Possessive Leader

Possessive Leader
Korban Drama



"Udah jam sepuluh malem, jam besuk udah habis. Kalian tidur di hotel samping rumah sakit saja, penunggu pasien maksimal dua. Alya sama mama mertua kamu juga nginep di sana, biar ayah sama ibu yang jaga enin di sini." Sari mengusap-usap kepala putrinya yang sudah terlihat ngantuk. Dia berulang kali menguap di pelukan sang ibu sementara Rama dengan sabar menunggu di kacangin begitu saja.


"Jesi tidur di sini aja nggak apa-apa, bu. Di sofa juga enak, kayak gini." Jesi membaringkan kepalanya di pangkuan Sari.


"Elus-elus terus bu. Enak." Pintanya, meletakan tangan sang ibu di kepalanya supaya membelainya.


"Tidur di hotel aja sana, lebih enak dan nyaman. Nanti kaki Neng Jesi sakit kalo tidur kakinya di tekuk kayak gitu."


"Nggak apa-apa, bu. Jesi mah tidur di mana aja oke. Aku kan udah pengalaman jadi anak kost." Ucap Jesi.


"Karam nggak apa-apa kan kalo kita tidur di sini?" Lanjutnya meminta persetujuan Rama.


"Bawa istri kamu keluar. Istirahat di hotel saja." Potong Burhan sebelum Rama menjawab.


Rama beranjak dari duduknya dan menghampiri Jesi yang masih berbaring manja di pangkuan sang ibu.


"Ayo!" Tangan kanannya terulur untuk membantu Jesi beranjak.


"Ih Karam mah... Padahal lagi enak-enak di elus ibu!" Protes Jesi namun tetap beranjak menurut.


Rama menunduk, menyamakan tingginya dengan Jesi, "nanti di elus-elus sama kakak, lebih enak!" Bisik Rama.


"Enak tapi ada sakit-sakitnya." Cibir Jesi sambil berlalu menghampiri ranjang enin nya.


Di tatapnya wanita tua dengan wajah penuh keriput terlelap damai, rambutnya sudah memutih, digenggamnya lengan sang nenek.


"Nin, Jesi bobo nya di hotel. Padahal pengen bobo di sini tapi di usir ayah." Adunya.


"Enin cepet sembuh yah. Besok Jesi kesini lagi." Pamitnya seraya mencium tangan nenek yang terlelap.


"Karam, ayo!" Ajaknya pada Rama. Dia tak berpamitan pada ayah dan ibu karena kesal tak diperbolehkan tidur di ruang rawat.


"Pamit dulu sama ayah dan ibu." Rama menghela nafas, bahkan di depan mertuanya dia sudah ketahuan belum mampu mendidik istrinya.


"Maaf yah bu, Jesi nya malah main slonang slonong gitu aja tidak pamit."


"Tidak apa-apa, neng Jesi emang seperti gitu. Suka ngambek kalo keinginannya tidak dituruti. Sudah sana istirahat dulu sudah larut malam." Ujar Sari.


"Banyakin sabarnya yah." Burhan menepuk bahu Rama sebelum ia keluar.


"Lama banget sih!" Protes Jesi yang menunggu di luar.


"Aku kan udah ngantuk." Lanjutnya.


"Kamu tuh yah!" Rama menyentil kening Jesi geram.


"Sakit ih." Buru-buru Jesi mengusap keningnya penuh drama.


"Lain kali kalo mau pergi tuh pamit dulu. Nggak sopan sama orang tua."


"Habis ayah sama ibu ngeselin, aku kan cuma pengen bobo di sana aja nggak boleh."


"Jangan kayak bocah deh, kan udah dibilangin kalo yang nunggu itu maksimal dua orang. Bobo di hotel aja enak, bisa sayang-sayangan." Ucap Rama lirih. Dia mengambil tangan Jesi supaya berjalan dengan memegang lengannya.


"Pikiran karam tuh isinya enak-enak mulu ih!" Cibir Jesi.


"Sekarang aku tau kalo Karam tuh ternyata omes. Otak mesum!"


"Ya kan emang lebih nyaman dan enak tidur di hotel, ada ranjang nyaman. Dari pada di ruang rawat mau tidur dimana coba? Sofa? Atau mau lesehan di lantai?"


