
Jesi tersenyum haru melihat Rama yang sedang mengadzani putri pertama mereka. Bayi mungil dengan berat tiga koma dua kilo gram dan Panjang lima puluh satu centimeter itu terlihat nyaman dalam gendongan Rama yang masih kaku. Bahkan papi baru itu masih sangat-sangat berhati-hati dalam setiap pergerakannya takut kalo sampe membuat putri kecilnya terluka.
“Karam, aku mau lihat si gemoy.” Ucap Jesi lirih.
Rama langsung mendekatkan diri ke ranjang Jesi.
“Dok, tolong. Saya masih takut.”
Dokter dengan sigap mengambil bayi mungil itu dari tangan Rama, “nanti lama-lama pasti biasa kok pak. Nggak perlu terlalu takut yang penting pegangnya di bawah leher sama sininya.” Dokter menunjukan cara membopong bayi yang benar kemudian meletakan bayi mungil itu di samping Jesi.
“Sayang, ini mami.” Ucap Jesi sambil mengelus wajah putrinya.
“Ya ampun kamu gemoy banget sih.” Lanjutnya.
“Kayak mami nya.” Sambung Rama, ia mengecup sayang pipi bulat putrinya.
“Karam, lihat! Dia bangun…” Jesi tersenyum riang melihat putrinya membuka mata. Rasa sakitnya benar-benar hilang seutuhnya.
“Matanya mirip kamu sayang.” Ucap Rama setelah membandingkan wajah putri dan istrinya.
“Bahkan semua wajahnya mirip kamu.”
“Tega banget sih cuma bibir doang yang mirip kakak.”
“Kan anak mami yah sayang…”
“Padahal kan kakak yang bikin.” Timpal Rama.
“Tapi kan aku yang sering di atas.”
Sst!
Rama meletakan telunjuknya di bibir Jesi. Bisa-bisanya istrinya itu masih asal ceplos di depan dokter.
“Ya maaf…” ucap Jesi sambil tersenyum tanpa beban.
“Saya tinggal dulu yah.” Pamit bu dokter.
“Nanti malam akan saya periksa lagi dan kemungkinan besok pagi sudah boleh pulang.” Lanjutnya.
“Baik, dok. Terimakasih.” Ucap Rama yang dibalas senyum ramah oleh dokter.
Keduanya kembali memandangi bayi mungil di samping Jesi sebelum akhirnya seluruh anggota keluarga masuk dan berebutan menggendong cucu pertama mereka. Rama dan Jesi hanya saling pandang sambil tersenyum melihat kedua orang tua mereka begitu bahagia menimang si gemoy yang baru lahir lima belas menit yang lalu.
Alya menghampiri Jesi dan memeluknya, “Jesi selamatnya yah sekarang udah jadi mami beneran. Anak kamu lucu banget, gemesin, cantik kayak mami nya.”
“Makasih, Ante Alya.” Balas Jesi dengan suara dibuat seperti anak kecil.
Kini giliran sang ayah yang menghampirinya, “putri manja ayah udah jadi mami sekarang. Selamat yah sayang.”
“Makasih ayah.” Balas Jesi.
“Tapi aku masih boleh manja kan sama ayah? Kan aku putri ayah.”
“Dasar. Manja sama suami kamu aja sana. Kalo manja sama ayah ntar suami kamu cemburu.” Kilah Burhan.
Kini ia beralih menepuk bahu menantunya.
“Selamat yah.”
“Makasih ayah.”
“Lihat mama sama ibu kalian… Ayah sampe belum diizinin ngegendong nih.” Ucap Burhan seraya menunjuk istri dan besannya yang sedang menimang cucu pertama.
“Ayah mau ngopi dulu lah. Kamu mau ikut?” ajaknya pada Rama.
“Aku disini aja, Yah.”
“Ya sudah. Ayah keluar dulu.” Ucap Burhan kemudian berlalu.
“Eh sepertinya cucu nenek haus yah? Mau ne nen?” Ibu Sari dan Mama Yeni sampe sedikit tertawa menyebut diri mereka nenek. Rasanya baru kemaren anak-anaknya menikah dan Jesi masih manja eh sekarang udah punya anak aja.
“Mami, dede mau ne nen nih.” Ibu Sari menghampiri putrinya.
