Possessive Leader

Possessive Leader
Tentang memaafkan



“Kakak berangkat dulu. Baik-baik di rumah sama calon anak kita.” Rama mengusap perut Jesi.


“Jangan banyak pikiran, kalo pun kamu nggak mau cabut kasus Zidan juga nggak apa-apa sayang. Itu hak kamu dan dia pantas mendapatkan hukuman. Soal rapat direksi di perusahaan Dina juga, ayah sudah membeli sepuluh persen saham cat star atas nama kamu. Keputusan ada di tangan kamu, rapat dewan direksinya jam sepuluh. Kalo kamu mau hadir telpon kakak, nanti kakak temenin.” Ucap Rama panjang lebar.


“Iya, Karam.”


“Ya udah kakak berangkat dulu.” Dikecupnya kening Jesi sekilas.


“Al, titiip kakak ipar kamu.” Teriaknya pada Alya yang juga ada di halaman rumah.


Alya menjawabnya dengan mengacungkan jempol, kemudian kembali fokus pada jajaran pot-pot bunga baru di depannya. Setelah beberapa hari lalu ibu Jesi menginap disini membuatnya mulai menyukai bunga karena mertua kakaknya itu membawa beberapa bunga kesayangannya ke sini. Alhasil kini Alya mulai menata beberapa bunga di halamannya ditambah dengan bunga lain yang baru saja ia beli saat pulang kuliah kemarin.


“Lama-lama ini rumah jadi kebon deh.” Cibir Jesi sambil menyentuh asal bunga yang persis seperti milik ibu nya di rumah.


“Nggak di sini nggak di rumah isinya bunga terus.” Ia bralih pada jajaran kaktus mini yang tampak lucu.


“Gue suka yang ini nih, lucu. Gue bantu siram yah, Al.” Lanjutnya sambil mengambil selang air.


“Iya, Jes. Makasih yah.” Jawab Alya tanpa melihat ke arah Jesi. Dia sibuk memindahkan tanaman baru.


Jesi dengan riang menyiram deretan kaktus mini, “nih gue mandiin kalian biar cepet gede, ntar gue jual deh kalo udah gede. Lumayan kan.” Selorohnya.


Alya tersenyum mendengar ucapan Jesi, baru kali ini calon mami itu terlihat sedikit ceria. Kemaren-kemaren katanya galau setengah mampus mikirin Raya, Zidan, Dina sama anak si Raya juga. Kasihan katanya, Alya sampe nggak nyangka kalo Jesi yang terlihat masa bodoh itu ternyata bisa galau juga.


“Ya jangan dijual, Jes. Kalo butuh uang tinggal minta aja ke kakak.” Ucap Alya seraya berbalik.


“Astagfirullah Jesiiiii...” Teriaknya dan buru-buru mengambil selang yang dipegang Jesi.


“Apaan sih, Al? Heboh banget dah!”


“Ya ampun my baby... Jes, bisa mati semua ini sukulen aku.” Alya mengambil pot-pot mini itu dan memiringkannya supaya air yang sudah memenuhi pot bisa cepat keluar.


“Kenapa yang ini disiram sih, Jes? Ini tuh nggak boleh kena air banyak-banyak. Harusnya juga disiram seminggu sekali, itu pun pake semprotan. Dikit aja. Ya ampun ini malah jibreg gini.” Alya mengambil pot sukulen lain dan menunjukannya pada Jesi dengan wajah lesu.


“Ya maaf, Al. Kan gue nggak tau. Tadi juga kan udah bilang mau bantu nyiram, lo bilang oke. Ya udah gue siram.”


Alya menghela nafas kasar, “Ya aku kira kamu nyiram bunga yang lain, Jes.”


“Ya allah, Jes... yang ini juga kamu siram.” Lanjutnya sambil mengambil sukulen paling cantik dan unik di ujung.


“Ya gue siram semua, Al. Biar seger sama cepet gede.” Jawab Jesi dengan entengnya.


“Yang ada mereka mati, Jes.” Ucap Alya lirih.


“Ya ampun Jes yang ini kesayangan aku. Dari Aa Raka, aku udah janji bakal ngerawat my baby haworthia truncata variegata three color ini seperti anak aku sendiri. Mau di pajang juga pas kita nikah nanti. Huh bisa mati ini my baby.” Alya memandangi sukulen terlangka dan termahal di dunia pemberian Raka sebagai permintaan maaf beberapa hari yang lalu. Tamanan yang susah payah Raka dapatkan dari kolektor sukulen di Thailand. Sukulen tercantik dengan ujung daun transparan dan permukaan daunnya yang memiliki tiga warna.


“Apa apa namanya Al? Susah bener dah.” Jesi mengambil sukulen yang digadang-gadang my baby kesayangan adik iparnya dan meletakannya ke tempat semula.


