
Kembali ke kamar Rama begitu kaget mendapati Jesi yang sudah ia pastikan terlelap tidur saat ia pergi tadi tengah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Kok bangun? Kamu butuh sesuatu hm?" Tanyanya dengan lembut.
Jesi menggeleng, "Karam dari mana?"
"Nemuin ayah. Ayo tidur, udah malem."
"Jangan ditinggalin." Rengeknya.
"Nggak. Yuk bobo!" Rama mendekapnya erat sambil terus mengusap punggung Jesi.
Lepas sholat subuh berjamaah seperti biasa Jesi menyiapkan pakaian kerja suaminya. Dia terlihat sedang berdiri di depan lemari sambil memilah beberapa kemeja sementara Rama duduk bersandar di ranjang dengan tangan kanan yang memainkan ponsel. Sesekali ia tersenyum menatap foto Jesi yang diam-diam ia ambil.
"Karam, hari ini pake baju ini yah? Ini baru loh, kemaren aku beli online. Mirip punya Taehyung nih." Jesi menunjukan kemeja berwarna coklat tua dan jas coklat susu.
"Pengen deh Karam pake baju nya gaya-gaya Taehyung gitu. Pasti mirip banget deh." Lanjutnya dengan semangat, membayangkannya saja sudah membuatnya senang.
"Sini!" Panggil Rama, dia menepuk kasur di sebelahnya.
"Ntar dulu, Karam. Aku belum milih gesper sama jam tangannya." Balas Jesi yang beralih ke lemari di sampingnya. Dia memang selalu bersemangat menyiapkan kebutuhan suaminya.
"Sini dulu!" Panggil Rama sekali lagi.
"Hari ini papi nggak ngantor. Mau nemenin mami sama dede bayi gemoy aja. Mami nggak ada jadwal kuliah kan?" Lanjutnya.
Rama memutuskan untuk tak masuk kerja, ia hanya akan mengontrol semua pekerjaannya dari rumah. Ia ingin menemani Jesi yang kebetulan hari ini memang tak ada jadwal kuliah.
"Ih kenapa nggak bilang dari tadi sih, Karam. Aku udah pusing-pusing milihin baju juga." Gerutu Jesi yang langsung ikut bergabung duduk di ranjang dan nemplok manja.
Rama mengelus rambut Jesi dan mengecup puncak kepalanya.
"Seneng aja liat kamu nyiapin baju, semangat banget." Ucapnya dengan mata yang masih fokus menatap benda pipih di tangannya.
...Putra bungsu tersandung masalah hukum, Saham Sejahtera Tbk anjlog drastis...
...Dini hari tadi, putra pemilik Sejahtera Tbk dibawa paksa ke kantor polisi lantaran kasus penculikan dan tindakan asusila. Jika tersangka terbukti bersalah maka sudah dipastikan hukuman dua belas tahun penjara menanti didepan mata. Akibat hal tersebut nilai saham anjlog. Penculikan putri salah satu investor ternama dan percobaan pemerkosaan, terang petugas polisi yang membawa tersangka. Sampai saat ini pihak keluarga belum memberikan klarifikasi....
"Ayah kamu emang best banget, Jas Jus." Seringai puas terbit di bibir Rama setelah membaca artikel bisnis pagi ini. Hanya beberapa jam saja, bahkan saat orang lain sedang terlelap tidur mertuanya berhasil menyeret Zidan ke penjara. Tak hanya itu, perusahaan orang tuanya pun ikut terseret hingga nilai sahamnya anjlog drastis.
"Apaan emang, Karam?" Jesi yang sedang mendusel di dadanya mendongak menatapnya.
"Bukan apa-apa." Balas Rama seraya mencubit pipi istrinya.
"Pipi kamu makin cabi... Gemes banget."
"Sakit ih, Karam." Protes Jesi.
"Kalo kayak gini sakit nggak?" Rama mendaratkan kepalnya di bahu Jesi. Memberikan ciuman-ciuman kecil di leher jenjangnya.
"Hm geli ih, Karam. Stop lah ntar kita kebablasan."
"Kebablasan apa? emang kakak ngapain?"
"Kebablasan itu, Karam..." wajah Jesi sudah merona merah.
"Pokoknya nggak boleh, Karam. kan udah ada dede bayi nya." Jesi mengingatkan.
"Kata siapa nggak boleh? boleh kok, kakak mainnya pelan."
"Tapi kan..." Seperti biasa ucapannya itu tak selesai karena lebih dulu dibungkam bibir suaminya.
"Nggak usah tapi... tapi... Nanti juga ujungnya kamu minta terus...terus..." Ledek Rama begitu menjeda ciumannya. Selanjutnya Jesi hanya bisa menerima perlakuan lembut Rama, suaminya itu benar-benar bermain dengan pelan namun tetap memberikan kepuasaan tersendiri untuknya.
