Possessive Leader

Possessive Leader
Bonus 8. Pending



“Sadar... sadar belum sah, Ka! Maen sosor aja!” Rama menarik rambut Raka sebelum dia mendaratkan ciuman di kening adiknya.


“Kebablasan,Wan. Sorry deh bentar lagi juga gue halalin.” Kilah Raka sementara Alya tertunduk dengan wajah yang sudah memerah.


“Modus dia tuh, Karam. Cari-cari kesempatan! Udah kebelet kawin kagak sabar.” Cibir Jesi.


“Terserah lo deh, aqua gelas. Gue lagi males ribut.” Jawab Raka, dia mengambil cincin yang tadi diletakan di meja.


“Tangannya sayang.” Ucapnya pada Alya yang langsung memberikan tangan kirinya.


“Jadi istri Aa yah.” Ucap Raka seraya memasangkan sebuah cincin di jari manis Alya.


Alya memegang tangannya sendiri, menatap lekat cincin putih yang melingkar di jari manisnya. Terdapat ukiran dibagian luar cincin itu, membacanya membuat senyum malu-malu di bibir Alya kian merekah. Jesi sampai kepo dan melirik ke cincin yang diusap berulang kali oleh Alya.


“Ya ampun, bucinnya ngalahin ABG. Liat deh Karam tulisan di cincinnya.” Jesi menarik suaminya supaya ikut melihat cincin Alya.


“Milik Raka.” Begitu Rama membacanya.


“Sirik aja lo, aqua gelas!” cibir Raka.


“My baby nggak mau salim dulu sama Aa?” lanjutnya seraya mengulurkan tangan kanannya pada Alya.


Rama langsung menepis tangan Raka jauh-jauh.


“Nggak ada salam-salaman, ntar lo modus lagi!”


“Pelit banget, Wan.” Ucap Raka dengan memelas.


“Iya, A. Nanti aja yah kalo udah jadi istri Aa baru deh aku salim.” Imbuh Alya.


“Lo sabar dikit ngapa, Ka! Keliatan banget lo udah kebelet nikah.” Kali ini suara Naura yang mengomentarinya.


“Gue udah sabar pake banget gila! Dua tahun gue nungguin dia. Lo berdua aja udah pada buntutan.” Ucapnya seraya menatap Rama dan Naura bergantian. Masing-masing dari mereka sudah memiliki anak perempuan yang lucu.


“Gue kalah start ini. Gue kan juga pengen punya dede bayi gemoy sendiri.” Lanjutnya.


“Ntar kalian berdua kalo my baby kesayangan gue hamil harus siap-siap, selalu siap siaga kayak gue nurutin kemauan kalian yang aneh-aneh pas ngidam. Awas aja kalo nggak!”


“Kejauhan woy udah mikir ngidam aja lo, Ka. Sah aja belum.” Sela Naura.


Kedua orang tua Raka hanya menahan senyum malu sambil mengangguk mohon maklum pada calon besannya.


“maklum yah bu. Putra bungsu saya memang seperti itu, beda sama kakaknya. Nggak ada kalem-kalemnya sama sekali.” Ucap ayah Raka.


Mama Yeni menanggapinya dengan senyum ramah seperti biasa.


“Tidak apa-apa pak, bu. Saya justru senang sekali, punya menantu yang rame semua. Nanti rumah makin rame.”


“Tuh kan pa, ma kata aku juga apa. Pasti diterima. Nggak pake lama malam ini kita nikah yah, Al?” tanya Raka.


“Hah?” Alya terkejut bukan main mendengarnya.


“Kan niat baik nggak boleh ditunda-tunda, Al. Aa udah nunggu dua tahun loh.” Jelas Raka.


“Giliran nikah aja lo pengen cepet-cepet. Gue nggak ngasih ijin kalo malam ini.” Sela Rama.


“Lah kenapa lagi? Dulu aja lo sama aqua gelas nikah dadakan.” Protes Raka.


“Beda kasus lah, Ka.” Jawab Rama.


“Kalian berdua duduk dulu gih.” Lanjutnya,membuat Alya dan Raka yang sejak tadi masih berdiri jadi duduk kembali ke tempat semula.


Rama mengambil dua buah kursi dari teras rumahnya untuk duduk dirinya dan Jesi. Kara yang berada di gendongannya kini beralih di pangkuan Jesi. Bayi mungil itu terus menunjuk-nunjuk Mikhayla dan ngoceh-ngoceh tak jelas seolah mengajaknya untuk bermain bersama.


“Nanti yah sayang mainnya.” Ucap Jesi lirih sambil mengeluarkan bebek bebekan plastik dari tasnya dan memberikannya pada Kara supaya anak gadisnya tenang.


