Possessive Leader

Possessive Leader
Kesegaran Jas Jus



“Neng Jesi...” Sari meletakan jari telunjuknya di depan bibir sebagai kode supaya putrinya diam.


“Maaf yah Mba, Jesi nya suka heboh sendiri.” Imbuhnya. Entah sudah berapa kali Sari meminta maaf pada calon besannya. Sebelum berangkat tadi dia sudah mengantisipasi jika Jesi menolak perjodohan atau bersikap kurang sopan, tapi ternyata perkiraannya meleset. Sejauh ini Jesi terlihat senang-senang saja, meskipun tadi sempat terkejut sebentar.


“Tidak apa, Ri. Aku justru senang lihat Jesi seperti itu. Jujur sebelum berangkat tadi aku sempat khawatir kalo misal putrimu tidak akan menyukai Rama. Apalagi jarak usia keduanya cukup jauh.” Ucap Yeni. Dia melihat ke arah Jesi yang masih terus mengejek Rama dengan memamerkan jari yang disilangkan berulang kali. Gigi gingsul gadis itu semakin menambah manis wajah imut yang dihiasi poni rata. Membuat siapa saja yang menatapnya tak akan bosan.


“Ditambah lagi ternyata dia sudah mengenal Alya. Kelihatannya mereka akan jadi saudara ipar yang baik.” Imbuh Yeni.


“Sama, aku juga mba. Aku kira Jesi akan berontak, karena jujur saja Jesi pernah minggat sebelumnya saat kami bilang akan menjodohkannya.” Balas Sari.


“Mba Yeni sama ibu tuh terlalu khawatir. Sejak awal kan saya sudah bilang kalo kedua anak kita itu sudah klop. Mungkin mereka belum saling menyadari perasaan masing-masing. Tapi saya percaya Rama bisa menjaga putri kami dengan baik. Meskipun mungkin akan perlu banyak kesabaran. Seperti yang mba Yeni lihat, putri kami sangat cerewet. Selain itu dia juga manja dan kekanak-kanakan.” Ucap Burhan.


“Ayah, aku nggak kekanak-kanakan loh. Apalagi manja, nggak yah!” sambar Jesi yang ternyata mendengar pembicaraan orang tuanya.


“Mana ada orang yang kekanakan mau mengakui kalo dirinya kekanak-kanakkan.” Timpal Rama.


Jesi langsung menatap Rama dengan kesal, bibirnya sudah mengerucut cemberut.


“Kekanakan!” ejek Rama.


“Karam!” ucap Jesi tak terima.


“Dasar Om Om!” imbuhnya.


“Jesi kok manggil kakak aku Om Om sih?” rupanya si adik ipar tak terima.


“Kak Ramadhan kan belum tua-tua amat, belum pantes di panggil Om. Baru dua puluh delapan tahun. Pas lah sama usia kamu, aku juga kalo punya suami nanti pengen yang usianya seumuran kakak, supaya dewasa dan bisa mengayomi kita. Lagian kan tadi pagi kamu yang ngajakin kita buat barter calon” belum selesai Alya bicara, Jesi sudah membungkam bibir Alya dengan tangannya.


“Gue cuma bercanda, Al. Kesel aja sama kakak lo yang bilang gue kekanakan, padahal lo tau sendiri kan gue ini dewasa.” Ucap Jesi yang kemudian menjauhkan tangannya dari bibir Alya.


“Bisa kepedean si Karam kalo sampe tau gue pernah ngajakin Alya buat barter pasangan.” Batinnya.


“Ya sudah jas jus yang dewasa sini balik duduk.” Ucap Rama.


Jesi kembali duduk di samping Rama, “Tuh yah dengerin calon mantu ayah manggil aku apaan? Jas jus. Masa aku di samain sama serbuk minuman dingin yang murah meriah itu.”


“Sudah-sudah kamu itu ribut terus, Jes. Nggak malu sama calon mama mertua. Ibu aja dengernya malu.” Sergah Sari.


“Tante bilangin Karam nya atuh, masa calon mantu tente yang imut ini di panggilnya jas jus.” Alih-alih malu, Jesi malah meneruskan aduannya.


