
"Hah apa?" Niat Rama hanya akan memberikan jaket yang ia gunakan untuk menutup rok Jesi yang terkena noda darah kemudian mengambil baju lain untuk ganti tapi istrinya malah menyuruhnya membeli benda aneh itu.
"Pembalut sama Kiranti, Karam. Cepetan ih!"
"Iya iya." Terpaksa di iyain aja dari pada ngambek lagi, ia tak pernah menyangka akan mengalami hal ini. Mungkinkah ini azab karena dulu menertawakan temannya yang disuruh beli pembalut oleh pacarnya?
"Buruan ih, malah diem aja!"
"Iya ini juga mau. Sabar dong! Kamu tuh kalo lagi dapet marah-marah mulu." Rama membuka sabuk pengamannya dan segera turun dari mobil.
"Karam..." Teriak Jesi
Rama yang sudah beranjak menjauh jadi terpaksa balik lagi dan menghampiri Jesi.
"Iya, yang mulia neng Jas Jus kesayangan kakak. Apa lagi?"
"Inget yang ada sayapnya, jangan sampe salah. Pilih yang cooling fresh biar adem. Kiranti nya dua botol terus sama camilan juga buat nanti."
"Iya iya." Lagi-lagi milih di iya iya in aja dari pada ribet. Urusan pembalut gimana dapetnya entar aja. Boro-boro nentuin yang cooling fresh segala, pembalut yang bersayap dengan yang tidak bersayap saja dia tak tau. Ribet amat dah pake ada yang cool cool segala, apa ada yang hot juga? Pikir Rama.
"Jangan cuma iya iya doang, Karam. Ntar salah lagi malah beli pempers buat bayi. Pokoknya yang cooling fresh, inget! Warna biru bungkusnya tuh, terus ada keterangan di belakangnya pilihan beberapa model, nah ntar Karam pilih yang ada sayapnya. Biasanya di belakangnya di warnai putih gitu kotak pilihannya, kalo nggak di depannya ada gambarnya kok, bersayap." Terang Jesi dia mencoba menjelaskan ciri-ciri dan tips memilih jenis produk pembalut yang ia inginkan.
Rama hanya terdiam mendengar penuturan Jesi, ucapan Jesi itu benar-benar tak bisa ia pahami, masalah pembalut dia benar-benar nol besar.
"Karam paham nggak? Ntar salah lagi!"
"Yang penting pembalut aja kan? Ribet amat dah. Tungguin di sini!"
"Jangan lama-lama, Karam!"
"Iya bawel." Rama mencubit gemas pipi Jesi.
"Kalo tadi kamu nggak teriak manggil juga kakak udah selesai kali beli pembalutnya. Kamu ngoceh kelamaan." Pungkas kemudian pergi, mengabaikan Jesi masih berteriak memanggilnya. Dia hanya melambaikan tangan tanpa berbalik.
"Selamat datang di indoapril, selamat belanja!" Sapaan khas ala-ala kasir indoapril yang selalu sama di indoapril manapun langsung terdengar begitu Rama masuk.
Seketika kening Rama mengkerut mendapati suasana indoapril yang cukup ramai siang itu.
"Siap-siap jadi bahan gunjingan dah ini mah." Batinnya sebelum akhirnya berjalan menuju rak yang berisi aneka pembalut, berdiri cukup lama di area itu karena mencari yang sesuai dengan keinginan Jesi.
"Banyak banget gila pilihannya, ngalahin pilihan rasa indomie." Gumam Rama, ia melihat satu persatu deretan pembalut di depannya.
"Si Jas Jus bilang yang biru kan tadi? Yang biru aja ada banyak. Gue ambil yang mana ini?" Rama mengambil salah satu pembalut dengan kemasan berwarna biru, sesuai intruksi Jesi dilihatnya bagian belakang produk itu dan benar saja ada beberapa tabel bergambar benda putih yang disertai ukuran. Saat Rama sibuk dengan pilihannya, kasak kusuk ia mendengar orang-orang di sekitarnya mulai membicarakannya. Bahkan diantara mereka ada yang ketahuan menunjuk ke arahnya saat dia berbalik.
"Si a lan, Jas Jus. Bikin gue malu aja!" Rama buru-buru mengambil pembalut secara asal saja. Dia tidak tau yang mana yang bersayap dan yang mana yang tidak, yang penting ambil aja dari pada terus-terusan jadi bahan ghibah emak-emak.
"Sama Kiranti nya dua, mba." Ucapnya pada kasir saat membayar.
