
BIASAKAN TEKAN LIKE SEBELUM BACA😘😛😛
“Nanti siang meeting sama kepala cabang yang di Buah Batu terus sorenya ada janji temu sama outlet utama yang di mall, itu aja sih Karam untuk hari ini.” Jesi membacakan jadwal harian Rama.
“Dua hari kedepan free belum ada jadwal rapat-rapat, paling ini nih akhir pekan ada janji sama calon klien yang pengen buka cabang di Pangandaran. Katanya disana belum ada outlet lovewear.” Lanjutnya.
“Jadwal yang akhir pekan kamu atur ulang saja, hubungi klien kita. Akhir pekan waktunya untuk keluarga. Lagi pula sudah ada agenda lain untuk akhir pekan ini.” Balas Rama tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop.
“Emangnya akhir pekan kita mau ngapain, Karam?” tanya Jesi.
“Holiday yah?” tebaknya.
“Semenjak nikah aku belum diajak main ih sama Karam. Orang lain mah abis nikah bulan madu gitu, kita abis nikah malah kunjungan ke rumah sakit.” Sambung Jesi.
“Iya nanti akhir pekan kita holiday.”
“Yeee asik. “ Jesi bersorak girang.
“Kemana... kemana Karam? Aku pengen ke pantai, naik sepeda malem-malem keliling pantai. Ah senengnya.”
“Kemaren pas ngatur jadwal rapat sama klien yang mau buka cabang di Pangandaran, dia cerita kalo pantai di tempatnya tuh bagus banget. Baru selesai pembangunan besar-besaran, katanya jadi ada taman, air mancur sama tempat-tempat yang bagus buat foto-foto gitu. Aku kan penasaran jadi search di google gitu, eh beneran bagus banget. Jadi pengen kesana, Karam.”
“Ah jadi pengen buru-buru akhir pekan, biar bisa holiday.” Jesi sudah tersenyum sendiri membayangkan dirinya menikmati malam di sisi pantai ditemani lampu-lampu warna warni serta air mancur.
“Holiday rame-rame, family gathering perusahaan.” Ucap Rama irit.
Bayangan indah Jesi langsung buyar mendengar jawaban Rama. Padahalkan dia juga pengen jalan-jalan so sweet gitu.
“Yah aku kira family kita aja. Ternyata perusahaan.” Ucapnya lesu.
Rama yang tak merespon ucapannya membuat Jesi mendengus kesal, tapi suaminya benar-benar mengabaikannya. Rama bahkan tak menyadari jika raut wajah Jesi berubah murung, dia benar-benar fokus dengan pekerjaannya.
“Aku balik ke meja aku yah, Karam?”
“Hm.” Rama hanya menjawab sesimple itu.
“Jangan lupa hubungi klien yang mau buka cabang, atur ulang jadwalnya!”
“Iya.”
Jesi keluar dari ruangan Rama, sesuai perintah dia menghubungi klien dan mengatur ulang jadwal pertemuan mereka. Selesai dengan pekerjaannya, Jesi hanya bersantai sambil memainkan ponselnya. Baru dua hari tanpa mba Naura rasanya sepi sekali, tak ada yang bisa diajak ngobrol. Mau ngajak ngobrol Rama percuma, suaminya super serius kalo lagi kerja.
Cukup lama Jesi hanya memandangi deretan tujuh pria yang menurutnya super amazing hingga akhirnya dering telepon di mejanya menghentikan aktivitas yang menurutnya paling menyenangkan. Bagi Jesi menonton vidio BTS hasil editan Army Indonesia tuh super-super moodboster banget.
“Selamat siang, Jesika di sini. Ada yang bisa saya bantu?” ucapnya begitu meletakan gagang telepon di telinga.
“Oh Karam, aku kira siapa. Iya-iya aku kesana sekarang.” Jesi menutup teleponnya.
“Berarti yang ini bos, yang ini klien.” Jesi menunjuk bergantian dua telepon yang berjajar di mejanya.
“Aku kasih tanda lah biar nggak lupa.” Jesi menuliskan inisial K dan B di masing-masing gagang telepon. K untuk klien dan B untuk Bos.
“Kalo kayak gini kan aman, jadi aku nggak usah formal-formal kalo telepon Karam yang bunyi.” Ucapnya seraya menutup spidol permanen warna biru dan meletakkannya di tempat semula.
Tok...tok...
