mampir ke kantin terlebih dulu untuk membeli beberapa makanan. Jam makan siang seperti ini kantin selalu ramai oleh pegawai. Beberapa kali Raka membalas sapaan karyawan perempuan, ia bahkan tak segan bercanda dengan mereka. Di kalangan karyawan Raka memang dikenal lebih supel dan riang, dia selalu bisa menghidupkan suasana di sekitarnya, membuat orang-orang nyaman berada di dekatnya.
Dengan membawa aneka makanan yang pada akhirnya ia dapatkan secara cuma-cuma, Raka pergi ke lantai sepuluh. Meletakan satu kresek besar yang berisi makanan ringan dan minuman itu di meja Naura.
“Buat gue?” tanya Naura yang langsung mengambil biskuit cokelat dari dalam sana.
“Buat bareng-bareng aja sama si aqua gelas.” Balas Raka yang ikut mengambil kopi botolan dari dalam sana.
“Btw ini asisten lo kemana?” tanya Raka yang tak melihat Jesi.
“Tuh...” dengan lirikannya Naura menunjuk Jesi yang baru saja keluar dari ruangan Rama.
Dengan senyum ceria Jesi menghampiri mejanya, “Eh ada Karak...” sapanya sebelum duduk.
“Eh ada neng Jesi kesayangan Aa.” Balas Raka.
Jesi hanya tersenyum kemudian ikut melihat isi kantong kresek di depan Naura, “Ih ada jajan... aku mau lah. mau ini yah, Mba?” tanpa menunggu persetujuan Naura, Jesi sudah mengambil keripik kentang dari dalam sana.
“Ambil aja itu gue yang beli. Buat ngehibur lo kali aja kena mental abis di semprot Karam.” Ujar Raka.
“Aku mah udah biasa di semprot Karam, Karak. Jadi nggak mungkin kena mental.” Balas Jesi sambil membuka bungkus keripik kentang.
“Bukannya kena mental kayaknya malah hati aku yang kena nih.” Imbuhnya yang seketika membuat Naura dan Rama tersedak berjamaah.
“Minum dulu, mba.” Jesi memberikan gelas di hadapannya pada Naura.
Dengan buru-buru wanita hamil itu menandaskan isi gelasnya, “jangan ngada-ngada kamu, Jes.”
“Ya gimana yah, mba. Sebenernya Karam tuh ganteng. Ya, sejak awal aku tau dia tuh emang cakep sih...”
“Cakep mana sama Aa Raka?” potong Raka.
“Cakep Karam lah.” balas Jesi.
“Tapi sayang cakep-cakep galak.” Imbuhnya kemudian.
“Maka dari itu Neng Jesi sukanya sama Aa Raka aja. Meskipun nggak seganteng Karam tapi Aa mah nggak galak.”
Naura langsung mencubit lengan Raka hingga dia mengaduh.
“Sakit, Ra!”
“Sama bocah jangan modus!” ucap Naura.
“Jadi gimana mau nggak sama Aa?”
“Nggak mau!” tolak Jesi langsung.
“Syukurin!” Naura ikut tertawa puas.
“Mau nunggu Taehyung BTS ngelamar aku aja.” Ucap Jesi sambil tersenyum, otak halunya langsung merespon untuk membayangkan idol yang menjadi biasnya itu sedang duduk di depannya dengan membawa cincin sambil berkata will you marry me? Tapi sialnya saat ia hendak menerima cincin itu bayangan Karam dengan tatapan hangatnya mengacaukan semuanya. Seketika Jesi jadi kesal dan meniup poninya dengan kasar.
Raka dan Naura hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh Jesi.
“Keseringan kena marah Darmawan tuh bocah sampe oleng.” Cibir Raka.
“Tapi tadi Karam nggak marah-marah kayak biasanya loh.” Saut Jesi yang ternyata mendengar ucapan Raka.
“Jujur tadi aku udah takut banget loh pas lihat Karam di ruangan Karak. Tatapannya beuh... kayak harimau yang pengen nelen mangsanya hidup-hidup. Sampe pas Mba Naura nyuruh aku masuk ruangan Karam tuh aku takut banget.” Jelas Jesi panjang lebar.
“Tapi pas di dalem marahnya cuma sebentar, aku malah jadi ngerasa aneh.” Jesi beranjak dari duduknya sebelum melanjutkan ucapannya. Dia berpindah jadi berdiri di depan Raka yang duduk di samping Naura.
“Jesika!” Teriakan dari belakangnya langsung membuat Jesi secara reflek berbalik dan menjauhkan tangannya dari kepala Raka.
“Ya ampun Karam kumat lagi.” Batin Jesi, melihat Rama yang kembali menatapnya dengan tajam.
