
Pagi ini Rama sudah rapi dengan setelan kerja yang biasanya duduk di meja makan untuk sarapan justru sedang berkutat dengan susu ibu hamil di belakang sana. Meskipun paginya tak secerah biasanya karena kurang tidur, dia tetap membuatkan susu untuk Jesi. Bagaimana calon papi itu tak kurang tidur kalo semalam si mami terus ngedumel soal BTS yang ia samakan dengan baso tahu siomay. Salahnya juga yang menelan mentah-mentah ucapan Raka. Niat hati ngebahagiain istri malah terbalik seratus persen, berubah jadi omelan tiada henti.
Rama sampai heran segitu gila istrinya menyukai tujuh pria yang menari tak jelas itu. Baginya yang sama sekali tak mengenal dunia kpop terlihat aneh, semacam kurang macho gitu. Tapi semalaman dia tak memprotes sedikit pun ucapan-ucapan Jesi. Bagaimana mau protes kalo yang marah-marah saja sambil lunglai karena berulang kali muntah. Kebiasaan baru untuk Rama, sebelum tidur jadi tukang mijit tekuk leher Jesi plus meluk dia setiap kali habis muntah.
Ketika kembali ke ruang makan sambil membawa segelas susu Rama mendapati istrinya sedang dikerumuni oleh mertua beserta neneknya.
Rama meletakan gelas yang ia bawa di depan Jesi.
"Minum dulu susunya, Jas Jus." Ucapnya.
"Ayah disini?" Lanjutnya berbasa basi kemudian menyalami kedua mertua berserta nenek Jesi.
"Kami langsung kesini setelah denger kabar dari mama kamu." Ucap Sari.
"Selamat yah. Kalian akan segera menjadi orang tua. Ibu bener-bener seneng banget dengernya." Lanjutnya.
"Terimakasih, bu." Ucap Rama.
"Jaga calon cucu kami baik-baik yah." Ucap Burhan.
"Pasti yah." Balas Rama.
"Harus banyak-banyakin sabar, biasanya bumil suka sensi, dikit-dikit marah, banyak mintanya juga. Kadang udah diturutin nggak kepake." Ayah mertuanya memberi petuah sebagai yang sudah lebih berpengalaman.
"Dulu ibu nya Jesi juga gitu, mintanya yang aneh-aneh yang susah dicari. Semoga putri ayah nggak neko-neko yah ngidamnya." Lanjutnya seraya mengelus kepala putrinya.
Jesi yang sedang meniup-niup susu vanila sebelum diminum jadi mendongak dan tersenyum mendengar dia jadi bahan obrolan pagi ini.
"Aku nggak neko-neko kok yah. Dede bayi nya baik banget nggak minta yang aneh-aneh." Ucapnya seraya mengelus perut.
"Iya kan, Karam?" Lanjutnya meminta dukungan dari calon papi.
"Hm iya, Yah. Dede bayi nya baik." Ucap Rama.
"Dede bayinya baik tapi mami nya yang nggak baik, ini itu segala salah mulu." Lanjutnya dalam hati.
"Syukur alhamdulillah jika seperti itu. Ini kalo neng Jesi nya rewel sama susah dibilangin di jewer aja nih." Ledek Burhan.
Pagi itu sarapan jadi lebih ramai karena keluarga Jesi yang datang berkunjung. Banyak nasihat dan pesan yang diberikan oleh kedua orang tua Jesi. Dari mulai menasehati supaya minum vitamin dengan teratur sampai mengurangi aktivitas agar tak kelelahan. Tak ketinggalan juga nenek Jesi dengan nasihat super jadul yang kadang sulit diterima oleh akal sehat.
"Nih ini dipake kalo keluar rumah." Perempuan tua itu mengaitkan peniti di baju Jesi.
"Emang ini apaan sih, Nin?" Jesi melihat ke benda yang baru saja di pasang ke bajunya.
"Ih kok ada bawang putihnya sih, nin? Biar apa sih?" Lanjutnya tak suka ada bumbu dapur nemplok di bajunya.