Sebelum masuk Jesi lebih dulu mengetuk pintu, padahal biasanya dia slonong-slonong aja langsung masuk, tapi sekarang setiap mau membuka pintu ia jadi inget Mba Naura yang selalu meneriakinya untuk mengetuk terlebih dahulu. Hingga sekarang saat Naura tak ada rasanya ada yang kurang, nggak ada yang teriak gitu.
“Bapak manggil saya?” tanyanya formal begitu berdiri di depan Rama.
Rama tersenyum simpul melihat sikap Jesi yang mendadak formal, “Kamu ngambek lagi?”
“Tidak.”
“Kenapa mendadak formal?” heran Rama.
“Abisnya tadi aku ngomong santai nggak ditanggepin, sibuk mulu sama layar laptop. Sekarang giliran aku formal malah di protes.”
“Tadi kan lagi sibuk, meriksa bahan rapat buat sore nanti. Sekarang udah selesai, udah santai. Tinggal nunggu klien yang dari Buah Batu aja. Jam berapa datangnya? Mereka sudah konfirmasi ulang belum?”
“Udah, Karam. Katanya udah otw tadi nelpon. Bentar lagi palingan nyampe.” Jawab Jesi seraya melihat jam tangannya, benda bulat yang melingkar ditangannya sudah menunjuk angka sebelas.
“Aku disuruh ngapain nih? Nyiapin kudapan buat tamu kah?” tanyanya.
“Nggak usah, nanti bisa nyuruh OB aja.” Jawab Rama, dia mengambil dua map dengan warna berbeda dari mejanya.
“Anterin ini ke divisi keuangan, kasih ke Dina atau manager langsung. Yang ini berkas usulan family gathering yang sudah kakak setujui, kalo yang ini laporan keuangan bulan berjalan. Kasih tau Dina supaya melakukan cek ulang, ada beberapa yang harus diperiksa dan sudah kakak tandai.”
“Siap laksanakan.” Jawab Jesi seraya mengambil berkas dari tangan Rama.
“Ingatnya Jas Jus, hanya menyerahkan berkas. Jangan pake berantem. Kamu kalo ketemu Dina suka ribut mulu.” Tegas Rama.
“Iya-iya.” Jawab Jesi malas, jujur sampai saat ini dia masih membenci Dina gara-gara insiden nol kurang satu digit. Insiden yang membuatnya dikenal sebagai anak magang tukang bikin masalah.
“Nah nurut gitu, pinter. Udah sana ke keuangan. Inget jangan ribut sama Dina!” tegasnya sekali lagi.
“Iya ih, diulang mulu!” Jawab Jesi.
“Tapi abis nganterin berkas aku langsung ke kantin boleh nggak? Lapar...” Jesi mengelus perutnya yang sedari tadi memang mulai keroncongan minta di isi.
“Boleh. Nanti beres meeting kakak nyusul ke kantin. Pesenin sekalian yah!”
Meski sebenarnya malas bertemu Dina tapi Jesi tetap menuju ruangan yang pernah menjadi tempat magangnya meski hanya beberapa hari.
“Selamat siang...” teriaknya dengan cerianya begitu masuk ke divisi keuangan, membuat semua anggota di ruangan itu menengok ke arahnya.
Jesi berjalan menghampiri kubikel para senior untuk menyapa mereka.
“Kok pada diem? Nggak pada kangen apa sama neng Jesi yang super imut dan menggemaskan ini?” lanjutnya penuh percaya diri seperti biasanya.
“Kangen dong sama Jesi yang rame.” Hanya mba Siska yang menanggapinya dengan ramah, sisanya mengacuhkannya bahkan menatapnya ilfeel. Sementara Dini yang sesama anak magang hanya tersenyum sambil melambaikan tangan padanya.
“Aku juga kangen sama mba-mba di sini. Jadi pengen balik ke sini lagi, di sana sepi aku nggak ada temennya. Mba Naura udah cuti melahirkan.
“Nggak usah balik ke sini, ribet kalo ada kamu di sini!” Sela Dina.
“Udah buruan, ada perlu apa kesini?” lanjutnya dengan ketus.
“Judes banget mba Dina tuh sama aku.” Gumam Jesi.
“Ngomong apa kamu barusan?”
“Nggak ngomong apa-apa mba.” Kilah Jesi.
“Ini disuruh Pak Darmawan ngasih berkas.” Jesi memberikan dua map yang ia bawa pada Dina.
“Kata Pak Darmawan untuk acara familiy gathering udah disetujui, terus untuk laporan keuangan suruh dicek lagi. Udah dikasih tanda katanya.”
