
Pletak!!
Satu sentilan dari jari telunjuk Rama mendarat di kening Jesi.
"Lo itu mikir apa jas jus? Gue cuma mau bantu ngelepas hiasan kepala yang kata lo tadi berat."
"Ya kan aku takutnya Karam mau langsung nagih gitu."
"Nagih apaan? Emang kamu punya utang?" Pancing Rama, tak habis pikir istrinya yang polos itu bisa travelotak duluan. Bisa-bisanya otak Jesi yang Karam kira sebening embun pagi tenyata kotor juga, perlu disapu.
"Anu itu..."
"Anu itu apaan? Ambigu banget kamu tuh."
"Duduk sini, biar aku bantu lepasin." Rama menunjuk kasur di sebelahnya. Sedari tadi Jesi hanya mematung di depannya.
"Pelan-pelan atuh, Karam. Sakit tau kalo dicabutnya paksa kayak gitu." Protes Jesi saat Rama mengambil hiasan bunga di kepalanya dengan asal.
"Yang penting kepala kamu nggak berat lagi. Bentar lagi selesai ini. Kamunya diem."
"Kebayanya aku bisa lepas sendiri. Nggak usah dibantuin." Ucap Jesi saat Rama selesai mengambil semua hiasan kepalanya.
"Siapa juga yang mau ngebantuin buka baju. Kamu bukan bayi, bisa ganti baju sendiri." Jawab Rama acuh kemudian merebahkan diri di ranjang Jesi.
Melihat Rama yang malah tiduran membuat langkah Jesi yang hendak masuk ke kamar mandi seketika berhenti, "Karam kok malah tiduran di sini sih? Keluar sana!"
"Udah nggak usah bawel, ganti baju sana. Nggak pake lama, abis ini langsung ke rumah aku. Bawa sekalian beberapa baju kamu."
Karena sudah merasa tak nyaman dengan pakaiannya, Jesi segera mengambil baju ganti dari lemari dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Keluar dari kamar mandi Jesi sudah mengenakan baju santai dengan wajah yang fresh setelah mencuci muka serta rambut rambut panjangnya yang masih sedikit basah. Jesi mendapati Rama yang terlelap dengan satu lengan menutupi matanya, sementara lengan lainnya dijadikan bantalan kepala.
"Karam..." Panggil Jesi lirih, tak ada jawaban hingga akhirnya ia menghampiri Rama dan menggerakkan tangan suaminya.
"Karam bangun, jangan tidur di sini! Di kamar bawah aja sana."
Rama berdecak kesal mendengar ucapan Jesi. Tadi so so an ngerti belah duren segala, sekarang malah mengusir dirinya keluar.
"Siapa juga yang mau tidur di sini. Mataku rasanya sakit lihat gambar-gambar unfaedah yang menuhin dinding." Rama mencibir poster besar bergambar tujuh orang pria yang ia duga BTS. Sepertinya istrinya itu sengaja mencetak poster tersebut secara eksklusif, bagaimana bisa poster itu memenuhi satu bagian sisi dinding kamar Jesi.
"Buruan beresin baju yang mau dibawa. Selama ayah dan ibu pulang kampung kamu tidur di rumahku saja."
"Nggak mau. Aku di sini aja. Karam kalo mau pulang tinggal pulang aja." Tolak Jesi.
"Jas jus please..." Belum selesai Rama berucap pintu kamar Jesi sudah diketuk dari luar.
"Kakak sama Jesi ditungguin di bawah. Tante sama Om Burhan udah mau berangkat." Ucap Alya saat Rama membuka pintu.
Rama pergi lebih dulu diikuti Jesi dan Alya di belakangnya. Tiba di lantai satu benar saja kedua orang tua Jesi sudah siap berangkat.
"Titip Jesi yah." Ucap Sari pada Rama.
"Neng Jesi harus nurut yah sama suami, mulai sekarang kamu bukan tanggungjawab ayah sama ibu lagi. Udah jadi istri orang, harus lebih dewasa yah." Sari memeluk putrinya.
"Jangan nangis. Kamu tetap putri kesayangan kami. Ayah sama ibu cuma nengokin enin. Nanti kalo kalian libur kerja bisa nyusul kesana." Ucap Burhan.
Malam itu pada akhirnya Jesi mengalah dan ikut menginap di rumah suaminya. Sepanjang jalan Jesi terus menengok ke belakang, mengisi waktunya dengan mengobrol bersama mama dan Alya yang duduk di kursi belakang. Rama yang duduk di sampingnya diabaikan begitu saja.
"Beneran yah, Ma. Besok aku dibikinin nasi goreng yang waktu itu di bawa Alya ke kosan."
"Iya besok mama buatkan." Jawab Yeni.
"Sama susu vanila juga yah, Ma. Aku suka banget susu vanila." Pinta Jesi lagi tanpa sungkan, dia memang mudah sekali berbaur dengan lingkungan baru sekalipun.
"Belum dua puluh empat jam jadi mantu aja udah banyak mintanya kamu tuh. Orang lain mah nanyain mertuanya suka apa terus dibikinin. Lah kamu malah kebalik, minta mertua bikinin makanan kesukaan kamu." Cibir Rama.
"Sirik aja. Mama aja nggak protes kok, kenapa malah Karam yang protes? Ya kan Ma, nggak apa-apa?"