"Buat jaga-jaga. Udah dipake aja jangan rewel." Ucap si nenek tak terbantahkan.
"Jaga-jaga apa sih, nin? Bawang putih di peniti bisa apa coba? Aneh nin itu, masa..."
Belum selesai bibir beo nya nyerocos Rama sudah menyuapkan makanan padanya.
"Makan dulu yah, Jas Jus."
"Makasih nin udah perhatian sama calon anak kami." Ucap Rama. Meskipun tak tau manfaat dari bawang putih di peniti itu tapi Rama paham betul orang jadul emang suka punya keyakinan aneh-aneh. Masih percaya mitos, dari pada ribut mending di iyain aja. Beres.
Selesai sarapan Jesi dan Alya langsung berangkat ke kampus diantar oleh Rama. Calon papi itu sudah berkomitmen tidak akan membiarkan istrinya naik angkot lagi.
"Kuliah sampe jam berapa hari ini?"
"Jam dua, Karam."
"Nanti kalo nggak sibuk kakak jemput."
"Aku sama Alya naik angkot atau taksi aja deh, Karam. Ntar pulangnya aku langsung ke kantor yah biar kita pulang bareng." Ucap Jesi seraya memeluk suaminya. Di kursi belakang Alya hanya membuang pandangannya ke arah lain.
"Nggak boleh. Inget ada baby kita disini." Rama mengelus perut Jesi.
"Kakak nggak mau kalian kenapa-napa. Nanti kalo kakak nggak bisa jemput, ada supir mama yang jemput." Lanjutnya seraya mengecup kening Jesi.
"Sana belajar yang bener. Anak papi baik-baik yang di dalem, jangan rewel."
"Siap, pi." Balas Jesi.
"Al, kakak titip Jesi yah." Pesannya pada Alya sebelum pergi.
"Nggak perlu diminta pun aku pasti jagain kakak ipar sama calon ponakan aku, kak." Ucap Alya seraya menyalami kakaknya kemudian berlalu menyusul Jesi yang sudah keluar lebih dulu.
"Nggak usah cepet-cepet Jes jalannya, kita belum telat kok. Inget ada keponakan aku di perut kamu."
"Iya iya, gue jalan biasa aja kok. Cerewet banget sih bibi ale-ale."
"Kok bibi sih, Jes? Ante dong."
Suasana kampus cukup ramai pagi itu, jarak fakultasnya yang lumayan jauh dari pintu utama membuat Alya dan Jesi berjalan pelan sambil menikmati udara pagi yang cukup sejuk.
"Cape nggak, Jes?"
"Nggak lah biasa aja. Kenapa sih semua orang jadi pada bawel? Padahal gue nggak apa-apa loh, biasa aja." Ucap Jesi.
"Ya walaupun kalo malem gue muntah-muntah mulu sih. Tapi asli kalo pagi sampe sore tuh gue nggak ada masalah. Dede bayinya baik banget, dia cuma rewel kalo ada Karam. Bawaannya pengen muntah, pengen di sayang-sayang, suka mendadak pengen ini itu juga. Efek dulu Karam galak banget sama gue kali yah? Jadi dede bayi nya balas dendam hahaha..." Lanjutnya tak masuk akal sambil mengelus perut.
"Ya karena kita semua tuh sayang banget sama kamu, Jes. Sama calon anak kamu juga." jawab Alya.
"Aku tuh udah nggak sabar ih pengen buru-buru sembilan bulan, biar ponakan aku lahir. Penasaran kira-kira anak kamu tuh bakalan mirip kamu apa mirip kakak?" Alya tertawa, baru membayangkan saja sudah semenyenangkan ini.
Baru setengah jalan mereka lalui tiba-tiba Raya yang entah datang dari mana menarik rambut panjang Jesi dari belakang.
"Gila!! Lo apa-apa sih, Ray? Lepasin sakit tau!" Jesi segera berbalik dan menjauhkan tangan mantan sahabat baiknya itu.
