Possessive Leader

Possessive Leader
Hanya aku yang tak tau



Pagi ini buru-buru sekali Jesi menuruni tangga. Di tangan kanannya memegang lip tint yang belum sempat ia pakai, dia bangun sedikit kesiangan hari ini gara-gara memutuskan tidur lagi setelah sholat subuh tadi.


“Malah jadi kleyengan gini euy. Kalo tau bakal kayak gini mah tadi nggak usah tidur lagi.” Gerutunya sambil membuka tutup lip tint.


Sambil berjalan melewati ruang makan dioleskannya lip tint berwarna pink natural itu ke bibir mungilnya, “Ayah aku sarapan di kantor aja. Bisa telat nih ntar aku kena semprot Karam” teriaknya sambil memasukan lip tint ke dalam tas.


“Jangan teriak-teriak, neng. Masih pagi, sini sarapan dulu.” Sari menghampiri Jesi yang baru saja melewati ruang makan dan menarik putri semata wayangnya.


“Aduh ibu... jam segini jalanan macet, kalo aku sarapan dulu bisa telat. Ntar kena semprot Karam. Males lah.” gerutu Jesi yang mengikuti ibunya.


“Nggak akan ada yang marahin kamu. Lihat tuh! Ramadhan nya aja ada di sini.” Sari menunjuk Rama yang duduk di meja makan bersama ayahnya.


Jesi mengikuti jari telunjuk ibunya dan benar saja pembimbing magang sekaligus bos yang merangkap jadi calon suaminya ada di sana, sedang bercakap-cakap dengan Ayahnya dan mereka terlihat akrab.


“Pagi, Karam.” Sapanya.


“Gercep banget jam segini udah ngapel aja.” Ledeknya seraya duduk di sebelah Rama. Seperti biasa bibir Jesi memang suka ceplas ceplos sesuka hatinya, apalagi di depan orang tuanya berasa ada yang ngelindungin secara nggak mungkin kan Karam bakal marah-marah di depan mereka.


“Pagi Jesika.” Balas Rama.


“Tumben manggilnya bener? Biasanya juga jas jus.” Ucap Jesi.


“Neng Jesi nggak boleh begitu sama Rama. Dia udah jauh-jauh belain jemput kamu dulu. Manggilnya juga jangan kayak gitu, nggak sopan sama calon suami.” Ujar Sari.


“Nggak sopan dari mana sih, bu? Orang Karam itu singkatan dari Kak Rama. Aku singkat jadi Karam lebih efektif dan efisien.” Jawab Jesi.


“Lagian aku juga kan nggak minta jemput.” Lanjutnya. Jesi jadi merasa kesal karena orang tuanya terus membela Rama.


“Sudah-sudah jangan ngomong terus kamu tuh, Jes. Sarapan cepetan supaya nggak terlambat.” Lerai Burhan.


“Maaf yah, Rama. Jesi memang begini adanya.” Imbuhnya.


“Tidak apa-apa, ayah. Aku udah biasa.” Balas Rama.


“Belain aja terus, belain! Berasa jadi anak angkat deh gue.” Gerutu Jesi.


“Jangan mikir kejauhan. Makan aja dulu, otak kamu suka gagal fokus kalo belum makan.” Bisik Rama, tangan kirinya tanpa sadar mengelus kepala gadis yang sedang cemberut padanya.


Dan mereka berdua benar-benar tiba di kantor sedikit siang hingga di lobi pun sudah banyak karyawan yang berlalu lalang. Belum terlambat karena masih ada waktu lima menit sebelum jam kerja di mulai. Tapi bagi Rama ini sudah termasuk sangat terlambat karena selama ini dirinya selalu berangkat paling awal. Penting baginya untuk tiba di kantor sebelum karyawan, sebagai pimpinan tentu ia harus menjadi sosok panutan bagi karyawannya. Alih-alih memberikan ceramah panjang lebar tentang disiplin waktu dan sebagainya akan lebih efektif jika dirinya langsung yang mempraktekan hingga karyawan bisa langsung melihat dirinya sebagai contoh. Dan hal itu benar-benar berhasil, terbukti dari jarangnya karyawan yang datang terlambat. Kecuali Jesi tentunya yang sudah datang terlambat di hari pertama ia magang.


