
"Nin, Jesi mau ke Pangandaran, Enin mau di bawain oleh-oleh apa?" Pagi ini Jesi sedang bersama neneknya di kamar. Jesi memasukan beberapa buah pakaian ganti dan keperluan pribadinya ke dalam koper kecil.
Sejak pulang kerja kemarin ia memang tinggal di rumah ibunya.
"Apanya? Emangnya di sana makanan khas nya apa?" Tanya sang nenek.
Jesi menggeleng, "nggak tau juga aku, nin." Balas Jesi.
"Nanti aku bawain semua aja makanan khas sana buat Enin." Lanjutnya.
"Iya-iya, terserah neng Jesi saja. Selama acara jaga diri baik-baik, jangan lupa minta izin sama suami kamu. Udah izin belum?"
"Udah dong, Nin. Lagian nanti juga aku ketemu Karam di sana. Karam kan abis dari Yogyakarta langsung ke Pangandaran." Jesi menutup kopernya.
"Sip lah beres!" Kini ia melangkah ke depan cermin, memoleskan lip tint warna peach kemudian mengikat rambutnya.
"Pangandaran i am coming."
"Neng Jesi, ada adik ipar kamu nih." Seru Sari yang baru memasuki kamar Jesi bersama Alya.
"Pagi, Nin. Apa kabar?" Sapanya pada nenek Jesi.
"Enin alhamdulilah baik, cantik. Kamu sendiri apa kabar?"
"Aku juga baik, Nin. Mau jemput Jesi nih, Nin." Ucap Alya.
"Udah siap belum Jes?"
"Udah, gue baru aja beres packing nih. Tapi Kok lo yang jemput sih, Al? Kan gue ngasih tugasnya ke Karak."
"Karak?" Tanya Alya.
"Karak itu loh si Arak!"
"Arak apaan sih Jes? Kamu nggak boleh minum Arak yah. Haram itu, bikin mabok juga." Terang Alya.
"Arak haram tapi lo demen." Cibir Jesi.
"Apaan sih nggak ngerti aku tuh. Boro-boro demen sama arak, aku mah nyentuh aja belum pernah Jes. Bisa digantung Kak Ramadhan kalo aku minum arak."
"Arak itu si Aa Raka kesayangan lo. Kalo disingkat kan jadi Arak!" Jelas Jesi.
"Udah yuk berangkat, ntar gue telat lagi." Jesi menarik kopernya setelah berpamitan pada neneknya.
Keduanya turun dari lantai dua beriringan.
"Lagian Karak kamana sih, Al?"
"Gue pecat jadi calon adik ipar juga nih, disuruh jemput gue kok malah nyuruh lo." Gerutu Jesi.
"Aa Raka ada kok, Jes. Nunggu di bawah sama ayah kamu. Lagi ngobrol mereka."
"Heleh suruh ngejemput gue malah pada modus sekalian, ketemuan yah lo pada."
"Nggak kok Jes. Tadi A Raka ke rumah, pamitan mau family gathering ke Pangandaran terus dia bilang mau jemput kamu jadi aku ikut aja sekalian jenguk enin kamu." Elak Alya.
"Helehhh... Alesan aja pada bisa banget ngelaknya. Gue laporin Karam nih kalian berdua ketemuan mulu." Ledek Jesi.
"Hei Arak yuk lah kita berangkat udah siang nih." Lanjutnya begitu tiba di bawah.
"Astagfirullah, A Raka Jes. Jangan disingkat lah." Protes Alya.
"Tau tuh kakak ipar kamu, Al. Kalo nyebut nama orang suka seenaknya aja." Timpal Raka.
"Lah Karak aja suka seenaknya aja, gue disebut aqua gelas!" Jesi tak mau kalah.
"Nyonya Darmawan tidak menerima protes. Kuy lah kita berangkat. Nyonya udah nggak sabar pengen nyampe pantai, pengen renang nih."
"Yah, Jesi berangkat dulu yah." Lanjutnya seraya menyalami Burhan.
