
Dengan menenteng kantong kresek putih ukuran sedang Alya mendorong pintu indoapril dan keluar. Ia menengok ke samping kanan tempat Jesi berdiri di depan stand minuman kekinian saat dirinya masuk tadi. Tak ada kakak iparnya di sana.
"Temen saya yang tadi kemana, mba?" Tanyanya begitu tiba di stand boba.
"Yang pake baju pink, rambutnya panjang. Tadi pas saya ke dalam dia antri di sini." Lanjutnya.
"Oh udah jalan mba. Tadi dijemput cowoknya." Jawab penjual boba.
"Oh gitu. Makasih, mba." Alya memilih duduk di salah satu kursi yang ada di depan indoapril. Belanjaannya di letakan di bawah begitu saja. Tangan kanannya mulai merogoh saku gamis guna mengambil ponsel.
"Assalamu'alaikum, Kak. Kok aku di tinggalin sih?" Ucapnya begitu panggilannya di jawab oleh Rama.
"Walaikumsalam. Ditinggal gimana? Kakak masih di kantor. Yang jemput ke sana supir kantor, kakak nggak bisa jemput."
Mendengar jawaban kakaknya membuat Alya sedikit panik. Ia tau betul dari Jesi jika supir kantor yang akan menjemput mereka, tapi mendengar penjelasan penjual boba ia jadi berpikir kakaknya yang menjemput Jesi dan alasan tak bisa menjemput hanya embel-embel untuk memberi kejutan pada ibu hamil itu. Tapi nyatanya, baik supir maupun kakaknya belum ada yang tiba kesini. Lalu yang membawa Jesi siapa?
"Tapi aku keluar dari indoapril Jesi udah nggak ada, kak. Aku kira dijemput kakak. Soalnya mba penjual boba bilang Jesi dijemput cowok." Ada getar takut saat mengatakannya. Gadis berhijab itu bahkan menggigit bibirnya sendiri.
"Iya, kak. Maaf, padahal cuma aku tinggal ke dalem sebentar. Iya... Iya kak. Aku nggak nangis kok. Iya, aku tunggu kakak kesini." Pungkas Alya. Ia menyeka air matanya setelah mengakhiri panggilan.
Jemari lentik Alya mulai menekan kontak Jesi, nihil. Panggilannya tak terhubung sama sekali, ponsel kakak iparnya itu bahkan tak aktif saat dihubungi dengan panggilan telepon biasa.
"Kamu kemana sih, Jes?" Gumamnya panik.
Ia kembali menghampiri penjual boba,
"Mba masih inget nggak ciri-ciri cowoknya temen saya tadi?"
"Inget lah, mba. Orang ganteng gitu, cowoknya tinggi. Kayaknya mahasiswa kampus sini juga."
"Siapa sih yah?" Gumamnya sambil celingak celinguk memikirkan orang yang kira-kira membawa Jesi hingga akhirnya tatapannya berhenti pada benda bulat bening yang terpasang di pojok indoapril.
Buru-buru Alya masuk kembali ke dalam sana, "mba bisa minta tolong liat rekaman CCTV depan?" Tanyanya pada penjaga kasir.
"Please, mba. Ini penting banget, mobil saya hilang." Alya terpaksa berbohong.
Tak menunggu lama penjaga kasir langsung membawanya ke ruang kantor yang berada di bagian belakang. Bersama kepala bagian indoapril ia melihat rekaman CCTV. Tak terlalu jelas karena lelaki yang membawa Jesi itu membelakangi kamera CCTV. Namun dari pakaian hingga mobil yang digunakan cukup ia kenali.
"Terimakasih atas bantuannya Pak. Saya permisi." Pamit Alya sopan.
"Ya allah, Kak Zidan. Kak Zidan nggak mungkin macem-macem sama Jesi kan?" Ucapnya lirih begitu keluar dari indoapril.
Alya bermaksud kembali ke kampus, berharap bisa mendapatkan nomor seniornya itu dari salah satu teman. Tak sulit tentunya mendapatkan nomor Zidan, dia cukup famous dikalangan mahasiswi.
Tin..tin...
"Astagfirullah." Alya mengelus dada, terkejut. Terlalu memikirkan Jesi, ia sampai tak sadar hampir menyebrang jalan sembarangan.
"A Raka." Ucapnya pada Raka yang menghampirinya dengan sedikit berlari.
"Hati-hati kalo mau nyebrang!" Ucap Raka.
"Kakak..." Tak menanggapi ucapan Raka, Alya justru menghambur memeluk Rama yang baru saja menghampirinya.
"Jesi, Kak. Maafin aku, harusnya aku nggak ninggalin Jesi." Ucapnya dengan terisak.
