Possessive Leader

Possessive Leader
siang-siang jas jus



“Kita mau kemana sih?” Jesi mengikuti Rama yang menariknya begitu saja setelah mengklaim dia menjadi miliknya di depan Raka.


“Jalan-jalan!” jawab Rama singkat.


“Tapi kan masih jam kerja, Karam!”


“Disini bosnya gue bukan lo. Jadi nggak usah protes! Harusnya kan lo seneng gue ajak jalan.”


“Beneran jalan-jalan, Karam? Bukan ninjau penjualan lagi?”


“Iya.”


“Asik. Nanti aku nya ditraktir yah, Karam.” ucapnya girang.


“Kamu boleh beli apa aja silahkan. Tapi satu syaratnya.”


“Apa-apa?” tanya Jesi.


“Jangan deket-deket sama Raka!”


“Emang kenapa sih, Karam? Dari tadi pembahasannya selalu mentok kesana terus. Karak kan teman Karam juga. Aneh banget.”


“Ya karena saya tidak suka!”


“Belum apa-apa Karam udah posesif.” Gerutu Jesi.


“Gimana ntar kalo udah nikah? Bisa-bisa aku dikurung nggak boleh keluar rumah, yah?” lanjutnya.


“Ya nggak gitu juga Jas Jus. Saya tidak akan melarang kamu melakukan apa pun yang kamu sukai setelah kita menikah nanti. Yang harus kamu pahami adalah ada beberapa batasan untuk kamu setelah menikah nanti. Nggak ada yang namanya sahabat antara perempuan dan laki-laki.” Tutur Rama.


Jesi mendengarkan penuturan Rama dengan seksama karena pria itu nampak sangat serius, namun sedetik kemudian dia mengernyit tak setuju dengan ucapan calon suaminya.


“Nggak ada yang namanya sahabat antara perempuan dan laki-laki." ucap Jesi.


"Tapi itu Karak sama Mba Naura masih sahabatan. Mba Naura kan udah punya suami, Karam juga masih deket sama Mba Naura.”


“Itu beda lagi. Kita udah temenan sejak lama. Lagian suami Naura juga kenal baik sama saya dan Raka.” Balas Rama.


“Berarti aku juga tetep boleh dong deket sama Karak? Kan Karam kenal baik sama Karak. Sahabatan juga malahan.”


Rama memutar bola matanya, jengah. Dia bingung harus bagaimana menjelaskan pada calon istrinya jika ia tak ingin dia berdekatan dengan Raka, karena ia tau meski sekarang Raka hanya meledek Jesi guna membuatnya kesal tapi tak menutup kemungkinan sahabatnya itu benar-benar menyimpan perasaan pada Jesi.


“Pokoknya nggak boleh ketemu Raka kalo nggak bareng saya!” akhirnya hanya itu jawaban paling masuk akal yang bisa ia katakan pada Jesi.


“Dasar aneh!” cibir Jesi.


“Kalo nggak nurut kita nggak jadi jalan-jalan nih.” Ancam Rama.


“Nurut-nurut aku nya, Karam.” Buru-buru Jesi memegang lengan kiri Rama dan bersandar manja.


“Aku kan calon istri soleha.” Imbuhnya sambil tersenyum manis membuat Rama gemas dan mencubit pelan pipinya.


“Sakit ih, Karam.” Keluhnya dengan tersenyum mengejek pada wanita yang selalu membuat emosinya meronta-ronta setiap kali melihat wajah itu. wajah cantik dan anggun yang hanya topeng belaka. Bagi Jesi selamanya Dina adalah orang yang wajid dibenci.


“Selamat siang Pak Darmawan.” Sapanya. Seperti biasa Dina selalu tampil anggun dan sempurna. Gaya berpakaian dan make up yang digunakan benar-benar khas wanita karir masa kini.


“Siang.” Jawab Rama datar.


“Pak Darmawan doang yang disapa, Ibu Darmawan nggak di sapa nih?” Jesi melambaikan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya masih setia memegang erat lengan Rama.


“Kamu itu benar-benar nggak tau diri, Jesi. Jangan sembarangan ngaku-ngaku jadi ibu Darmawan segala. Udah cukup tadi pagi aja kamu ngaco. Atau mungkin sekarang kamu belum minum obat yah? Jadi masih oleng. Meskipun kamu orang kaya tak seharusnya mulutmu itu asal bicara.” Tutur Dina.