Perjalanan dari rumah Jesi menuju loveware tak memakan waktu lama karena jalanan yang masih cukup lengang pagi itu. Hanya butuh tiga puluh menit Alya, Raka dan Jesi sudah tiba di kantor Rama. Sudah ada dua bus besar dengan tulisan family gathering loveware terparkir di halaman kantor. Begitu pun dengan para karyawan, mereka sudah berdiri di sekitar bus. Semuanya kompak mengenakan celana jeans navy dan kaos oversize berwarna biru langit, pakaian yang sengaja disediakan untuk family gathering.
"Aa berangkat dulu yah. Nanti kalo udah sampai di kabari. Kamu pulangnya hati-hati." Pamit Raka pada Alya yang kini sudah berpindah duduk di balik kemudi.
"Iya, A. A Raka juga hati-hati. Aku titip kakak ipar kesayangan aku yah." Balas Alya.
"Siap sayang." Ucap Raka, dia sedikit tersenyum canggung mengucapkannya. Begitu pun dengan Alya, gadis berhijab itu hanya membalas dengan senyuman dan tertunduk malu.
"Ya allah gemes banget sumpah bidadari gue." Batin Raka.
"Malah pada senyam senyum nggak jelas. Buruan berangkat Karak, liat tuh Dinosaurus udah manggil aku teriak-teriak." Tarikan Jesi di tangannya membuat Raka tersandar dan mendengus kesal.
"Huh! Nggak bisa banget liat orang seneng si aqua gelas." Batin Raka. Dia terpaksa menurut mengikuti Jesi, keduanya melambaikan tangan pada Alya.
"Lama banget sih. Kamu nggak liat anak magang lain tuh datang lebih awal. Kamu malah datang paling akhir." Bentak Dina begitu Jesi tiba di samping bus.
"Yang penting kan aku nggak telat, mba. Lagian juga kan masih ada waktu lima menit lagi." Jesi tak mau kalah, dia melirik jam tangannya.
"Tuh baru jam tujuh lebih lima puluh lima menit. Kan di jadwal berangkat jam delapan." Sambungnya seraya memperlihatkan jam tangannya.
"Kamu berani sama saya?" Solot Dina.
"Lah emangnya saya salah apa mesti takut sama mba?" Balas Jesi.
"Mba Dina tuh sensi banget sama saya!" Lanjutnya.
"Kamu!"
"Udah-udah! Kalian nih apa-apaan sih? Tiap ketemu ribut." Lerai Raka.
"Masuk mobil!"
"Bawain koper aku, Karak!" Jesi melengos masuk ke dalam bus.
"Apa liat-liat? Nggak pernah liat cewek cakep yah." Ucapnya penuh percaya diri, membalas tatapan-tatapan aneh yang diterimanya.
Jesi membalas lambaian tangan Dini kemudian berjalan ke sana.
"Makasih, Din."
"Sama-sama, Jes."
Setelah cukup lama bus berjalan, Raka menghampirinya dan memberikan sebotol air mineral pada Jesi.
"Nih minumnya. Kalo butuh apa-apa tinggal chat lagi aja."
"Asiap, Karak. Makasih." Jesi menerimanya kemudian meneguknya sedikit.
Setelah Raka kembali ke kursinya, Dini memberanikan diri untuk bertanya pada Jesi. Gosip yang kian beredar benar-benar membuat Dini penasaran pada Jesi. Benarkan sosok polos nan ceria itu adalah ayam kampus seperti yang dibahas di grup chat.
"Jes..." Panggilnya lirih.
"Hm apa Din? Lo mau minum juga?" Jawab Jesi, dia menyodorkan botol air mineral miliknya.
"Nggak, Jes. Gue cuma mau tanya aja."
"Apaan?"
"Lo deket sama pak Darmawan?" Tanyanya lirih.
"Banget." Jawab Jesi.
"Pak Darmawan tuh... Ah mantap pokoknya." Lanjut Jesi.
"Mantap apa Jes?"
"Ya semuanya. Pelukannya, sentuhannya, ah pokoknya gue seneng ngabisin malem sama dia." Jawab Jesi enteng los dol seperti biasa tanpa beban.
"Maksudnya... maksudnya gimana Jes? Jangan bilang kalo lo udah tidur sama pak Darmawan?" Gemetar-gemetar takut tapi tanggung penasaran, jadi mending langsung ditanyakan langsung pada orangnya.
"Ya!"