"Iya, tidak apa-apa. Asal kasih mama cucu yang lucu-lucu."
"Mama malah seneng kamu suka sama masakan Mama. Pokoknya jadi mantu Mama jangan segan-segan yah, jas jus. Anggap mama sama seperti ibu kandung kamu."
Tiba di rumah Rama, mereka semua keluar dari dalam mobil. Mama dan Alya sudah lebih dulu masuk ke dalam, sementara Jesi malah berjalan ke luar gerbang rumah Rama. Di tatapnya rumah mewah dengan nuansa putih yang tepat berada di seberang rumah Rama.
"Ngapain kamu malah keluar, mau kabur?" Tanya Rama.
"Siapa juga yang mau kabur, aku lagi liat-liat doang. Eh ternyata tetanggaan sama sama Kak Ardi. Besok aku mau nagih utang ah." Ucap Jesi.
"Itu rumah keluarga Rahardian kan? Yang punya bank swasta sama anaknya punya perusahaan game online?"
"Nanya mulu kayak wartawan. Masuk gih udah malem!"
"Ih mobil Kak Ardi itu. Aku samperin ah." Jesi begitu senang saat melihat mobil Ardi yang berhenti di depan gerbang, menunggu satpam membukakan pintu. Dia segera berlari kecil menghampiri mobil Ardi.
"Kak Ardi." Jesi mengetuk kaca jendela mobil Ardi hingga kaca berwarna hitam gelap itu bergeser ke bawah.
"Ih beneran Kak Ardi." Ucapnya girang.
Ardi keluar dari mobilnya dengan Miya.
"Jesi? Ngapain kamu di sini?" Tanya Ardi bingung.
"Eh ada Kak Miya juga. Helo kak Miya, selingkuhannya kak Ardi sekarang jadi tetangga loh." Ucapnya pada Miya.
"Jangan ngomong macem-macem deh, Jes. Ntar istri aku ngambek lagi." Ujar Ardi.
"Kalian saling kenal?" Tanya Rama yang baru saja ikut bergabung.
"Kenal, Bang. Dia nih biang onar, abang jangan deket-deket sama dia deh. Ngeselin anaknya." Jawab Ardi. Dia masih ingat betul ulah Jesi yang membuat dirinya bertengkar hebat dengan sang istri. Dan menyebalkannya Jesi selalu bertingkah polos tanpa dosa. Ya meskipun Jesi sudah meminta maaf dan menjelaskan semuanya, tetap saja Ardi masih suka naik darah kalo melihat wajah putri dari patner bisnisnya itu.
"Jangan deket-deket gimana? Orang aku istrinya." Jesi merapat pada Rama dan mengandeng lengan suaminya dengan manja.
"What? Kok bisa?" Akhirnya Miya ikut buka suara.
"Ya bisa lah kan..." Ucap Jesi belum selesai namun mulutnya sudah dibungkam oleh Rama.
"Ceritanya lain kali aja. Kalian bisa istirahat sudah malam. Ini beo kalo nggak distop bisa ngoceh terus sampe pagi." Ucap Rama, dia menarik Jesi menjauh dari gerbang rumah Ardi.
Karena kesal Jesi meninggalkan Rama, dia kan masih ingin ngobrol-ngobrol bersama Miya dan Ardi. Masuk ke dalam rumah yang belum pernah ia datangi sebelumnya membuat Jesi bingung harus kemana.
"Kamar kamu di atas, Jes. Sebelahan sama kamar aku. Ayo bareng." Ajak Alya yang entah keluar dari mana tiba-tiba sudah ada di belakangnya. Penampilan adik iparnya di dalam rumah tetap berhijab meskipun sudah mengenakan baju tidur.
"Rumahnya gede banget, Al."
"Sama kayak rumah kamu juga gede." Jawab Alya.
"Nah yang ini kamarnya. Masuk aja, Jes." Lanjutnya.
Kamar dengan nuansa abu dan rapi didapatinya begitu Jesi masuk. Sangat berbeda jauh dengan kamarnya yang serba pink. Karena sudah sangat lelah Jesi tak lagi memperdulikan kondisi kamar, dia langsung merebahkan diri di ranjang. Tak butuh waktu lama mataya sudah terlelap hingga ia tak menyadari Rama yang baru saja masuk.
"Udah merem aja ini bocah. Cepet banget dasar pe lor... Nempel bantal dikit langsung mo lor." Ucap Rama.
Setelah menyimpan koper berisi keperluan Jesi, dirinya bergegas menganti pakaian dan ikut bergabung di sisi Jesi.
Rama berbaring miring di samping Jesi, diperhatikannya wajah damai sang istri yang terlelap dengan bibir mungil yang sedikit terbuka. Tangan kirinya menyibak poni yang menutup kening Jesi.
Cukup lama Rama memperhatikan wajah Jesi, tangannya kini beralih mengelus lembut pipi Jesi, "Ternyata ini beo kalo lagi tidur makin cantik."
"Jas jus... kamu tuh kalo melek berisik banget, ngoceh nonstop, ngeselin. Tapi liat kamu tidur kayak gini, aku malah kangen sama ocehan kamu." Ucapnya kemudian mengecup kening Jesi, kemudian mematikan lampu kamar.
"Selamat tidur, istriku."
.
.
.
udah aku kasih double up nih...kencengin like sama komentarnya. lope² seluas lautan buat para jasjuslovers😘😘😘