
Dina hampir saja membanting ponselnya, sejak tadi ia menghubungi Rama tapi tak dijawab satu kali pun. Hari ini ia harus memastikan apakah Rama bersedia membantu untuk merebut perusahaanya kembali atau tidak. Jika pun pria itu setuju, masih banyak hal yang harus ia persiapkan untuk rapat dewan direksi minggu depan. Satu-satunya cara untuk bisa kembali merebut apa yang menjadi haknya adalah dengan memenangkan minimal lima puluh satu persen suara dari para pemegang saham. Tapi hal itu dipastikan tak akan mudah karena pamannya sudah membabad habis orang-orang lama yang memihak pada mendingan ayahnya.
Jadi bisa dipastikan kemungkinan dirinya menjabat sebagai CEO Cat Star akan sangat kecil. Jika digabung saham miliknya dan milik Raya hanya sekitar tiga puluh persen, ditambah saham milih sang ibu sekitaran lima persen. Artinya paling tidak dia butuh dua puluh persen saham yang memberikan suara untuknya supaya bisa duduk di kursi pimpinan dan membuang jauh-jauh image produk KW dari perusahannya.
Untuk menjadi seorang pimpinan di perusahaan yang modalnya dalam bentuk saham tidak serta merta ditentukan atas banyaknya jumlah saham yang dimiliki. Selain itu tak mutlak juga setiap pemilik perusahaan otomatis menjadi pimpinan karena yang berhak menduduki jabatan itu ialah orang yang dianggap memiliki kompetensi manajerial yang mumpuni dinilai oleh dewan direksi dengan cara evaluasi pekerjaan dan cara mengatasi masalah hingga kemampuan dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu Paman Dina yang dulu diberi kepercayaan oleh keluarga bisa memimpin perusahaan meskipun tak memiliki banyak saham di sana.
Pada dasarnya seorang pemimpin ideal harusnya dipilih berdasarkan kualitasnya. Bisa dilihat dari berbagai aspek yang harus dimiliki oleh sosok leader. Selain kemampuan menganalisis masalah, mencari solusi hingga pengambilan keputusan, seorang leader juga harus mampu membuat karyawan nyaman bekerja di bawah kepemimpinannya, menjadikan karyawan layaknya keluarga, membangun lingkungan kerja yang komprehensif dan menyenangkan juga tentunya.
Namun pada kenyataannya, saat ini penentuan pemilihan sosok pemimpin tak terpaku pada hal-hal di atas tapi lebih cenderung memikirkan keuntungan perusahaan secara umum melainkan mencari pimpinan yang bisa memberikan keuntungan lebih untuk kepentingan pribadi entah itu dengan embel-embel bonus yang lebih banyak, kenaikan jabatan, dan keuntungan-keuntungan yang bersifat pribadi lainnya.
Dina berharap Rama bisa membantunya meyakinkan beberapa investor supaya memberikan suara untuknya di rapat direksi minggu depan. Toh selama ini kinerjanya di loveware tak buruk, kecuali insiden kurang nol dan pencurian desain produk. Untuk hal itu pun ia sudah mengakui dan meminta maaf dengan tulus.
Dina akhirnya meletakan ponselnya begitu seorang perawat masuk membawa sarapan beserta obat untuk Raya.
"Makasih, sus." Dina mengambil alih nampan dan membawanya ke ranjang Raya. Meletakan nampan itu di atas lemari kecil.
"Makan dulu, biar mba suapin." Ucapnya seraya menyodorkan sendok. Sebenarnya cukup jengah semalaman menjaga Raya yang sangat sulit diajak komunikasi, bahkan sampai detik ini dia masih bungkam terkait ayah dari janin di perutnya.
"Aku makan sendiri aja, mba." Raya bangun dan duduk bersandar.
"Baiklah, ini!" Dina menyerahkan sendoknya pada Raya kemudian kembali mengambil ponsel di sakunya dan mulai membaca berita terbaru dunia bisnis.
"Gue nggak nyangka kalo Darmawan bahkan bisa secepat ini memasukan anak itu ke penjara." Gumamnya lirih.