Karena Raya yang tak juga melepas rambut Jesi akhirnya Alya ikut membantu melerai keduanya.
"Lepasin Ray, kalo ada masalah ngomong baik-baik. Nggak usah kayak gini."
"Diem lo! Nggak usah ikut campur dasar so alim!" Sentaknya pada Alya, membuat mahasiswa yang sedang berlalu lalang jadi berhenti dan menonton pertengkaran mereka.
"Lepasin! Lo bener-bener udah nggak waras yah." Sentak Jesi tak kalah keras.
"Gue peringatin lo yah, Jes." Raya menunjuk Jesi dengan tatapan yang berapi-api.
"Nggak usah kegatelan ganggu kak Zidan! Gara-gara lo, dia jadi mutusin gue."
"Oh jadi lo berdua udah putus? Alhamdulillah deh." Cibir Jesi.
"Gimana rasanya diputusin? Enak?" Lanjutnya.
"Selamat menikmati deh. Gue kira kalo tukang selingkuh ketemu sama pengkhianat bakalan jadi pasangan yang langgeng karena sama-sama orang jahat. Eh nggak taunya karma masih berlaku yah."
"Jesi!! Lo bener-bener yah!" Geram Raya ia kembali menghampiri Jesi dan menjambak rambutnya, hingga akhirnya keduanya saling jambak dan menjadi tontonan.
"Kalian apa-apaan? lepas! berhenti Raya!" teriak Zidan yang buru-buru menghampiri mereka setelah melihat postingan vidio temannya di media sosial beberapa menit lalu.
"Sayang kamu nggak apa-apa kan?" tanyanya pada Jesi setelah berhasil memisahkan keduanya, Zidan merapikan rambut Jesi yang acak-acakan. Terus memaksa meski Jesi berulang kali menepis tangannya, hingga akhirnya Jesi memilih menjauh dan berdiri di samping Alya.
"Nggak usah so akrab. Kita nggak ada hubungan apa-apa." tegas Jesi.
"Lo lihat sendiri kan, Ray? bukan gue yang kegatelan tapi emang dasar cowok lo aja yang kebangetan!" ucapnya pada Raya yang tetap memandang sinis padanya.
"Kalian berdua cocok. Yang satu tukang selingkuh yang satunya pengkhianat. Gue bersyukur banget putus dari kak Zidan dan kehilangan sahabat kayak lo, Ray. Nggak rugi sama sekali." lanjutnya.
"Ayo Al, kita ke kelas."
Zidan sama sekali tak bergeming melihat Jesi yang berjalan kian menjauh sementara Raya masih terpaku di tempatnya. Ia baru sadar jika gadis yang diputuskan beberapa bulan yang lalu itu berbeda dari yang lain. Meski Raya bisa melayaninya berulang kali tapi rasanya tetap saja berbeda dengan perhatian dan sikap manja Jesi padanya dulu. Menggemaskan.
"Kak Zidan, gue nggak mau kita putus." ucap Raya lirih.
"Keputusan gue nggak bisa diganggu gugat, Ray. Kita udah end." balas Zidan.
"Gue hamil, kak!" ucap Raya lirih.
"Anak lo." lanjutnya seraya menarik tangan Zidan dan meletakkannya di perut.
Zidan langsung menarik tangannya dari perut Raya.
"Lo jangan ngarang , Ray. Gue tau lo selalu minum pil KB. Nggak mungkin hamil."
"Waku itu gue lupa nggak minum kak. Ini beneran anak lo, gue minta lo tanggung jawab"
"Mana buktinya itu anak gue? lagian gue nggak yakin lo cuma ngelakuin itu sama gue." elak Zidan.
"Kalo pun iya itu anak gue, gugurin! Gue nggak mau tanggungjawab, apalagi nikah. Usia gue masih muda, masih banyak yang pengen gue capai."
.
.
.
segitu aja dulu, kepalaku nyut-nyutan seharian bergelut dengan angka.
jangan lupa tinggalkan jejaknya.
tampol jempol, lope sama komennya!!!