Banyak pasang mata yang memperhatikan dirinya saat dia dan Jesi turun dari mobil yang sama. Rama tampak datar seperti biasa, dia membalas setiap sapaan seperlunya.


“Jangan cepet-cepet Karam, kita nggak lagi balapan.” Jesi sedikit berlari mengimbangi langkah panjang Rama.


“Kalian itu ramahnya jangan cuma sama Pak Darmawan aja, sebentar lagi harus ramah sama aku juga secara aku nih calon ibu Darmawan.” Ucap Jesi dan orang-orang di depan lift itu hanya menertawakan ucapan Jesi.


Dina yang ada di sana dengan cepat mencibir ucapan Jesi. Dia bahkan menempelkan telapak tangannya di kening Jesi.


“Padahal nggak panas tapi ngomongnya udah ngaco aja.”


“Apaan sih Mba Dina!” Jesi langsung menepis tangan Dina dari keningnya.


“Mba Dina mending belajar ngitung nol aja dulu yang bener. Nggak usah so meriksa kesehatan aku deh.” Imbuhnya.


“Nggak usah gitu ngeliatin calon istri atasan. Nggak sopan!” Ucap Jesi pada Dina yang menatapnya kesal.


“Jesika! Berapa kali harus saya katakan? Kamu harus sopan sama senior!” ucap Rama yang seketika mengakhiri adu mulut mereka.


“Tidak apa-apa, Pak. Saya maklum kok.” Balas Dina yang seperti tersenyum dengan anggun pada Rama.


“Dasar muka dua!” cibir Jesi.


“Jesi!”


“Belain aja terus Dinosaurus nya!” kesal Jesi ia buru-buru masuk ke dalam lift begitu pintu terbuka.


Begitu keluar dari lift dia pun berjalan mendahului Rama. Dengan langkah cepat Jesi duduk di mejanya.


“Bagi minum mba. Emosi jiwa raga aku pagi-pagi gini.” Ucapnya yang sudah menyambar susu hamil vanila milik Naura.


“Wan, calon bini lo ini... kayaknya lo harus ganti rugi susu bumil gue yang di minum dia nih. Sering banget.” Adu Naura pada Rama yang berdiri di depan mejanya.


Mendengar ucapan Naura gadis yang sedang meneguk susu itu seketika tersedak dan Rama dengan sigap menepuk tekuk leher belakang Jesi.


“Udah-udah nggak apa-apa, Karam!” Jesi menjauhkan diri.


“Sejak kapan Mba Naura tau kalo aku calon istrinya, Karam?” lanjutnya pada Naura.


“Kita mah udah tau dari dulu!” ucap Raka yang baru datang.


“Revisi desain yang lo minta.” Imbuhnya seraya menyerahkan berkas pada Rama.


“Karak juga tau?” tanya Jesi.


“Tau dong!”


Kini Jesi berbalik dan menatap Rama yang berdiri di belakangnya, “Jangan-jangan Karam juga udah tau dari sebelum keluarga kita ketemu tadi malem?”


Rama hanya diam.


Melihat calon suaminya hanya diam, tak perlu menunggu jawaban kalo calon suaminya itu sudah tau lebih dulu dari dirinya.


“Sejak kapan?” tanyanya kemudian.


“Sejak dia meriksa berkas anak magang beberapa hari lalu.” Saur Raka.


“Karam udah tau lebih dulu kalo aku calon istri yang selalu dibanggakan itu, tapi masih aja suka marah-marah nggak jelas sama aku?”


“Ngebentak aku sesuka hati juga!” Jesi menatap Rama dengan kesal, matanya mulai berkaca-kaca.


Naura dan Raka yang ada di sana hanya saling tatap kemudian menggeleng. Ini kali pertama mereka melihat Jesi yang biasanya ceria dan selalu melawan Rama justru berkaca-kaca.


“Jadi selama ini cuma aku yang nggak tau apa-apa.” Jesi menyeka air matanya sebelum menetes.