”sebentar yah sayang.” Ucapnya kemudian kembali menatap serius pada Raka.


“Aku mewakili keluarga sangat berterima kasih atas kehadiran dan niat baik kamu, Ka. Kami sangat menerima kamu sebagai calon suami Alya. Ya, niat baik memang tak seharusnya ditunda-tunda, kami semua tau kamu menunggu Alya tak hanya sebentar, terimakasih untuk keseriusanmu selama ini. Tapi untuk menikah malam ini kami rasa terlalu cepat. Alya adikku satu-satunya, jadi kami minta waktu setidaknya satu minggu untuk melakukan persiapan.” Jelas Rama panjang lebar.


“Ya, kami tidak keberatan.” Jawab Ayah Raka.


“Sabar lah. Seminggu doang, Ka.” Aldi menyikut adiknya yang hanya diam.


Sore itu keluarga Raka berpamitan setelah mengikuti acara syukuran kelulusan Jesi dan Alya yang dihadiri oleh ibu-ibu komplek sekitar rumah mereka. Semua anggota keluarganya sudah masuk ke dalam mobil, bahkan Naura berulang kali memanggil Raka tapi adik iparnya itu masih betah berlama-lama menatap Alya di teras rumah.


“A Raka udah dipanggil tuh.” Ucap Alya mengingatkan.


“Biarin aja. Aa masih kangen dari kemarin nggak liat kamu, sekalinya ketemu eh harus pisah lagi seminggu. Nggak ketemu kamu sehari aja Aa udah kalang kabut apalagi seminggu.” Ucapnya penuh dramatisir.


“Nggak usah lebay deh, Karak! Dimana-mana kalo mau nikah dipingit dulu, biar uwow pas nanti ketemu lagi. Seminggu nggak lama, cuma tujuh kali dua puluh empat jam.” Cerocos Jesi yang sedang menatih Kara di teras.


Raka menghela nafas dalam, sejak kemarin dia sudah membayangkan langsung meminang Alya begitu lulus dan memilikinya seutuhnya malah harus di pending seminggu. Astaga! Ditambah lagi dengan pingitan si a lan yang tak membolehkannya bertemu Alya. Huh ujian macam apa ini?


Raka beralih menatap calon mertuanya,


“Ma, aku nikahnya ditunda seminggu nggak apa-apa tapi jangan ada pingitan lah. Ntar kalo aku kangen gimana?” Mama Yeni hanya menggelengkan kepala dan menanggapi ucapan Raka dengan senyuman.


“Kalo gitu nggak apa-apa dipingit deh, tapi tetep boleh telpon sama vidio call yah, Ma?” tawarnya lagi.


“Sama aja bohong kalo kayak gitu, Karak!” cibir Jesi.


“Udah Ma, tambah aja masa pingitannya jadi sebulan biar makin mantap. Nawar mulu!” lanjutnya.


“Aqua gelas!” teriak Raka.


“Lo udah jadi emak-emak masih aja ngeselin. Kalo nggak ada santan sachetan udah gue heuu dah.” Raka tak melanjutkan ucapannya, dia hanya menatap tajam Jesi yang tanpa dosa malah meledeknya dengan menjulurkan lidah.


“Kara sayang masuk yuk... Om kamu hampir kesurupan tuh.” Ucapnya seraya menatih Kara ke dalam rumah.


“Yah Ma, kurangin deh kalo gitu dipingitnya jangan seminggu.” Tawarnya lagi.


Naura yang sudah mulai kesal menunggu adik ipar sekaligus sahabatnya masih saja berlama-lama di teras jadi kesal sendiri, ditambah dengan putrinya yang mulai rewel karena mengantuk akhirnya turun dari mobil dan menghampiri Raka.


“Pulang buruan! Anak gue udah rewel pengen tidur.” Naura menarik adik iparnya paksa.


“Tante, kita pamit pulang.” Lanjutnya.


“Ra, Bentar gue masih kangen.”


“Nggak ada bentar-bentaran! Kalo diturutin lo bisa nginep.” Ucap Naura.


“Seminggu nggak lama. Sabar dikit! Masa nunggu dua tahun bisa, nunggu seminggu nggak mampu.” lanjutnya.


“Tapi kan...”


“Nggak ada tapi-tapian.” Naura meninggikan suaranya, emak-emak kalo anaknya udah rewel auto berubah jadi singa, membuat Raka seketika pasrah dan mengikutinya.


“Al, Aa pulang. Sampe ketemu seminggu lagi.”


.


.


.


Gasskeun jempol sama komentarnya jangan kasih kendor!!!