Possessive Leader

Possessive Leader
Bonus 12. Rileks baby



“A Raka, aku mau lihat Kara. Ntar dia nangis loh, tadi pengen ikut aku.” Alya hendak membuka kembali pintu yang baru saja di tutup suaminya, membayangkan keponakan manja kesayangannya menangis membuatnya tak tega.


Raka menahan tangan Alya dan menjauhkannya dari daun pintu, memegang erat punggung tangan istrinya dan menatapnya dengan penuh harap.


“My baby please... Mereka tuh cuma mau gangguin kita aja. Lagian Kara nggak akan nangis kan sama papi mami nya.” Bujuk Raka.


“Tapi kan....” Alya menghindari tatapan Raka, ia kian malu campur aduk ditatap seperti ini. Ditambah lagi mereka hanya berdua saat ini.


“Kamu nggak kangen sama Aa?” Raka mengangkat wajah Alya supaya menatapnya.


“Aa kangen banget sama kamu.” Tanpa menunggu jawaban Raka sudah menarik Alya kedalam pelukannya.


Beberapa detik Alya mematung menerima pelukan sahabat kakaknya yang kini sah menjadi suaminya namun tak lama kemudian tangannya terulur balas memeluk Raka. Menyandarkan kepalanya di dada bidang Raka. Ini adalah kali kedua Alya memeluk Raka, meski rasanya berbeda jauh dengan saat dulu dirinya kebablasan memeluk Raka karena terlalu berbahagia mendengar kabar kehamilan Jesi. Saat ini Alya bahkan bisa mendengar detak jantung suaminya, sama tak beraturan seperti detak jantungnya.


Elusan lembut tangan Raka di punggungnya membuat Alya merasa benar-benar disayangi. Ia semakin mengeratkan pelukannya, menghirup dalam-dalam parfum suaminya yang terasa begitu menenangkan kali ini.


Alya melepaskan tangannya saat merasa Raka telah mengendurkan pelukannya. Alya kembali menunduk sambil menautkan jari-jarinya, mendadak bingung harus melakukan apa. Terlebih jika mengingat obrolan Jesi tadi, membuatnya jadi takut kalo-kalo Raka meminta haknya saat ini juga. Tangannya bahkan kembali terasa dingin.


“My baby nya Aa dari tadi nunduk terus. Lihat Aa dong!” Raka meraih kedua tangan Alya.


“Ya ampun kenapa sampe dingin kayak gini? Kamu sakit sayang?” satu tangannya beralih ditempelkan pada kening Alya.


“Tapi nggak panas.” Ucapnya.


“Aku nggak sakit kok A.”


“Terus kenapa?” Raka merangkul Alya dan mendudukkannya di tepi ranjang, ia kemudian mengambil air mineral dan memberikannya pada Alya.


“Minum dulu.”


“Makasih A.” Ucap Alya seraya meletakan kembali botol air mineral ke atas nakas.


“Duduk sini.” Raka menepuk pahanya.


“Malu A.” Alya justru duduk di sampingnya.


Raka merangkul Alya dan menariknya hingga gadis yang baru saja sah jadi istrinya pagi tadi kali ini benar-benar terduduk di pangkuannya. Raka kian tak sabar untuk memiliki Alya sepenuhnya saat melihat raut malu-malu menggemaskan istrinya yang sedari tadi selalu saja menunduk.


“Jangan malu-malu sama suami sendiri. Jadi makin gemes Aa...” Raka kembali memeluknya erat.


“Al...” panggil Raka lirih.


“Kenapa A? Aku berat yah? Aku turun yah?”


Raka jadi terkekeh mendengar jawaban istrinya.


“Ini dilepas boleh yah?” Raka memegang hijab yang dikenakan istrinya.


Alya mengangguk dan hendak turun dari pangkuan Raka.


“Eh mau kemana hm?” tentu saja ayah kaktus yang sudah nahan-nahan dua tahun satu minggu tak mengizinkan ibu kaktus pergi selangkah pun darinya.


“Mau melepas kerudung. Barusan katanya suruh dilepas.”


“Jangan kemana-mana, di sini aja. Biar Aa yang bantu lepasin.” Ucap Raka dan Alya hanya tersenyum sambil mengangguk memberi izin.


Dengan perlahan Raka melepas hijab Alya. Mulai dari tiara yang terpasang di puncak kepala hingga bros berwarna maroon elegan yang terpasang di bahu kiri Alya. Hijab Alya sudah menjuntai meninggalkan satu peniti di bawah dagu.


“Aa lepas yah.” Ucapnya sebelum menarik peniti terakhir kemudian membiarkan hijab Alya jatuh ke lantai begitu saja.


Alya kembali menunduk saat benda yang selalu menutup kepalanya itu terjatuh, ia bahkan bisa merasakan kedua tangan Raka menangkup wajahnya dan mengangkatnya hingga tatapan mata mereka bertemu.


“Bidadari Aa... Kamu cantik my baby.” Puji Raka. Ia kemudian menarik ikat rambut Alya hingga rambut panjang itu tergurai dengan perpaduan wangi bunga yang manis memenuhi indra penciumannya ketika Raka mengecup singkat puncak kepala istrinya tanpa penghalang apupun.


“Terimakasih sudah mau menjadi pendamping hidup Aa.”


Raka menangkup wajah Alya dan menyelipkan beberapa sulur rambut panjang Alya ke belakang,


“Cantik.” Pujinya lagi seraya mengelus pipi Alya yang kian merona. Kini ibu jarinya mulai mengusap lembut bibir Alya yang sedari tadi mengatup tanpa suara.


Alya tersenyum saat sapuan lembut jari Raka melewati bibirnya. Senyuman Alya dianggap sambutan penerimaan oleh Raka. Ia kian mendekatkan wajahnya dan mengecup sayang bibir yang baru saja tersenyum.


“Love you my baby... bidadarinya Aa.” Ucap Raka yang kemudian kembali mengecup bibir Alya dan me lu mat nya dengan lembut dan penuh perhatian. Ia kian menerobos masuk saat Alya dengan perlahan membuka bibirnya. Menyecap dan menjelajah manisnya bibir yang selalu tersenyum teduh menenangkannya.


Kedua tangan Raka mengelus sayang punggung Alya sambil membuka gaun yang membalut tubuh istrinya. Alya yang terbuai dengan setiap sentuhan Raka hanya pasrah dan menikmatinya pada akhirnya ia baru tersadar jika dirinya sudah setengah telanjang. Sudah tak terhitung berapa kali tubuhnya mengerang nikmat akibat ulah tangan nakal Raka yang menggerilnya kemana-mana.


“Hm amhh... A Raka akuhhh...”


“Rileks baby... ayo kita buat temen untuk Kara dan Khayla.” Ucap Raka seraya membaringkan tubuh Alya di ranjang dan segera menanggalkan semua pakaian mereka.


.


.


.


ehm mohon sabar, ntar aku lanjut.


aku double up hari ini. tinggalin jejak kalian!!