"Otak kamu tuh kotor, kalo denger kata enak pasti mikir yang nggak-nggak kan?"


"Hayo ngaku!"


"Dasar Jas Jus omes!" Rama tersenyum puas akhirnya bisa juga dia membalikan kata-kata Jesi.


"Nggak usah mengalihkan pembicaraan yah Jas Jus yang omes!" Ucap Rama.


"Tau ah kesel!" Jesi melepas pegangannya dan berjalan mendahului Rama meski dengan kaki yang sedikit di seret.


"Nggak usah cemberut gitu. Dikit-dikit ngambek terus cemberut ntar cepet tua kamu, cepet keriput kalo keseringan cemberut." Ledek Rama. Jesi tak menanggapi, dia hanya diam dan terus berjalan.


Rama mendahului Jesi dan berdiri di depannya, "ya udah kakak minta maaf. Kakak yang omes, otak mesum. kalo Jas Jus kesayangan kakak ini otaknya sebening embun pagi." dari pada kehilangan jatah lebih baik mengalah saja demi kenikmatan yang mulai menjadi candu.


"Sini pegangan lagi jalannya." Rama kembali mengaitkan tangan Jesi pada lengannya.


Benar saja cukup di rayu-rayu dan dipuji sedikit mood Jesi sudah kembali ceria. Dia bahkan tak menolak saat Rama memintanya untuk berpegangan.


"Yah ujan, Karam." Ucap Jesi setelah mereka tiba di teras rumah sakit. Tangannya menengadah ke atas, membiarkan buliran-buliran air langit membasahinya.


"Tunggu bentar biar kakak pinjam payung dulu, siapa tau ada."


"Nggak usah, Karam. Kita ujan-ujanan aja, lagian ujannya nggak deras-deras amat. Tapi sayang..."


"Tapi sayang apa?" Tanya Rama.


"Ya sayangnya Karam lagi nggak pake jas, jadi nggak bisa gantiin nutupin kepala aku pake jas." Jesi menatap suaminya yang mengenakan kemeja maroon dengan lengan digulung hingga ke siku.


"Coba kalo ujannya tuh pas pulang kantor, jadi Karam kan lagi pake jas."


"Kayak yang di drama itu loh, kalo ujan si cowok bakal buka jasnya terus dipakein buat nutup kepala ceweknya. Terus jalan deh berdua di bawah ujan." Tutur Jesi sambil tersenyum membayangkan dirinya yang ada di posisi itu.


"uh so sweet..." Ucapnya kemudian.


Rama menggelengkan kepala mendengar ocehan Jesi.


"So sweet dari mana? Yang ada abis itu pada masuk angin. Sakit." Ketus Rama yang kemudian meninggalkan Jesi, tak lama ia kembali dengan membawa payung.


"Ini baru so sweet." Ucapnya setelah membuka payung dan merangkul Jesi kemudian berjalan dibawah hujan dengan payung warna-warni hasil minjam dari satpam rumah sakit.


"Ih gini dah kalo punya suami ketuaan. Nggak update!"


"Udah nggak usah ngoceh-ngoceh terus. Sini deketan ntar Jas Jus kesayangan kakak sakit lagi kena air ujan." Rama kian mendekap Jesi lebih rapat.


"Tapi kan nggak so sweet!" Protesnya lagi.


"Ya udah besok-besok kalo ujan lagi kita cobain yang kata kamu so sweet itu." Akhirnya dari pada adu argumen tiada henti Rama memilih mengalah.


"Eh tapi kayak gini so sweet juga, Karam. Aku lupa, kalo yang kayak gini juga ada di drama. Tapi..."


"Tapi apa lagi, Jas Jus?" Rama sampai berhenti dan menatap istri beonya yang sejak tadi protes terus.


"Tapi ujannya kurang deras."


"Dasar kamu tuh!" Rama mengacak gemas rambut Jesi.


"Ini tuh dunia nyata nggak usah di samain dengan drama."


.


.


.


Jadi kemaren aku pulang sekolah ujan-ujanan, nggak ada tuh yang ngebuka jas terus nutupin kepala aku biar nggak kehujanan hiks hiks...


jangan lupa tampol jempol, like sama favoritkan!!!