
Sore itu Olivia baru saja turun dari taksi yang ia tumpangi.
“Kembaliannya ambil buat bapak aja, do’ain saya diterima baik sama calon mertua yah.” Ucapnya seraya menyerahkan dua lembar uang ratusan ribu, padahal dari aplikasi yang ia gunakan harusnya dia cukup membayar seratus dua puluh ribu saja.
“Alhamdulillah terimakasih, mba.”
“Sama-sama, pak.” Oliv berdiri di depan gerbang putih yang terbuka sebuah rumah mewah dengan halaman luas. Tanpa menunggu lama ia segera menuju pintu utama. Di kedua tangannya penuh dengan buah tangan yang sengaja ia bawa untuk mama, Alya dan Darmawan tentunya.
Bukan hanya oleh-oleh khas Surabaya, dia juga membawa bahan makanan yang lain. Oliv ingat betul jika mama Rama sangat suka memasak, terutama soal perkuehan. Dia ingin mengulang masa-masa indah saat bermain ke rumah Rama dulu. Mamanya sering sekali membuat kue, dia bahkan diajari beberapa menu kue yang simple. Pokoknya mamanya Rama itu jago banget deh urusan perkuehan. Beda dengan mamanya sendiri yang selalu sibuk ikut acara giat sana sini sampe nggak ada waktu sama anak sendiri. Bedalah kalo ibu persit itu acaranya segudang nggak ada abisnya.
Ting nong ting nong...
senyumnya berulang kali mengembang sambil menekan bel rumah beberapa kali hingga pintu besar itu terbuka.
“Assalamu’alikum Ma...” ucapnya begitu Yeni muncul dari balik pintu.
“Walaikumsalam.” Jawab Yeni ramah, meskipun ia sedikit bingung karena di panggil dengan sebutan mama.
“Mau cari siapa yah?” lanjutnya kemudian.
Oliv meletakan barang bawaannya di lantai dan segera menyalami mama Yeni.
“Mama apa kabar?” ucapnya.
“Ini Oliv, Ma.” Sambungnya.
Mama Yeni masih termangu, sejenak mengamati perempuan cantik yang memanggilnya mama.
“Oliv siapa yah? Maaf sekali sepertinya saya lupa. Maklumlah sudah tua.”
“Olivia temen SMA nya Darmawan, Ma. Masa mama lupa sih? Dulu aku beberapa kali diajak main kesini loh. Malah sempet diajarin bikin kue sama mama juga.” Ucap Oliv, ada ekspresi sedikit kecewa di wajahnya mendapati mama Rama yang tak mengingat dirinya.
“Ya ampun kamu Oliv yang dulu kalo main sampai malem itu? yang pulangnya suka nunggu di jemput sama orang tua kamu karena di rumah tidak ada siapa-siapa?” tanya Yeni.
“Iya, Ma. Sedih banget ih aku.. mama udah lupa sama aku.” Ucapnya manja.
“Aduh maafin mama, Oliv. Maklum lah sekarang mama udah tau jadi suka lupa.” Yeni mengelus bahu Oliv penuh sayang.
“Lagian kamu sekarang beda banget sama yang dulu.” Sambungnya.
“Aku jadi cantik yah, Ma?”
“Iya, kamu makin cantik. Beda sama yang dulu, sekarang tambah tinggi juga kamu. Masuk yuk!” ajak Yeni.
Oliv mengambil bawaannya dan mengikuti mama Yeni masuk ke dalam.
“Duduk dulu sayang. Biar mama ambilkan minum.” Ucap yeni sebelum berlalu ke dapur.
Oliv hanya duduk sebentar kemudian berdiri dan mengamati rumah yang pernah ia datangi sepuluh tahun lalu. Masih sama, tak banyak yang berubah. Meskipun cat nya tampak baru tapi warnanya masih sama dengan yang dulu, begitu pun dengan barang-barang lama yang masih tetap ada di tempatnya.
“Mama nggak usah repot-repot.” Ucapnya begitu tiba di dapur.
“Hei... malah nyusul ke sini. Padahal tunggu di depan saja.” Ucap mama Yeni yang sedang memotong bolu marmer buatannya siang tadi.
“Mama masih suka bikin kue?” tanpa sungkan Oliv mengambil satu potong bolu marmer dan memakannya.
“Rasanya seperti biasa, enak.” Pujinya kemudian.
“Mau lagi? Cobain yang ini, Oliv.” Tawar mama Yeni, ia memberikan satu potong sponge cake pandan.
Dengan senang hati Oliv menerimanya dan melahapnya hingga habis. “Enak, Ma. Lembut banget. Wangi pandan juga. Aku suka.”
“Kamu dari dulu emang paling cocok sama Mama.” Yeni menatap perempuan yang baru saja menghabiskan kue pemberiannya.
“Kakak sama Alya mah kurang suka kue, jadi kadang mama bagiin ke tetangga aja. Mereka paling icip-icip dikit doang.”
