
“Sayang, kamu duduk sini aja.” Rama meminta Jesi untuk duduk di salah satu sofa yang ada di pojok baby shop tempat mereka berada saat ini. Perutnya yang besar membuat Jesi mudah lelah dan terengah-engah meski hanya berjalan-jalan sebentar saja.
Jesi menurut dan duduk di sana. Rama mengambil air mineral dan memberikannya pada Jesi.
“Minum dulu.”
“Makasih, Karam.” Jesi tersenyum kemudian meneguk sedikit air mineral dari botol loveware berwarna pink kesukaannya.
“Lanjut lagi yuk!” ajaknya seraya berdiri.
“Kamu duduk aja yah. Kakak nggak tega liat kamu jalan kesana kemari, perut kamu udah besar.” Rama menarik pelan Jesi supaya duduk kembali.
“Disini aja sama dede bayi gemoy yah.” Rama mengelus perut istrinya yang sudah menginjak sembilan bulan jalan.
“Biar kakak yang pilih-pilih keperluan anak kita. Nanti kakak bawa kesini tinggal kamu sortir aja mau yang mana. Kayak waktu kita belanja baju hamil dulu.” Lanjutnya.
Jesi menggeleng sambil cemberut, “nggak mau. Kenapa sih nggak Karam, mama, ibu sama senin juga, semua pada ngelarang aku ngelakuin ini itu.”
“Bukan gitu sayang, kakak cuma nggak mau Jas Jus kesayangan kakak ini kecapean.”
“Tapi aku nggak cape, Karam. Aku seneng kok.” Balas Jesi.
“Yuk lanjut.” Lanjutnya.
Rama hanya menghela nafas dalam, Jas Jus kesayangannya memang tak terbantahkan. Entahlah sejak dulu dia selalu kalah jika Jesi sudah menampakan wajah cemberutnya. Sama hal nya seperti saat ini, sebenarnya urusan perlengkapan dan persiapan kelahiran anak mereka semua sudah lengkap. Bahkan sangat lengkap karena baik mertua mau pun mamanya keduanya sudah menyiapkan segalanya untuk calon cucu pertama mereka.
“Karam, ayo!”
“Hm iya sayang.” Rama beranjak mengikuti Jesi yang berjalan pelan. Dia menghampiri deretan baru bayi beraneka warna.
Jesi mengambil satu dan merentangkan baju itu di hadapannya, “kecil, lucu banget.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Lihat Karam, lucu kan?” Rama mengangguk mengiyakan.
“Yang ini apa yang ini yah, Karam?” Tanya Jesi sambil menunjuk dua baju yang sudah ia buka di hadapannya.
“Pink apa biru?”
“Kakak suka biru.” Jawab Rama seraya mengambil baju mungil itu, dia tersenyum. Belum apa-apa dia sudah membayangkan anaknya mengenakan baju itu.
“Tapi aku sukanya warna pink.” Balas Jesi.
“Warna pink aja yah?” kata Jesi meminta persetujuan.
Rama hanya mengelus sayang puncak kepala Jesi, ia tau kebiasaan istrinya yang selalu minta persetujuan tapi ujung-ujungnya yah keinginannya yang harus diikuti.
“Ya terserah mami Jas Jus aja.”
“Sip sip Karam.” Jesi mulai berajalan kesana kemari mengambil segala perlengkapan bayi berwarna pink sementara Rama mengikutinya dari belakang dengan sabar. Jujur sebenarnya dia tak tega melihat Jesi kesana kemari, ia takut istrinya kelelahan.
“Cape?” Tanya Rama.
Jesi menggeleng, “aku nggak cape, Karam. Kata dokter juga kan aku harus banyak jalan supaya lahiran nanti lancar.”
“Iya tapi nggak terus-terusan kesana kemari.” Balas Rama tapi Jesi tak ambil pusing, dia senang melakukan semuanya.
“Karam sama beli itu juga yah?” Jesi menunjuk bantal donat berwarna pink.
“Iya boleh sayang.” Rama mengambil bantal bulat yang terletak di atas dan memberikannya pada Jesi.
“Ada lagi yang mau dibeli nggak?” Tanya Rama.
Jesi melihat keranjang belanjaan mereka yang sudah menggunung berisi aneka barang.
“Kayaknya udah Karam.”
“Oke, biar kakak bayar dulu. Kamu duduk di sofa tunggu aja sana. Takut kecapean kalo kelamaan berdiri.”
“Tapi dede bayinya pengen deket papi terus.” Rengeknya dengan berpegangan pada lengan kiri Rama dan menyadarkan kepalanya di bahu.
“Ya udah ayo kita bayar bareng-bareng aja.” Jesi mengangguk setuju.
Setelah kasir memasukan belanjaaan mereka dan Rama hendak menyerahkan black card nya untuk membayar tiba-tiba Jesi menghentikannya.
“Kenapa?”
“Kita belinya serba warna pink Karam, ntar kalo dede bayinya cowok gimana? Masa dipakein baju warna pink?”
