Possessive Leader

Possessive Leader
Gladi bersih



Tawa Jesi pecah terbahak-bahak mendengar jawaban Rama.


"Barusan Karam ngomong apa? Nikah?" Dia bahkan sampai meneteskan air mata gara-gara tawanya yang tak terkontrol.


Rama hanya memandang Jesi dengan geram. Calon istrinya itu selalu bertingkah sesuka hati, tertawa lepas di tempat umum hingga orang-orang yang sedang melihat perhiasan justru berbalik dan beralih melihat ke arah mereka. Begitu pun orang yang sedang berlalu lalang lewat di depan toko perhiasan, tak jarang mereka menengok ke arah Jesi yang tertawa heboh sendiri.


"Aku nggak nyangka hari ini Karam bener-bener aneh. Tadi pagi udah marah-marah, siangnya jadi baik tapi nggak lama kumat lagi galaknya. Lah sekarang... Ya ampun aku nggak nyangka Karam bisa ngelawak juga. Meskipun garing tapi aku hargai deh."


"Siapa yang ngelawak!" Ucap Rama dengan tatapan tajamnya.


"Aku serius." Imbuhnya kemudian.


Jesi mengamati sekitarnya, puluhan pasang mata menatap ke arahnya membuat dia seketika sedikit malu. Tersenyum ramah pada setiap orang yang menatapnya, kemudian Jesi menarik Rama supaya segera keluar dari toko perhiasaan.


"Ayo, Karam. Malu ih diliatin!"


"Mas sama neng nya nggak jadi beli perhiasannya? Saya pilihkan yang paling simple dan elegan deh." Ucap pelayan sebelum mereka pergi.


"Nggak jadi, mba. Nanti aja, mau diskusi dulu. Iya kan Karam?" Jawab Jesi yang langsung menarik paksa Rama.


"Cepetan ih malu!"


"Biasanya juga malu-maluin. Tumben bisa malu." Cibir Rama.


Setelah cukup jauh dari toko perhiasan Jesi melepaskan tangan Rama, "malu lah kalo diliatin banyak orang kayak gitu mah, Karam. Lagian kenapa sih mereka ngeliatin aku?"


"Mereka terpesona kali yah liat calon istri Karam yang imut nan cantik tiada tara ini?" Lanjutnya dengan percaya diri yang menggunung.


Rama berdecak pelan, memilih bersandar di salah satu tiang besar dan mendengarkan Jesi terus berceloteh sesuka hatinya.


"Karam ih kok malah diem sih? Karam marah lagi sama aku? Aku salah apa lagi coba?" Gerutu Jesi yang merasa diabaikan.


"Karam ih!" Jesi merengek sambil menarik ujung lengan pakaian Rama yang digulung sesiku.


Rama menghela nafas panjang menatap jengah pada Jesi yang mulai merengek manja.


"Udah ngocehnya?"


"Kok ngoceh sih? Dari tadi aku ngomong dicuekin mulu. Kesel kan!"


"Jadi sekarang tau kan rasanya ngomong serius tapi diabaikan? Tadi aku juga gitu, udah serius suruh milih perhiasan eh malah dianggap ngelawak!" Ketus Rama.


"Ya abisnya aneh banget sih, Karam. Beli perhiasannya lain kali aja lah. Kan nikahnya juga minggu depan. Biar aku tanya-tanya dulu sama ibu baiknya gimana. Soalnya aku nggak suka pake perhiasan. Liat deh nggak ada satu pun perhiasan yang nempel di tubuh aku." Jesi memperlihatkan kedua lengannya, benar saja tak ada satu pun perhiasan yang ia kenakan. Bahkan satu cincin pun tak ada. Hanya sebuah jam tangan simple yang melingkar di tangan kirinya. Baik anting maupun kalung pun tak sama sekali ia kenakan.


"Terus kamu maunya apa kalo bukan perhiasan?" Tanya Rama, saat wanita lain bahkan merengek pada calon suaminya meminta perhiasan ini itu, Jesi justru menolak tawarannya untuk memiliki benda yang katanya merupakan simbol kekayaan.


"Nggak tau!" Jawab Jesi jujur.


"Ntar aku tanya ibu dulu deh." Lanjutnya.


"Dari tadi tanya ibu mulu. Udah nggak ada waktu, pilih aja satu perhiasan sekarang. Soal suka atau nggak nya nanti bisa di simpan saja kalo emang kamu nggak mau pakai." Rama memberikan solusi yang menurutnya terbaik. Tak lucu kan jika dia menikah tanpa memberikan perhiasan sama sekali. Ditanya maunya apa juga jawabannya malah nggak tau, pusing kan jadinya.


"Nggak mau ah. Sayang nggak di pake nantinya kurang manfaat Karam. Di rumah juga banyak, dibeliin sama ibu tapi nggak pernah aku pake. Sebenernya ada sesuatu yang aku suka banget sih. Tapi aku belum pernah liat orang nikah pake mas kawin kayak gitu." Ucap Jesi.


"Jadi nanti aja deh aku searching mbah go ogle dulu, bisa nggak itu dipake jadi mas kawin."


