Possessive Leader

Possessive Leader
Dilarang belah duren!



"Saya terima nikah dan kawinnya Jesika Mulia Rahayu binti Burhan Gunawan dengan mas kawin lightstick BTS Army bomb special edition dibayar tunai." Dengan satu tarikan nafas Rama mengucapkan ijab kabul dengan lancar. Meskipun sebelumnya dia harus menghapalkan nama mas kawinnya yang sedikit belibet.


"Bagaimana saksi sah?" Tanya penghulu.


"Nggak sah!" Jawab Jesi sambil mengacungkan tangannya hingga pak RT yang hendak menjawab sah jadi terdiam. Semua orang yang ada di sana jadi memandang Jesi, begitu pun dengan Rama. Jika di sinetron orang yang berucap tak sah saat ijab kabul berlangsung adalah istri sah yang ditinggal poligami atau mantan yang belum move on tapi kali ini beda, yang berucap justru mempelai perempuan.


"Kenapa nggak sah?" Tanya Rama.


"Karam kan tadi bayar mas kawinnya via transfer bukan COD. Jadi nggak tunai."


Andai tidak ada penghulu, saksi, mertua dan anggota keluarganya, ingin sekali rasanya Rama langsung membungkam mulut Jesi yang suka ceplas ceplos tanpa saringan itu dengan bibirnya.


Lain halnya dengan Sari dan Burhan yang langsung tertunduk malu sementara Yeni dan Alya justru berusaha keras menahan tawa. Bagi Alya yang sudah lumayan mengenal Jesi sudah tak terlalu kaget dengan ucapan sahabat yang kini naik jabatan jadi kakak iparnya. Jesi yang ceplas ceplos bagi Alya sudah biasa saja, nggak aneh lagi.


"Terus aku harus bilang dibayar transfer gitu? Atau kredit sekalian?" Geram Rama.


"Saya terima nikah dan kawinnya Jesika Mulia Rahayu binti Burhan Gunawan dengan mas kawin lightstick BTS Army bomb special edition dibayar transfer!"


"Gitu?"


"Kok Karam ngegas sih?" Ucap Jesi.


"Kamu nya ngeselin." Balas Rama lirih.


"Jadi gimana ini pak Penghulu, Pak RT dan pak ustad apakah ijab kabulnya perlu diulang?" Tanya Rama, meladeni Jesi terus-menerus tak akan ada habisnya. Yang ada dia akan jadi makin malu.


Petugas KUA saja sampai geleng-geleng kepala. Sudah ratusan pasang pengantin ijab kabul di hadapannya tapi baru kali mendapati pengantin seperti Jesi. Umumnya pengantin perempuan akan ikut tegang saat pasangannya mengucapkan ijab kabul, tapi Jesi malah menentukan sendiri sah atau tidaknya. Benar-benar kejadian langka.


"Bagaimana saksi sah?" Penghulu mengulang pertanyaannya yang tadi.


"Sah." Ucap Pak RT yang kemudian langsung di sambung dengan do'a yang dilantunkan oleh pak ustad.


"Mulai sekarang kalian resmi suami istri. Sah menurut agama maupun hukum yang berlaku di negara kita. Hanya saja karena permohonan pernikahannya mendadak jadi kami dari petugas KUA belum bisa memberikan buku nikah karena untuk berkas-berkas persyaratan pun baru diberikan sore tadi oleh pak Burhan. Berhubung saya sudah kenal lama sama Pak Burhan saya bantu untuk langsung memproses buku nikah kalian secepatnya, kalo orang lain tidak bisa nikah dadakan seperti ini tapi karena keadaan darurat maka saya bantu." Tutur petugas KUA.


"Nah sekarang Neng Jesi salim dulu sama Aa Ramadhan." Imbuhnya.


"Aku manggilnya Karam bukan Aa!" Protes Jesi kemudian mengubah posisi duduknya hingga ia berhadapan dengan Rama, pria itu mengulurkan tangan padanya. Sejak duduk di samping Rama dan mendengar pria itu menghalalkan dirinya tadi tak ada rasa dag dig dug sedikit pun. Tapi saat harus mencium punggung tangan suaminya Jesi mendadak merasa gugup.


Diambilnya tangan Rama kemudian mencium punggung tangan itu dengan takzim. Begitu melepas tangan Rama, Jesi dibuat terpesona dengan tatapan hangat suaminya, dia bahkan sampai tak bisa berkata-kata saat bibir Rama kembali mendarat di keningnya.


"Ya ampun jantung gue berasa di pause detaknya." Batin Jesi.


Setelah acara akad nikah selesai, Burhan mengajak petugas KUA, RT beserta ustad komplek mereka untuk menikmati kudapan yang sudah disiapkan. Begitu pun dengan Sari dan Yeni, mereka mengikuti makan malam bersama setelah sesi foto alakadarnya.


Sementara Jesi dan Rama masih duduk di tempat akad nikah, mereka menjadi korban Alya yang kini jadi tukang foto dadakan.


"Kakak jangan jaga jarak gitu atuh, kan udah halal."


"Kakak jangan kayak gitu dong. Ini kan bukan foto KTP." Protesnya lagi saat Rama dan Jesi hanya berdiri berdekatan tanpa melakukan apa pun.


Alya menghampiri keduanya dan mulai memberi intruksi secara paksa.


"Gini atuh lah!" Jesi digeser hingga berdiri tepat di depan Rama.