“Pak Darmawan mohon maklum kalo anak magang pindahan dari divisi saya itu sedikit gila.” Imbuhnya.


“Karam...” Rengek Jesi.


“Iya.. iya..” Rama melepaskan pegangan Jesi pada lengan kirinya dan beralih merangkul gadis mungil yang hanya setinggi bahunya itu.


Jesi tersenyum puas, meski ragu tangan kanannya balas merangkul pinggang Rama dari belakang.


“Jadi gimana? Yakin nggak mau nyapa ibu Darmawan yang cantik nan imut ini?” tanyanya yang diakhiri dengan menjulurkan lidah mengejek Dina yang sudah menatapnya dengan kesal.


“Jangan kayak gitu. Nggak sopan!” Bisik Rama, kali ini Rama tak membentaknya.


“Tapi dia yang mulai, Karam.” Protes Jesi terang-terangan.


“Sudah-sudah jangan diteruskan. Bisa-bisa kalian ribut lagi.” Ucap Rama.


“Dina, saya harap kamu sebagai senior bisa menjaga sikap. Jangan memancing keributan! Kamu pernah satu divisi dengan Jesi, harusnya kamu tau kalo dia tak akan pernah mau mengalah apalagi kalo dia tak salah. Selama ini saya membiarkan kamu tetap disini karena saya tau kamu memiliki kemampuan yang bagus. Saya harap kedepannya jangan mengulangi hal yang seharusnya tak kamu lakukan. Apalagi melibatkan anak magang seperti dia.” Tutur Rama.


Dina begitu terkejut dengan ucapan Rama, dia tak menyangka jika Rama sudah mengetahui kebenaran dibalik kontrak yang salah nominal pasalnya selama ini dia tak menerima teguran apa pun.


“Baik, Pak. Saya akan bekerja sebaik mungkin.”


“Nah bagus itu. Yang bener ngitung nol nya, jangan sampe kurang lagi.” Sindir Jesi.


“Dasar bocah!” cibir Dina. Dia sudah mengepalkan kedua tangannya, kali ini ia benar-benar merasa dipermalukan di depan Rama.


“Dan satu lagi yang harus kamu tau.” Sela Rama.


“Jesi memang calon istri saya. Saya harap kamu bisa menjaga sikap padanya. Meskipun kadang dia kekanakan tapi dia tak pernah menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dia buat.” Lanjutnya.


Dina masih tertegun di tempatnya berdiri meskipun Rama dan Jesi sudah berlalu meninggalkannya. Bukan lagi terkejut karena sindiran Rama yang secara tak langsung menyiratkan jika dirinya yang bersalah atas nilai kontrak tempo lalu, tapi rasanya ia masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. Rama, pria yang ia kagumi selama ini terang-terangan mengakui anak magang itu sebagai calon istrinya.


Di parkiran Jesi yang baru saja masuk ke dalam mobil masih tertawa puas.


“Kayaknya dinosaurus shock banget euy. Syukurin!”


“Pasang dulu sabuk pengamannya baru lanjut ngoceh-ngceh lagi.” Ucap Rama yang sudah menarik sabuk pengaman Jesi dan mengaitkannya.


“Kayaknya minum jas jus siang-siang gini seger banget yah.” Lanjutnya.


“Karam haus? Pengen minum jas jus gitu?” tanya Jesi.


“Kalo aku sih lebih suka boba teh Ai yang di depan indoapril.” imbuhnya.


“Pengen aja nyobain nyicipin jas jus dikit aja, boleh?”


“Boleh lah, tinggal beli di...” belum selesai Jesi berucap Rama sudah mengecup kilat bibir beo cantik yang langsung bungkam seketika.


“Beneran nyegerin ternyata jas jus siang-siang.” Ucapnya pada Jesi yang masih diam sambil menggigit bibir bawahnya.


“Karam!” teriak Jesi setelah sadar dari keterkejutannya.


“Apa? Katanya tadi boleh.”


“Ya kan aku kira jas jus yang minuman itu loh. Kan bisa beli.” Protes Jesi.


“Ngapain beli kan aku udah punya kesegaran jas jus sendiri. Nambah boleh nggak? Barusan kan cuma nempel doang.”


.


.


.


dukung aku dengan like, komen dan favoritkan!!!