"Lo lagi nggak bercanda kan, Jes?" Dini makin ketar-ketir, dia semakin takut jika semua gosip di grup chat itu benar.
"Serius gue, Din. Udah semingguan lah gue tidur sama pak Darmawan tiap malem." Jawab Jesi.
"Cuma tadi malem doang sih nggak bareng, soalnya dia lagi tugas ke luar kota."
"What? Berarti lo beneran ayam kampus, jes? Gue bener-bener nggak nyangka." Teriak Dini, terkejut yang berhasil membuat beberapa karyawan yang tak memejamkan mata menengok pada mereka.
"Woy jangan berisik dong!" Protes penumpang lain yang merasa tidurnya terganggu.
"Sorry... Sorry..." Dini menjawab lirih sambil mengatupkan kedua tangannya meminta maaf.
"Makanya jangan teriak-teriak, Din. Yang lain pada tidur." Ucap Jesi.
"Terus juga kata-kata lo yang barusan, gue minta lo tarik lagi. Atau kita nggak usah temenan lagi." Ucap Jesi ketus.
"Lah kalo bukan ayam kampus kenapa lo tidur sama pak Darmawan coba?" Ucap Dina lirih.
"Gue tuh udah mati-matian nyoba nggak percaya sama gosip-gosip yang beredar karena gue ngerasa kita cukup deket, tapi sekarang gue bener-bener percaya kalo lo tuh ayam kampus, jes!"
"Gue bahkan nggak nyangka kalo lo bisa ngakuin semuanya tanpa malu-malu. Gue bener-bener udah salah nilai lo selama ini!" Lanjutnya dengan tatapan super ilfeel.
"Woy... Woy... wait, Din. Lo nyerocos kagak pake saringan! sembarangan lo ngatain gue ayam kampus." kesal Jesi.
"Lo masih nggak terima dibilang ayam kampus tapi lo tidur sama pak Darmawan? lo juga nggak malu deket sama Pak Raka. Gila banget sih!" Dini sampai geleng-geleng kepala.
"Sebarangan aja lo! sejak kapan tidur sama suami sendiri dicap jadi ayam kampus?"
"what?" lagi-lagi teriakan Dini membuat beberapa orang menengok pada mereka.
"sorry...sorry..." ucapnya pada orang-orang yang berdecak kesal padanya.
"what whet whot aja terus lo, Din!" cibir Jesi.
"Beneran pak Darmawan suami lo?"
"Ya!" Jesi mengeluarkan ponselnya.
"Noh liat foto akad gue." dipamerkannya foto saat Rama melakukan ijab kabul.
Dini mengambil ponsel Jesi, "ini asli nih? bukan editan kan?" dia berulang kali melihat foto itu. Gambar Jesi dan Rama dalam balutan baju serba putih.
"Asli lah." Jesi menggeser ke foto selanjutnya.
"Nih yang sama keluarganya." lanjutnya.
"Ya kan kali aja editan aplikasi, sekarang kan ada aplikasi edit foto gitu yang lagi viral. mendadak jadi banyak pengantin bersliweran di medsos." ucap Dini sambil terus menggeser foto di galeri ponsel Jesi. Cukup banyak foto akad nikah mereka.
"eist... udah jangan geser-geser lagi, ntar lo ngiler liat foto pak Darmawan yang lain." Jesi mengambil kembali ponselnya dan memasukannya ke dalam tas.
"Gue masih nggak ngerti kok bisa kalian jadi suami istri. Bukannya dulu ribut mulu yah?" tanya Dini.
"Ceritanya panjang lah. Sekarang gue mau lo cabut kata-kata lo yang tadi!"
"Iya, Jes. Sorry banget, gue minta maaf." Dini mengatupkan kedua tangannya di depan wajah.
"Maafin yah Bu bos." lanjutnya.
"Ini tuh gara-gara grup chat WA kantor nih." Kini giliran Dini mengeluarkan ponselnya dan di serahkan pada Jesi.
Jesi melotot kesal membaca deretan chat di WA grup itu, dirinya benar-benar menjadi bahan ghibah habis-habisan.
"Si a lan, siapa nih adminnya?"
"Pengen gue kasih sarapan Sandwich Susu Sianida nih orang!"