
"Terimakasih, dok." Ucap Rama kemudian dia dan Jesi keluar dari ruang periksa.
"Tuh kan kata aku juga apa, Karam? Dede bayi gemoy kita tuh baik-baik aja. Papi nya nggak percayaan banget sih." Ucap Jesi di depan pintu.
"Iya maaf sayang. Kakak kan cuma khawatir takut dia kenapa-kenapa, soalnya kakak baca artikel tentang kehamilan. Ibu hamil itu nggak boleh stres, banyak pikiran, kecapean, pokoknya harus enjoy lah." Terang Rama.
"Liat kamu di apartemen cowok si a lan itu bikin kakak khawatir, takut anak kita kenapa-kenapa. Pokoknya Jas Jus kesayangan kakak ini harus selalu happy, supaya dede bayi nya juga happy. Kalo butuh apa-apa bilang sama kakak." Lanjutnya.
"Siap, Karam."
"Pinter." Puji Rama.
"Sebelum pulang kita bilang makasih dulu yah ke temen kamu. Berkat dia kakak bisa nemuin kamu tepat waktu."
"Siapa? Raya? Dia bukan temen aku, dia mah jahat Karam. Pengkhianat, tukang tikung. Aku benci sama dia." Tolak Jesi.
"Karam lupa dia pernah ngatain aku ayam kampus? Pas di toko ponsel dulu, yang sama kak Zidan itu loh. Yang Karam meluk aku di parkiran. Pokoknya aku benci lah sama dia. Sama kak Zidan juga, gila punya mantan pacar sama mantan sahabat nggak ada yang waras!" Gerutu Jesi.
"Hushh nggak boleh kayak gitu. Belajar jangan jadi pendendam. Terlepas dari apa yang dia lakuin ke kita sebelumnya tapi dia udah bantu kakak nolong kamu. Jadi kita harus bilang makasih. Ayo!"
"Nggak mau, Karam." Tolak Jesi.
"Hei Mami Jas Jus nggak boleh kayak gitu yah. Yuk kita bilang makasih, sekalian jenguk dia. Kasihan." Bujuk Rama.
"Ya udah ya udah kalo Karam maksa. Aku nemenin doang, Karam aja yang bilang makasih."
"Iya ayo."
Baru beberapa langkah keduanya berjalan sudah disuguhi oleh pemandangan Alya yang mengabaikan Raka.
"Lo apain adik gue? Kenapa jadi murung gitu?" Tanya Rama begitu tiba di depan keduanya.
"Nggak kenapa-napa, Wan. Salah paham doang." Balas Raka.
"Awas kalo Karak macem-macem! Gue pecat jadi calon adik ipar nih." Sambung Jesi.
"Al, kamu pulang duluan aja dianter Raka yah? Kakak mau jenguk adiknya Dina dulu sekalian bilang makasih."
"Aku pulang sama kakak aja." Ucap Alya.
"Dianter Raka aja. Mama tadi udah nelpon nyuruh kamu cepet-cepet pulang, bantu siapin makanan buat yasinan rutin di rumah. Kali ini mama ngundang ibu-ibu kelompok yasinan komplek sebelah juga sekalian syukuran kehamilan Jesi. Jadi tamunya lebih banyak." Ujar Rama.
"Satu lagi, Al. Jangan bilang ke mama, ibu dan ayah soal kejadian hari ini. Kakak nggak mau mereka khawatir, toh semuanya sudah selesai." Lanjutnya.
"Iya, Kak." Jawab Alya.
"Jes, aku duluan. Sampein salam buat Raya yah kalo dia udah sadar, bilangin semoga lekas sembuh."
"Males ah."
Tiba di kamar tempat Raya di rawat Rama mengetuk pintu sebelum masuk. Dia disusul Jesi dibelakangnya langsung masuk begitu mendengar jawaban dari dalam sana.
"Kamu, Wan." Ucap Dina begitu Rama masuk.
"Hai Jes..." Lanjutnya pada Jesi.
"Gimana keadaan adik kamu?" Tanya Rama, matanya menyapu ruangan VIP yang cukup nyaman. Gadis dengan perban di lengan kiri itu terbaring di ranjang dengan tatapan kosong mengarah padanya.
"Sepertinya dia masih shock. Dari tadi aku ajak ngomong nggak respon sama sekali." Jawab Dina seraya melihat adiknya.
"Boleh saya berbicara sebentar padanya? Hanya untuk berterimakasih."
"Ya, tentu saja. Silahkan." Dina dan keduanya berjalan menghampiri ranjang Raya.
"Terimakasih atas bantuan kamu tadi. Kalo bukan karena informasi yang kamu berikan, saya tidak tau bagaimana nasib istri dan calon anak saya." Ucap Rama.
Raya mendongak dan menatap kilas wajah Rama dan Jesi begitu mendengar ucapan Rama.
"Anak istri." Batinnya.
"Karam, ayo pulang." Rengek Jesi, ia tak suka berlama-lama di sana. Tak dipungkiri melihat Raya terbaring tak berdaya seperti itu membuatnya merasa iba. Tapi ia tak ingin memperlihatkan rasa iba nya, Raya terlalu jahat baginya.
"Iya, ayo sayang." Balas Rama.
"Kami permisi. Cepet sembuh yah." Pamit Rama.
"Soal yang di kantor tadi, besok kita bicarakan lagi Din." Lanjutnya.
"Iya, Wan. Aku bener-bener berharap kamu bisa bantu aku, Wan. Aku bener-bener nyesel atas semua yang udah aku lakuin ke kamu, sama ke kamu juga Jes. Mba minta maaf yah?" Ucapnya tulus.
"Iya, ayo sayang."
