
"Demi apa coba gue ngelakuin ini semua?" Meskipun bersama Alya tapi lelaki itu tetap menggerutu. Ia begitu kesal karena begitu tiba di sekolah dasar tempat Jesi membeli cilor ternyata sudah habis. Bahkan pesanan calon kakak ipar menyebalkannya itu sudah diberikan pada orang lain karena tak diambil. Raka jadi terpaksa mengikuti kang cilor itu kembali ke kontrakannya. Tak tanggung-tanggung dia akan membawakan kang cilor beserta gerobaknya sekalian ke rumah Rama.
"Yang sabar dong A. Ini juga kan demi keponakan kita." Ucap Alya.
Rasa kesal Raka serasa hilang seketika mendengar ucapan Alya. Anyes gitu ke hati. Demi keponakan kita, udah kayak yang fix gitu aku dan kamu bakalan berjodoh.
"Aa mau minum dulu? Pasti cape kan dari tadi kita jalan ngikutin kang cilor sampe sini." Alya benar-benar terenyuh melihat sahabat kakak sekaligus pacarnya begitu baik, mau bela-belain nurutin kemauan Jesi meskipun sambil menggerutu. Terlihat jelas keringat bercucuran membasahi wajah Raka, mereka cukup jauh berjalan menelusuri gang sempit. Alya mengambil botol minumnya yang tinggal berisi setengah dan menyodorkannya pada Raka.
Raka menerima botol pemberian Alya, dia tersenyum memegang botol hasil desain nya sendiri.
"Tau nggak ini yang bikin desain nya siapa?"
"Perusahaan kakak lah." Jawab Alya.
"A Raka tau yang bikin desainnya."
"Oh yah? Aku mau dong dibikinin desain edisi spesial A." Ucap Alya.
"Boleh, tapi kita nikah dulu." Jawab Raka sekenanya.
"Hm..." Alya hanya bergumam pelan.
"Canda nikah..." Seloroh Raka berusaha memecah kecanggungan. Jelas terlihat ekspresi wajah Alya yang langsung berubah saat dia mengucapkan kata nikah.
"Kalo kamu maunya nanti setelah lulus kuliah, Aa bakal tetep nungguin kok." Sambungnya, ia ingat betul kata-kata Rama sebelumnya. Kalo mau nikah nanti, tunggu lulus kuliah.
"Nih kamu aja yang minum." Raka mengembalikan botol itu namun langsung ditepis oleh Alya.
"Buat Aa aja. Aa kelihatan cape banget, pasti nggak biasa yah jalan jauh? Kalo aku mah nggak apa-apa A, udah biasa jalan jauh." Ucap Alya.
"Iya. Cape banget gila anak si aqua gelas belum apa-apa udah nyiksa." Ujar Rama sambil tergelak, ia kemudian membuka botol dan menandaskan isinya.
"Abisin lah air sisa minum my baby Alya, biar makin jodoh." Batin Raka.
Cukup lama mereka duduk di depan kontrakan kang cilor, menunggu pedangan itu membereskan pesanan mereka.
"Udah beres semua ini kang?" Tanya Raka begitu kang cilor keluar dan mengisi kembali gerobaknya.
"Udah A. Tapi beneran ini diborong habis yah? Soalnya kalo nggak abis bakal rugi. Saya nggak biasa jualan malam-malam. Takutnya kayak neng yang tadi, pesen doang tapi nggak diambil. Belum dibayar pula, untung ada yang mau adopsi."
"Tenang aja kang. Pasti abis, saya borong semua. Abis nggak abis saya bayar full. Maaf yah saya maksa akang bikin lagi jam segini soalnya calon kakak ipar saya lagi ngidam parah pengen cilor. Kalo nggak diturutin saya bisa dipecat jadi calon adik ipar." Jelas Rama.
"Saya pesenin mobil pick up yah, soalnya rumahnya jauh." Sambungnya.
Selesai memastikan kang cilor beserta gerobaknya naik pick up, Raka dan Alya segera menaiki taksi online yang mereka pesan.
"Si aqua gelas pasti seneng banget nih gue bawain cilor segerobak." Ucap Raka.
"Pasti, A." Balas Alya.
Tiba di rumah, Raka membantu kang cilor menurunkan gerobaknya. Bocah-bocah yang sedang berjalan di depan rumah jadi berkerumun di rumah Rama. Jadilah kang cilor pesanannya banjir orderan dari bocil.
Karena keadaan di depan rumah yang ramai membuat mama Yeni yang sedang menyiapkan makan malam jadi keluar. Halaman rumahnya penuh oleh anak-anak yang mengitari kang cilor.
"Al, tumben ada tukang jajan keliling komplek jam segini? Biasanya nggak ada?" Tanyanya pada Alya.
"Eh kamu sama Raka. Jesi mana?" Lanjutnya.