"Lihat ini, dek. Orang yang nyulik Jesi bahkan sudah mendekam di penjara." Dina menunjukan berita yang sedang ia baca pada adiknya. Seketika gadis itu menatap nanar dengan air mata yang mulai meleleh disudut matanya.
"Kalo kamu ngasih tau siapa yang menghamili kamu juga bakalan mba jebloskan ke penjara kalo nggak mau tanggung jawab."
Prang!!!
Mangkok yang di pegang Raya jatuh begitu saja.
"Mba nggak usah repot-repot toh dia sudah di penjara." Ucap Raya sambil terisak.
"Maksud kamu?"
"Dia, orang yang nyulik Jesi. Ayah dari anak aku, mantan Jesi juga."
"Bagaimana bisa mantan Jesi jadi ayah anak kamu? Kalian deket?" Tanya Dina.
"Astaga Raya, mba harus ke kantor polisi sekarang."
"Buat apa, mba? Percuma. Dia nggak mau tanggung jawab. Aku rasa keluarga Jesi juga nggak akan ngelepasin dia." Ucap Raya.
"Aku kira aku bisa membalas dia melalui Jesi. Ternyata aku nggak bisa. CK!!" Raya berdecak kesal bercampur sedih.
"Maksud kamu apa, Dek? Jangan muter-muter ngomongnya! Mba udah pusing." Geram Dina.
"Mba tau ayahnya Jesi? Burhan! Orang yang dengan serakahnya berniat mengambil perusahaan kita saat ayah sakit. Aku bahkan sengaja berteman dengan Jesi, si polos yang mudah dimanfaatkan itu. Aku juga meminta Zidan memacari Jesi dan meninggalkannya saat dia jatuh miskin."
"Kamu sudah tidak waras, Dek?" Bentak Dina.
"Kamu tau Jesi anak pak Burhan dan dengan sengaja melakukan itu semua? Gila!"
"Asal kamu tau, yang bermaksud ngambil perusahaan kita itu Om Harun, Dek. Om Harun!!" Tegasnya sekali lagi.
Mendengar penjelasan kakaknya membuat Raya termenung, air matanya kian membasahi wajah. Deretan ingatan masa-masa persahabatannya dengan Jesi muncul kepermukaan diakhiri dengan betapa teganya dia menyakiti Jesi tanpa kasihan.
"Kamu tau, dek? Minggu depan ada rapat direksi dan mba harus mengumpulkan paling tidak lima puluh satu persen suara untuk bisa mengambil alih perusahaan kembali. Mba kira dengan bantuan Darmawan mba bisa mendapatkan bantuan juga dari ayah Jesi, Pak Burhan. Tapi tindakan kamu benar-benar menghancurkan semuanya, dek. Menghancurkan harapan terakhir yang kita punya." Jelas Dina panjang lebar.
"Sudahlah nggak ada gunanya ngomong sama kamu." Dina mulai merapikan penampilannya dan mengambil tas.
"Sebentar lagi mama sampe sini. Mama udah tau kamu hamil, mama khawatir banget sama kamu. Jangan ngelakuin hal-hal bodoh lagi, kamu cukup diem dan istirahat di sini. Biar mba yang urus semuanya, meskipun harus sujud di kaki Jesi akan mba lakukan, dek. Demi kamu." Lanjutnya.
"Mungkin sekarang dia lagi tepuk tangan merayakan kehancuranku." Lanjutnya.
"Kita nggak akan tau kalo nggak nyoba." Ucap Dina yang langsung pergi tanpa mendengar jawaban Raya. Sepanjang jalan lorong rumah sakit ia kembali menelpon Rama, beruntung pria itu menjawab panggilannya. Meski belum mendapat izin untuk menemui Jesi tapi ia tetap dengan mantap melajukan mobilnya menuju rumah Rama.
Di kediamannya, Rama sedang duduk santai di teras rumah. Sesekali ia tersenyum melihat Jesi dan adiknya yang bermain bersama Retha. Anak tetangga depan rumah yang ia tarik masuk ke teras saat sedang membeli es krim.
