Possessive Leader

Possessive Leader
No Respect



Begitu masuk kamar Rama langsung menutup pintu dan menguncinya. Dipeluknya Jesi yang sedang meletakan tas yang ia kenakan ke meja kerja.


"Jangan cemberut kayak gitu!" dikecupnya pipi Jesi dari samping.


"Sebel lah! ngapain juga itu si oli beneran ke rumah. Pake ngedrama juga! nggak tau malu banget sih"


Rama berpindah berdiri di depan Jesi, diusapnya kedua pipi istrinya dengan sayang kemudian sedikit membungkuk untuk mengecup bibir mungil yang sedang cemberut itu.


"Biarin aja. Nggak usah dianggap!" ucapnya kemudian kembali mengecup bibir Jesi lebih lama. Ditariknya tangan Jesi supaya melingkar di pinggangnya. Kecupan-kecupan singkat itu berubah menjadi lu ma tan dalam yang kian menuntut.


"Karam ih..." Jesi tersipu malu saat Rama mengangkatnya dan mendudukkannya di meja.


"Masa aku duduk di meja ih!"


"Biar sama tingginya." balas Rama singkat kemudian melanjutkan aksi meneguk kesegaran Jas Jus di sore hari menjelang petang.


"Wah udah pinter yang sekarang neng Jas Jus." puji Rama. Dibanding saat ciuman pertama mereka dulu, kini Jesi makin mahir. tak sekaku dan pasif seperti dulu. Sekarang dia sudah mulai bisa membalas ciumannya.


"Ih Karam mah gitu..."


"Kenapa? kakak suka kok. lagi coba lagi!" Rama mendekatkan bibirnya.


"Nggak mau!"


"Kenapa katanya tadi mau di sayang-sayang?" ledek Rama, dia suka melihat wajah kelabakan Jesi.


"Nggak mau ah. Ntar kalo pengen gimana? Karam kan tangannya nakal banget, cium pake bibir aja. tangan pake gre pe gre pe!" Jesi mengancingkan tiga kancing teratas kemejanya yang terbuka akibat ulah Rama.


"Aku jadi merinding nih." sambungnya.


"Merinding-merinding enak yah." ledek Rama. Tangannya dengan sengaja me re mas lembut da da Jesi hingga dia melotot kesal.


"Karam ih!" protesnya.


"Apa-apa? nggak usah teriak-teriak kakak nggak budeg." bukannya berhenti Rama justru menyentuh yang satunya lagi, melakukan hal yang sama.


"Biar nggak iri yang satunya."


"Modus aja terus!" Jesi turun dari meja dan beranjak keluar, aksi sayang-sayang sore hari membuatnya haus. padahal baru kolaborasi kecup kecup dan gre pe gre pe diiringi re ma san dikit.


"Aku mau minum, Karam mau nggak?" tawarnya sebelum menutup pintu.


"Mau."


"Oke, mau jus atau air putih aja? apa kopi?" tawar Jesi.


"Mau susu murni yang langsung dari sumbernya!" jawab Rama yang diiringi gelak tawa.


"Dasar mesum!" Jesi langsung pergi begitu saja.


Begitu melewati ruang tamu dia melihat Alya yang sepertinya sedang ceramah ala mamah Dedeh. Terdengar dia menyebut-nyebut takdir. Setelah minum ia kembali melewati ruang tamu dengan membawa segelas air putih untuk Rama.


"Kesempatan untuk jadi kakak ipar kamu lah."


Seketika Jesi berhenti dan menggerutu dengan keras, setelah puas ia segera kembali ke atas dan meletakan gelas yang ia bawa dengan kasar, hingga air di dalamnya sedikit tumpah.


"Kenapa lagi sih sayangnya kakak ini hm?" tanya Rama.


"Ya udah yuk kamu mau apa? boba? katanya suka boba, yuk beli!"


Jesi berjalan dengan mengandeng lengan Rama, melewati Oliv yang masih mode curhat ria dengan Alya.


"Ish ngatain aku kekanakan!" kesal Jesi. dilemparkannya dua salep gatal yang ia beli tadi.


"Ish bener-bener deh! kegatelan, ngeselin! olesin tuh yang rata biar cepet sembuh gatelnya!" cibirnya.


"Udah-udah ayo keluar... katanya tadi pengen yang dingin-dingin!" Rama segera menarik Jesi keluar sebelum istrinya main cakar-cakaran dengan Oliv.


"Oliv, Kamu kalo udah nggak ada kepentingan lebih baik pulang!" ucap Rama sebelum pergi.


"Aku mau nginep di sini aja!"


Ucapan Olivia seketika membuat Rama yang sudah menarik Jesi untuk keluar segera berhenti.


"Sayang-sayang udah." Rama menahan Jesi yang sudah melepas sendalnya dan hendak di lemparkan pada Oliv.


"Pake-pake sendalnya. Sini kakak pakein!" Rama mengambil sendal dari tangan Jesi dan memakaikannya.


"Udah jangan dilayani! yuk jajan aja!"


"Tapi dia ngeselin, Karam. Bikin malu kaum hawa aja mba tuh!" cibir Jesi.


"Udah biarin aja. Yang waras ngalah." Rama akhirnya membawa paksa Jesi keluar.


"Awas aja kalo nanti aku pulang mba masih ada! Aku bikinin kopi sianida!" teriak Jesi.


Mendengar kata-kata Jesi justru membuat Oliv kian tergelak, dia bahkan sampai memegangi perutnya.


"Sadis banget kakak ipar kamu, Al."


"Aku bener-bener jadi ilfeel sama mba Oliv. Bener kata Jesi, mba udah bikin kaum hawa di belahan bumi ini malu. Kenapa sih mba Oliv mesti kayak gitu? aku jadi nggak respect lah!" ucap Alya yang kemudian berlalu ke kamarnya.


Tak hanya Alya, mama Yeni pun ikut berlalu ke belakang.


"Ma..." panggil Oliv.


Mama Yeni hanya berbalik sebentar seraya tersenyum, "mama nggak pernah ngusir tamu, Oliv. Tapi kali ini mama bener-bener minta maaf, kalo kamu udah nggak ada perlu lagi silahkan pulang. Saya tidak bisa menganggap kamu seperti putri saya sendiri jika sifat dan sikap kamu seperti ini."


Setelah mama Yeni meninggalkannya, Oliv masih duduk ruang tamu sendiri. Dia tersenyum sedih seraya memandangi foto dirinya dan Rama saat masih mengenakan seragam putih abu, foto lawas yang ia gunakan sebagai wallpaper ponselnya.


"Apa kita benar-benar nggak bisa seperti dulu?" ucapnya lirih seraya mengusap layar benda pipih itu.


.


.


.


hm Oliv... aku no komen lah,


tapi kalian para kesayangannya jas jus dilarang no komen! like dan komen setelah baca wajib hukumnya!!