“Jangan suka pegang kepala orang tua. Nggak sopan.” Ucap Rama sambil mengelus pucuk kepala Jesi dengan pelan.
“Anterin ke bagian personalia.” Imbuhnya seraya memberikan beberapa map.
“Siap laksanakan, Karam.” Jesi mengambil alih berkas di tangan Rama dan berlalu pergi setelah melambaikan tangan pada Naura dan Raka.
“Jangan diliatin terus kagak bakal ilang itu bocah.” Sindir Raka yang melihat Rama masih terus memandangi Jesi yang sudah kian menjauh.
“Masa Karam natap aku kayak gini, Karak.” Ucap Raka sambil tergelak, dia mengusap pucuk kepala Naura dengan tatapan menirukan Jesi tadi.
“Apaan sih lo ah.. gaje.” Ucap Naura, dia menyingkirkan tangan Raka dengan kasar.
"Kalian tuh nggak usah pada modus sama asisten gue. Masih polos tuh anak, kasihan kalo jadi korban ghosting kalian berdua."
"Kadang gue kagak ngerti sama kalian berdua. Lo udah kayak fans berat Jesi hampir tiap hari kesini, ngebelain dia terus." Naura menatap tajam Raka.
Kini tatapan tajamnya beralih pada Rama, "dan lo, Wan. Gue lebih-lebih nggak ngerti sama sikap lo. Sepuluh tahun lo bener-bener nggak ngelirik wanita manapun dengan alasan calon istri yang sama sekali belum pernah lo temui. Nah sekarang cuma gara-gara bocah kayak Jesi lo langsung oleng? Inget calon istri lo, Wan."
Memberikan ceramah panjang lebar pada kedua sahabatnya membuat tenggorokan Naura terasa kering, di teguknya susu ibu hamil rasa vanila yang selalu ready di mejanya.
"Justru karena dia calon istri gue, Ra!" Ucap Rama.
"What?" Semburan cairan putih itu langsung membasahi wajah Raka yang duduk di samping Naura.
"Ngomong apa lo barusan?" Tanyanya masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Raka mendengus kesal karena wajahnya jadi basah, sambil berdecak ditariknya beberapa lembar tisu untuk mengelap wajah, "si aqua gelas kesayangan gue, calon bininya Karam!" Bukan Rama yang menjawab justru Raka.
"Serius? Kok bisa?" Wajah terkejut Naura masih terlihat sangat jelas.
"Kok bisa...kok bisa... Lah dia orangnya mau gimana lagi." Jawab Raka.
"Lo udah tau, Ka?"
"Tau gue mah dari dulu juga." Balas Raka enteng.
"Kok bisa?" Tanya Naura lagi.
"Kok bisa... Kok bisa mulu lo, Ra! Pas pulang ngantor nggak sengaja gue ketemu pak Burhan di depan, beliau lagi ngeliatin dari jauh putrinya yang makan di warung tenda. Beliau bilang, lega ternyata calon mantunya bisa ngemong anak manjanya yang rewel"
"Terus...terus..." Naura mulai tak sabar.
"Terus.. terus... Kayak kang parkir aja!"
"Karena penasaran yah gue tungguin lah sampe dia keluar. Eh ternyata si Karam sama aqua gelas kesayangan gue." Lanjutnya.
"Lo tau nggak, Ra? Ati gue auto meringis sakit euy. Kenapa setiap cewek yang gue suka tuh selalu aja ada hubungannya sama si Karam. Dulu lo, sekarang Jesi!" Tutur Raka panjang lebar yang justru berujung curhat.
"Sabar-sabar anda belum beruntung. Coba lagi!" Ucap Naura sambil menepuk bahu Raka.
"Eh sebenernya lo beruntung banget tau, Ka. Punya istri kayak Jesi tuh pasti merepotkan dan menguji kesabaran. Biar si Karam aja yang ngalamin, lo nggak usah." Imbuhnya.
"Apa lo bilang, Ra? Jas jus gue merepotkan?" Ucap Rama tak terima.
"Ya emang gitu kan? Buktinya tiap hari lo uring-uringan mulu." Jawab Naura.
"Jangan nyinggung Aqua Gelas di depan Karam. Sensi dia. Calon-calon bucin... Katanya impossible suka sama bocah kayak dia, nyatanya udah bucin duluan. Cuma nggak nyadar aja." Cibir Raka.
"Lo tuh tinggal bilang aja suka sama sama itu bocah. Jangan malah marah-marah nggak jelas mulu. Atau mau gue tikung jas jus kesayangan lo itu?" Lanjutnya.
.
.
.
Tikung aja Karak, aku mendukungmu 🤭🤭🤭
tampol jempol, lope sama komennya jangan lupa yang banyak wkwkwkkwk.