Sepanjang perjalanan Jesi tak banyak bicara hari ini terasa sangat melelahkan plus menakutkan. Hari terburuk dalam sepanjang hidupnya. Dia hanya bersandar di pelukan Rama sambil menatap pepohonan dan bangunan yang seolah berjalan di luar sana.
"Pengen makan sesuatu nggak?" Tanya Rama.
"Biasanya suka minta yang aneh-aneh." Lanjutnya.
"Nggak pengen apa-apa. Cuma pengen kayak gini aja, nyaman." Jawabnya lirih.
"Cape yah?" Jesi mengangguk.
"Bobo aja. Nanti kakak bangunin kalo udah sampe."
"Nggak mau, Karam. Aku nggak mau nutup mata, soalnya tiap aku merem bayangan kejadian tadi selalu muncul. Aku takut..." Jesi kian mengeratkan pelukannya.
Mereka tiba di rumah pukul delapan malam, bertepatan dengan ibu-ibu yasinan yang mulai keluar dari pintu utama. Beberapa dari mereka menyapa Jesi dan mengucapkan selamat atas kehamilannya, tak ketinggalan do'a terbaik pun ia terima. Jesi berulang kali berucap amiin dan menanggapi setiap obrolan dari ibu-ibu komplek dengan ramah.
"Ayo masuk. Orang tua kita udah nungguin tuh." Rama menunjuk teras rumahnya, keluarga mereka lengkap berdiri di sana dari mulai ayah, ibu, mama hingga Alya.
"Mama udah masak spesial buat kamu. Ayo kita makan malam bersama." Mama Yeni langsung merangkulnya dan mengajaknya masuk.
"Ibu juga beliin boba teh Ai kesukaan kamu loh Neng." Sambung Sari.
"Makasih bu, Ma. Jesi seneng banget." Ucap Jesi.
Malam itu Jesi tak bisa menghabiskan makanannya. Seolah sudah menjadi langganan dia kembali merasa mual setiap malam.
"Maaf..." Ucapnya tak enak hati saat kembali ke meja makan setelah muntah di wastafel dapur.
"Nggak apa-apa, sayang. Kami maklum kok. Yuk lanjut lagi makannya." Ucap mama Yeni penuh pengertian.
"Iya, Neng. Ayo duduk lagi atau mau ibu suapin?" Timpal Sari.
"Nggak usah bu, Ma." Jawab Jesi seraya melihat ibu dan mertuanya bergantian.
"Aku mau ke kamar aja terus tidur." Pamitnya.
"Duduk sebentar, kakak bikinin susu hamil kamu dulu yah." Rama membantunya duduk kembali di kursi. Setelah Rama kembali dengan segelas susu coklat ia langsung berdiri dan berjalan menuju kamar.
"Ramadhan tunggu!" Panggilan mertuanya membuat Rama terhenti. Pria paruh baya itu berjalan menghampirinya.
"Setelah Jesi tidur temui ayah di ruang kerjamu." Pintanya.
"Baik yah." Jawab Rama sopan kemudian menyusul Jesi ke kamar.
Rutinitas muntah-muntah sebelum tidur sudah tak aneh lagi untuk Rama. Dokter bilang nanti juga berhenti sendiri saat memasuki trimester kedua. Setiap malam dia selalu memijit tekuk leher Jesi dengan penuh sayang tak lupa memeluknya setiap kali setelah muntah. Karena meskipun sudah sering muntah-muntah istrinya itu tetap menangis setelahnya.
"Minum dulu yah susunya, sayang." Rama mengasongkan susu yang sudah ia buat pada Jesi.
"Udah yah anak papi jangan rewel, kasihan mami udah kecapean hari ini." Ucapnya seraya mengelus perut Jesi.
"Istirahat yah." Rama mengambil gelas susu yang masih tersisa setengahnya dan meletakkannya di meja rias.
Setelah memastikan Jesi terlelap Rama dengan perlahan melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan kamar.
Ceklek!!!
Rama membuka pintu ruang kerjanya. Cukup lama ruangan itu tak ia gunakan, tepatnya setelah menikahi Jesi karena dia jadi punya pekerjaan tersendiri setiap malam. Pekerjaan paling menyenangkan yang akhirnya menghasilkan mahluk hidup di rahim Jesi.
"Maaf, ayah jadi harus nunggu lama." Ucap Rama setelah duduk di samping mertuanya.
"Jesi sudah tidur?"
"Sudah, Yah." Jawab Rama.
"Kamu yakin Jesi sudah tidur nyenyak? Anak itu sangat manja, ayah takut dia akan mengalami trauma. Sepanjang hidupnya dia tak pernah mengalami hal buruk." Ada helaan nafas berat saat Burhan mengatakannya.
"Maksud ayah?"
"Jangan ditutupi. Tadi siang ayah ke kantormu dan kamu tak ada. Sore tadi Raka gelagapan saat ayah tanya soal kamu dan Jesi. Dia hanya bilang hal buruk terjadi pada Jesi hari ini tanpa menjelaskan secara rinci. Jesi itu putri ayah satu-satunya, Ramadhan."
"Maaf ayah. Salahku tak bisa menjaga Jesi dengan baik." Ucap Rama lirih kemudian menceritakan kejadian hari ini yang sukses membuat mertuanya kesal.
"Ayah tak perlu khawatir. Jesi tidak apa-apa, dia dan bayinya baik-baik saja. Aku juga sudah meminta pengacara untuk mengurus masalah ini. Mungkin besok anak itu sudah bisa di bawa ke kantor polisi." Terang Rama.
"Biar ayah yang urus masalah ini, kamu cukup jaga Jesi dan calon cucu ayah. Orang seperti dia tak cukup hanya dimasukan ke penjara, keluarganya pun harus mendapatkan hukuman yang setimpal karena membiarkan anaknya mengusik keluarga kita." Ucap Burhan.