"Mau bobo lagi?" Tanyanya setelah menyelesaikan olahraga pagi mereka. Jesi mengangguk, matanya sudah sayu setengah terpejam.
"Ya udah bobo aja. Kakak mau mandi terus nemenin ayah sarapan."
"Nanti kakak bawain sarapan kamu kesini." Ucapnya seraya membenarkan selimut Jesi, mengecup keningnya dan berlalu untuk membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri dan berpakaian Rama keluar dari kamar bertepatan dengan adiknya yang hampir mengetuk pintu kamar.
"Eh maaf, Kak." Alya menarik tangannya yang hampir mendarat di dada sang kakak.
"Kakak kok belum rapi?" Tanyanya melihat penampilan santai Raka yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos santai.
"Kakak kerja dari rumah aja, mau nemenin Jesi." Jawab Rama seraya menutup pintu.
"Jesi nya mana kak? Aku belum liat Jesi di bawah tadi."
"Ada di dalem."
"Aku mau ke Jesi, Kak. Di bawah ada A Raka, males aku." Ucap Alya dengan lesu. Tangan kanannya sudah meraih gagang pintu dan hendak membukanya.
"Jesi masih tidur Al, kecapean. Nanti aja yah." Rama menarik tangan Alya dan mengajaknya turun untuk sarapan.
"Tumben jam segini tidur. Apa Jesi sekarang ngalamin morning sick kak? Tapi kan biasanya dia muntah-muntah kalo malem doang." Tebak Alya.
"Nggak, dede bayi nya lagi ngajak males-malesan aja." Elak Rama.
"Oh... Bisa gitu yah." Jawab Alya.
"Ya udah deh kakak ke bawah sendiri, aku mau di kamar aja. Males ketemu A Raka." Lanjutnya. Dia masih kesal mengingat kejadian di rumah sakit kemarin.
"Nggak boleh gitu. Ayo sarapan!" Rama memaksanya.
"Lagian kalian itu kenapa? Semalem Raka emang bolak balik nelpon tapi nggak kakak angkat, sibuk ngurusin Jesi."
"Ngeselin. Katanya cinta sama aku siap nunggu sampe aku lulus kuliah baru nikah. Eh kemaren malah bilang mau nikah sama yang lain, banyak yang antri!" Jelas Alya dengan wajah kesal, kecewa campur marah. Nano-nano dah.
"Paling cuma bercanda dia. Kayak nggak tau aja dia orang doyan humor, kalo ngomong asal jeplak kayak Jesi." Ucap Rama.
"Dia itu bakal nunggu kamu sampe kapan pun. Kakak tau betul Raka seperti apa. Kalo dia beneran mau nikah sama yang lain nggak mungkin jam segini udah sampe sini."
"Dia datang buat kamu, Al. Dari dulu aja Raka nggak pernah kesini, jarang banget. Apalagi urusan kerjaan, dia sering kesini kan semenjak kalian ada hubungan." Terang Rama.
"Udah yuk sarapan, jangan mikir yang aneh-aneh." Ucapnya kemudian.
Tiba di ruang makan, Raka langsung menyambut Alya dengan senyuman. Rama sudah duduk di samping ayah mertuanya yang duduk berhadapan dengan Raka.
"Jesi?" Tanya Burhan.
"Di kamar, Yah. Nanti sarapannya aku bawain ke kamar. Masih pengen tiduran dia." Jawab Rama dan ayah mertuanya mengangguk.
"My baby duduk sini!" Raka menepuk kursi di sampingnya. Alya tak menggubris dan malah duduk di samping kakaknya. Jadilah Raka yang mengalah dan berpindah ke kursi sebelah supaya bisa duduk berhadapan dengan my baby nya yang masih ngambek.
"Ngambeknya jangan lama-lama atuh baby."
Ck! Alya hanya berdecak lirih dan mulai mengambil sarapannya.
"Aa ambilin atuh..." Raka mengasongkan piringnya tapi Alya justru mengambil piring Rama dan mengisinya.
"Sini biar mama saja yang ambilkan untuk Raka." Mama Yeni dengan ramah mengisi sarapan ke piring Raka.
"Makasih mama mertua. Sama jus jeruknya sekalian, Ma." Ucap Raka.
"Ningkah banget dah lo, Ka!" Cibir Rama.
"Sirik aja kakak Darmawan." Balas Raka.
"Hih geli gue dipanggil kakak sama lo, Ka. Secara umur juga tuaan lo."
