
Saat Jesi dan Rama kembali dengan membawa dua cup besar boba, Olivia masih ada di ruang tamu seorang diri.
"Ish masih di sini aja oli gardan!" sindir Jesi.
Makan malam hari itu pun jadi tak semenyenangkan biasanya. Alya yang berbuka puasa kehilangan selera makan karena satu meja dengan Oliv. Mama Yeni tetap mengajak perempuan tak tau malu itu makan malam, meski hanya mengajaknya untuk sekedar basa-basi tapi ternyata Oliv benar-benar tak tau malu, dia bersikap seolah tak terjadi apa pun. Bahkan dengan hebohnya menawarkan makanan yang ia masak tadi.
"Jangan di makan, Karam! ntar ada peletnya lagi. Bahaya!" sindir Jesi yang malah dibalas gelak tawa oleh Olivia.
"Dua Ribu Dua Satu woy, udah nggak musim pelet-peletan. Ya kali ikan dikasih pelet." Oliv tak mau kalah.
"Nih Wan, cobain deh! kamu paling suka masakan aku kan?"
"ihhh apain sih. Carmuk banget! Sana-sana minggir." hanya tangan Oliv yang meletakan makanan di piring Rama pun di tepis jauh-jauh oleh Jesi.
"Jangan di makan! Kita makan pecel ayam yang dibeli Alya Aja." ucap Jesi.
"Mama sama Alya juga jangan makan masakan Oli Gardan!"
"Karam, neng Jas Jus mau disuapin makannya!" sambungnya dengan suara super manja.
"Alay, dasar bocah!" cibir Oliv.
"Syirik aja dasar PGL!" balas Jesi.
"Udah jangan ngomong mulu, aaaa ayo!" Rama sudah menyiapkan satu suapan penuh langsung dari tangannya untuk Jesi.
"Lo bocah! seenak udel lo aja ganti-ganti nama gue. Nama bagus-bagus lo ganti jadi oli gardan! Sekarang apa lagi PGL?"
"PEREMPUAN NGGAK LAKU!" ucap Jesi penuh penekanan.
"Lo bocah kemaren sore ngatain gue nggak laku? istri kamu bener-bener, Wan." Oliv segera meneguk air putih di gelasnya, mengelap bibirnya dengan tisu.
"Ya kalo emang mba laku ngapain masih nguber laki orang coba?" cibir Jesi.
"Aaa lagi Karam..." lanjutnya seraya membuka mulut meminta disuapi.
Rama dengan telaten menyuapi istrinya yang mendadak jadi bayi besar super manja.
"Kamu abis makan pulang aja, Liv!"
"Kamu ngusir aku, Wan? Padahal dulu kamu sering maksa aku main kesini." jawab Oliv.
"Bela-belain kamu nungguin aku beres kegiatan ekstrakurikuler, terus kalo naik motor kamu selalu minta aku pegangannya sambil meluk." lanjutnya dengan mengarang bebas sesuka hati.
Oliv kian tersenyum puas melihat Jesi yang melotot kesal. Benar kata Alya, ternyata Jesi ngambeknya lucu. Pantesan Rama suka, Jesi tipikal perempuan kekanakan yang tanpa memandang situasi dan kondisi langsung meluapkan amarahnya.
"Eh inget nggak, Wan? waktu kita ujan-ujanan pulang sekolah? yang kamu ngasih jaket buat nutupin kepala aku itu loh?"
"kamu nggak usah ngarang deh, Liv!" potong Rama.
"Ih kok ngarang. Mana ada aku ngarang." Elak Oliv. Dia begitu senang melihat wajah putih Jesi yang berubah jadi merah padam.
"Aku benci Karam!" Jesi langsung beranjak meninggalkan meja makan.
"Sayang tunggu!" Ucap Rama.
"Kamu bener-bener nyari masalah, Liv!" lanjutnya sebelum beranjak.
"Aku mau pamit, Wan. Bisa kita bicara sebentar?" ucap Oliv, Rama yang hendak mengejar Jesi jadi berhenti dan memilih duduk kembali.
"Cepetan ngomong. Istriku kalo ngambek lama!" ucap Rama.
"Tau tuh mba Oliv ngeselin banget sih. Nggak tau malu!" Alya yang tadinya kalem pun jadi ikut kesal.
"Segitu sayangnya yah sama Jesi si bocah itu." ucap Oliv.
"Tapi dia emang lucu sih. Ternyata selera kamu berubah yah, Wan. Sukanya sama yang kekanakan." lanjutnya.
"Mama, Alya dan kamu, Wan." Oliv menghirup nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
"Terimakasih sudah mau menerimaku kembali, maaf kalo ternyata kedatangan aku bikin kalian nggak bahagia. Jujur, sedih banget dan hampir nggak percaya kalo kamu udah nikah, Wan." Oliv menatap Rama sendu.
Kini tatapannya beralih pada Alya dan mama Yeni.
"Alya, mba pengen selalu jadi kakak ipar impian meskipun bukan buat kamu. Makasih udah pernah jadiin mba sebagai sosok kakak ipar impian kamu."
"Seperti kata Alya, kita hanya boleh punya keinginan dan harapan tapi tetap tuhan yang menentukan semuanya. Kesempatan selalu ada untuk orang yang mau berusaha, itu benar. Tapi aku tau sekarang kesempatan untuk jadi kakak ipar Alya udah nggak ada. Dan aku hanya akan semakin tampak hina jika mengusahakannya. Mengusahakan sesuatu yang memang bukan milik dan bukan untuk kita. Aku do'ain kamu sama Jesi bahagia, Wan." tutur Olivia panjang lebar.