"Loh emang Jesi belum sampe, Ma?" Alya justru balik tanya. Dia mencari mobil kakaknya dan benar saja mobil hitam itu tak terlihat di halaman rumahnya.
"Mungkin si baby minta yang aneh-aneh lagi, Al." Jawab Raka.
"Baby siapa? Temen kamu, Ka?" Tanya mama Yeni.
"Bukan, Ma." Balas Raka. Dia memang seakrab itu memanggil mama pada ibu sahabatnya, bahkan sejak dulu sebelum pacaran dengan Alya.
"Siapa lagi aqua gelas? Kamu pengen minum? Masuk gih mama buatin minum." Ucap mama Yeni.
"Bukan bukan gitu, Ma." Potong Alya.
"Aa tuh kalo ngomong sama mama yang bener dong. Mama mana tau kalo Jesi itu aqua gelas. Mama taunya Jesi yah Jas Jus." Gumamnya pada Raka.
"Maksud A Raka tuh baby calon anaknya Jesi, Ma. Kita bakalan punya kak Ramadhan junior, Ma. Jesi hamil, mama mau jadi nenek bentar lagi." Jelasnya kemudian.
"Beneran sayang?"
"Bener, Ma. Tadi aku abis dari rumah sakit. Makanya kita bawa kang cilor sama gerobaknya kesini. Jesi pengen banget makan itu dari kemarin. Kasihan mana dimarahin mulu sama kakak, nggak dibolehin. Nggak taunya bawaan baby. Kan kasihan kalo calon ponakan aku ileran."
"Ya allah alhamdulillah. Mama seneng banget Al dengernya." Ucap mama Yeni.
"Nah itu kakak kamu pulang." Mama Yeni langsung berjalan menghampiri mobil putranya yang baru saja berhenti.
Mama Yeni langsung memeluk Jesi yang baru saja keluar dan berdiri di samping mobil. Dia memandang ke arah kang cilor yang sibuk melayani bocil-bocil.
"Neng Jesi sayang, selamat yah. Mama seneng banget mau punya cucu." Mama Yeni langsung memeluk Jesi dengan sayang.
"Mama udah tau?"
"Iya sayang. Alya yang ngasih tau. Tuh Raka sama Alya sampe ngajak kang cilor kesini. Katanya kamu pengen banget. Mama pesenin yah?
"Noh udah gue bawain sama gerobaknya. Lo abisin gih biar calon ponakan gue nggak ileran." Ucap Raka yang baru saja menghampirinya.
"Iya, Jes. Kita sampe ngikutin abangnya ke kontrakan loh." Sambung Alya yang setia berdiri di samping Raka.
"Gue udah nggak pengen." Balas Jesi enteng tanpa dosa.
"What? Apa lo kata aqua gelas? Nggak pengen? Setelah gue susah-susah jalan jauh ngintilin kang cilor ke kontrakan, nungguin dia bikin, bawa dia kesini dan sekarang lo bilang nggak pengen?" Protes Raka. Dia jadi gregetan pengen nampol bibir Jesi yang dengan entengnya tanpa dosa berucap nggak pengen.
"Ya kan emang udah nggak pengen, Karak. Buat Karak sama Alya aja tuh, bareng-bareng sama bocil juga."
"Terus sekarang putri mama ini pengen apa? Biar mama bikinin apa pun yang neng Jesi mau." Ucap Mama Yeni.
"Nasi goreng jadul buatan mama. Yang dulu pernah dibawa Alya ke kosan, nggak pake kecap Ma. Kayaknya enak." Balas Jesi. Mengucapkannya saja sudah membuat Jesi menelan ludah membayangkan nasi goreng itu meleleh di mulutnya.
"Siap, sayang. Yuk masuk mama bikinin sekarang." Mama Yeni merangkul Jesi dan membawanya masuk.
Raka sudah geram mengepalkan tangannya sambil meninju udara, greget sekali dengan kelakuan Jesi.
"Heu Wan... Bini lo ya ampun. Bikin gue emosi jiwa raga dah!" Gerutunya.
"Sia-sia gue berjuang bawa kang cilor sampe kesini. Nggak kepake!"
Rama hanya menghela nafas panjang sambil menepuk bahu sahabatnya berulang kali.
"Sorry, Ka. Yang sabar yah. Lo baru segini doang, Ka. Gue tadi udah muter-muter nyari cilor setengah mam pus eh pas udah dapat dia bilang udahan, nggak enak."
"Dia malah minta nonton konser BTS. Lo tau BTS nggak, Ka?" Tanyanya kemudian.
"Mana gue tau, Wan. BTS, Baso Tahu Siomay kali!" Jawab Raka sekenanya.
"Besok lo bawa kang baso, kang tahu sama kang siomay ke sini, suruh konser depan rumah biar anak lo nggak ileran!" imbuhnya.
bonus foto Karam yang langsung chat kang Baso Tahu Siomay suruh konser besok xixixixi
jangan lupa tampol jempol, lope sama komennya!!!