“Ya.” Balas Dina.
“Makasih!” sindir Jesi.
“Mba nggak mau bilang makasih gitu? Kan udah aku anterin berkasnya.” Ucap Jesi.
“Ngapain pake makasih segala, itu kan udah tugas kamu.” Jawabnya tanpa menatap Jesi, dia sibuk membuka berkas dan melihat angka-angka yang harus ia revisi.
Andai Rama tak melarangnya ribut dengan Dina, dapat dipastikan Jesi sudah melepas sepatunya dan melemparkannya ke kepala Dina. Supaya otaknya encer, perkara mengucapkan terimakasih saja begitu sulit, padahal dia sudah bersikap sebaik mungkin. Jesi sampai tak habis pikir kenapa perempuan yang awalnya ia kagumi karena anggun dan cerdas itu begitu tak menyukainya, bahkan sampai menjebaknya dulu.
“Hm... ya udah deh aku permisi.” Ucap Jesi yang akhirnya meninggalkan ruangan.
Setelah Jesi berlalu Dina dan empat rekan lainnya mulai berghibah ria membahas pemandangan yang tadi pagi tak sengaja ia lihat.
“Aku masih nggak percaya masa si Jesi yang polos, masa kelakuannya kayak gitu sih mba Dina?” Dewi yang duduk paling dekat dengan Dina mulai open ghibah.
“Iya aku juga mba. Nggak nyangka yah? Padahal anaknya rame loh. Polos-polos lugu nyenengin.” Sambung Iis. Begitu pun dengan rekan lainnya yang mulai menggeser kursi mereka ke dekat Dina.
“Justru kebanyakan perempuan murahan zaman sekarang tuh pada so polos, so lugu. Padahal udah sering dipolosin sampe nggak nyisa sehelai benang pun.” Ucap Dina.
“Aku aja sampe kaget lihatnya. Aku jadi paham sekarang kenapa pak Darmawan sampe mau jadiin Jesi yang ceroboh dan biang onar itu asisten sekretarisnya. Ternyata itu bocah licik juga yah.” Sambungnya.
“Lebih baik kalian balik ke meja masing-masing. Urusin pekerjaan aja, nggak usah ngurusin urusan orang lain.” Ujar siska. Di ruangan itu memang hanya Dini dan Siska yang tak ikut ghibah rame-rame itu.
“Nggak usah ngatur-ngatur deh, Sis. Kamu kalo mau kerja ya kerja aja!” timpal Dina.
Siska hanya menghela nafas panjang kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. Begitu pun dengan Dini yang tetap berada di mejanya meskipun dia sedikit penasaran. Tapi pikirnya lebih baik tak perlu mempercayai segala sesuatu yang belum ada buktinya. Kalo hanya bicarakan bisa saja karangan belaka, dia ingat betul jika Mba Dina begitu tak menyukai Jesi sampai mendepak rekan sesama magangnya keluar, meskipun dia tak tau penyebabnya kenapa.
“Eh tapi itu beneran kan mba?” Dewi masih sedikit tak yakin.
Dina menepuk bahu Dewi sambil tergelak.
“Beneran lah. Aku liat sendiri Dew, si Jesi nyium pak Darmawan!” jawab Dina.
“Ya ampun aku bener-bener nggak nyangka deh.” Dewi tersenyum miris.
“Ternyata tampang doang yang polos. Kelakuannya bikin istighfar.” Lanjutnya seraya mengelus dada.
“Ya gini aja yah coba kalian pikir. Kalian tau kan dulu pas awal dia masuk, tiap hari naik ojeg online, bajunya juga biasa-biasa aja. Eh setelah dia jadi asisten sekretarisnya pak Darmawan langsung berubah kan dia? Jadi bawa mobil sendiri, pakaiannya super modis dan branded. Dapet dari mana coba kalo bukan hasil morotin pak Darmawan?” tutur Dina dengan antusias, keempat rekannya hanya menganggukkan kepala, setuju dengan pendapat Dina.
“Bahkan nih yah, adik aku pernah mergokin dia lagi jalan sama Om-Om di konter HP salah satu mall. Gila kan itu bocah?” lanjutnya.
“Wow wow ini sih hot news banget! Bener-bener nggak nyangka aku. Ternyata konsumen dia banyak yah. Laris juga itu bocah.” Kata rekan lainnya.
omegat omegat oh no!
jangan lupa tekan jempol, lope sama komentarnya yang banyak!!!