"Bisa minta tolong ambilin, mba? saya tidak tau Kiranti itu yang seperti apa." Lanjutnya.
"Biar saya aja yang bantu ambilkan, mba!" Ucap perempuan dari belakang Rama yang tak lama kembali dan meletakkan dua botol Kiranti di meja kasir.
"Makasih, mba." Ucap Rama pada perempuan itu.
"Oliv?" Dan perempuan itu pun tersenyum ramah padanya.
"Darmawan, udah banget nggak yah kita nggak ketemu." Jawabnya.
"Kamu apa kabar?" Lanjutnya.
"Totalnya tiga puluh lima ribu rupiah mas." Percakapan mereka terjeda kasir indoapril yang meminta pembayaran atas belanjaan.
Rama memberikan uang pas pada si kasir, kemudian keluar.
"Aku duluan, Liv!" Pamitnya pada Olivia, perempuan yang masih terpaku menatapnya setelah sekian lama mereka tak bertemu.
"Wan, tunggu!" Teriaknya sembari menghampiri Rama.
"Buru-buru banget sih! Nggak nanyain kabar sama sekali ... Padahal udah lama kita nggak ketemu. Udah sepuluh tahun yang lalu kali yah, pas masih SMA."
"Kamu apa kabar?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik aja." Jawab Rama.
"Kamu juga kelihatannya baik-baik aja." Sambungnya.
"Iya aku baik-baik aja. Aku baru semingguan pulang loh, di sini lagi main aja. Aku rencana mau nyari kamu tapi kontaknya ilang, kemaren ke rumah kamu tapi nggak ada siapa-siapa. Beruntung deh kita ketemu di sini."
Rama berulang kali melihat ke arah mobilnya, Jesi sudah berulang kali melambaikan tangan padanya.
"Kamu ke sini sama siapa? Sama mama dan Alya juga nggak? Kangen aku udah lama banget nggak ketemu mereka. Alya pasti udah gede yah sekarang." Olivia mengikuti pandangan mata Rama.
"Itu Alya?" Tebaknya kemudian.
Jesi yang kesal karena Rama tak juga menghampirinya malah ngobrol dengan perempuan lain di depan indoapril segera keluar dari mobil. Kedua tangannya di letakan dibelakang untuk menutup noda di roknya.
"Karam lama banget sih!" Protesnya begitu tiba di depan Rama, matanya menatap penuh selidik perempuan cantik yang sejak tadi berbicara dengan suaminya. Kalo di banding mba Naura, jauh lebih cantik perempuan yang kini sedang tersenyum ramah padanya.
Rama membuka jaket yang ia kenakan dan mengikatkannya pada pinggang Jesi untuk menutup rok yang ternoda itu.
"Kakak kan udah bilang tunggu di mobil aja." Ucapnya begitu selesai mengikat jaketnya.
"Karam nya lama." Ucapnya dengan bibir mengerucut.
"Alya udah gede yah. Mba jadi pangling, kamu jadi imut dan cantik." Ucap Olivia.
"Masih inget nggak sama mba?" Sambungnya.
"Heh?" Jesi jadi hah heh hoh bingung dianggap sebagai Alya.
"Ayo ke toilet. Nih pesanan kamu udah ada." Ajak Rama dia merangkul bahu Jesi.
"Aku duluan, Liv."
"Iya kapan-kapan aku main ke rumah yah. Kangen sama mama juga." balas Olivia.
"bye-bye Alya nanti kalo mba main, mba bawain makanan kesukaan kamu." sambungnya.
Jesi kian manyun pada Rama meskipun suaminya tak banyak bicara tapi dia cukup ramah pada perempuan yang dipanggil Liv Liv itu.
"Dia siapa sih, Karam? So kenal banget!"
"Karam juga ganjen banget dah, ketemu cewek cantik dikit langsung diajak ngobrol lama banget. Sampe lupa sama istri sendiri" gerutu Jesi.
"Siapa juga yang lupa sama istri sendiri!"
"Halah kalo nggak aku susulin juga pasti Karam betah tuh ngobrol sampe sore!"
"Cemburu yah?" ledek Rama.
"Nggak!! siapa juga yang cemburu. Aku cuma butuh pembalutnya." Jesi merebut keresek belanjaan dari tangan Rama.
"Sana gih kalo mau ngobrol sama si liplip sana!" Jesi mendorong Rama menjauh.
"Namanya olivia." ucap Rama.
"Bodo amat!!"