Jesi tersenyum kikuk, saat ibunya menyodorkan anaknya dia malah jadi bingung.
“gimana caranya, bu? Aku… aku belum bisa.” Ucapnya terbata.
“Sini biar ibu ajarin.” Mama Yeni mulai menaikan tempat tidur Jesi supaya menantunya bisa menyusui dengan nyaman.
“Kakak juga perhatiin, nanti di rumah kakak yang harus siap siaga kalo dede bayi nya minta ne nen. Bantuin Jesi.” Lanjutnya seraya melirik Rama.
“Siap, Ma.”
“Aku juga ikut belajar, Ma. Biar besok kalo punya anak udah bisa.” Sambung Alya yang ikut merapat ke dekat ranjang Jesi.
“Uhhh mama kaktus ikut-ikutan aja.” Ledek Jesi.
Mama Yeni sudah memastikan Jesi berada di posisi yang nyaman kemudian selanjutnya Ibu Sari memberikan cucu pertamanya pada Jesi.
“Gini… gini sayang.” Mama Yeni membantu Jesi menerima bayinya. Mama Yeni tersenyum melihat Jesi yang masih terlihat bingung mengendong putrinya.
“Nah iya gitu. Lehernya di pegang seperti itu.” Jesi mengangguk paham. Beberapa detik kemudian ia mulai menggigit bibirnya menahan sakit.
“Sakit?” tebak ibu Sari. Jesi mengangguk.
“Nanti lama-lama juga nggak sayang.” Ibu Sari sampai beberapa kali membantu cucunya untuk kembali menggapai ASI. Karena beberapa kali bayi mungil itu terlihat kesulitan menggapai sumber kehidupannya.
“Nanti lama-lama bisa sendiri.” Lanjutnya.
“Iya, bu.” Jawab Jesi.
Hingga malam didampingi mama dan mertuanya, Rama membantu Jesi setiap kali putrinya menangis dan minta ne nen. Dia sampai gemas sekali melihat putri kecilnya menguasai sumber kehidupan yang pernah menjadi miliknya sebelum kini berakhir dibibir mungil yang terus menyedot dengan semangat. Dan sialnya dia jadi menelan ludah melihat bukit kembar yang kian menggoda.
“Kakak nyari makan dulu yah. Kamu mau nitip sesuatu?” tawar Rama, Jesi hanya menggeleng tanpa mengalihkan perhatian dari putri kecilnya.
“Ya udah, kakak keluar dulu.” Pamit Rama, Jesi mengangguk setuju.
“Tidak usah, Nak. Ibu sama ayah mau pulang soalnya enin di rumah sendirian. Besok pagi ibu ke rumah kamu.” Jawab Sari.
“Kakak nggak usah keluar, tunggu di sini aja. A Raka sama mba Naura lagi otw kesini. Udah beli makan malam juga.” Alya mencegah.
Belum sempat Rama menjawab pintu kamar sudah terbuka. Raka dan Naura masuk dengan membawa barang seabreg-abreg.
“Wih… papi Karam." seru Raka.
"selamat yah.” Raka menjabat tangan Rama dan menepuk bahunya.
“Selamat yah, Wan.” Sambung Naura.
“Nah karena sekarang udah rame, ayah sama ibu pulang dulu yah.” Pamit Sari yang kemudian menghampiri Jesi.
“Hati-hati ayah, ibu.” Ucap Rama saat kedua mertuanya hendak meninggalkan ruangan.
“Btw mana ponakan gue, Wan. Pengen liat nih gue.” Ucap Raka tak sabar mencoba mengintip ke arah Jesi sementara Naura sudah pergi lebih dulu menghampiri Jesi.
“Jangan liat-liat! Ntar aja. Anak gue lagi ne nen. Ntar lo pengen lagi.” Ledeknya seraya menggiring Raka untuk duduk.
“Si a lan, lo!” balasnya. Raka langsung menutup mulutnya saat sadar ia mengumpat di depan calon istri dan mertuanya.
“Keceplosan Aa, Al.” lanjutnya seraya tersenyum gugup dan menyalami calon mertuanya.
“Dasar ih Aa mah!” balas Alya.
“Titipan aku mana?” sambungnya.
Raka menunjuk paper bag yang ia bawa tadi.
“Bentar-bentar tadi dimana yah?” Raka melihat satu persatu barang bawaannya.
