Possessive Leader

Possessive Leader
Si Oli



Rama dengan sabar menunggu Jesi di depan toilet wanita, hingga akhirnya Jesi keluar dan berjalan melewatinya begitu saja, menganggapnya seolah tidak ada.


"Udah di tungguin malah ninggalin." Rama menyusulnya, berjalan sejajar dengan merangkul bahu Jesi, sesekali di elusnya rambut panjang terurai itu.


"Mau beli camilan dulu nggak?" Tawarnya kemudian


"Tadi kakak buru-buru ngambil pembalut sama beli kiranti aja, itu juga udah mau setengah mati di liatin orang-orang."


"Paling juga buru-buru karena mau ngobrol sama si lip lip, iya kan?"


"Namanya Olivia, Jas Jus!" Ralat Rama.


"Segitunya sama cewek cantik. Istrinya sendiri panggilannya di samain sama minuman sachetan yang harganya murah meriah cuma gopean, paling mahal seribu kalo diseduh pake es. Eh perempuan lain mah harus dipanggil sama nama yang bagus, O L I V I A." Cerocos Jesi dengan akhiran mengeja penuh sindiran.


"Oli gardan aja sekalian!" Sambungnya dengan penuh emosi.


Mendengar ocehan Jesi yang marah-marah membuat Rama tertawa. Istrinya justru kian melotot kesal melihat dirinya tertawa, bibir mungil cerewet itu kian mengerucut cemberut ditambah dengan tiupan-tiupan kasar dari bibir ke kening hingga membuat poni rata istrinya naik turun makin menambah gelak tawa Rama, ekspresi Jesi bahkan saat marah seperti ini begitu menggemaskan.


" Uluh uluuhh Neng Jas Jus kalo lagi cemburu ternyata kayak gini yah."


"Gemoy... Gemoy... Kayak dede bayi nya Naura. Gemoy banget kamu kalo lagi ngambek kayak gini." Cubitan-cubitan gemas ia daratkan di pipi Jesi.


"Aku nggak cemburu!" Bantah Jesi cepat.


"Masa sih?" Ledek Rama.


"Nggak!!"


"Jangan marah-marah kayak gitu, ngaku aja kalo cemburu biar plong. Kakak juga seneng kalo dicemburuin sama kamu."


"Sini sini liat kakak!" Rama mensejajarkan tinggi mereka. Diambilnya kedua telapak tangan Jesi dan di letakan pada bahunya.


"Coba bilang 'Kak Ramadhan jangan deket-deket sama perempuan lain, Neng Jesi nggak suka!' ayo bilang!"


"Apaan sih Karam, nggak jelas banget." Ketus Jesi.


"Ogah!" Jesi segera menjauhkan tangannya dari bahu Rama. Dia dengan buru-buru berjalan menjauh dari Rama.


"Dasar Karam nyebelin, jahat!"


"Pokoknya aku sebel!" Batin Jesi.


"Tungguin atuh. Buru-buru banget lagian kunci mobilnya juga di kakak." Rama menyusulnya dan memperlihatkan kunci di tangan kananya.


"Jadi mau beli camilan dulu nggak? Mumpung masih di sini." Tawarnya lagi.


"Nggak mau. Udah nggak pengen. Enek aku gara-gara liat si Oli."


"Olivia..." ralat Rama lagi, melihat Jesi kesal karena cemburu jadi kesenangan sendiri baginya.


"Bodo amat!"


"Dia bukan siapa-siapa, cuma temen SMA kakak dulu." Jelas Rama.


"Nggak nanya!" Balas Jesi.


"Buruan ah jalannya, panas." Sambungnya.


"Biasa aja ah. Ati kamu kali yang panas yah?" Ledeknya lagi.


"Karam ih!" Jesi memukul keras lengan kiri Rama.


"Sakit, Jas Jus! Kekerasan dalam rumah tangga nih." Rama mengusap bekas pukulan Jesi, tak terlalu sakit tapi perlu di dramatisir supaya istrinya panik.


Sesuai dugaannya raut marah campur kesal itu langsung berubah khawatir. Dia ikut mengusap lengan Rama.


"Emang sakit yah?"


"Udah nggak. Langsung sembuh di usap sama neng Jas Jus mah." Rama kembali merangkul Jesi dengan paksa, meski Jesi berontak tapi ia tak membiarkan rangkulannya lepas.


"Sakitnya bohongan yah?" Tanyanya dengan sedikit mendongak demi melihat wajah Rama.


"Dasar ih... Karam tukang modus!"


"Modus sama istri sendiri nggak apa-apa. Nambah pahala." Jawabnya.


"Udah nggak sakit yah? Jalannya udah biasa aja."


"Eh iya, Karam. Aku baru nyadar loh."


"Tuh kan... Kata kakak juga mesti sering supaya cepet sembuh. Nanti di rumah lagi yah?"