“Ngomong-ngomong Darmawan sama Alya mana, Ma? Dari tadi kok aku belum lihat mereka.”
“Oliv, mama tinggal masak dulu tidak apa-apa yah? Kebetulan mama belum masak buat makan malam.”
“Biar Oliv bantuin yah. Ma? Oliv juga bawa beberapa oleh-oleh sama bahan makanan buat di masak. Kangen banget masak bareng mama. Bentar yah ma, Oliv ambil dulu di depan.” Tanpa menunggu jawaban Oliv sudah meninggalkan dapur menuju ruang tamu untuk mengambil barang bawaannya.
Begitu kembali ke dapur segera ia letakan barang bawaannya di meja. Mama Yeni menghampirinya dan membatu Oliv membereskan barang ia bawa.
“Banyak banget Oliv.”
Olivia mengeluarkan satu-persatu makanan yang ia bawa.
“Ini tuh makanan khas Surabaya, Ma. Semoga mama suka yah.” Ucapnya.
“ini ada Spikoe, Ma. Kue lapis khas Surabaya. Ini enak loh, mama pasti suka. Yang ini almond crispy cheese aku bawain tiga rasa ada original cheese, coklat sama green tea. Yang coklat buat Alya yah, Ma. Alya kan dulu suka banget sama rasa coklat. Sekarang masih suka nggak yah?” tanyanya dengan tersenyum ramah, tangannya masih tak henti mengeluarkan oleh-oleh yang ia bawa.
“Nah ini kesukaan Darmawan nih, Ma. Bisa buat temen makan nasi goreng, kerupuk ikan kenjeran. Aku bawa mentahnya aja, nanti kita goreng bareng-bareng yah Ma.”
“Padahal nggak usah repot-repot Oliv. Kamu masih inget silaturahmi ke sini saja mama sudah senang sekali.” Ucap mama Yeni.
“Nggak repot sama sekali, Ma. Aku justru seneng banget, mumpung kerja lagi libur jadi aku main kesini. Dua hari lalu aku sempet kesini tapi rumahnya kosong, aku udah sedih banget deh, Ma. Aku kira kalian udah pindah. Mana kontaknya Darmawan aku nggak punya.” Ujar Oliv.
“Ma, aku bantuin masaknya yah? Aku juga pengen masak spesial buat Darmawan.” Oliv buru-buru mengambil alih sayuran yang sedang di cuci oleh mama Yeni.
“Biar Oliv aja, Ma.” Ucapnya.
“Spesial hari ini biar Oliv yang masak, mama tinggal kasih arahan aja.”
“Emangnya kamu nggak cape?” tanya mama Yeni.
Oliv menggeleng, “sama sekali nggak, Ma.”
Sore itu Oliv benar-benar menguasai dapur, mama Yeni bahkan tak jadi memberi arahan. Membiarkan Oliv memasak apa pun yang ia mau. Cukup lama perempuan cantik itu berkutat dengan teflon dan alat tempur masak lainnya hingga akhirnya semua selesai.
“Ini makanan-makanan yang paling rekomen di restoran aku, Ma. Semoga semuanya suka yah.” Ucapnya sambil meletakan masakan yang ia buat di meja.
“Kamu punya restoran?” tanya mama Yeni.
“Restorannya punya aku tapi untuk resep dan lainnya tuh hasil waralaba, jadi ngikutin resep dari restoran pusat. Khas Yogyakarta, Ma.” Jawab Oliv.
“Tapi ada beberapa juga menu tambahan yang asli buatan aku.” Sambungnya kemudian.
“Aku jadi inget waktu aku main ke Jawa Tengah aku ketemu Darmawan sama Alya.”
“Oh ya?” Mama Yeni sedikit heran karena selama di Jawa Tengah dia selalu bersama Alya, dan tak sekali pun bertemu Oliv.
“Iya, Ma. Nggak sengaja ketemu di rest area. Waktu itu Darmawan lagi beli kebutuhan Alya. Kasihan dia dikerjain adeknya suruh beli pembalut sama kiranti. Yang ambilin kiranti nya aja aku.” Jawab Oliv.
“Alya sedikit beda yah, Ma. Aku kira dulu dia bakal jadi gadis yang pendiem dan kalem eh nggak taunya malah jadi kayak gitu. Rada judes sama aku, Ma. Mungkin karena nggak ngenalin aku kali yah?” tebak Oliv.
“Itu bukan-“ belum selesai mama Yeni bicara sudah terdengar suara teriakan dari ruang tamu.
“Sepertinya mereka sudah pulang.” Ucap mama Yeni.
“Alya sama Darmawan yah, Ma? Biar Oliv aja yang nyamperin, Ma. Pasti kaget banget deh dia.” Oliv melepas apron dan ikat rambutnya, merapikan rambutnya asal kemudian berjalan dengan semangat ke depan.
.
.
.
Jas Jus apa Alya yang pulang duluan coba?
jangan lupa tekan jempol, lope sama komentarnya...yang banyak😛😛