“Gimana kalo belanjaannya kita bongkar dulu Karam, kita ganti sebagian sama warna biru deh. Nggak mau kalo dede bayi gemoy nya cowok dipakein warna pink ntar jadi gemulai. Nggak mau, nggak mau.” Jesi sampe berulang kali menggelengkan kepala. Sampai saat ini soal jenis kelamin bayi mereka memang belum diketahui karena dede bayi gemoynya selalu nutupin kela min nya tiap USG.
“Bayar mba.” Rama menyerahkan black card nya.
“Karam ih!” rengek Jesi, dia menarik lengan baju Rama berulangkali.
“Asik kita milih-milih lagi nih? Gasskeun lah.” Ucap Jesi dengan riang, dia sudah bersiap berbalik dan mulai berbelanja lagi.
“No, Jas Jus! Kita pulang.” Rama menahannya sebelum pergi.
“Biar nanti petugas yang milihin. Sama persis kayak belanjaan yang kita bayar cuma jadi serba biru aja oke?”
“tapi kan…”
“Nggak ada tapi-tapian, nanti kakak bisa kena marah mama kalo kita pulang kemaleman.” Ucap Rama tak terbantahkan. Pasalnya dia sudah diwanti-wanti sebelum magrib sudah harus ada di rumah. Pamali katanya.
“Mba, minta tolong belanjaannya diantar ke rumah bisa kan? Sekalian siapin satu lagi yang persis seperti ini tapi serba biru. Nanti sisanya bayar di rumah, saat barang sampai.” Ucapnya pada kasir.
“Siap pak.”
“Terimakasih.” Ucap Rama kemudian membawa Jesi keluar dari baby shop.
“Aku masih pengen jalan-jalan Karam. Jangan pulang dulu lah yah?” rengek Jesi.
“Yah boleh yah papi?” lanjutnya dengan suara seimut mungkin layaknya anak kecil.
“Nggak boleh yah, sayang. Besok lagi yah? Besok papi nggak kerja kita jalan-jalan.” Bukan pada Jesi, Rama justru bercakap dengan perut buncit istrinya.
“Beneran yah Karam?”
“Iya sayang.”
“Berarti besok Karam bolos kerja dong?” Tanya Jesi dengan wajah ceria.
“Eh tapi kan Karam bos nya, suka-suka dong.” Lanjutnya.
Rama hanya tersenyum sambil mengelus gemas puncak kepala Jesi, kalo soal bolos kerja jangan ditanya lagi, setelah usia kandungan Jesi memasuki bulan ke Sembilan Rama sering kali hanya bekerja setengah hari dan buru-buru pulang, takut saat Jesi hendak melahirkan anak mereka dirinya tak ada.
“Iya besok kakak nemenin kamu dari pagi.”
Rama memarkirkan mobilnya di halaman tetap sebelum adzan magrib berkumandang. Belum sempat turun dari mobil Jesi sudah berdecak kesal melihat dua orang yang berjalan menghampirinya, siapa lagi kalo bukan Raka dan Alya.
Bukannya membuka pintu mobil bagian depan Raka justru membuka pintu belakang, “eh mana belanjaannya kok kosong? Padahal gue udah mau bantuin bawa nih.” Ucap Raka.
“Modus aja mau bantu bawain belanjaan. Paling juga ngapelin Alya.” Cibir Jesi yang baru keluar.
“Karak ngapelnya jangan tiap hari ngapa? Bosen aku liatnya.” Lanjut Jesi.
“Suka-suka gue dong, Aqua Galon.” Ledek Raka.
“Karak bilang apa?” Jesi melotot kesal.
“Aqua galon.” Balas Raka enteng.
“Kan sekarang lo udah nggak mungil lagi, aqua gelas udah berubah jadi aqua galon sekarang. Gendut!”
“Karak!” teriak Jesi. Dia sudah melepas sepatu untuk dilempar pada Raka tapi kali ini ia tak bisa melakukannya karena perut buncitnya menghalangi, untuk sekedar mengambil sepatu pun ia kesulitan.
“Balik gih, Ka. Lo bikin rusuh mulu tiap ketemu Jesi.” Ucap Rama sementara Raka hanya tersenyum.
“Udah sayang yuk masuk. Jangan dengerin Raka, dimata kakak kamu tetep paling cantik.” Rama merangkul istrinya.
“Tapi Karak ngatain aku gendut.” Protes Jesi tak terima. Meskipun pada kenyataannya tubuhnya saat ini memang lebih berisi.
“Nggak sayang. Kamu nggak gendut kok, cuma bohay seksi kakak suka.” Rama mencubit gemas kedua pipi caby Jesi.
“Yuk masuk jangan dengerin Raka. Dia cuma iri dede bayi gemoy kita udah mau launching eh dia masih ngurusin kaktus.”
“Si a lan lo Wan, malah ngejek gue.”
“Udah A jangan emosi. Aa tuh kebiasaan seneng banget ngejek Jesi eh ujung-ujungnya emosi sendiri.” Ucap Alya.
“Makanya Al buruan kita nikah!”
“Sabar atuh A, tinggal satu tahun lagi juga aku lulus.”
“Keburu karatan Aa, Al.”
.
.
.
Tenang Aa Raka, nanti aku bantu asah biar karatnya ilang😛😛