"Yah, tolong dong itu mantunya dikondisikan." Raka mencari pembelaan pada ayah Jesi yang sudah ia anggap seperti ayah nya sendiri. Sedari dulu dia, Rama dan Naura memang selalu menyebut Burhan dengan sebutan ayah.
Burhan hanya tergelak, "kalian itu seperti bocah saja."
"Ketularan Jesi, Yah. Tuh mantu ayah yang dulu irit ngomong aja sekarang jadi banyak ngomong." Ujar Raka.
"Eh iya hampir lupa, lo udah baca artikel pagi ini Wan? Gila itu bocah udah di penjara aja. Saham bokapnya juga anjlog. Gue nggak nyangka kalo pengacara kita bisa sehebat itu? Padahal kemaren dia bilang baru bisa bawa tuh anak ke hotel prodeo paling hari ini."
"Bukan pengacara gue yang urus. Ayah yang ngurus semua." Jawab Rama.
"Wih pantesan. Senior mah mainnya beda." Puji Raka dengan mengacungkan kedua jempolnya.
"Kita harus banyak-banyak belajar dari ayah nih. Banyakin koneksi juga." Sambungnya.
"Nanti lama-lama kalian juga bisa menangani segalanya dengan cepat. Semua butuh proses, belajar dari pengalaman." Ujar Burhan.
"Tapi mertua lo amazing banget, Wan. Sultan emang nggak main-main yah kalo udah turun tangan." Raka masih belum puas memuji mertua sahabatnya.
"Yang lebih gila lagi tenyata dia juga nggak cuma nyoba merkosa Jesi, Wan. Adik tingkatnya juga ada yang sampe hamil dan nggak mau tanggungjawab. Tuh artikel terbaru yang rilis pas gue otw kesini."
"Maksud kalian apa? Jesi kenapa yah?" Kompak Sari dan Yeni terlihat shock, mereka sama sekali tak tau apa yang terjadi pada Jesi kemaren.
"Ibu sama mama tenang aja. Jesi nggak apa-apa ma, bu. Kemarin kita datang tepat waktu." Ucap Rama.
"Kenapa kakak nggak cerita ke mama?" Tanya Yeni dengan sedikit kecewa.
"Ayah juga kenapa nggak bilang ke ibu?" Sambung Sari.
"Maaf ma, bu. Kami hanya tidak ingin mama dan ibu khawatir." Jelas Rama.
"Pokonya mama mau lihat Jesi sekarang." Yeni sudah beranjak dari duduknya.
"Iya ibu juga sama." Disusul oleh Sari.
"Ma, jangan! Jesi masih tidur." Larang Rama tapi dua perempuan paruh baya itu tak menggubrisnya.
"Sudah sih biarin aja, Wan. Mereka kan mertua sama ibu nya, posesif amat lo!" Cibir Raka.
Rama hanya menghela nafas dalam bukan apa-apa, masalahnya istrinya itu terlelap tanpa busana. Dirinya terlalu malu jika ketahuan pagi-pagi sudah olahraga sampai istrinya lelah dan memilih tidur lagi.
Sedari tadi Alya sibuk dengan pemikirannya sendiri, terutama setelah mendengar Zidan menghamili adik tingkatnya dan tak mau bertanggung jawab. Otaknya otomatis mengaitkan kasus itu dengan Raya, salah satu perempuan yang dekat dengan Zidan.
"Astagfirullah semoga nggak seperti yang aku duga." Ucapnya lirih.
"Kenapa Al?" Tanya Rama.
"Itu tadi yang nggak mau tanggung jawab, Kak. Siapa yang dihamili? Bukan Raya kan?"
"Kakak nggak-" belum selesai Rama bicara mertuanya sudah menyela kalimatnya.
"Iya, dia. Raya temen sekelas kalian. Dulu dia deket banget sama Jesi juga." Ucap Burhan.
"Anak itu..." Burhan tak melanjutkan ucapannya, terlihat raut kasihan diwajahnya.
"Sudah lah. Ayah harus pulang kemudian ke kantor. Kamu tidak ke kantor?" Tanyanya pada Rama.
"Tidak, Yah. Hari ini mau nemenin Jesi dulu." Balas Rama.
"Ya. Ayah titip Jesi. Nanti siang kalo kalian jalan-jalan keluar mampir ke kantor ayah. Hari ini pasti akan banyak orang yang minta maaf dan minta dikasihani. Kalian siap-siap aja." Burhan berlalu setelah menepuk pelan bahu menantunya.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan favoritkan!!!
yang mau kirim-kirim bunga atau kopinya juga boleh banget buat perayaan si zidan zidun masuk hotel prodeoπππ
yang baca tapi nggak like nggak komen silahkan melipir temenin Zidan Zidun di hotel prodeo, kasihan dia nggak ada temen ngobrol ππ