"Ntar mamanya nyariin gimana, Jes?" Ucap Alya.
"Tenang aja gue kenal baik kok sama emaknya ini bocah. Apalagi sama daddy nya, dia masih punya utang sama gue." Jawab Jesi tanpa mengalihkan perhatiannya dari Retha yang sibuk menggambar.
"Gambar Om Ramadhan bisa nggak, Reret?" Lanjutnya.
"Retha, tante. Kok Reret sih!" Gadis yang masih berseragam TK itu tak terima namanya diganti.
"Suka-suka gue lah, bocil. Buruan gambar laki gue yang paling cakep dah." Jesi menunjuk suaminya yang duduk santai.
"Nggak mau ah, Retha mau pulang aja." Gadis kecil itu membereskan buku gambarnya dan memasukannya ke dalam tas.
"Kalo nggak nurut es krim lo gue sita nih." Jesi mengambil tiga cup es krim Retha.
"Ambil aja buat tante Jejes, takut dede bayi di perut tante Jejes ileran. Aku punya banyak kok di rumah, kalo tante Jejes masih kurang main aja ke rumah aku." Jawab Retha enteng lalu pamit pulang dan sialnya yang disalami oleh bocah itu hanya Rama dan Alya sedang dirinya dilewat begitu saja.
"Seenak jidat aja tuh bocil ganti-ganti nama gue." Gerutu Jesi sambil melihat gadis kecil dengan rambut panjang yang dikepang kian menjauh dan masuk ke rumah yang tetap berada di seberang rumahnya.
"Sama anak kecil aja nggak mau kalah kamu tuh yang." Rama mengelus rambut Jesi.
"Tapi dia ngeganti nama aku, Karam." Protesnya.
"Kan kamu yang mulai duluan. Retha cuma ngikutin kamu. Dia nggak suka namanya diganti so gantian dia ngeganti nama kamu." Jelas Rama.
"Buat pelajaran, nanti kalo dede bayi gemoy kita udah lahir nggak boleh sembarangan ngomong. Ntar ditiru sama anak kita. Ngerti?"
"Hm." Jesi setuju dan kian bersandar manja di lengan suaminya. Nyaman.
"Aku masuk lah. Tercemar pandangan aku lama-lama di sini." Ucap Alya sebelum pergi ke dalam.
Baru saja Jesi hendak beranjak menyusul Alya untuk meledeknya yang sedang ribut dengan Raka sebuah mobil berhenti di halaman rumah dan Dina keluar dari sana.
Tanpa menunggu lama dia langsung menghampiri Jesi dan Rama.
"Aku rasa kalian sudah tau maksud kedatanganku kesini. Aku bahkan nggak tau harus mulai dari mana, Wan. Ternyata bukan hanya aku yang sudah berbuat tak baik pada kamu, perusahaan kamu dan juga Jesi tapi adik aku juga." Ucap Dina.
"Jujur, aku baru tau kalo ternyata Jesi dan Raya-" Dina bahkan tak bisa lagi meneruskan kata-katanya.
"Mba tau, Jes... Raya sudah terlalu jahat sama kamu. Tapi mba mohon, atas nama dia mba minta maaf. Tolong cabut tuntutan kamu. Mungkin kamu benci Raya, itu wajar bahkan sangat wajar. Tapi tolong setidaknya lihat anak tak bersalah yang dikandung Raya, jangan biarkan dia lahir tanpa ayah. Mba mohon, Jes..."
"Mba akan lakuin apa pun yang kamu minta, Jes. Sekalipun harus sujud di kaki kamu." Dina beranjak dari duduknya dan hendak bersimpuh di hadapan Jesi.
"Jangan lakuin ini, mba." Jesi buru-buru mencegah Dina.
"Cuma kaki ibu yang boleh mba cium. Bukan aku." Ucap Jesi.
"Beri aku waktu mba." Lanjutnya.
.
.
.
BERI AKU... BUNGA, KOPI, VOTE, LIKE, KOMEN JUGA PARA READER DUA DUNIA๐๐๐