"Nah tangan kakak ke sini." Dilingkarkannya tangan Rama ke perut Jesi. Hingga kini posisi Jesi di peluk Rama dari belakang.


"Rada nunduk kak. Tatap kesegaran jas jus dong."


"Kamu juga, Jes. Liatnya ke kakak. Nggak usah liat kamera, biar candid gitu."


"Ya salam Alya kenapa jadi mendadak ngatur-ngatur euy. Dia kagak tau apa ini jantung gue udah jedag jedug nggak jelas gini." Batin Jesi.


"Jes, liatnya ke kakak dong. Kok malah liat aku sih." Ucap Alya.


"Eh iya iya." Jawabnya gugup kemudian mengikuti intruksi adik iparnya.


"Gini, Al?"


"Iya gitu. Udah sip tahan dulu." Jawab Alya. Gadis berhijab itu mulai mengambil gambar dari berbagai angle.


"Udah." Ucap Alya saat dirinya selesai mengambil gambar. Tapi Rama maupun Jesi masih tetap mempertahankan posisi mereka.


"Kak, udah." Ucapnya sekali lagi.


"Jes, udah." Ulangnya kali ini dengan menghampiri mereka.


"Udah, Karam. Lepasin." Ucapnya sedikit gugup.


Rama segera melepas pelukannya, "aku temuin tamu dulu, takut mereka keburu pulang." Ucapnya kemudian berlalu pergi.


"Jangan diliatin terus. Kak Ramadhan emang ganteng, tapi tenang aja udah jadi milik kamu."


"Apaan sih, Al? Orang gue cuma..."


"Cuma apa? Udah nggak usah ngeles. Akuin aja, nggak dosa kok Kak Jesi." Ledek Alya.


Jesi menepuk pelan punggung adik iparnya, "mentang-mentang udah jadi adik ipar sekarang berani yah ngeledek gue?" Balas Jesi.


"Maaf kakak Jesi."


"Seriusan aku seneng banget sekarang kita jadi keluarga, Jes. Kamu inget nggak, Jes?"


"Nggak." Balas Jesi cepat.


"Ih kebiasaan deh main nyeplos aja. Aku belum selesai ngomong."


"Dulu aku nasehatin kamu buat ikhlasin Kak Zidan karena Allah pasti kasih pengganti yang lebih dari kak Zidan. Dan sekarang itu terwujud, Jes. Aku do'ain kamu sama kakak selalu bahagia. Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, begitu pun sebaliknya. Aku tau mungkin kamu belum bisa ngelupain Kak Zidan sepenuhnya, tapi aku harap kamu bisa buka hati kamu buat kak Ramadhan. Dia nggak pernah sekali pun melirik wanita lain, Jes. Selama sepuluh tahun ngejomblo demi kamu."


"Tenang aja, Al. Lo bener kalo gue emang belum bisa ngelupain si Zidan Zidun, tapi bukan berarti gue masih suka sama dia. Nggak sama sekali, sorry aja!"


"Gue benci setengah mampus sama itu orang. Gue cuma pengen liat mereka berdua kena karma. Gue tunggu tanggal mainnya, gue juga selalu berdo'a supaya Allah cepet ngasih karma ke mereka. Gue bakal tepuk tangan paling awal kalo liat mereka menderita." Ucap Jesi.


"Ya ampun, Jes. Nggak usah jadi pendendam kayak gitu, nggak baik. Terus itu juga... Nggak usah lah cape-cape ngedo'ain mereka supaya dapat karma. Urusan karma itu urusan Allah, kita cukup ikhlas aja." Alya mode mamah dedeh kembali on.


"Mulai sekarang ganti do'anya, nggak usah ngedo'ain orang lain dapat karma. Sekarang do'anya minta dikasih keturunan yang soleh dan solehah." Imbuhnya sambil tersenyum penuh maksud.


"Haduh jangan ngaco deh, Al. Nikah juga belum sejam udah request keturunan aja lo."


"Bantuin gue ganti baju dah. Sama copot-copotin ini hiasan kepala, berat banget dah. Rasanya kepala mau copot."


"Biar aku yang bantu." Ucap Rama yang baru saja kembali.


"Kamu makan dulu, Al. Pasti belum makan kan? Dari tadi ngurusin Jesi terus."


"Eh nggak usah, Karam. Biar nanti aja lah abis Alya makan, gantinya. Karam juga belum makan kan? Makan aja dulu sana." Tolak Jesi.


"Aku nggak lapar." Jawab Rama, ia mengambil ekor gaun yang dikenakan jesi supaya istrinya bisa berjalan dengan leluasa.


"Udah buruan jalan." Imbuhnya.


"Kalo gitu makan yang lain aja. Camilan-camilan gitu. Kue buatan ibu enak loh." Bagaimana pun caranya Jesi tak mau dibantu Rama. Apalagi mengganti pakaian, big no!


"Gue mau makan lo aja!" Ucap Rama asal.


"Apa? Karam jangan macem-macem yah. Jangan lakuin sekarang. Aku belum siap." Jawab Jesi yang langsung panik.


"Mesti dilakuin sekarang. Kamu cukup diem aja biar aku yang kerja. Nanti juga enak."


"Tapi aku beneran belum siap, Karam. Katanya kan kalo pertama sakit."


"Pokoknya dilarang belah duren sekarang, aku belum siap!"


Pletak!!


Satu sentilan dari jari telunjuk Rama mendarat di kening Jesi.


"Lo itu mikir apa jas jus? Gue cuma mau bantu ngelepas hiasan kepala yang kata lo tadi berat."