Rama menepuk pelan punggung adiknya, meski khawatir setengah mati tapi ia berusaha tetap tenang.
"Nggak apa-apa, Al. Bukan salah kamu. Udah jangan nangis, kita cari sama-sama."
"Udah yah." Rama menyeka wajah basah adiknya.
"Aku udah liat rekaman CCTV nya, Jesi dibawa kak Zidan." Ucap Alya.
"Zidan?" Ulang Rama.
"Mantannya Jesi, kak. Dari tadi emang ngikutin kita. Pas pagi juga dia ngebelain Jesi pas ribut sama ceweknya. Eh mantan, atau nggak tau apa lah pokonya tadi pagi Jesi ribut sama Raya sampe jambak-jambakan. Pipi Jesi aja lecet kena cakar."
Alya segera menghubungi nomor ponsel Zidan begitu mendapat kontaknya, tapi sesuai dugaan nomornya pun tak aktif. Tak sampai di sana, Alya bersama Raka dan dan kakaknya langsung menuju kediaman Zidan sesuai dengan alamat yang diberikan oleh pihak kampus. Namun lagi-lagi hasilnya nihil. Hanya ada pembantu dan penjaga rumah saja di sana. Ditambah lagi penjelasan pembantu yang mengatakan Zidan jarang pulang ke rumah membuat khawatirnya meningkat tajam.
"Kita lapor polisi aja, Wan." Usul Raka.
"Polisi nggak akan memproses kalo waktunya masih belum lebih dari dua puluh empat jam, Ka!" Balas Rama.
"Sebenernya masih ada satu cara lagi, Kak. Tapi aku nggak yakin dia mau bantu kita." Ucap Alya.
"Apa?"
"Raya, dia mungkin tau dimana kak Zidan. Tapi dia tuh benci banget sama Jesi. Jadi aku rasa kemungkinannya kecil dia mau bantu kita. Tadi pagi aja dia jambak-jambakan sama Jesi." Tutur Alya.
"Padahal mereka dulu sahabatan loh." Sambungnya lirih.
"Mau nggak mau dia harus bantu kita!" Ucap Rama.
Karena nomor Raya berulang kali dihubungi tak ada jawaban, Alya membawa kakak dan pacarnya ke rumah Raya.
"Kamu yakin ini rumahnya, Al?" Tanya Rama begitu tiba di depan Rumah Raya.
"Iya, kak. Ini berdasarkan data yang tercatat di kampus." Jawab Alya.
"Ini mah rumah si Dina, Wan!" Sambung Raka.
"Bagus! Mau nggak mau dia harus bantu kita!" Ucap Rama yang segera keluar dan berjalan cepat menuju pintu utama.
Belum sempat menekan bel, pintu rumah itu sudah terbuka. Menampakan Dina yang sedang memapah seorang gadis yang tangan kirinya di ikat kain, terlihat darah membasahi kain putih itu.
"Darmawan?" Dina benar-benar terkejut mendapati Rama berada di depan rumahnya.
"Raka?" Lanjutnya.
"Kalo kalian mau bahas masalah yang tadi, gue nggak bisa sekarang. Adik gue bisa mati kehabisan darah." Dina menunjuk tangan kiri Raya.
"Keluarga gue lagi kena musibah, dia mencoba bunuh diri." Sambungnya dengan helaan nafas kasar.
"Ya allah, Raya. Kenapa bisa sampe kayak gini, Ray?" Ucap Alya iba.
"Nggak usah so kasihan sama gue!" Raya balas menatapnya dengan bengis meski kondisinya lemah.
"Ray, kasih tau aku tempat yang sering dikunjungi Kak Zidan." Ucap Alya to the point.
"Buat apa? Supaya lo bisa nganterin Jesi kesana gitu? Gue nggak ada urusan sama lo berdua yah, Al. Gue benci!"
"Lo nggak usah banyak drama. Kasih tau tempatnya! Cowok lo itu udah bawa kabur istri gue." Sentak Rama yang seketika membuat Raya tertunduk takut.
"Istri?" Ucap Raya lirih tanpa berani melihat Rama.
"Ya! Cepet kasih tau." Sentaknya lagi. Kali ini Rama sudah benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya. Semakin lama waktu bergulir membuatnya semakin khawatir akan keadaan istri dan calon anaknya.
"Mba..." Raya menatap ragu pada Dina yang justru menganggukkan kepala padanya.
"Apartemen Kenanga lantai enam nomor dua puluh. Pin nya 121314." ucap Raya lirih yang kemudian tak sadarkan diri.
.
.
.
Yang kangen Jas Jus sabar yah.
tampol jempol, lope sama komennya biar si jas jus cepet ketemu.