"Ish... Jangan aneh-aneh deh! Aku lagi datang bulan, lagian kalo lagi nggak datang bulan juga aku nggak mau, Karam nakal. Suka larak lirik cewek lain."


"Kamu sih kebiasaan nolak, tapi kalo udah main mendadak terus... Terus... Terus Karam ah.." ledek Rama.


"Wan, tunggu!" Rama yang sedang berjalan menuju mobil bersama Jesi seketika berhenti dan menoleh. Olivia sedikit berlari kecil menghampirinya.


Rama mendengus kesal, susah payah dia mengembalikan mood Jesi yang naik turun tak jelas karena PMS semuanya sia-sia, mode ngambek istrinya kembali on.


Sementara Jesi menatap Rama dengan kesal, dia menghembuskan nafas kasar sebelum akhirnya berjalan lebih dulu meninggalkan Rama.


"Tuh si oli manggil lagi. Siniin kuncinya!" Jesi mengambil kunci mobil dari tangan Rama.


"Awas kalo lama, aku tinggalin!" Ancamnya kemudian pergi tak memperdulikan Olivia yang berulang kali memanggilnya dengan sebutan Alya.


"Dia bukan Alya. Jangan di panggil mulu, Liv!" Ucap Rama, ekor matanya menelisik Jesi yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Terus siapa?" Tanya Oliv.


"Istriku." Jawab Rama dengan jujur.


Olivia melihat ke arah Jesi yang juga sedang melihatnya dari dalam mobil, kemudian kembali menatap Rama. Senyum meledek jelas-jelas terlihat wajah perempuan dengan gaya elegan itu.


"Istri?" Tanyanya.


"Iya."


"Jangan kira aku bakal percaya, Wan." Olivia menggelengkan kepalanya, dia bahkan melambaikan tangan seraya tersenyum ramah pada Jesi meskipun dari kejauhan.


"Kamu kalo ngarang yang kira-kira aja deh. Adik sendiri kamu bilang istri." Olivia bersikeras jika perempuan di mobil Rama adalah Alya, meskipun mereka lama sekali tak bertemu tapi ia yakin jika saat ini Alya sudah seusia itu.


"Terserah kalo kamu nggak percaya, Liv. Itu hak mu, kalo nggak ada hal lain yang mau dibicarakan aku permisi, istriku bisa ngambek kalo nunggu kelamaan."


"Wan..." Rama segera menepis tangan Olivia yang memegang lengannya.


"Wan, sekarang kamu udah sukses kan? Aku liat produk dari perusahaan kamu bener-bener laris di pasaran. Padahal hanya produk alat makan sehari-hari tapi ternyata bisa booming juga, ngalahin produk murah meriah lainnya." Tutur Olivia.


"Terus?"


"Ya sekarang aku cuma mau ngucapin selamat buat kesuksesan kamu."


"Makasih, liv." Balas Rama.


"Berarti sekarang udah nggak ada alasan kan buat kita nggak bersama?"


"Maksud kamu?"


"Aku tau dulu kamu ninggalin aku karena minder kan? Usaha keluarga kamu tiba-tiba colaps-"


"Stop, Liv. Nggak usah dibahas!" Sela Rama. Tak bisa dipungkiri dia dan Olivia dulu cukup dekat. Hanya dekat tanpa status, apalagi pacaran. Olivia adalah teman satu angkatan namun beda kelas saat Rama SMA. Entah apa jadinya hubungan mereka kedepannya jika berlanjut, yang jelas setelah keluarganya terkena masalah ekonomi, Rama tak lagi mengurusi soal perasaan. Dia fokus mengurus keluarganya yang acak kadul pasca ditinggal sang papa. Bahkan hingga Olivia harus pindah kota demi mengikuti ayahnya yang seorang TNI pun dia tak tau. Sejak saat itu, Rama menutup diri rapat-rapat dari perempuan manapun demi menepati permintaan seorang pria yang kini jadi mertuanya. Dan dia, Ramadhan Darmawan tak pernah menyesali keputusan yang telah diambil.


"Aku nggak pernah ninggalin kamu, Liv. Dulu pun kita nggak ada hubungan apa-apa, hanya teman." Tegas Rama.


"Iya, dulu kita memang hanya teman. Tapi bukan teman biasa, kita spesial Wan. Bahkan mungkin kita sudah menikah sekarang jika..." Ujar Olivia.


"Jangan menyalahkan apa yang sudah berlalu, Liv. Jangan pernah pula mengungkit masa lalu. Yang lalu hanya perlu di kenang tanpa diulang."


"Jaga sikap kamu kalo masih mau jadi teman ku. Sejak dulu kita hanya teman, Liv."


"Aku permisi, istriku sudah menunggu." Tanpa menunggu jawaban Rama segera pergi.