“Nah ini nih pecel ayam depan kantor. Aa beli banyak. Kita makan dulu.”
Raka bersama Alya, Rama dan mamanya menikmati makan malam sementara Jesi sibuk mengobrol bersama Naura. Selesai makan Raka kembali melihat ke arah Jesi.
“Udah belum ne nen nya? Gue pengen liat ponakan nih.” Serunya.
“Udah. Sini aja, Ka.” Naura yang menjawab.
“Nggak sabar gue mau ketemu ponakan nih.” Raka bangkit dari duduknya diikuti Rama dan Alya.
“Cewek cowok, Wan?” tanyanya.
“Cewek yah?” tebaknya begitu melihat bayi mungil di dekapan Jesi.
“Iya, aku cewek nih Om Karak.” Jesi menjawabnya dengan gaya bicara anak kecil.
“Elah, Jes. Ngajarin manggil yang bener kek sama bocah. Om Raka gitu.” Raka menjewel pipi bulat putri sahabatnya.
“Bener-bener aqua gelas mini, Wan. Lo kebagian bibirnya doang.” Seloroh Raka.
"Ish ngeselin. Masa si gemoy jadi aqua gelas mini." Jesi mencebikkan bibirnya kesal.
"Lah kan belum ada namanya. Gue mesti panggil apa coba?"
"Kara. Panggil putriku Kara." sela Rama.
"Lengkara Ayudia Darmawan. Nggak apa-apa kan kalo kakak yang ngasih nama?" tanyanya pada Jesi.
"Nggak apa-apa dong, kan Karam papinya. hei Kara anak mami..." Jesi tersenyum senang.
"Hei Kara putri papi." sambung Rama.
"Kamu itu kemustahilan yang jadi nyata. Masih inget nggak dulu kakak pernah bilang kalo jatuh cinta sama kamu itu impossible?" tanya Rama dan Jesi mengangguk.
"Nyatanya sekarang ada Kara diantara kita. Kakak harap kedepannya putri kita selalu bisa mengubah segala sesuatu yang sulit baginya menjadi mudah. Sesuatu yang mustahil bisa menjadi nyata, seperti namanya Lengkara Ayudia." terang Rama.
"hm keren Karam. Aku suka aku suka." jawab Jesi.
"Tadi aku kira Lengkara itu Leng dari lengkap, Ka dari Jesika dan Ra dari Ramadhan. Jadi Artinya pelengkap Jesika dan Ramadhan." lanjutnya.
"Ya anggap begitu juga boleh sayang." Ujar Rama.
"Hei Kara sayang..." Rama mengajak bicara bayi mungil dalam dekapan Jesi.
Jesi mencebikkan bibirnya saat tak sengaja melihat Raka yang komat-kamit tanpa suara.
"Karak kenapa? jangan bilang lagi baca mantra!"
"Beuh... enak aja! Gue cuma lagi mikir kenapa lo berdua ribet banget muter-muter ngartiin nama buat si aqua gelas mini kalo jatuhnya jadi santen sachetan." Raka tertawa mengucapkannya.
"Hei Kara! santen sachetan yang harganya tiga ribuan." ledeknya.
Jesi langsung melotot kesal mendengar putrinya yang belum genap dua puluh empat jam launching diberi panggilan aneh oleh Raka.
"Karak!" teriak Jesi. Bahkan Kara di dalam dekapannya pun langsung menangis, entah karena kaget mendengar teriakan mami nya atau karena tak terima disebut santan sachet yang harganya hanya tiga ribuan.
"cup cup cup sayang... Om kamu memang gila." lanjutnya seraya menimang putrinya.
"Ish jangan sentuh Kara ah, Karak nyebelin!" Jesi menepis tangan Raka yang hendak menyentuh wajah putrinya. Pria yang mendaulatkan diri sebagai paman Kara itu beralih mengelus kepala Kara.
"Hei Kara, santan sachetan... Om harap kedepannya kamu bisa menggurihkan setiap kehidupan yang kadang asam, pedas, manis bahkan pahit menjadi enak untuk dinikmati."
.
.
.
Harapan aku cuma satu...
Hai Lengkara semoga kelak dewasa kamu nggak kayak mami Jas Jus😛 kasian ntar papi pusing.