Mengikhlaskan adalah kata-kata yang mudah diucapkan namun sulit diaplikasikan dalam hidup. Kadang bibir kita dengan entengnya berkata ikhlas tapi hati masih enggan melepaskan. Ramadhan, sosok lelaki yang harus segera Oliv hapus dan buang jauh-jauh dari hatinya.
"Nggak usah ngeliatin aku kayak yang kasihan gitu lah." ucap Olivia.
"Tadi aja pada kesel sama aku." sambungnya dengan sedikit tertawa.
"Abisnya mba tadi ngeselin banget." balas Alya.
"Kamu pikir mba bakal jadi perempuan nggak tau diri gitu?" tanya Oliv.
"Ya kan tadi emang gitu. Aku sampe nggak abis pikir mba bisa jadi perempuan kayak tadi. Sumpah ngeselin, Mba! aku tuh nggak suka kalo sampe ada pelakor di rumah tangga kakak." lanjutnya.
"Kan biar mba bisa lihat gimana ngambeknya kakak ipar yang kata kamu terbaik itu. Mba emang suka sama Kakak kamu, tapi mba nggak bodoh kayak perempuan-perempuan di sinetron yah! Kalo mba sampe kayak gitu, bisa-bisa sampe rumah mba digantung sama papa." meskipun hatinya masih pedih tapi Oliv berusaha realistis, menerima kenyataan yang ada.
"Tapi lucu juga liat kakak ipar kamu ngambek, ternyata memang kekanakan. Masa mba di kasih salep buat gatel-gatel? dimana-dimana istri tuh bakal nampar orang ketiga, eh malah di kasih salep." Olive mengeluarkan dua buah salep dengan tulisan dua angka delapan di tutupnya.
"Dia kira mba kutu air apa gimana?" sambungnya sambil tergelak.
"Masih untung nggak jadi dikasih kopi sianida kamu!" timpal Rama.
"Astaga parah istri kamu, Wan." Oliv kian tergelak.
"Hati-hati kamu jangan macem-macem, ntar bisa-bisa kamu yang di kasih kopi sianida."
"Kakak mana berani macem-macem, dia mah super setia." puji Alya.
"Aku do'ain mba dapat suami yang lebih-lebih dari kakak. Tuhan pasti ngasih mba lelaki yang baik pula, kan mba perempuan baik-baik."
"Aamiin... aamiin... makasih adik iparku yang nggak jadi." balas Oliv sambil tersenyum.
"Ma, aku pulang yah. Maafin sikap aku yang tadi." pamit Oliv.
"Eh nggak jadi nginep? katanya tadi mau nginep? kalo mau boleh kok. Bisa tidur bareng sama Alya nanti." ucap mama Yeni.
"Iya bisa tidur bareng aku, mba. Tapi kalo tengah malem suka kebangun terus susah tidur lagi, soalnya kamar sebelah suka berisik. Nggak tau ngapain tuh kakak sama Jesi kalo tengah malem maju ke subuh berisik banget."
"Mba mau pulang aja ah. Takut kena mental haha." balas Oliv.
"Tapi pengen dianterin ke depan sama Alya dan kamu." Oliv menunjuk Rama.
"Boleh, tapi aku panggil Jesi dulu yah." ucap Rama.
"Biar mama yang panggil Jesi, kalian ke depan aja duluan." ucap mama Yeni.
Ketiganya sudah berada di teras saat ini, taksi online pesanan Oliv juga sudah datang tapi Jesi masih belum menampakan batang hidungnya.
"Kayaknya Jesi ngambek deh, makanya lama nggak keluar-keluar. Gara-gara kamu sih pake ngarang cerita segala. Kasihan taksinya nunggu lama, mending pulang aja sana. Ntar aku sampein salam kamu buat Jesi deh." ujar Rama.
"Aku mau nungguin dia pokoknya!" balas Oliv.
"Nah tuh anaknya udah nongol sama mama." Ucap Oliv yang lebih dulu melihat kedatangan Jesi dan mama Yeni. Rama dan Alya seketika menengok ke arah Jesi.
"Biarin aku meluk kamu buat terakhir kali, anggap aja supaya impas. Aku kecewa karena kamu udah nikah dan kamu dapat balasannya dari istri bocahmu yang ngambekan itu. Aku jamin, abis ini dia bakal ngambek makin parah." Oliv segera mendekat dan memeluk Rama dengan erat, bibirnya tersenyum bahagia menatap Jesi yang mulai murka di belakang sana. Tak lupa lidahnya ia julurkan seperti Jesi yang mengejeknya sore tadi.
"Aku do'akan kalian bahagia selalu. Jangan lupa undang aku kalo resepsi. oke?" Oliv melepas pelukannya dan segera berlari menuju taksi online.
"Oli Gardaaaan!!!" teriak Jesi, kali ini dia benar-benar melemparkan sendalnya, tapi naas yang kena malah taksinya.
setelah taksi hampir keluar dari halaman, Oliv membuka kaca jendela dan menyembulkan kepalanya. Tersenyum ramah sambil melambaikan tangan pada Jesi.
"Makasih salepnya. Kalian bahagia selalu yah!" teriaknya.
.
.
.
hayo yang kemaren misuh-misuh sama mba Olivia mana... dia nggak seburuk yang kalian kira wkwkwkwk
jangan lupa tekan jempol, lope dan komentarnya yang banyaaak😘😘