“Maaf yah gue nggak tau. Ntar gue ganti deh, di tempat bunga yang kemaren ada kan?” lanjutnya dengan wajah bersalah.


“Nggak ada lah, Jes. Ini tuh langka tau!”


“Nggak apa-apa ntar gue cariin demi lo deh.” Balas Jesi.


“Waduh!! Auto hap hap hap dong aiaihap swadihap.” Coloteh Jesi menirukan bahasa Thailand yang banyak hap hap nya.


“Ntar gue ganti pake bunga bank aja kalo gitu yah?” lanjutnya seraya kabur.


“Jesiiiii!” Teriak Alya tapi yang diteriaki tanpa dosa masuk ke rumah.


“My baby bertahan yah.” Alya dengan hati-hati memindahakan sukulen langka itu ke media tanam yang baru.


“Sehat-sehat yah nanti kalo ayahmu datang kita aduin si jas jus yang nakal itu.” Ucapnya pada sukulen yang tetap diam di pot barunya. Kadang cinta bikin kita jadi gila sampe tumbuhan pun diajak bicara. Save Alya yang mulai bucin wkwkwk.


Masuk ke dalam rumah Alya mendapati Jesi yang sedang memakan rujak serut mangga buatan suaminya semalam. Dari kemarin dia merengek minta rujak serut mangga sampai membuat Rama pulang kerja membawa rujak mangga dengan aneka level pedas namun tak satu pun bisa diterima oleh Jesi. Jesi justru meminta rujak buatan suaminya sendiri, alhasil semalam Rama jadi tukang rujak serut dadakan. Susah payah, dia yang biasanya tinggal tanda tangan berkas harus berkutat dengan pisau, mangga, serutan buah, hingga menggerus kacang tanah dan bumbu-bumbu lainnya. Meskipun Raka dan Alya mengomentari jika rujak buatannya tak enak tapi Jesi justru sangat-sangat menyukainya. Padahal bumbunya sama sekali tak enak, sedikit pahit karena kacang yang sedikit gosong.


“Masih pagi Jes udah makan rujak aja. Ntar sakit perut.” Alya mendaratkan diri duduk di belakang Jesi yang duduk lesehan di bawah.


“Anak gue yang minta, Al. Mau nggak? mumpung belum abis nih.” Jesi menyodorkan piringnya.


“Nggak. Buat kamu aja, nggak enak rujak buatan kakak.”


“Enak gini kok.” Jesi melanjutkan makannya.


“Mantap banget dah. Udah yah sayang, rujaknya abis. Ntar kita minta papi bikin lagi yah.” Ucapnya seraya mengusap-usap perut.


“Al...” Jesi berpindah duduk ke sofa, tepat di samping Alya. Kepalanya ia sandarkan di bahu Alya, menatap jarum jam yang sudah menunjuk angka setengah sembilan.


“Apa mami Jas Jus yang manja...” ia jadi ketularan Rama, kadang memanggil Jesi dengan sebutan mami.


“Bantuin gue milih baju yang pas buat rapat dewan direksi.”


“Kamu mau bantu keluarga Raya, Jes?”


“Gue nggak tau, Al. Kita liat aja nanti, entah gue bantu atau ancurin sekalian. Sama kayak dia ninggalin gue pas lagi jadi rakyat jelata.”


“Tapi kalo kamu ngikutin kelakuan dia dulu ke kamu berati kamu nggak ada bedanya sama dia, Jes. Inget Jes, harus berapa kali aku bilang kalo pendendam itu nggak baik. Maafin Raya, Jes. Tanpa kamu hukum pun Tuhan sudah membalas semua perbuatan buruknya ke kamu. Bukankah dia hamil dan orang yang menghamilinya tak mau tanggung jawab sudah termasuk hukuman terbesar yang Tuhan berikan? Kita ini hanya manusia, Jes... ikhlasin dan maafin, Raya. Bagaimana pun dia pernah jadi orang yang selalu ada buat kamu.” Ucap Alya panjang lebar dengan pelan.


Jesi tersenyum kecut mendengar ucapan adik iparnya, “gimana gue mau ngasih maaf, Al? Kalo Raya aja nggak pernah minta maaf ke gue.”


“Kalo gitu maafin Raya tanpa nunggu dia minta maaf, Jes. Bukankah itu lebih mulia? Seperti namamu, Jesika Mulia Rahayu.” Ucap Alya.


“Kadang kita memaafkan orang lain bukan karena mereka pantas untuk dimaafkan, tapi karena kita pantas mendapatkan kedamaian. Bukankah mendendam itu bikin kita cape, Jes?” imbuhnya.


Jesi termenung sebentar kemudian beranjak meninggalkan Alya, “Sayangnya kakak ipar lo ini belum semulia namanya, Al.”


.


.


.


aku ngikut aja gimana kamu, Jes. Karena memaafkan memang tak semudah yang kita kira.


jangan lupa tampol jempol, lope sama komentarnya!!