Yeni tersenyum melihat tingkah calon mantunya, benar kata Rama kalo calon istrinya itu kekanakan.


“Jangan panggil tante dong, panggil Mama.” Jawab Yeni.


“Jesi calon mantu mama, pernah minum jas jus belum? “ imbuhnya yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Jesi. Ya selama ini dia memang belum pernah meminum jenis minuman itu, secara biasanya ia jajan boba teh Ai yang di depan indoapril.


Mendengar ucapan calon mama mertuanya Jesi menjadi ceria berkali-kali lipat, “Wah gitu yah, Ma?”


Kini pandangannya beralih pada Rama yang sudah berulang kali menghela nafas panjang mengimbangi ocehan Jesi yang tak ada habisnya.


“Coba Karam tuh jujur dari awal kalo alesan manggil aku jas jus karena ku menyegarkan hari-hari Karam. Nggak akan protes akunya.” Ucap Jesi.


“Menyegarkan apanya? yang ada lo bikin gue naik darah tiap hari!” Batin Rama. Dia hanya membalas ocehan Jesi dengan senyum kilas, dia tau jika diladeni tak akan ada habisnya. Yang ada dirinya malah akan terlihat kekanakan di depan Burhan dan Sari.


“Sepertinya Kak Ramadhan sudah mulai karam di dalam kesegaran jas jus.” Sambung Alya.


“Sudah-sudah ngobrolnya nanti lagi. Kita pesan makanan dulu.” Sela Burhan.


Mereka semua memesan makanan masing-masing. Di sela-sela makan mereka masih melanjutkan obrolannya. Makan malam hari itu begitu ramai dengan ocehan Jesi. Kadang Rama merasa aneh kenapa calon istrinya itu tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Ditambah lagi dengan bibir mungil itu, apa tidak lelah terus berbicara tanpa henti.


Selesai makan malam, Burhan meminta Rama untuk mengantarkan Jesi sementara dirinya akan pulang dengan mengantarkan Alya dan Yeni terlebih dahulu.


“Aku pulang bareng ayah sama ibu aja. Nggak apa-apa deh nganterin Alya dulu. Lagian aku belum pernah main ke rumah Alya.” Rengek Jesi.


“Kapan-kapan main ke rumah mama. Nanti mama masakin nasi goreng kesukaan kamu. Untuk malam ini pulang sama kakak yah. Biar kalian makin akrab.” Bukan Burhan atau Sari, justru Yeni yang menjawab rengekan Jesi.


Pada akhirnya Jesi benar-benar pulang diantar Rama. Satu mobil dengan bosnya sudah biasa bahkan sering. Tapi setelah mengetahui jika Rama adalah calon suaminya membuat Jesi sedikit canggung, sejak tadi saja dia hanya diam.


“Tumben diem. Apa baterainya abis? Padahal kan baru isi ulang.” Sindir Rama.


“Baterai... Baterai... emangnya aku ponsel apa pake baterai segala.”


“Ya abisnya tumben diem aja. Kali aja kamu udah lapar lagi, kita mampir ke warung tenda depan kantor, mau?”


“Besok aja. Sekarang aku masih kenyang.”


“Jas jus..” panggil Rama lirih.


“Iya calon suamiku. Jas jus mu yang menyegarkan ini masih ada di sini kok.” Jawab Jesi, demi mengingat makna panggilan jas jus yang diucapkan calon mertuanya tadi selalu membuatnya berbunga-bunga seketika.


“Menyegarkan dari mana? Yang ada kamu itu selalu bikin aku naik darah!”


“Iya-iya deh... aku iyain aja soalnya aku tau, Karam pasti malu lah ngakuinnya. iya kan?” Ejek Jesi.


“Dulu aja so so an bilang nggak akan suka sama bocah kayak aku, cantik tapi otaknya nothing.”


“Udah punya calon istri yang selalu dibangga-banggain. Eh nggak tau aja calon istrinya ternyata si bocah cantik yang otaknya nothing. Tapi aku seneng, seenggaknya dari awal Karam udah ngakuin kalo aku ini emang cantik.” Lanjutnya.