"Nggak bisa nanti-nanti, jas jus. Harus sekarang!" Rama berulang kali melihat jam tangannya, hari kian sore sementara dia belum mendapatkan mas kawin untuk Jesi.


"Buru-buru banget sih. Kan di pakenya juga minggu depan. Lagian barang yang aku pingin tuh mesti pesen dulu, Karam."


Getaran ponsel di sakunya membuat Rama mengabaikan ucapan Jesi, dia mengeluarkan benda pipih dari sakunya dan menjawabnya dengan sangat sopan.


"Walaikumsalam. Iya ayah ini aku sedang bersama Jesi."


"Oh begitu. Baiklah kami akan segera pulang, ayah."


"Ayah kamu."


"Kita harus pulang sekarang. Udah ditunggu. Kalo kamu nggak mau milih perhiasan ya sudah, nanti mas kawinnya pake uang aja." Jawab Rama.


"Bilang aja Karam nggak mau nemenin aku main sampe malam. Pake alasan harus buru-buru pulang mau nikah segala. Aneh!"


"Terserah kamu mau percaya atau nggak. Aku udah capek, kita pulang sekarang."


"Tapi ke kantor dulu yah? Ponsel sama tas aku masih di sana. Sekalian pengen pecel ayam yang depan kantor."


"Nanti aja di rumah makannya. Ponsel sama tas kamu nanti di ambil sama supir mamaku aja."


"Buruan udah nggak ada waktu. Ntar keburu macet." Rama segera menarik Jesi.


Sepanjang perjalanan Jesi hanya diam cemberut, sementara Rama sibuk dengan telponnya. Entah siapa yang berulang kali menghubungi calon suaminya, Jesi tak peduli. Yang jelas sekarang dia sedang kesal karena Rama tak menuruti keinginannya untuk main hingga malam.


"Nanti mas kawinnya pake uang aja nggak apa-apa yah?" Tanya Rama setelah mengakhiri panggilan.


"Bodo amat!"


"Jangan ngambek terus jas jus. Please, hari ini aku sudah benar-benar lelah ngimbangin kamu yang kekanakan." Ucap Rama.


"Jalan-jalan sampe malam sambil makan di warung pinggir jalan kan bisa besok lagi. Sekarang situasinya lagi urgent." Tutur Rama pelan.


"Tau ah. Sebel!"


Tiba di depan rumahnya, Jesi segera turun dan meninggalkan Rama. Sebelum masuk rumah, Jesi dibuat heran dengan beberapa mobil yang terparkir di halaman rumah, ditambah dengan adanya Pak RT, ustad masjid dekat rumah, juga dua orang dengan jas hitam yang tak ia kenali sedang berbincang dengan ayahnya di teras.


"Ayah, Jesi pulang." Ucapnya kemudian menyalami sang ayah.


"Nah ini calon pengantinnya, Jesi putriku." Burhan mengenalkan Jesi.


"Nah yang itu calon pengantin prianya." Lanjutnya sambil menunjuk Rama yang sedang berjalan ke arahnya.


"Itu siapa ayah?" Tanya Jesi, dia menunjuk dua orang yang merupakan petugas KUA.


"Penghulu dari KUA. Kan kalian mau nikah." Jawab Burhan.


"Neng Jesi udah pulang ternyata. Ayo kita siap-siap dulu. Ada Alya juga loh di dalam." Ucap Sari yang baru saja keluar dari dalam rumah.


"Siap-siap mau ngapain sih, ibu?" tanya Jesi.


"Ini juga pak RT sama itu katanya petugas dari KUA pada ngapain di sini?" Jesi menatap satu persatu-satu orang-orang yang ada di teras dengan ramah.


"Oh aku tau... Jangan-jangan pada mau latihan buat acara nikah minggu depan yah? Gladi bersih gitu." Tebak Jesi.


Petugas KUA dan Pak RT saling tatap dalam diam, bingung dengan ucapan Jesi. Begitu pun dengan Rama dia sudah menghela nafas panjang berulang kali melihat calon istrinya yang lagi-lagi nyerocos tanpa henti.


"Kalo mau gladi bersih silahkan aja sama Karam dan ayah aja. Aku mah nggak usah ikutan kan pak Penghulu?" Tanyanya.


"Soalnya aku mah kan cukup duduk manis sama ngedengerin aja, terus sun tangan suami kalo udah sah. Gitu kan yah?"


"Iya gitu lah... Yang aku liat di TV kayak gitu." Lanjutnya.


Burhan melirik Sari dan mengisyaratkan istrinya untuk segera membawa Jesi masuk sebelum berbicara tak masuk akal lebih jauh.


"Neng Jesi kita siap-siap aja yah. Supaya pak Penghulu, Pak RT sama Ramadhan nggak nunggu terlalu lama. Pengantin kalo dandan lama loh." Ajak Sari.


"Ih ibu apa-apaan sih. Gladi bersih pernikahan doang aku nggak perlu dandan lah." Tolak Jesi.


"Atau aku di sini aja deh, pura-puranya aku yang jadi saksinya. Gimana Pak Penghulu boleh kan?" Tawarnya.


"Ntar pas Pak penghulu tanya, bagaimana saksi sah? Aku tinggal teriak 'sah' gitu kan?" Lanjutnya.